Aku Wiji Thukul
Aku bukanlah peluru
Menyesal aku tak bisa
Menjadi peluru
Aku Wiji Thukul
Aku hanyalah ingatan
Yang dilukai waktu
Kuingin menyapamu, kawan
Aku lihat gambarmu
Di koran dan televisi
Sehat dan berkacamata
Apa kabarmu, kawan?
Jadi kini kau terlibat
Ikut main muslihat
Dengan kertas-kertas
Gaya retorika sekolahan?
Aku lihat gambarmu
Di koran dan televisi
Terhormat dan berkacamata
Kau tampak bahagia, kawan
Aku Wiji Thukul
Hanyalah separuh ingatan
Yang dikucilkan waktu
Kumau melambaimu, kawan
Dari garis depan
Jauh dari garis depan
(Yang tak tersebut dalam kata)
Wiji Thukul menantikan
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
Showing posts with label Wiji Thukul. Show all posts
Showing posts with label Wiji Thukul. Show all posts
28 August 2009
16 January 2009
Dua Tukul, Dua Peruntungan

Dunia Tukul yang pertama adalah dunia yang “muram, sunyi dan keras”. Sedemikian sunyi dan kerasnya hingga untuk menyiasatinya hanya tersedia satu cara, “hanya ada satu kata”, kata Tukul yang pertama, yaitu : “lawan!” Tapi perlawanan itu pun kita tahu sia-sia.
15 August 2008
Kepada Wiji Thukul
Selalu kutahankan
Niatku yang naif
Menulis tentangmu
Karena setiap hal
Seputar nasibmu
Ternyata kelewat besar
Ruwet dan kurasa
Juga absurd
Untuk bisa
Kuringkas utuh
Dalam sajak
Karena itu
Terimalah saja
Hormatku yang dalam
Salamku yang diam
Dari dalam sebuah
Gedung jangkung Jakarta
Yang jauh dari debu
Dan aman dari peluru
Seorang yang tak pernah
Sempat kaukenal
Bahkan apalagi
Kau bayangkan
Menuliskan ini semua
Dengan mata kelam
Dan hati gerimis
Niatku yang naif
Menulis tentangmu
Karena setiap hal
Seputar nasibmu
Ternyata kelewat besar
Ruwet dan kurasa
Juga absurd
Untuk bisa
Kuringkas utuh
Dalam sajak
Karena itu
Terimalah saja
Hormatku yang dalam
Salamku yang diam
Dari dalam sebuah
Gedung jangkung Jakarta
Yang jauh dari debu
Dan aman dari peluru
Seorang yang tak pernah
Sempat kaukenal
Bahkan apalagi
Kau bayangkan
Menuliskan ini semua
Dengan mata kelam
Dan hati gerimis
11 November 2006
Kepada Wiji Thukul
Sebagian dari kami akhirnya
percaya, bahwa kau memang masih
ada. Di sebuah alamat tapi entah
di mana. Barangkali tak bisa
kami temukan, tak akan pernah
bisa kami cari alamat itu
pada atlas yang biasa. Tapi, satu
hal kami pasti, kau merdeka
kini. Lepas dari jangkauan
sang tiran dan penguasa
mana pun. Sebagian dari kami
akhirnya juga percaya, itulah
ujung lakonmu yang absurd dan
singkat. Di zaman bobrok,
di republik para perampok,
yang membantai sajak-sajak
seperti anjing. Sebab mereka tahu,
kata-kata bisa berbahaya
sekali saja jatuh ketanganmu.
Sajak-sajakmu akan jadi peluru,
atau barangkali bom waktu
yang sabar menunggu saatnya.
Itu sebabnya, sebagian dari kami
terus percaya, kau masih ada.
percaya, bahwa kau memang masih
ada. Di sebuah alamat tapi entah
di mana. Barangkali tak bisa
kami temukan, tak akan pernah
bisa kami cari alamat itu
pada atlas yang biasa. Tapi, satu
hal kami pasti, kau merdeka
kini. Lepas dari jangkauan
sang tiran dan penguasa
mana pun. Sebagian dari kami
akhirnya juga percaya, itulah
ujung lakonmu yang absurd dan
singkat. Di zaman bobrok,
di republik para perampok,
yang membantai sajak-sajak
seperti anjing. Sebab mereka tahu,
kata-kata bisa berbahaya
sekali saja jatuh ketanganmu.
Sajak-sajakmu akan jadi peluru,
atau barangkali bom waktu
yang sabar menunggu saatnya.
Itu sebabnya, sebagian dari kami
terus percaya, kau masih ada.
Subscribe to:
Posts (Atom)