Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
20 September 2011
Blog yang "Bangkit dari Mati"
Ceritanya, tadi pagi seperti biasa saya membuka inbox email. Aneh, saya menemukan sebuah email masuk yang me-link ke Ruang Samping, sebuah blog saya yang selama ini sudah saya anggap "marhum". Isinya sebuah komentar atas sebuah artikel dalam blog itu. Penasaran, langsung saya klik ternyata blog itu memang masuh ada, atau lebih tepat, dia ternyata bisa online kembali.
Saya periksa Rak Puisi (yang bersama-sama ketika itu ikut "lenyap") ternyata juga sudah bisa "siaran kembali". Hanya akses ke akun Google yang belum terbuka, sehingga saya masih belum bisa masuk ke dasbor. Tapi sore ini, ternyata saya sudah bisa kembali mengaduk-aduk jeroan blog saya ini.
Jadi selama ini apa yang sebetulnya terjadi? Semula saya mengira blog saya (dan akun Google saya) dikerjai hacker. Tapi kini saya cenderung percaya rupanya selama ini pihak Google telah "menghukum" saya. Mungkin ada perilaku saya yang dianggap menyalahi aturan main mereka.
22 January 2010
"Goro-Goro" Pansus
Koalisi artinya “kalau ada kesempatan dia bisa kita habisi, kenapa tidak dicoba dihabisi?”.
Mereka mengundang banyak ahli untuk mengisi ‘frame’ yang sudah telanjur diciptakan. Tapi hanya butuh seorang Marsilam untuk membuktikan bahwa ternyata mereka memang tidak begitu pintar.
Rumus Pansus = halusinasi + fantasi + maki-maki = politik fiksi.
Menguasai jurus plintir, syarat utama masuk jadi anggota Pansus.
Tanya : Dulu kan sudah diaudit dan tak ada masalah, mengapa sekarang koq diributkan? Jawab : Karena order “bikin ribut”nya baru masuk sekarang.
JK bilang nggak pernah dilapori Menkeu soal bailout itu. Kata Arbi Sanit, lha nggak terima laporan koq diem aja? (Tanya : kenapa nggak ada inisiatif minta. Jawab : Lho saya kan bos, gengsi dong minta-minta).
Di forum ini silakan saudara berikan klarifikasi. Tapi supaya tak membingungkan (kami), maka kami yang atur kapan saudara boleh mulai menjawab, kapan berhenti menjawab, atau dari mana memulainya, kanan, kiri, atas atau bawah. Jangan macam-macam. Jangan membantah. Kecuali kalau saudara mau dianggap melakukan tindakan “contempt of parlement”.
Miranda Gultom : Terus terang saya sering tak mengerti apa sebetulnya yang ditanyakan (Jadi pertanyaan Pansus juga membingungkan tuh, mas Bambang).
Pansus dinilai tidak mencari kebenaran, melainkan sibuk dengan urusan copot-mencopot pejabat, kata Teten Masduki (Oh, mas Teten baru mendusin dari mimpi indah ya, kasihan).
Omong-omong, kapan ya Marsilam Simanjuntak dipanggil lagi? Saya sangat menunggu terusan “The Great Marsilam Show”. Sungguh tontonan langka.
24 November 2009
2012
Saya tak tahu apakah saya masih bekerja di tempat yang sekarang, di tahun 2012 nanti. Ketika saya menuliskan ini situasi di perusahaan sedang agak resah. Kabar-kabar seputar “perampingan” (mereka membuat sebutan sopan untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya) terus bergulir saban hari. Siapa bakal jadi “korban” berikutnya? Mungkin saya termasuk salah satu “korban” dalam daftar yang mereka siapkan, siapa yang tahu? Jika ternyata betul saya ikut “dibabat” (tahun ini juga?), saya belum punya gambaran persis akan bikin apa sesudahnya.
Beberapa waktu yang lalu saya mencoba menjajaki peluang bisnis di jagat maya, tapi hasilnya bikin saya (sementara) patah semangat. Tapi jika saya betul “dibabat” (apakah awal tahun depan?), mungkin saya akan kembali menjajal peluang di sana, dan mungkin siapa tahu, di tahun 2012, bisnis online saya sudah maju pesat, karena kali ini saya punya banyak kesempatan waktu (dan tekad) untuk mencoba lebih maksimal “main-main” di dunia maya ini. Karena situasinya sudah “to kill or be killed” bagi saya. Maka saya, seperti para pebisnis online lain yang sukses, cukup “ngantor” di rumah saja : terhindar dari stress karena kemacetan jalan-jalan Jakarta, yang menurut ramalan para pakar bakal tambah menjadi-jadi. (Di tahun itu, 2012, Fauzi Bowo, mungkin kembali sibuk memamerkan kumis ijuknya, mencalonkan diri lagi jadi gubernur).
Di tahun 2012, saya juga tak tahu apakah saya masih menulis puisi. Meskipun tidak terpikir niatan untuk berhenti, segala hal bisa saja terjadi. Mungkin saja karena saya di tahun itu menjadi terlalu repot (dan asyik) mendulang dolar dari bisnis internet saya yang booming, maka saya pun jadi “lupa” bagaimana caranya menulis sajak. Saya lalu menjadi “tumpul”, menjadi kehilangan minat pada hil-hil yang berurusan dengan estetika, dan bisa saja kemudian, kehilangan pula penghargaan kepada puisi.
Atau sebaliknya, karena saat itu saya sudah menjadi cukup kaya raya (meski belum setajir Anggoro Widjojo), dan ternyata minat saya pada sastra dan kesenian tidak menjadi mati, saya kemudian berinisiatif membuat program hadiah sastra yang lebih keren dari Khatulistiwa Award. Saya juga mungkin akan sibuk memantau dan mencari benih-benih unggulan di ranah sastra untuk “diselamatkan”. Jadi saya berharap, tak ada lagi penyair berbakat yang terlunta-lunta tidak bisa menerbitkan bukunya, hanya karena ia tak cukup punya “power”, atau duit, atau “koneksi”, atau “mantra”, atau entah apa sebutannya, yang bisa meluluhkan hati beton para juragan penerbitan.
(Di tahun 2012, jangan-jangan, tak banyak hal yang berubah. Indonesia masih begini-begini saja. PSSI tak kunjung juga bikin prestasi. Chris John mungkin sudah tak juara lagi, ia memilih berbisnis jamu kuat. Hukum rimba masih jadi panglima. Ada banyak blog yang dilarang tayang karena dianggap “menghina” ini dan itu. Mama Lauren sudah pikun, dan ramalannya jadi tidak lagi akurat. Banjir besar melanda Jakarta, sesuai “skedul” banjir bandang 10 tahunan (ingat banjir dahsyat 2002?). Tapi di tengah-tengah situasi muram itu ada juga menyeruak kabar baik, dan kabar baik itu anehnya datang dari dunia sastra : hadiah nobel sastra tahun itu ternyata jatuh kepada seorang sastrawan nusantara ...).
19 November 2008
Adam yang "Sexi" ...
Selengkapnya baca di sini …
10 October 2008
Orang Pandai yang Bersembunyi
Dalam prolog dari Kisah Membunuh Naga (Ie Thien To Liong) versi OKT diceritakan tentang seorang rahib lugu bernama Kak Wan Taysu, yang sebetulnya sudah muncul dalam penghujung cerita Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar atawa Sin Tiau Hip Lu. Kak Wan adalah “paderi bodoh” yang bekerja di perpustakaan biara Siauw Liem. Tugasnya sehari-hari adalah menjaga keamanan dan kebersihan ribuan kitab di perpustakaan itu. Ia sendiri diceritakan tak mengerti ilmu silat, dan memang begitulah adanya.
Syahdan, suatu ketika dalam keasyikannya membersihkan kitab, secara tak sengaja ia menemukan sejilid kitab tipis yang berisi pelajaran ilmu silat dahsyat yang secara ajaib luput dari perhatian para penghuni Siauw Liem lainnya. Meskipun “tolol” ia toh mengerti kitab itu sebuah mustika yang tiada taranya sebab ditulis langsung oleh Bodidharma, tokoh yang konon adalah peletak dasar silat Siauw Liem.
Begitulah diam-diam tanpa sepengetahuan siapa pun rahib “bodoh” itu meyakinkan ilmu dalam kitab tipis itu, dan tanpa ada yang tahu ia kemudian mengalami metamorfosis dari seorang yang tak paham ilmu silat menjadi seorang sakti yang tersembunyi. Tersembunyi,karena ia, setelah jadi hebat tak tertarik untuk gembar-gembor, melainkan terus tinggal di perpustakaan merawat ribuan kitab yang jadi tanggung jawabnya.
Dalam kehidupan kita sehari-hari tokoh seperti Kak Wan ini--“orang pandai yang bersembunyi”—pasti juga ada. Mereka tak begitu hirau dengan segala ingar bingar publisitas semu. Mereka lebih memilih tinggal di sudutnya, dalam kesendirian dan kesepian, seraya terus mendalami dan meyakinkan bidang yang menjadi pilihannya. Saya membayangkan, ia mungkin saja seorang penyair jenius yang lebih memilih menyimpan saja puisi-puisinya (dan pikiran-pikirannya) dalam laci—kita pasti teringat Emily Dickinson ….
Pertanyaannya kini, salahkah pilihan “bersembunyi” yang mereka ambil? Kak Wan dalam Kisah Membunuh Naga, lantaran terpaksa sekali, akhirnya muncul ke gelanggang, mengobrak-abrik musuh dan sekaligus membuka mata banyak orang. Ia pun kemudian, menurut sang empunya cerita konon, menjadi inspirator bagi lahirnya silat Wudang dan ilmu pedang Gunung Emei.
29 July 2008
Halo, Saya Ryan ...
Bukan hanya di Bali itu saja saya mengumumkan kehadiran saya. Masih ingat 27 Juli 1996? Ketika itu saya memimpin “orang-orang saya“ menduduki sebuah kantor parpol di jalan Diponegoro. Tentu saja, banyak korban yang berjatuhan akibat keganasan saya. Bohong, kalau dibilang yang mati sedikit. Tapi sebagai orang “kuat”, tak bisa seorang pun menuntut saya. Lihat saja, buktinya karir politik saya malah tambah maju. Tahun depan, insyallah, saya akan maju sebagai calon presiden.
Apa yang tak bisa saya lakukan? Di bulan Mei 1998, sesudah menembak mati sejumlah mahasiswa, saya memimpin “orang-orang saya” membakar ludes Jakarta. Sekalian, saya perintahkan mereka memperkosa amoy-amoy Cina nan molek-molek itu. Mengapa saya lakukan perbuatan biadab itu? Sederhana saja. Saya tahu keberadaan kelompok Cina di negeri ini selalu menjadi “duri dalam daging” bagi kelompok mayoritas. Dengan berbuat ini, saya hanya “membantu” menyalurkan dendam kolektif bawah sadar mereka. Ya, kalau bukan waktu itu, kapan-kapan dendam itu juga pasti meledak. Jadi, apa bedanya?
Saya Ryan, memang dikaruniai bakat yang hebat untuk bersikap luwes dalam situasi apa pun. Sewaktu seluruh bangsa ini terjerat eforia reformasi yang kepagian itu, diam-diam saya pun menyiapkan diri. Saya lalu rajin muncul dalam berbagai kesempatan, sebagai sosok pembawa kabar baik. Dengan bersemangat saya berkoar dari seminar ke seminar, memesona para pendengar dengan wacana separuh jadi. Oh, mereka sungguh teramat lapar, sesudah tahun-tahun yang membisukan itu. Kini dalam tempo yang begitu singkat mereka sudah menjadi kekenyangan, gendut, dan malas bernalar. Ini memudahkan saya membantai dan mencincangnya nanti.
Saya pun berhasil menyelundup ke dalam gedung parlemen, lalu duduk di sana dengan santainya. Boleh dibilang tak ada kerja berarti yang saya buat. Tapi supaya tak kelewat kentara, sesekali saya pun bikin heboh, supaya terkesan betapa saya sungguh concern dengan nasib orang banyak. Luar biasa asyiknya permainan itu. Saya pun sukses sebagai juragan, karena dengan kelihayan saya, saya juga bisa nangkring di kursi empuk kabinet. Dari sini saya bisa leluasa sekali mengatur bisnis saya. Tak ada yang bisa mengotak-atik saya, karena musuh-musuh saya tahu belaka duit sayalah yang bikin mereka bertahan.
Jadi, apa yang tak bisa saya lakukan. Ya, saya, yang hari-hari ini membuat anda terlongong-longong itu, sebetulnya sudah lama ada, dan akan senantiasa ada, memenuhi seluruh pojok negeri. Bukan, saya bukan gay, yang benar adalah saya bisa tampil leluasa sebagai apa saja, atau siapa saja, seturut situasi yang ada. Betul, nama saya memang Ryan, dan sebaiknya jangan pernah melupakan saya, atau anda akan jadi korban saya yang berikut …
19 July 2007
Life without Handphone
SAYA yakin anda yang membaca artikel ini tidak tahu—dan boleh jadi juga sulit percaya--bahwa sampai saat ini saya tak memiliki handphone, bahkan saya belum merasa memerlukannya. Ada orang iseng--yang merasa pinter—pernah ngomong bahwa sekarang ini keluar rumah tanpa bawa handphone itu sama dengan keluar rumah nggak pakai baju dalam.Agak geli juga mendengar omongan itu—dan rada tersinggung juga sih. Tapi lebih dari itu nyatanya sejauh ini saya baik-baik saja. Jadi apakah ada yang salah sebetulnya kalau hari geneh saya belum punya HP? Saya rasa handphone—seperti juga banyak pernik-pernik kehidupan “modern” lainnya, laptop umpamanya—sering kemudian jatuh menjadi sekedar kelatahan dan kekenesan dari gaya hidup sejumlah orang.
Pastilah ada orang yang perlu handphone, laptop dan sejumlah pernik lainnya lagi, untuk menunjang mobilitas dan kelancaran aktivitas hariannya. Seorang salesman yang mobilitas kerjanya tinggi pasti perlu benda yang disebut handphone itu dan mungkin juga laptop sekalian. Tapi seorang tukang sapu jalan? Seorang ibu penjual sayur keliling? Oh, saya pernah melihat seorang penyapu jalan sedang asyik berhalo-halo dengan handphonenya—dan memang itu bukan hal aneh.
Saya bukan tukang sapu jalan, atau penjaja sayur keliling. Mobilitas saya terhitung rendah, aktivitas harian saya pun cenderung rutin. Sepanjang pagi sampai sore saya pasti ada di kantor. Hanya beberapa jam saja saya berada di jalan, berdesakkan dengan copet dalam bis yang sumpek. Sisa waktu lainnya saya habiskan di rumah, bersama anak-anak dan istri tercinta.
Jadi tidak aneh kalau sampai saat ini saya belum merasa perlu punya handphone. Hanya memang soalnya jadi sedikit absurd, apabila diingat saya tidak punya HP tapi sempat-sempatnya punya blog—dua lagi—dan email—juga dua biji. Ini baru fenomena yang rada tidak biasa, dan barangkali ganjil. Atau ini juga biasa saja?
20 April 2007
Turunan-Turunan Kain
DI DALAM Perjanjian Lama kita menemukan kisah Kain dan Abel, dua anak pasangan Adam dan Hawa. Kain adalah seorang pemburu, sedang Abel seorang peladang. Dikisahkan suatu kali mereka memberikan sesembahan kepada Tuhan, tapi Tuhan menampik persembahan Kain, sebaliknya sesembahan Abel diterima.Tindakan “diskriminatif” ini menyalakan kemarahan Kain, yang kemudian kita tahu berujung pada dibunuhnya Abel. Konon, inilah pembunuhan pertama di bumi, dosa kedua yang dibuat manusia setelah pelanggaran di Firdaus sebelumnya.
Motif Kain membantai saudaranya adalah rasa iri yang dipicu oleh tindakan “diskriminatif” Tuhan. Kitab Suci tidak secara jelas menceritakan mengapa Tuhan menolak sesembahan Kain. Bersalakah Kain sebetulnya? Saya menemukan penafsiran menarik perihal ini dalam sebuah sajak Sapardi Djoko Damono yang menyebut pembunuhan purba itu sebagai “dendam pertama kemanusiaan” dari “manusia yang setia tapi tersisih” (baca “Dua Sajak Di Bawah Satu Nama”, kump. Puisi DukaMu Abadi).
Pembantaian Kain atas Abel menjadi pola yang terus berulang. Di satu sisi ada “Kain”, si “manusia yang setia tapi tersisih” itu, dan di seberang sana Abel, ia yang selalu beruntung, hidup riang dalam kelimpahan dan kesenangan di ruang-ruang yang terang dan berbau wangi. Kain melihat ada yang “tidak beres” dalam kehidupan Abel yang berkelimpahan itu. Lalu muncullah kemudian kemarahan, dan niat “membereskan” yang “tidak beres” itu.
Cho Seung-hui, mahasiswa asal Korea Selatan, yang minggu ini menggegerkan Amerika dengan membantai puluhan rekannya di Virginia Tech, barangkali juga seperti Kain. Ia, dikabarkan membenci lingkungannya yang “mapan”, yang “terang dsn wangi”, karena mungkin ia melihat ada banyak yang “tidak beres” di sana. Ia sendiri, seperti Kain, merasa sudah menjalani hidup dengan “setia” tapi toh tetap melarat dan tersisih.
Cho, dengan gaya dan caranya sendiri, mungkin merasa tengah melakukan “jihad”. Kita di sini mungkin akan ketawa seraya menyebutnya “sakit”, tapi bukankah kita tak asing dengan kegilaan semacam ini? Bukankah gerombolan teroris yang mengacau di sekitar kita juga menyebut diri mereka sekadar melakukan “jihad “ atas nama hal-hal luhur?
Dan seperti Cho Seng-hui mereka juga tak pernah merasa perlu bertanya siapa atau layakkah kerumunan yang anonim itu dikorbankan.
05 April 2007
Sisifus atau Kristus?
ADA sedikit kemiripan setting kalau kita membandingkan kisah Sisifus dan kisah penyaliban Kristus. Sisifus harus mendorong batu besar ke puncak gunung, sementara Kristus menggotong salibmendaki sebuah bukit yang dikenal dengan nama Golgota, atau Tempat Tengkorak. Keduanya terlihat sebagai sosok-sosok yang tragis, berkeringat dan berdarah-darah, di bawah tindasan nasib yang bengis.Tapi hanya sampai di situ kemiripannya. Sisifus adalah korban para dewa. Batu besar yang dengan susah payah didorongnya itu tak pernah sampai ke puncak. Selalu, sebelum tiba di puncak, batu itu menggelinding lagi jatuh, dan Sisifus harus kembali turun, mulai lagi dari nol, dan mencoba mendorong kembali batu sialan itu. Begitu terjadi berulang-ulang, selama ribuan tahun. Sisifus, adalah sebuah lakon kesia-siaan.
Kristus memang akhirnya mati. Sebuah tikaman pada lambung menyudahi kehadiran lahiriahnya di dunia. Tapi kita tahu kisahnya tidak selesai sampai di situ. Ada kemudian kebangkitan sesudah kematian tubuh itu. Ada kemenangan menjemput di balik yang kelihatan seperti “kekalahan” itu.
Dan kemenangan, seperti pijar fajar, hanya bisa dijumpai sesudah genap seluruh malam dijalani. Tidak ada yang instan apalagi gratis. Kebangkitan itu, kemenangan itu, menjadi satu paket dengan sengsara dan kematian. Bukankah hanya kalau sebuah biji jatuh dan mati, barulah ia bisa tunbuh dan berbuah? Ini ada miripnya dengan ajaran sebuah agama timur lain yang mengajarkan bahwa moksa, nirvana, hanya tersedia sesudah rampung samsara.
Pencipta dongeng Sisifus hanya sampai pada samsara. Ia gagal menjumpai fajar di ujung malam. Atau barangkali fajar itu, moksa dan nirvana itu, baginya hanya hiburan palsu di tengah carut-marut hidup. Hanya sebuah nonsens.
16 March 2007
Juara-Juara Korupsi
SECARA mengejutkan Filipina berhasil merebut gelar Juara I Lomba Korupsi Asia, menggusur Indonesia, sang juara bertahan 5 kali berturut-turut. Fakta ini terungkap dalam laporan survey Political and Economic Risk Consultancy Ltd (PERC) yang baru saja diterbitkan (Koran Tempo, Rabu, 14 Maret 2007).Indonesia sendiri harus puas nangkring di posisi kedua, bersama Thailand. Sementara medali perunggu alias juara ketiga dikantungi Vietnam. Urutan selanjutnya dari nomor 4 sampai 12 berturut-turut adalah : India, Korea Selatan, Cina, Malaysia, Taiwan, Macau, Jepang, Hongkong dan Singapura, yang lagi-lagi menempati posisi paling buncit.
Hasil “gemilang’ yang dicapai Filipina itu langsung dikomplen Gloria Arroyo, sang presiden di sana, karena dinilai tidak akurat. Sementara Teten Masduki dari Indonesia Coruption Watch mengomentari melorotnya peringkat Indonesia sebagai “wajar” karena “cukup banyak kebijakan anti korupsi yang kini diterapkan.”
Daftar peringkat 12 terkorup di Asia itu juga menunjukkan beberapa hal menarik. Misalnya bahwa 3 posisi teratas ternyata dikangkangi oleh 4 negara Asean, yaitu Filipina, Indonesia, Thailand dan Vietnam. Jadi dalam urusan kutil mengutil ini, bangsa-bangsa di kawasan Asean bolehlah berbangga karena bisa mempecundangi negara besar Asia lainnya, semisal Cina dan Jepang.
Sementara itu Singapura, yang selama 10 tahun selalu ada di posisi juru kunci, agaknya perlu belajar sangat keras – misalnya dari Vietnam – untuk bisa memperbaiki peringkatnya di masa depan. Bagi Indonesia sendiri, turunnya peringkat ini tidak jadi halangan untuk kembali bertarung dalam Lomba Korupsi tingkat dunia. Peluangnya cukup terbuka, setidaknya untuk masuk “10 Big”, atau bahkan “5 Big” saja, rasanya masih bisa.
01 March 2007
L e v i n a
Tapi kita mungkin boleh sedikit merasa terhibur, karena di tengah situasi yang mustahil dan gila ini, setidaknya ada seorang kru televisi swasta yang membuktikan kepada kita bahwa hal “baik”, bahwa sebuah “niat baik”, belum sepenuhnya absen dari tengah kita. Muhamad Guntur, reporter TV swasta itu, seperti dituturkan seorang rekannya, sebetulnya bisa saja merelakan “kameranya” hilang untuk sebuah pilihan lain yang “lebih masuk akal”. Tapi kita tahu ia, yang ternyata tidak bisa berenang, justru tidak mengambil pilihan lain yang “lebih masuk akal” itu.
Paragraf-paragraf ini juga disiapkan untuk korban tewas lainnya dari kapal itu. Mereka, puluhan jumlahnya, mungkin tidak semuanya terdaftar dalam buku manifes. Mereka pun tidak “beruntung” bisa diekspos media, atau dielu-elukan sebagai “hero”. Keberadaan mereka hanya dicatat sebagai angka, atau disebut sepintas lalu, barangkali dengan sedikit keterangan tambahan “tidak terdentifikasi”, atau sekadar tanda “?” pada papan tulis di kantor pelabuhan yang repot itu.
Kita tak sempat tahu bagaimana mereka sebetulnya pada malam kelam saat kapal itu terbakar. Tak ada tayangan kamera “ekslusif” yang bisa dipamerkan kepada publik saat horor itu berlangsung. Tapi kita percaya, setidaknya saya tetap percaya, pada saat itu ada dari mereka yang sampai pada saat-saat terakhirnya – seperti dilakoni almarhum Muhamad Guntur – tetap membela “kameranya” daripada beralih pada pilihan lain yang “lebih masuk akal”, yang menjamin mereka bakal selamat.
Paragraf-paragraf ini memang disediakan bagi mereka, yang – meminjam kata-kata talzim seorang santu katolik – “telah menyelesaikan pertandingannya dengan baik …”, seraya “menjaga imannya”. Paragrag-paragraf ini mencoba menyelamatkan mereka, mungkin ke dalam sepotong kenangan penulisnya, sebelum waktu mengaramkan mereka lebih dalam lagi. Sebuah usaha yang mungkin saja sia-sia, karena waktu terus berjalan, tak menoleh atau bertanya, dan besok atau lusa – seperti antrean dalam sebuah arisan – ada saja kapal lain lagi yang terbakar, karam …
11 February 2007
Rakyat Masih Bisa Ketawa, Katanya
Pernyataan ini tentu saja sangat terasa menusuk hati. Pernyataan bahwa “rakyat tidak apa-apa karena (ternyata) mereka masih bisa tertawa, hemat saya, hanya bisa keluar dari mulut seorang “vampire” – bukan manusia lagi. Adakah Ical memang “vampire”, entahlah. Hanya saya ingat ia pernah menyebut para pengritiknya sebagai orang-orang yang ada upil di otaknya. Tapi lewat statemen ajaibnya itu Ical sudah memberitahu kita bahwa sebetulnya otaknyalah yang dipenuhi upil. Atau lumpur.
Entah apa yang sebetulnya terjadi dengan juragan kita ini. Sebagai orang yang ikut tersudutkan karena masalah lumpur Lapindo – yang jangan-jangan menurutnya juga dibesar-besarkan – mestinya ia bisa bertindak ekstra hati-hati dalam bicara dan bermanuver. Sebelum ini ia malah terlihat repot dengan urusan sosialisasi, maaf, kondom. Lagi-lagi urusan yang tidak jelas urgensinya di tengah situasi carut marut sekarang ini.
Saya juga jadi ingat, dalam sebuah wawancara ia pernah bilang bahwa ia pantas diberi nilai 9 (baca “sembilan”) untuk kinerjanya waktu itu selaku Menko Ekuin. Pernyataan ini tentu saja telah membuat banyak orang terpaksa tertawa. Tapi yang ditertawakan tampaknya tidak merasa apa-apa, mungkin karena kupingnya juga sudah penuh dengan upil.
Ical barangkali sebuah kompilasi sempurna dari kepongahan dan sekaligus kenaifan seorang pedagang yang kelewat lama tinggal di bulan. Karena terlalu lama ngendon di awang-awang wajarlah kalau kemudian omongannya suka nggak nyambung.
28 December 2006
Kutukan Babel
Dalam kisah kuno itu diceritakan bagaimana Tuhan menunjukkan kemurkaanNya atas sikap takabur manusia yang berambisi menyaingiNya dengan membangun sebuah menara yang diniatkan mencapai langit. Dikisahkan bagaimana kemudian Tuhan menghancurkan kesombongan itu dengan cara mengacaukan bahasa manusia ketika itu, dan kemudian mencerai-beraikan mereka ke pelosok-pelosok bumi.
Saya bertanya-tanya, apakah setting zaman kita sekarang tidak atau sudah mirip dengan situasi ketika itu? Bukankah kita juga saat ini dikuasai oleh semacam ambisi dan kesombongan untuk diam-diam “menyaingi” Dia di atas sana? Diam-diam kita begitu bangga dengan segala temuan dan pencapaian teknologi kita, bukan? Seperti di zaman Babel kita berambisi menciptakan sebuah bahasa yang “tunggal”, yang dapat menyatukan seluruh jagat. Teknologi misalnya, barangkali kita percaya sebagai bahasa “tunggal” yang bakal menyatukan jagat ini Teknologi barangkali adalah “menara” yang sedang kita bangun untuk memcapai langit, untuk merendengi Dia.
Tidak ada masalah dengan kemajuan teknologi itu sendiri, tentu saja – kita tidak harus kembali ke zaman batu, bukan? Tapi kesombongan yang diam-diam kita pelihara itulah yang harus diluruskan. Gempa di Taiwan itu mudah-mudahan bisa mengingatkan betapa sebetulnya manusia itu – yang bermula dari setetes mani, kemana-mana membawa tahi, dan ujung-ujungnya jadi bangkai, begitulah saya ingat Aa Gym pernah ngomong -- kagak ada apa-apanya.
Ya, bukankah kita ini hanya sebuah noktah sunyi tak bernama pada atlas semesta raya. Apa alasan dan hak kita untuk merasa diri hebat?
24 December 2006
Natal Itu Hadiah
Gereja pun akan mendadak penuh – meskipun ada ancaman teror bom – oleh umat yang kembali bakal disuguhi kisah kuno “kelahiran di kandang” dan segala kisah ikutannya. Kadang-kadang saya bertanya apakah yang ada di benak para pastor dan pendeta yang entah untuk keberapa kalinya harus mengantarkan lagi kisah itu setiap tahun. Tak ada masalah dengan kisah itu sendiri. Kisah-kisah itu bukan hanya indah, pun sarat muatan sakramental.
Masalahnya adalah bagaimana agar yang “indah” itu, yang sakramental itu, tidak lalu tinggal menjadi onggokan klise yang tak menarik hati lagi. Multatuli konon pernah berkata,“Membuat kebenaran menjadi terasa membosankan adalah sebuah kejahatan”. Saya tak tahu apakah kesadaran semacam itu ada di benak para pastor dan pendeta yang kebagian tugas mengantarkan warta baik itu. Saya juga tak tahu apakah saya sudah menuntut kelewat banyak.
Tiba-tiba saya ingat masa kecil dulu, ketika Natal sungguh-sungguh adalah Hadiah -- dengan “H”. Sebagai siswa “sekolah Minggu” saya selalu menantikan Natal dengan penuh harap. Bukan karena kebajikan atau keindahan teologal yang ditawarkannya tentu saja, tapi karena sejumlah hadiah yang memang bakal saya terima dari para guru “sekolah Minggu” saya. Hadiahnya, sejauh yang bisa saya ingat, tidak pernah heboh. Paling-paling seperangkat alat tulis sekolah, atau beberapa buku cerita bergambar berisi cuplikan kisah dari Alkitab. Tapi hadiah-hadiah itu betul-betul mengesan kuat. Barangkali karena Tuhan saat itu, tanpa setahu saya, sudah sungguh-sungguh hadir – sebagai Hadiah -- dengan cara yang sangat spesial dan pribadi.
Pada titik ini saya teringat sebuah ayat Injil, kata-kata Yesus sendiri, “… barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya” (Markus 10:15). Di sinilah agaknya ayat itu menemukan konteks riilnya. Jadi, hanya kalau kita bisa menjadi “bocah” kembali, barulah kita akan bisa berkesempatan mengalami Natal sungguh-sungguh sebagai Hadiah – dengan “H” itu. Selamat Natal!.
15 December 2006
T o m m y
14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama teologi iman. Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang gondrong. Penilaian singkatku: dia seorang yang nyentrik, sangat nyentrik. Tommy ternyata betul menjadi tantanganku yang terberat. Dia terus-terusan mengajukan komplain. Dia juga tak bisa percaya bahwa Tuhan mencintai kita tanpa pamrih. Dia melecehkan hal itu.
Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya dengan agak sinis, "Menurut pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan?" "Tidak," jawabku dengan sungguh-sungguh. "Oh," sahutnya. "Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan." Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil, "Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu." Tommy mengangkat bahu, lalu pergi. Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku.
Kemudian kudengar Tommy lulus, dan aku bersyukur. Namun kemudian sebuah kabar sedih : Tommy mengidap kanker, dan sudah mencapai stadium lanjut. Sebelum aku sempat mengunjunginya, dia malah duluan menemuiku. Tubuhnya sudah kisut, dan rambut gondrongnya rontok karena kemoterapi.
Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas. "Tommy! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?" tanyaku langsung. "Oh ya, saya memang sakit keras. Saya kena kanker, dan hidup saya tinggal beberapa minggu lagi”. Lalu kataku : “Kamu mau membicarakan itu?" Tommy menyahut, "Boleh saja. Apa yang ingin pastor ketahui?" Aku bertanya lagi, "Bagaimana rasanya berumur 24, tapi kematian sudah di depan mata". Dan Tommy menjawab, "Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tapi mengira bahwa minum, rmain perempuan, dan menguber-nguber harta adalah hal paling penting dalam hidup ini."
Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku. "Sesuatu yang pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah pastor. Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya. Lalu, pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata pastor itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh. Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya", Tommy melanjutkan, "dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan. Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital, saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga, tapi tak terjadi apa pun. Lalu, saya terbangun suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu. Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa untuk melakukan hal-hal penting," lanjut Tommy, "Saya teringat tentang pastor dan kata-kata pastor yang lain, “Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang kita cintai bahwa kita mencintai mereka. Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit, yaitu... ayah saya."
Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya. "Yah, aku ingin bicara." "Bicara saja.", katanya "Yah, ini penting sekali." Korannya turun perlahan. "Ada apa?". "Yah, aku cinta ayah, aku hanya ingin ayah tahu itu." Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu. “Korannya jatuh ke lantai. Lalu ayah melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya. Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya."
"Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah," sambung Tommy. "Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru mulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya. Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada di situ. Ia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya."
"Tommy," aku tersedak, "Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih.” Lalu aku menambahkan, "boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru kamu ceritakan?"
Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. Ia keburu meninggal. Tapi satu hal, ia sudah melangkah jauh dari iman ke visi. Ia sudah menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan banyak orang.
Suster Marietha
SAYA adalah seorang biarawati dari tarekat CB yang berkarya di Kupang NTB. Nama saya suster Marietha CB, umur 37. Tiga tahun yang lalu saya divonis oleh dokter di RS Panti Rapih Yogya bahwa saya menderita kanker payudara stadium 1B. Selama 1 tahun lebih saya berusaha minum obat-obatan tradisional dan teh hijau, tapi setelah 1 tahun saya cek kembali ke dokter di Panti Rapih, malah bertambah menjadi stadium 2B. Kemudian oleh seorang ibu di Semarang, saya dianjurkan pergi ke pastor Yohanes Indrakusuma, di desa Cikanyere Cipanas-Jawa Barat, untuk minta didoakan.
Pada waktu pastor Yohanes menumpangkan tangan diatas kepala saya, dia berkata : "Suster, pasti meyimpan dendam yang sudah lama kepada seseorang di hati suster." Mendengar itu saya menangis tersedu-sedu dan saya katakan kepada pastor :"Benar pastor, saya memang membenci ayah saya sejak saya di SMP, karena ayah saya telah menghianati ibu, 2 kakak saya dan saya. Kami diusir dari rumah kami, kemudian ayah dan seorang wanita menempati rumah yang sudah ber-tahun-tahun kami tempati itu".
Sejak itu ibu saya sakit-sakitan dan akhirnya meninggalkan kami selama-lamanya. Sejak itu saya memendam kebencian terhadap ayah. Setelah mendengarkan cerita saya, pastor Yohanes berkata :"Ya, itulah BIANG dari penyakit suster, selama suster tidak mau mengampuni ayah, obat apapun tidak akan menyembuhkan suster. Dan mengampuni bukan hanya dengan kata-kata, tapi harus dibuktikan dengan perbuatan."
Setelah itu saya minta izin cuti selam 6 bulan kepada suster provincial CB untuk menengok dan merawat ayah, karena saya dengar dari saudara ayah kalau ayah terkena stroke. Selama 6 bulan itu saya merawat ayah dengan cinta kasih yang tulus. Selama bersama ayah saya tidak minum obat apapun. Setelah selesai masa cuti, sebelum kembali ke Kupang, saya ke RS Panti Rapih di Yogya untuk cek up kembali.
Dokter yang merawat saya sangat heran dia bertanya :"Suster minum obat apa selama ini?" Saya jawab kalau tidak minum apa-apa. Saya balik bertanya ada apa dokter? Dokter menjawab dari hasil pemeriksaan baik darah maupun USG semuanya NEGATIVE. Langsung saya jawab obatnya PENGAMPUNAN. Dokter heran dan bertanya apa maksud suster? Saya ceritakan semuanya, kemudian dokter berkata wah kalau begitu kepada pasien-pasien saya yang menderita kanker, saya akan bertanya apakah Anda punya perasaan dendam atau benci terhadap seseorang. Kalau jawabannya YA, saya akan suruh berdamai dan memberikan pengampunan seperti suster, sambil tertawa-tawa si dokter menepuk pundak saya.
Demikianlah pengalaman yang saya alami bisa dibagikan kepada saudara semua, bahwa PENGAMPUNAN itu sangat besar faedahnya, tidak hanya untuk jasmani tapi juga rohani kita.
08 December 2006
Surat Buat Aa Gym
Melalui surat ini perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Aa. Pilihan jujur yang Aa ambil sudah berhasil membangunkan kami dari mimpi “indah” kami yang sebetulnya kosong-melompong. Aa sudah menolong kami menyadari bahwa kita semua ternyata hanya manusia-manusia biasa yang lemah. Bahwa kita hanyalah mahluk rapuh yang tersusun dari daging, tulang , serta sejumlah niat baik yang selalu saja dirongrong niat-niat lainnya.
Tindakan Aa yang tidak populer itu telah membikin banyak orang jadi sewot dan uring-uringan. Memang tidak enak rasanya kalau kita dipaksa bangun dari mimpi indah kita. Tapi siapa yang salah sebetulnya dalam urusan ini? Bukankah kami yang telah memulainya lebih dulu? Kami membutuhkan sebuah sosok “sempurna”, figur “ideal” yang bisa kami jadikan rujukan bahwa hidup kita hari-hari ini belumlah betul-betul bobrok, belum “tamat”. Bahwa masuh ada yang “selamat” dari situasi absurd sekarang ini. Aa telah kami pilih – secara sepihak – untuk menjalankan peran besar dan muskil itu.
Kami telah mendisain Aa sedemikian rupa, memformatnya dengan sempurna, menutup senua celah kemungkinan yang bisa membuat “kacau” citra yang kami ciptakan untuk Aa. Kami telah memaukkan Aa ke dalam semacam kerangkeng, pendek kata kami telah memaksa Aa menjadi “sesuai” dengan apa kehendak kami, seraya melupakan bahwa Aa sebetulnya yang paling berhak mengatur hidup Aa sendiri. Bahwa hidup adalah semacam air yang terus mengalir, dan karenanya manusia – saya, kami. Aa, siapa pun – bisa saja kapan-kapan berubah. Hanya Allah yang tidak berubah, bukan?
Tapi kami rupanya tak siap dengan perubahan itu. Sebagian dari kami begitu marah dan emosional, persis seperti anak-anak yang “ngambek” karena mainannya dirusak. Tapi biar saja begitu. Jalan menuju “pencerahan” sering memang menyakitkan. Saya tetap berterima-kasih kepada Aa karena sudah membantu kami – secara tidak sengaja tentu – mengalami “pencerahan” itu. Tapi urusan kalkulasi “dosa” sebagai akibat dari pilihan yang sudah Aa ambil itu tentu saja menjadi urusan dan tanggung jawab Aa pribadi dengan yang “di atas”. Saya mah kagak ikutan dong.
Demikianlah surat saya ini, yang saya tulis dengan agak terburu-buru, disertai harapan tulus semoga karir Aa tidak lalu jadi ambrol, dan barisan fans Aa tidak juga “bubar jalan” gara-gara kehebohan ini. Salam hormat.
01 December 2006
SmackDown ?
Petugas tramtib di Jakarta juga mahir ber-smackdown. Yang menjadi lawan mereka biasanya para pedagang kakilima atau joki-joki three in one yang kalau pagi pada berdiri berjajar di kawasan elite Jakarta. Belum lama ini ada seorang ibu yang ketangkap, lalu dibotakin kepalanya -- itulah rupanya cara sang petugas tramtib “membanting jatuh” lawannya. Kelompok berjubah putih yang menyebut diri “pembela” salah satu agama mayoritas di sini juga kerap bersmackdown ria ke tempat-tempat yang mereka tuduh sebagai sarang “maksiat”. Di pentas politik? Oh, kita tak pernah kekurangan suguhan “smackdown”.
Maka kalau tayangan “smackdown” diberangus dari layar kaca itu bukan berarti lantas kita bakal kehilangan tontonan itu. Itu juga bukan berarti lalu anak-anak kita menjadi “aman” dari segala ekses pola pikir dan pola laku keras yang tampaknya makin jadi “biasa” itu. Suguhan berita kriminal di koran dan tetelvsi akan tetap dan terus ada, karena memang sebagian dari kita menyukainya. Dan sebagai komoditas ia tak kenal musim. Statistik juga membuktikan bahwa suguhan tontonan keras digemari banyak orang. Ini lalu artinya apa?
Penjelasan “bodoh”nya barangkali, karena di dalam diri setiap kita ternyata mengendon naluri “binatang” yang sesewaktu butuh dpuaskan.Tontonan “smackdown” menjadi kanal bagi sang hewan untuk sebentar memuaskan naluri purbanya itu. Jadi, percuma sajakah kita ribut-ribut melarang tayangan “smackdown” beberapa pekan ini? Tidak juga sih, hanya saja janganlah kelewat berharap bahwa urusan akan begitu gampang selesai dengan cara main larang ini atau itu, seperti kebiasaan kita selama ini.
12 November 2006
1 9 9 8
Bahwa zaman baru itu, yang secara prematur dan terburu-buru diproklamirkan sebagai zaman reformasi, ternyata kemudian berbelok arah dan berubah menjadi zaman "repotnasi", itu adalah cerita lain. Tapi pada waktu itu, kita, atau setidaknya sebagian dari kita, sungguh percaya bahwa sebuah era yang baru dan lebih baik sudah datang mengetuk pintu. Sekarang, banyak dari kita pasti kecewa, karena yang datang mengetuk pintu itu ternyata cuma sejumlah pencoleng yang berniat merampas kembali impian-impian kita.
1998, bagi saya pribadi juga sebuah tahun penting (dan genting). Di tahun itulah saya secara resmi mengakhiri status saya sebagai jomblo. Momen pribadi ini pun ternyata tidak bisa lepas atau bebas dari kegaduhan suasana politik saat itu. Ada cerita kecil di baliknya.
Untuk rencana resepsi pernikahan tanggal 15 November 1998, lebih setengah tahun sebelumnya kami sudah membook sebuah restoran di bilangan Ketapang. Sudah sejak awal saya sebetulnya kurang sreg dengan pilihan tanggal 15 November itu. Bukan karena hitung-hitungan fengshuinya, tapi karena tanggal itu berdempetan sekali dengan sebuah hajatan besar, Sidang Istimewa (SI) MPR. Tapi istri saya mengabaikan keberatan saya. Saya pun kemudian tak memasalahkannya lagi.
Tapi beberapa bulan kemudian istri saya berubah pikiran. Ada seorang teman memberi saran supaya tanggal pestanya jangan 15 November. Alasannya ya itu, tanggal itu kelewat mepet dengan jadwal SI MPR. Aneh, omongan saya tidak digubris, tapi omongan sang teman bisa mengubah pikirannya. Singkat cerita kami pun mengganti tanggal resepsi menjadi 10 Oktober, kira-kira sebulan lebih cepat dari rencana semula.
Ternyata itu sebuah langkah tepat, karena betul saja SI MPR berujung pada keributan berdarah di Semanggi. Suasana Jakarta yang masih belum sembuh dari trauma kerusuhan Mei mendadak mencekam lagi. Orang pada takut pergi jauh dari rumah. Bayangkan, akan seperti apa suasana pesta kawinan kami kalau saja kami tetap ngotot memilih tanggal 15 November sebagai hari H kami. Pilihan yang bisa kami lakukan adalah memundurkan pestanya menjadi seminggu kemudian paling tidak. Tapi apa lacur? Seminggu setelah keributan Semanggi itu pun, di Jakarta meletup lagi sebuah keributan. Skalanya jauh lebih kecil dibanding kerusuhan Mei, tapi masalahnya, lokasi keributan itu justru di Ketapang (kelak peristiwa itu dicatat sebagai "Peristiwa Ketapang"), lokasi di mana restoran yang kami booking itu berada. Betapa gila dan absurdnya! Untunglah, karena kami memang sudah mengganti tanggal resepsi menjadi sebulan sebelumnya, kami pun batal menjadi sinting.
Saya menceritakan ini semua lebih sebagai sebuah sharing iman, karena saya percaya betul, ada campur tangan Tuhan di sana. Saya yakin, bukanlah sebuah kebetulan belaka bahwa istri saya kemudian bisa berubah pikiran, sehingga akhirnya kami pun sepakat mengubah tanggal resepsi perkawinan kami.
09 November 2006
Kunyahlah Sendiri
"Bapak menuturkan banyak cerita, tetapi tak pernah
menerangkan maknanya kepada kami."
Sang guru, dengan kalem menjawab :
"Bagaimana pendapatmu, nak, andaikata
seseorang menawarkan buah kepadamu, namun
mengunyahkannya dulu bagimu?"
(Dikutip dari buku "Burung Berkicau" Anthony de Mello, penerbit Cipta Loka Caraka, 1994)