https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings
Showing posts with label Anugrah Sastra Pena Kencana. Show all posts
Showing posts with label Anugrah Sastra Pena Kencana. Show all posts

09 December 2010

Apa Kabar Anugerah Sastra Pena Kencana?

Setiap awal tahun semenjak 3 tahun yang lalu saya selalu mendapat kiriman surat-e yang mengabarkan bahwa ada puisi saya yang mendapatkan kehormatan—bersama beberapa puluh puisi lainnya yang disortir dari pemuatannya di koran-koran lokal--untuk diiikutkan dalam kitab puisi yang diberi label keren “kitab puisi terbaik setahun”.Itulah sebagian dari kegiatan yang berkaitan dengan program Anugerah Sastra Pena Kencana.

Tapi mulai tahun depan (2011) pemberitahuan seperti itu agaknya tak akan lagi saya terima, karena program sastra itu sepertinya memang tidak berlanjut. Buktinya program tahun ini saja hingga saat ini tiada kabar beritanya. Buku puisi—plus sekian program tambahan lainnya, seperti pengumuman pemenang puisi terbaik dan lain-lainnya—yang semula dengan gegap gempita dijadwalkan berlangsung Februari 2010 tak jelas bagaimana nasibnya.

Tak ada pengumuman apa pun di situsnya yang kini jadi rada mirip toko terbengkalai itu. Saya sangat menyesalkan ketiadaan sikap terbuka dari panitia program ini. Apa sih susahnya mengumumkan masalahnya? Kalau misalnya soalnya lagi-lagi karena cekaknya pendanaan, sehingga segala rencana program tak bisa jalan, rasanya juga tak ada masalah untuk diumumkan. Insan sastra di sini, percayalah, sudahlah amat terbiasa menghadapi hal-hal dan hil-hil semacam ini.

06 October 2008

Kemenangan yang Merepotkan?

MEMPERCAYAKAN penilaian atas puisi kepada para “juri anonim”—seperti dilakukan Pena Kencana —sungguh mengandung resiko. Belum mapannya kehidupan sastra di sini menjadi alasan kuat untuk skeptis. Saya pernah menyebut manuver Pena Kencana ini sebagai sebuah “eksperimen yang berani” (atau kepagian?), yang biarpun hasilnya bisa saja konyol, tapi tetap saja menarik ditunggu.

Seraya mengingat bahwa siapa pun yang kemudian muncul sebagai pemenang dalam kontes seperti itu bolehlah dipandang sebagai seorang yang “benar sedang mujur”. Kemenangannya bukan kemenangan artistik, sebab sesungguhnya tak ada peristiwa literer di sana. Yang terjadi adalah sebuah kegiatan yang berlangsung “untung-untungan”, yang melibatkan sejumlah orang yang tak jelas siapa saja, serta tak jelas juga mereka sudah memilih puisi siapa.

Maka bagaimana kemudian sang pemenang musti bersikap menghadapi hal ini? Saya tanyakan itu kepada Jimmy Maruli Alfian, yang memenangkan kontes ini untuk kategori puisi. Saya tanyakan juga apakah ia mempunyai usulan untuk perbaikan supaya award ini tidak lalu berkembang menjadi sekadar sasaran sinisme belaka. Saya pikir menarik sekali menguping apa komentarnya. Kebetulan kemudian memang ada sedikit “ribut-ribut” di blognya Hasan Aspahani tentang hasil kontes ini, maka saya pikir ini adalah kesempatan bagus bagi Jimmy untuk bicara.

Sayang sekali, Jimmy Maruli Alfian, penyair muda potensial--yang saya sukai puisinya, antara lain karena bahasa sajaknya yang lugas dan tidak bertele-tele--itu agaknya tak tertarik merespons pertanyaan saya, pun mengurusi “ribut-ribut” itu. Mungkinkah karena kemenangan ini sudah membikinnya menjadi “serba salah” dan “repot”? Tapi mengapa harus jadi merasa "bersalah" dan "repot"? Jimmy yang berhak menjawabnya.

23 September 2008

Hasil Pena Kencana Award 2008

Pemenang lima besar Puisi dan Cerpen Pena Kencana Award 2008 :

Puisi:
1. P044 - Jimmy Maruli Alfian, "Kidung Pohon" - total suara: 30.38%
2. P099 - Zaim Rofiqi, "Ibu" - total suara: 13.35%
3. P038 - Inggit Putria Marga, "Di Pintu Gerbang" - total suara: 3.45%
4. P017 - Dahta Gautama, "Khimaci di Showa Kinen" - total suara: 5.31%
5. P004 - Acep Zamzam Noor, "Lembah Anai" - total suara: 1.22%

Cerpen:
1. C019 - Seno Gumira Ajidarma, "Cinta di Atas Perahu Cadik" - total
suara: 11.86%
2. C017 - Puthut EA, "Di Sini Dingin sekali" - total suara: 5.31%
3. C001 - Agus Noor, "Tentang seorang Perempuang yang Mati Tadi Pagi"
- total suara: 3.18%
4. C018 - Ratih Kumala, "Sepotong Tangan" - total suara: 2.13%
5. C009 - Gus tf Sakai, "Kami Lepas Anak Kami" - total suara: 2.10%

Saya ucapkan selamat berbahagia kepada para pemenang. Bravo sastra Indonesia!

05 March 2008

Menunggu Eksperimen Pena Kencana

HARI ini, 5 Maret 2008, buku “100 Puisi Terbaik Indonesia 2008” (kerjasama Pena Kencana dan Gramedia Pustaka Utama) resmi diluncurkan. Seperti sudah sama diketahui ini adalah bagian dari hajatan akbar Pena Kencana yang rencananya akan ditradisikan setiap tahun. Dan seperti biasa, kalau penyair bikin hajatan pastilah ada ribut-ributnya—kalau nggak ribut bukan penyair namanya.

Ribut pertama menyoal komposisi juri yang dianggap keliru. Sebetulnya komposisi juri yang ada sudah boleh dibilang “solid”. Masalahnya kemudian ternyata ada puisi milik beberapa nama yang terlibat sebagai juri itu ikut terpilih juga. Ini kemudian memunculkan sikap skeptis pada obyektivitas kerja juri.

Mustinya panitia sudah bisa mengantisipasi masalah ini jauh-jauh hari, dengan memilih komposisi juri yang betul-betul netral. Artinya mereka yang selama setahun terakhir ini memang tidak pernah menyiarkan puisinya di koran yang dijadikan sumber penjurian. Masih banyak nama hebat lain yang sebetulnya bisa dipilih. Entah mengapa pilihan ini tidak dilakukan. .

Ribut kedua menyoal sistem penjurian oleh pembaca lewat SMS guna memilih “puisi terbaik nomor satu”. Banyak yang mengkawatirkan cara ini akan memunculkan hasil yang lucu, konyol, dan rancu. Saya bergurau dengan seorang kawan tentang hal ini. Kata saya, kalau saja saya punya duit banyak, akan saya borong bukunya, saya bagi-bagikan gratis kepada para sahabat, famili dan handai tolan, lalu saya suruh mereka yang sudah terima buku itu kirim suara untuk puisi saya. Dijamin, puisi sayalah nanti yang bakal keluar sebagai “si nomor satu”.

Kecelakaan sedahsyat itu mungkin tidak bakal terjadi, karena rasanya mental penyair kita belum sebobrok itu. Tapi bagaimanapun cara poling lewat SMS ini mengandung banyak celah yang ujung-ujungnya bisa bermuara pada kekonyolan juga. Faisal Kamandobat yang akhirnya menarik puisinya dari penjurian menyebut “belum mapannya khazanah literer kita” sebagai lubang jebakan yang bisa menjerumuskan.

Lepas dari semua kekhawatiran itu—yang siapa tahu ternyata kelewat dilebih-lebihkan—upaya ini pantas diapresiasi sebagai sebentuk eksperimen yang berani. Dan setiap eksperimen tentu saja dibayangi resiko gagal. Tapi kalau tidak pernah dicoba mana kita pernah tahu bagaimana hasilnya, bukan? Karena itu mungkin sebaiknya kita stop dulu polemik, dan menunggu hasilnya.

13 February 2008

Terobosan Besar Pena Kencana

MASYARAKAT puisi Indonesia mendapat kado istimewa tahun ini. Sesudah bertahun-tahun mendapat perlakuan layaknya “kasta paria”—terlunta dan kagak dianggap--mereka kini bolehlah sedikit ge-er karena adanya hajatan royal Anugerah Sastra Pena Kencana. Hajatan yang diprakarsai PT Kharisma Pena Kencana ini rencananya akan digelar saban tahun. Dari forum ini tiap tahunnya akan dipilih 100 puisi yang dianggap terbaik, hasil seleksi dari sejumlah koran nasional dan daerah selama satu tahun sebelumnya.

Disediakan honor “layak” untuk puisi yang berhasil terpilih. Puisi-puisi itu kemudian akan diterbitkan sebagai buku oleh sebuah penerbit besar di sini. Selesai? Belum. Dari 100 puisi itu nantinya akan dipilih satu yang dianggap “terbaik”. Dan pilihan menuju “nomor 1” itu diserahkan sepenuhnya ke para pembaca buku tersebut lewat polling SMS. Dan bagi yang beruntung terpilih menjadi yang “nomor 1” itu panitia telah menganggarkan duit 50 juta rupiah (!) sebagai imbalannya.

Bukan itu saja. Para pengirim polling SMS itu pun berpeluang mengantongi sejumlah hadiah yang sangat lumayan jumlahnya. Untuk pemenang pertama disediakan 25 juta, pemenang kedua 15 juta, dan 10 juta untuk pemenang ketiganya. Menarik bukan? Kalau kepingin tahu lebih jelasnya silakan masuk ke situs Pena Kencana, silakan klik saja di sini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...