Tak bisa kutebak
Kau sebetulnya siapa
Malam apalagi
Menyimpan sempurna lukamu
Dalam kemilau lampu
Atau tunggu saja
Sampai habis kata
Terkumur pahit di mulut
Bakal terlucut topeng
Yang menutup muka
Di balik setiap baju
Dan kilau lelampu
Tersimpan rapuh
Sepi hati manusia dulu
Lama sebelum kau
Hadir dan menggoda
Dengan silau benda
Warna-warni di bawah matahari
Ialah ini belantara ganas
Melahapmu tak mau sudah
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts
12 March 2007
24 November 2006
Langgam Jakarta
Berapa abad lagi masih harus menunggu
Aku seperti Sisifus dalam dongeng tua itu
Mengais terjal waktumu, mendorong bulan ke puncak
Hanya untuk sampai pada kebosanan lain lagi
Dari keheningan bumi dan doa burung-burung
Kubangun tangga demi tangga ke langit
Tapi angin senantiasa bangkit merobohkan
Mengembalikanku pada gemuruhmu
Aku seperti Sisifus dalam dongeng tua itu
Mengais terjal waktumu, mendorong bulan ke puncak
Hanya untuk sampai pada kebosanan lain lagi
Dari keheningan bumi dan doa burung-burung
Kubangun tangga demi tangga ke langit
Tapi angin senantiasa bangkit merobohkan
Mengembalikanku pada gemuruhmu
Ninabobo Jakarta
Tidurlah Jakarta, tidurlah.
Lupakan sementara korban
pembunuhan di koran-koran itu,
polisimu yang senang disuap,
hadiah lotere satu milyar,
dan liburan akhir pekan
di pulau. Lupakan juga rumah
bagus di Simpruk, dan
jaminan pensiun hari tua
buat pacar gelap. Bukankah
Kramat Tunggak sudah cukup
menghiburmu selama ini?
Jadi, tidurlah Jakarta,
tidurlah berbantal Monas, dan
berselimutkan merek-merek asing.
Biarlah Sudirman dan Thamrin
menerangi borokmu sepanjang
Tanah Abang Bongkaran..
Sementara itu, Senen
bersama Klender, di ujung
timur, akan membedaki
parasmu berlumuran. Lalu
dangdut di warung-warung,
akan menggoyang seru mimpimu,
sampai pagi tiba lagi,
dan nerakamu mulai lagi.
Lupakan sementara korban
pembunuhan di koran-koran itu,
polisimu yang senang disuap,
hadiah lotere satu milyar,
dan liburan akhir pekan
di pulau. Lupakan juga rumah
bagus di Simpruk, dan
jaminan pensiun hari tua
buat pacar gelap. Bukankah
Kramat Tunggak sudah cukup
menghiburmu selama ini?
Jadi, tidurlah Jakarta,
tidurlah berbantal Monas, dan
berselimutkan merek-merek asing.
Biarlah Sudirman dan Thamrin
menerangi borokmu sepanjang
Tanah Abang Bongkaran..
Sementara itu, Senen
bersama Klender, di ujung
timur, akan membedaki
parasmu berlumuran. Lalu
dangdut di warung-warung,
akan menggoyang seru mimpimu,
sampai pagi tiba lagi,
dan nerakamu mulai lagi.
17 November 2006
Monolog Jakarta
Aku harus bertarung tiap kali
melawan diriku. Dan bertanya
ulang, apakah aku masih aku yang dulu
atau mereka diam-diam telah mengubahnya
tanpa setahuku. Aku harus yakin, tapi
Jakarta pasti melumatku. Aku hanya
berharap, di antara gemuruh hutan buas
ini, masih ada sedikit tersisa
suara sepi. Supaya masih sempat
kutulis sajak buatmu biar hanyalah
sebaris dan tak sempat pula selesai.
melawan diriku. Dan bertanya
ulang, apakah aku masih aku yang dulu
atau mereka diam-diam telah mengubahnya
tanpa setahuku. Aku harus yakin, tapi
Jakarta pasti melumatku. Aku hanya
berharap, di antara gemuruh hutan buas
ini, masih ada sedikit tersisa
suara sepi. Supaya masih sempat
kutulis sajak buatmu biar hanyalah
sebaris dan tak sempat pula selesai.
Subscribe to:
Posts (Atom)