https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings
Showing posts with label Sapardi Djoko Damono. Show all posts
Showing posts with label Sapardi Djoko Damono. Show all posts

03 June 2008

Film Sapardi Djoko Damono

Undangan

Pemutaran film dokumenter 'Aku Ingin' karya Tonny Trimarsanto dan diskusi pada:
Sabtu, 7 Juni 2008, pk 19.30 wib
di Dusun Manahan, Jl. Menteri Supeno 20 (barat kolam renang tirtomoyo manahan), Solo

Sinopsis:

Aku Ingin
Sebuah film dokumenter yang mengupas dunia kreatif penyair Sapardi Djoko Damono. Puisi puisi Sapardi seakan tidak lelah untuk menginspirasi proses penciptaan bentuk bentuk kesenian yang lain. Puisi Sapardi juga begitu akrab dengan dunia keseharian masyarakat kita, karya karyanya menjadi populer dari anak anak SD hingga ibu-ibu rumah tangga. Lantas, seperti apakah proses kreatif yang dijalani Sapardi sebelum menuangkan puisi?

Program ini diselenggarakan oleh:
Rumah Dokumenter, Mataya arts&heritage, dan Dusun Manahan

Tentang Tonny Trimarsanto:

Tonny Trimarsanto, Klaten 1970
winner Best Film, for " Gerabah Plastik",at Indonesian Doc Film Festival 2002,
winner Excellent Prize, for " The Dream Land ", at 12th Earth Vision, Global Enviroment Documentary Film Festival 2004 Tokyo
Winner BEST ASIA SHORT FILM at 9th CINEMANILA International Film Festival Philipina 2007, dari film "RENITA RENITA"

Film dokumenter panjangnya "SERAMBI" di putar In Competition Selection UN CERTAIN REGARD, 59th CANNES FILM FESTIVAL , In Competition Selection Ibero World Cinema , 24th Miami International Film Festival , Florida US, In Asia Program , Tokyo International Film Festival, In Competition Selection, Vancouver International Film Festival, San Fransisco International Film Festival 2008

Film dokumenter "Renita Renita", diputar masuk kompetisi film Singapore International Film Festival 2007, DOCNZ New Zaeland , CON CAN Tokyo Film Festival 2007, Amnesty International Film Festival Amsterdam 2008, di Turino Gay Lesbian Transexual Film Festival Italia 2008, dan Roma GLBT Film Festival 2008.

Contact:

Heru Mataya 0816675 808, Tonny Trimarsanto 08159 256 503
Email: tonnytrimarsanto@ yahoo.com, infomataya@yahoo. com, udandawet@gmail. com

29 February 2008

Di Meja Makan Teringat Sapardi

Di meja ini kami bertiga : aku, lapar, dan piring
Kalian pasti tahu, lapar barulah sempurna lapar
Kalau ada nasi yang bisa dikunyah habis
Tak peduli itu nasiku, atau nasi orang lain

23 November 2007

Trend "Sapardian" dan Nama-Nama Baru

MARILAH kita ulangi lagi statemen ini : puisi bisa jatuh dari langit, tapi penyair tidak. Proses penciptaan kadang seolah terjadi sekonyong-konyong, meskipun sebetulnya tidak demikian. Apa yang kemudian menetas menjadi puisi sesungguhnya hanya sebuah titik dari sebuah garis panjang, yang disebut proses penciptaan itu sendiri. Ia hanya sebuah perhentian sejenak, atau kesimpulan sebentar, dari pergulatan kreatif yang belum lagi tamat.

Jika puisi bisa sekonyong jatuh dari awan gemawan, maka seorang penyair selamanya lahir lewat serangkaian proses belajar. Dan salah satu cara paling gampang dalam belajar adalah dengan meniru dari para pendahulu. Pada tahap ini wajar kalau kemudian pengaruh dari yang ditiru merembes, bahkan lalu membuat kita sampai basah kuyup. Celakanya, tidak semua kita punya kemampuan (atau kemauan) untuk berhenti menjadi “pak tiru”.

Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad adalah dua nama besar yang agaknya paling banyak mendapatkan “siswa” di sekolah-sekolah puisi kita. Saya sendiri heran mengapa gerangan pilihan jatuh pada dua beliau ini—mengapa tidak Amir Hamzah, Chairil, Sitor, Toto Sudarto, Subagio, Rendra, Taufiq, atau Tarji, misalnya. Apa kurang hebatnya Rendra, umpamanya, atau Tarji, dibanding Goenawan dan Sapardi?

Saya tak punya jawab pasti atas pertanyaan itu, meskipun kata beberapa teman, sajak-sajak saya juga sangat sekali “sapardian”. Paling saya hanya bisa bilang, gaya Sapardi itu kayaknya klop dan “nyambung” dengan mekanisme kerja perabot puitik saya. Hanya itu? Ya, mungkin juga lantaran referensi puitikal saya teramat miskinnya, jadi tahunya cuma jurus “estetika gerimis jatuh” punyanya Sapardi itu.

Tapi kini tren “sapardian” sepertinya sudah mulai bisa diterabas. Bukan oleh saya—saya sih masih harus terus berkelahi sengit mengenyahkan “hantu” Sapardi dalam kerja puisi saya. Tapi oleh nama-nama “baru” seperti Afrizal Malna, Zen Hae, Gus tf, Binhad Nurohmad, Nirwan Dewanto, Jimmy Maruli Alfian, dan mungkin masih ada sejumlah nama lagi yang luput dari amatan.

Sungguh, saya sangat berharap masih akan bisa menikmati kehadiran puisi-puisi mereka lebih kerap dan lebih lama lagi.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...