Mei yang berduka
Maaf, jika tak kupunya lagi
Cukup ingatan
Guna mengenang
Kisah itu
Tinggal hanya
Asap
Reruntuk
Kata-kata
Yang tak cukup mendidih
Tak cukup perih, Mei
Aku ingin
Menyalakan lagi
Kobaran itu, Mei
Agar sempurna dongengmu
Tapi tak kupunya
Minyak dan korek apinya
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
Showing posts with label Tragedi Mei. Show all posts
Showing posts with label Tragedi Mei. Show all posts
12 May 2008
11 May 2007
Horor Mei 1998
MEMASUKI bulan Mei, Blog Tempo Interaktif menurunkan sebuah tulisan mengenang kembali Tragedi Mei 1998 yang hingga kini tidak kunjung jelas penyelesaian kasusnya. Tulisan di blog itu pun secara khusus menyoroti mandegnya urusan ini. Dalam kolom komentar saya nimbrung menulis dengan mengatakan antara lain bahwa “tidak pernah ada ceritanya kejahatan yang dilakukan tentara di sini dibongkar ke permukaan”, dengan menunjuk contoh kasus lain, Sabtu Kelabu, 27 Juli 1996.Kasus 27 Juli sangat menarik diangkat untuk dijadikan parameter keseriusan atau “keberanian” pemerintah mengusut kasus-kasus sejenis. Kalau dalam kasus 27 Juli saja Megawati yang sewaktu kejadian berada dalam posisi “si teraniaya” kemudian ternyata terbukti (tidak berani) bikin apa-apa sewaktu ia berbalik berada dalam posisi sebagai “RI 1”, dengan gampang kita pun bisa menghitung peluang kasus lainnya.
Tragedi Mei 1998 yang begitu sarat muatan politis, melibatkan konon sejumlah nama besar dan penting di panggung politik negeri ini dalam sebuah konspirasi kotor, agaknya hanya akan dibiarkan teronggok basi dalam gudang pula. Harapannya pelan-pelan orang akan bosan dan kemudian melupakannya.
Lagi pula tragedi gila ini buat sebagian mengambil korbannya dari kelompok minoritas Cina, sebuah “kasta” yang memang sengaja dipelihara untuk sewaktu-waktu dijadikan semacam “kayu bakar” guna memuaskan kemarahan sosial yang—agaknya juga sengaja dibuat--mendidih di lapis bawah. Setidaknya itulah yang saya lihat dipraktikkan di masa Orde Baru dulu. Tapi, apa betul nasib “kasta” ini sudah berubah kini?
Jadi, kembali ke laptop, kita tak usahlah kelewat berharap akan ada “kemajuan” dalam penanganan kasus ini. Entah ya kalau misalnya Gus Dur yang jadi presiden kita.
10 May 2007
Catatan Bulan Mei
Seno sudah menuliskan
kisah itu, Sapardi telah memerasnya
menjadi puisi, dan kau telah pula
menceritakannya berkali-kali.
Ada pun aku, cuma ingin sekedar
mengenangkannya--karena
tak kupunya banyak kata.
Lagi pula, berhadapan dengan
prahara begitu dahsyatnya,
kalimat-kalimatku yang miskin
bukankah cuma akan jadi beban?
Karena itu, aku sekedar ingin
mengenang saja, hari-hari
sewaktu kita berkerumun tegang
di mulut gang itu. Menunggu
sesuatu (entah apa) yang
sepertinya bakal tiba
kapan saja, dan dari arah
mana saja. Sesuatu itu boleh
jadi adalah kenyataan yang
paling buruk dalam hidup
setiap kita. Begitu buruknya
sehingga aku pun tak ragu lagi
menukar puisiku hari-hari itu
dengan kilatan belati.
Sapardi telah meringkasnya
dengan cermat, Seno menuturkan
kisah itu seru sekali, dan kau
agaknya masih akan kembali
mengulang ceritamu. Tapi
aku cukup puas dengan sekedar
mengenangkannya saja. Hari-hari
ketika kota kita dikepung
api. Dan langit, dan langit
digantungi asap, begitu kelam
dan tebalnya, hingga
kita pun bertanya-tanya
bodoh, adakah Dia juga ikut
terbakar di dalam sana?
kisah itu, Sapardi telah memerasnya
menjadi puisi, dan kau telah pula
menceritakannya berkali-kali.
Ada pun aku, cuma ingin sekedar
mengenangkannya--karena
tak kupunya banyak kata.
Lagi pula, berhadapan dengan
prahara begitu dahsyatnya,
kalimat-kalimatku yang miskin
bukankah cuma akan jadi beban?
Karena itu, aku sekedar ingin
mengenang saja, hari-hari
sewaktu kita berkerumun tegang
di mulut gang itu. Menunggu
sesuatu (entah apa) yang
sepertinya bakal tiba
kapan saja, dan dari arah
mana saja. Sesuatu itu boleh
jadi adalah kenyataan yang
paling buruk dalam hidup
setiap kita. Begitu buruknya
sehingga aku pun tak ragu lagi
menukar puisiku hari-hari itu
dengan kilatan belati.
Sapardi telah meringkasnya
dengan cermat, Seno menuturkan
kisah itu seru sekali, dan kau
agaknya masih akan kembali
mengulang ceritamu. Tapi
aku cukup puas dengan sekedar
mengenangkannya saja. Hari-hari
ketika kota kita dikepung
api. Dan langit, dan langit
digantungi asap, begitu kelam
dan tebalnya, hingga
kita pun bertanya-tanya
bodoh, adakah Dia juga ikut
terbakar di dalam sana?
12 November 2006
1 9 9 8
1998 niscaya akan dicatat sebagai salah satu tahun yang kelam dan dramatis dalam kalender republik ini. Mungkin hebohnya hanya bisa direndeng dengan gonjang-ganjing 1945 dan 1965/66. Di tahun itu, diawali dengan krisis moneter di tahun sebelumnya, kita disuguhi serangkaian horor politik yang mengklimaks pada tersungkurnya tiran Orde Baru, Soeharto. Ada orang hilang. Ada mahasiswa diberondong pelor. Dan ada pula kerusuhan rasial yang sangat sangat edan dan (lagi-lagi) menjadikan etnis Cina sebagai targetnya. Betapa mahal nian ongkos yang musti dibayar untuk menjemput zaman baru yang diyakini akan membawa banyak perubahan dan perbaikan.
Bahwa zaman baru itu, yang secara prematur dan terburu-buru diproklamirkan sebagai zaman reformasi, ternyata kemudian berbelok arah dan berubah menjadi zaman "repotnasi", itu adalah cerita lain. Tapi pada waktu itu, kita, atau setidaknya sebagian dari kita, sungguh percaya bahwa sebuah era yang baru dan lebih baik sudah datang mengetuk pintu. Sekarang, banyak dari kita pasti kecewa, karena yang datang mengetuk pintu itu ternyata cuma sejumlah pencoleng yang berniat merampas kembali impian-impian kita.
1998, bagi saya pribadi juga sebuah tahun penting (dan genting). Di tahun itulah saya secara resmi mengakhiri status saya sebagai jomblo. Momen pribadi ini pun ternyata tidak bisa lepas atau bebas dari kegaduhan suasana politik saat itu. Ada cerita kecil di baliknya.
Untuk rencana resepsi pernikahan tanggal 15 November 1998, lebih setengah tahun sebelumnya kami sudah membook sebuah restoran di bilangan Ketapang. Sudah sejak awal saya sebetulnya kurang sreg dengan pilihan tanggal 15 November itu. Bukan karena hitung-hitungan fengshuinya, tapi karena tanggal itu berdempetan sekali dengan sebuah hajatan besar, Sidang Istimewa (SI) MPR. Tapi istri saya mengabaikan keberatan saya. Saya pun kemudian tak memasalahkannya lagi.
Tapi beberapa bulan kemudian istri saya berubah pikiran. Ada seorang teman memberi saran supaya tanggal pestanya jangan 15 November. Alasannya ya itu, tanggal itu kelewat mepet dengan jadwal SI MPR. Aneh, omongan saya tidak digubris, tapi omongan sang teman bisa mengubah pikirannya. Singkat cerita kami pun mengganti tanggal resepsi menjadi 10 Oktober, kira-kira sebulan lebih cepat dari rencana semula.
Ternyata itu sebuah langkah tepat, karena betul saja SI MPR berujung pada keributan berdarah di Semanggi. Suasana Jakarta yang masih belum sembuh dari trauma kerusuhan Mei mendadak mencekam lagi. Orang pada takut pergi jauh dari rumah. Bayangkan, akan seperti apa suasana pesta kawinan kami kalau saja kami tetap ngotot memilih tanggal 15 November sebagai hari H kami. Pilihan yang bisa kami lakukan adalah memundurkan pestanya menjadi seminggu kemudian paling tidak. Tapi apa lacur? Seminggu setelah keributan Semanggi itu pun, di Jakarta meletup lagi sebuah keributan. Skalanya jauh lebih kecil dibanding kerusuhan Mei, tapi masalahnya, lokasi keributan itu justru di Ketapang (kelak peristiwa itu dicatat sebagai "Peristiwa Ketapang"), lokasi di mana restoran yang kami booking itu berada. Betapa gila dan absurdnya! Untunglah, karena kami memang sudah mengganti tanggal resepsi menjadi sebulan sebelumnya, kami pun batal menjadi sinting.
Bahwa zaman baru itu, yang secara prematur dan terburu-buru diproklamirkan sebagai zaman reformasi, ternyata kemudian berbelok arah dan berubah menjadi zaman "repotnasi", itu adalah cerita lain. Tapi pada waktu itu, kita, atau setidaknya sebagian dari kita, sungguh percaya bahwa sebuah era yang baru dan lebih baik sudah datang mengetuk pintu. Sekarang, banyak dari kita pasti kecewa, karena yang datang mengetuk pintu itu ternyata cuma sejumlah pencoleng yang berniat merampas kembali impian-impian kita.
1998, bagi saya pribadi juga sebuah tahun penting (dan genting). Di tahun itulah saya secara resmi mengakhiri status saya sebagai jomblo. Momen pribadi ini pun ternyata tidak bisa lepas atau bebas dari kegaduhan suasana politik saat itu. Ada cerita kecil di baliknya.
Untuk rencana resepsi pernikahan tanggal 15 November 1998, lebih setengah tahun sebelumnya kami sudah membook sebuah restoran di bilangan Ketapang. Sudah sejak awal saya sebetulnya kurang sreg dengan pilihan tanggal 15 November itu. Bukan karena hitung-hitungan fengshuinya, tapi karena tanggal itu berdempetan sekali dengan sebuah hajatan besar, Sidang Istimewa (SI) MPR. Tapi istri saya mengabaikan keberatan saya. Saya pun kemudian tak memasalahkannya lagi.
Tapi beberapa bulan kemudian istri saya berubah pikiran. Ada seorang teman memberi saran supaya tanggal pestanya jangan 15 November. Alasannya ya itu, tanggal itu kelewat mepet dengan jadwal SI MPR. Aneh, omongan saya tidak digubris, tapi omongan sang teman bisa mengubah pikirannya. Singkat cerita kami pun mengganti tanggal resepsi menjadi 10 Oktober, kira-kira sebulan lebih cepat dari rencana semula.
Ternyata itu sebuah langkah tepat, karena betul saja SI MPR berujung pada keributan berdarah di Semanggi. Suasana Jakarta yang masih belum sembuh dari trauma kerusuhan Mei mendadak mencekam lagi. Orang pada takut pergi jauh dari rumah. Bayangkan, akan seperti apa suasana pesta kawinan kami kalau saja kami tetap ngotot memilih tanggal 15 November sebagai hari H kami. Pilihan yang bisa kami lakukan adalah memundurkan pestanya menjadi seminggu kemudian paling tidak. Tapi apa lacur? Seminggu setelah keributan Semanggi itu pun, di Jakarta meletup lagi sebuah keributan. Skalanya jauh lebih kecil dibanding kerusuhan Mei, tapi masalahnya, lokasi keributan itu justru di Ketapang (kelak peristiwa itu dicatat sebagai "Peristiwa Ketapang"), lokasi di mana restoran yang kami booking itu berada. Betapa gila dan absurdnya! Untunglah, karena kami memang sudah mengganti tanggal resepsi menjadi sebulan sebelumnya, kami pun batal menjadi sinting.
Saya menceritakan ini semua lebih sebagai sebuah sharing iman, karena saya percaya betul, ada campur tangan Tuhan di sana. Saya yakin, bukanlah sebuah kebetulan belaka bahwa istri saya kemudian bisa berubah pikiran, sehingga akhirnya kami pun sepakat mengubah tanggal resepsi perkawinan kami.
Subscribe to:
Posts (Atom)