https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings
Showing posts with label Penyair. Show all posts
Showing posts with label Penyair. Show all posts

08 October 2011

Tomas Transtromer, Nobelis Sastra 2011

Hadiah Nobel Sastra 2011 akhirnya jatuh kepada Tomas Transtromer, seorang penyair besar Swedia yang sudah 20 tahun hidup digerogoti kelumpuhan akibat stroke. Luar biasa bahwa penderitaan itu tak membuat semangat menulisnya padam. Penyair gaek (80) yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam 60 bahasa itu menyisihkan penyair Suriah Adonis, novelis Jepang Haruki Murakami dan penyanyi Amerika Serikat, Bob Dylan. Sebagai pemenang ia berhak atas hadiah uang senilai 10 juta kron Swedia, atau setara dengan US$1,45 juta.

Pihak Akademi Nobel menilai karya-karya Transtromer sangat kaya perlambang serta gambaran alam negerinya, yang diolahnya intens lewat tema kematian, kesepian dan penebusan. Kemenangan Nobel untuk penyair ini tentulah sebuah hadiah berarti bagi negerinya, yang selama ini hanya dikenal luas karena penulis kriminal Henning Mankell dan kelompok musik pop ABBA.

Transtromer, yang juga menggemari musik (ia bermain piano dengan tangan kirinya) sudah pernah masuk nominasi hajatan akbar itu pada 1993. Ia lahir pada 15 April 1931, dari pasangan ibu seorang guru dan ayah seorang jurnalis. Karyanya tahun 1954, "17 Puisi", kerap disebut-sebut sebagai debut sastra terbaik pada dekadenya. Selain menulis ia juga menggeluti psikologi.

Penyair Amerika Serikat, Robert Hass, mengomentari karya-karya Tomas Transtromer sebagai “Memberi rasa yang pas tentang bagaimana rasanya menjadi orang kebanyakan yang menjalani hidup di saat segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya."

Swedia sebetulnya pernah pula menyabet Nobel Sastra pada 1974 lewat Eyvind Johnson dan Harry Martinson. Hanya saja kemenangan itu kemudian menyulut kontroversi, pasalnya mereka ternyata bagian dari Akademi Nobel yang membawahi hajatan tersebut.

07 October 2011

Cangkir Penyair

Cangkir itu sebetulnya biasa saja, seperti cangkir-cangkir pada umumnya. Hanya ukurannya memang agak lebih besar dari cangkir biasa. Aku tak begitu paham mengapa ayah selalu menggunakan cangkir itu kalau mau menyeduh kopi, padahal ada beberapa cangkir lain. Ia melarang kami, anak-anaknya dan yang lainnya, menggunakan cangkir itu. Ini cangkir penyair, katanya beberapa kali mengulang pengumumannya. Yang bukan penyair tak minum dari cangkir ini, katanya pula, dengan nada bicara yang dibuat terdengar takzim.

Aku suka memperhatikan kalau ia sedang menyeduh kopi. Seingatku caranya juga biasa saja, tak ada ritualnya yang aneh-aneh. Ia menuangkan kopinya lebih dulu, satu atau dua sendok serbuk hitam itu dicampuri gula putih secukupnya, mengambil termos berisi air panas, menuangnya ke dalam cangkir keramat itu. Ia akan mengaduknya pelan-pelan, diam-diam, seperti sedang berdoa..Lalu ia akan membawa minuman itu ke kamarnya. Ia akan duduk nyantai selonjor di depan televisi, seraya pelan-pelan menyeruput kopinya, juga pelan-pelan, seperti tengah berpikir-pikir, atau apa begitu Entahlah. Yang pasti tampaknya sublim sekali segala perilakunya itu.

Kadang ia suka nyelutuk sendiri, enak racun ini. Atau, kalau sudah minum racun ini baru penyair bisa menulis. Memang kadang aku pergoki, sesudah selesai dengan ritual minum kopinya ayah mengambil buku notes yang suka dibawa-bawanya, lantas menulis-nulis sesuatu di sana. Kadang cukup lama ia melakukan itu, mencoret ini, mencoret yang lain, membolak-balik halaman baru notes itu. Kadang ia pindah duduk ke kursi di teras atas rumah kami yang sempit. Di situ memang lebih tenang suasananya. Ia lalu tampak seperti karam dalam kesuntukannya menulis itu.

Ia tak pernah memperlihatkan apa yang barusan ditulisnya. Aku pun tak begitu berminat untuk mengintipnya. Tulisan-tulisan di buku notes itu lebih berupa corat-coret yang hanya bisa dipahaminya sendiri, bahkan kadang ia pernah kudemgar mengomel tak bisa membaca apa yang sudah ditulisnya di sana. Lucu sekali melihatnya uring-uringan mencari sambungan yang terputus dalam catatan yang sudah ditulisnya.

02 June 2008

"Matinya" Seorang Penyair

DULU ia adalah salah seorang penyair favorit saya. Namanya sempat cukup menjulang, disebut-sebut sebagai salah satu calon penyair penting di sini--ia berada dalam satu barisan dengan penyair fenomenal Afrizal Malna. Dan memang buku puisi mereka pernah ketiban penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta di tahun yang sama.

Sebagai penyair ia menandai kehadirannya dengan sajak-sajak yang sederhana dan jernih dalam ungkapan.Tema-tema relijius, alam, dan sosial dengan balutan nuansa kontemporer bergantian muncul dalam puisi-puisinya. Memang ia bukanlah jenis penyair yang sekonyong-konyong datang dengan “kejutan”. Tapi seperti banyak penyair lain di masa itu ia mulai dengan merangkak dari kolom-kolom puisi remaja di koran-koran minggu, sebelum akhirnya menaklukkan halaman-halaman “keramat” majalah sastra yang dianggap standar.

Ia berada dalam gerbong besar mainstream puisi Indonesia. Ia tak tampil menyentak, melainkan dengan berindap-indap, sampai suatu saat orang pun menyadari (seraya mengakui) kehadirannya. Ia tak menawarkan “kebaruan”, jika yang dimaksud dengan “kebaruan” adalah hal-hal yang bikin geger. Ia memanfaatkan saja khazanah yang sudah ada. Tapi ia punya style, gaya sendiri, yang membedakannya dari penyair lain—dan bagi seorang penyair bukankah itu yang terpenting?

Suatu kali sebuah radio swasta di Jakarta mewawancarainya. Ada beberapa celutukannya dari obrolan radio itu yang terus saja teringat dan mengiang. Misalnya saya tak akan lupa ketika ia berujar bahwa “… musuh terbesar saya adalah Shakespeare”. Lalu ini, “Saya menulis sajak karena saya penyair, bukan saya menulis sajak supaya disebut penyair”. Yang terakhir itu adalah jawaban ketika kepadanya ditanyakan soal perlu tidaknya “pengakuan” dari orang lain atas kerja menyairnya.

Saya tak pernah sempat berkenalan dengannya, meskipun momen untuk itu bukannya tidak ada. Misalnya, saya pernah melihatnya di kantor majalah Horison yang lama. Di ruang sempit yang selalu acak-acakan itu, ia tampak sedang “pasang omong” dengan Hamsad Rangkuti. Tapi saya merasa kelewat kecil dan tak berarti untuk sekadar menyapanya. Lain ketika, secara mendadak saya berpapasan dengannya di toko buku Gunung Agung. Ketika itu sore, berhujan, saya pas turun di tangga, dan ia sedang naik, dengan payung basah yang belum sempat dilipatnya sempurna. Aih, lagi-lagi saya merasa begitu gugupnya bahkan untuk sekadar menyapanya.

Tahun-tahun berlalu dengan cepat. Saya makin jarang menemukan puisi-puisinya, dan akhirnya betul seperti kehilangan jejaknya sebagai penyair. Sampai belum lama ini saya memergoki buku barunya, tapi bukan buku sastra, apalagi puisi. Ia sudah bertukar habitat, atau mazhab agaknya? Kabarnya sekarang ia memang sudah orang mapan, dan punya jabatan bagus di perusahaan besar.

Jadi mungkinkah karena itu ia lalu menjadi kelewat sibuk dan “tak sempat” (atau tak merasa perlu) lagi menulis puisi? Sayang sekali kalau betul begitu. Padahal Shakespeare masih terus setia menunggunya …

22 February 2008

Berapa Honor "Layak" untuk Puisi?

BERAPA honor yang “pantas” diterima seorang penyair atas sajaknya? Sampai saat ini tak ada patokan, ukuran, atau apalagi aturan tentang itu. Tentu saja setiap koran atau media berhak menerapkan aturannya sendiri. Konon honor terendah atas puisi di koran sekarang 50 ribu. Tapi saya tak yakin. Rasanya masih ada penyair yang sekarang dibayar di bawah bilangan itu, tapi sayang saya tak punya datanya.

Di tahun 1980-an honor yang saya terima dari koran dan majalah yang memuat puisi saya berkisar antara 4 ribu sampai 15 ribu per puisinya. Honor puisi majalah Horison ketika itu juga berkisar antara 5 sampai 10 ribu per puisi. Seperti banyak penyair lokal lainnya saya tak pernah kelewat merisaukan masalah honor ini.

Para penyair kita agaknya sudah terkondisi secara psikologis untuk menerima kenyataan bahwa penyair memang “pantas” dibayar sekadarnya. Alih-alih meributkan honor, bahwa ternyata ada koran yang masih mau memuat puisi saja kami sudah pada senang sekali. Di masa itu (1980-an), asal tahu saja, Kompas “mengharamkan” halamannya dimuati sajak. Maka bayaran honor yang murah meriah itu kemudian diterima sebagai “bonus” yang sudah selayaknya disyukuri.

Karena itu pula sewaktu di tahun 1992 Rendra bikin acara baca puisi dan ia menerima bayaran 12 juta banyak orang pada geger. Ada yang meneriakinya “pengkhianat”, “pedagang”, “komersial”, seakan-akan tabu hukumnya kalau seorang penyair mendapat banyak duit dari karyanya. Seolah hanya profesi lain yang pantas mendapat perlakuan semacam itu.

Sekarang ini boleh dikata kondisi sudah lebih membaik. Ada sejumlah lembaga yang secara berkala rajin membagi-bagikan hadiah yang nilainya bagi saya sungguh “ruar biasa”. Selain hajatan Khatulistiwa Literary Award, dan sejumlah award dari lembaga lain, kini juga ada Anugerah Sastra Pena Kencana.yang juga menganggarkan dana besar untuk, dalam kata-kata Triyanto Triwikromo, Direktur Program ini, “lebih memartabatkan sastrawan”.

Tentu saja ini semua cerita baik. Tetapi barangkali tak ada salahnya justru dalam kondisi yang sudah makin membaik ini para penyair diam-diam saling bertanya kepada diri sendiri, layakkah sebetulnya karya-karya mereka diganjar seroyal itu?

05 January 2008

Sastrawan Amphibia

BANYAK dari kita, dengan berbagai alasan, melakoni gaya hidup amphibia—atau kompromistis, kalau anda ingin menyebutnya begitu. Tidak terkecuali para penulis. Banyak penulis yang karena terpaksa, atau suka rela, nyambi menjadi karyawan, salesman kompor, penyobek karcis bioskop, dan banyak profesi “biasa” lainnya—yang justru “jauh” dari kesibukan berkesenian.

Saya malah pernah kenal seorang penulis yang kepingin untuk sementara waktu nyambi menjadi kuli bangunan. Ketika saya tanya kenapa memilih pekerjaan “murah” dan “kasar” itu, jawabannya membuat saya tercengang. Katanya, dengan takzim, karena pekerjaan itu akan memberinya cukup waktu untuk merenung.

Tapi kiranya lebih banyak perilaku “amphibia” yang terjadi karena desakan ekonomis, ketimbang karena alasan yang idealistis murni. Penyair Afrizal Malna dulu pernah bekerja sebagai pegawai pembukuan. Atas pilihan hidup amphibianya itu ia mempunyai apologi yang menarik. Katanya, ia terpaksa nyambi menjadi karyawan justru untuk bisa menyelamatkan kemurnian semangat kreatifnya.

Sebagai pegawai ia bisa dengan lebih tenang menulis, karena tidak harus tergoda menggadaikan tulisannya hanya demi memenuhi kebutuhan sang perut. Tapi untuk bisa menjaga keseimbangan kreatifnya, ia pun harus berkorban dengan berusaha tetap menjadi karyawan biasa. Ia tak ingin jabatan tinggi karena khawatir akan jadi kelewat repot dan malah tak bisa menulis lagi nantinya.

Pilihan hidup amphibia memang tidak bisa serta-merta dicela. Karena soalnya tidak bisa disimpulkan hitam putih semata. Ada banyak contoh yang membuktikan bahwa dalam posisi serba kepepet sang penulis justru sanggup melahirkan karya-karya besarnya, tapi malah jadi lembek ketika kenyamanan hidup mulai berangsur menghampirinya.

16 December 2007

Penyair Besar dan Penyair Kecil

APAKAH beda penyair kecil dan penyair besar? Simpel dan sederhana. Penyair kecil itu sama dengan pencuri kecil, sedang penyair besar tentu saja juga seorang pencuri besar. Penyair kecil melakukan pencurian kecil-kecilan, jumlahnya sedikit dan tidak berarti. Teknik mencurinya juga mungkin kasar dan seadanya.

Adapun penyair besar melakukan pencurian besar-besaran. Jumlahnya tidak kepalang tanggung, tapi yang paling penting barangkali adalah trik mencurinya itu. Penyair besar memiliki cara-cara canggih dan halus, sehingga pada akhirnya hampir tidak ketahuan lagi bahwa hakikatnya ia hanya mencuri harta orang lain juga.

Seorang penyair kecil, seperti saya ini, segera ketahuan kalau habis mencuri. Soalnya cara-cara saya cenderung kasar dan sembarangan. Lagi pula penyair kecil cenderung melakukan pencurian dengan sasaran yang sama. Misalnya, kalau sudah pernah sukses mencuri celana di jemuran tetangga, ia suka ketagihan ingin melakukannya lagi di jemuran yang sama.

Ia tak punya cukup nyali dan bakat untuk melakukan eksperimen yang nyerempet-nyerempet bahaya. Ia cenderung mencari aman, dan cepat puas. Tentu saja triknya yang miskin ini hanya makin membuatnya dikenal sebagai pencuri kelas teri.

Penyair besar tidak begitu. Kalau sudah pernah sukses nyolong celana di jemuran tetangga, lain kali mungkin ia akan mencoba melakukannya di pasar, meningkat lagi di mal, dan begitu seterusnya. Mungkin juga ia tidak puas hanya mencuri celana saja. Yang lain-lain—kalau memang ada kesempatan--juga ikut diembatnya : kaos singlet, kaos oblong, kemeja, sepatu, termasuk sandal yang lagi bengong di masjid

Penyair besar mungkin juga tidak langsung puas dengan hasil curiannya. Celana yang berhasil dibawanya kabur, misalnya, dipermak dulu sebelum dipakainya. Kadang-kadang sesudah dipermak celana curian itu malah jadi lebih keren dari aslinya. Nah, baru sesudah itu ia berani petantang-petenteng dengan celana curiannya. Maka, kecuali pemilik asli celana itu, ditanggung orang lain bakal susah sekali mengenali jatidiri sang celana.

30 November 2007

Penyair Terbaik?

MENULIS puisi sangatlah beda dengan menulis esai, atau bentuk artikel umum lainnya. Menulis puisi menuntut kesiapan teknis dan mental yang jauh lebih berat—sangat spesifik, sebutlah begitu. Ia sungguh menyaratkan suasana batin yang hening, suasana hati yang barangkali tak kelewat salah kalau disebut mirip dengan “trance”.

Suatu suasana batin yang membuat kita seolah—untuk beberapa jenak--berjarak dan terselamatkan dari keriuhan di seputar dan keseharian kita. Sebuah kondisi yang menyebabkan kita seolah “mabuk kata”, atau hanyut dalam arus bandang imaji yang tak berkeputusan. Puisi lahir seperti sebuah “kecelakaan”, atau, kalau anda suka mendramatisasinya, seperti “takdir” itu sendiri.

Karena itu kelahiran puisi tak bisa direncanakan, dan tak mungkin diulangi lagi. Kalau kita memaksakannya juga, kita hanya akan mendapatkan tiruan yang sudah kehilangan spirit aslinya Karena itu tak ada jaminan seorang penyair yang hari ini menulis puisi bagus, besok atau lusa, akan menulis sama bagusnya. Bahkan tak ada jaminan samasekali ia masih akan bisa terus menulis.Puisi yang hari ini ditulisnya bisa saja puisi terakhirnya.

Karena itu sebetulnya keliru menggelari si anu atau si itu misalnya sebagai penyair “terbaik”. Sebab tak pernah ada penyair terbaik. Yang ada, mungkin, puisi yang baik.

08 July 2007

Bukan "Tema" Masalahnya

APA pun tema yang mendominasi tulisan anda—tema sosial, tema personal, reliji—yakinlah bukan di situ ukuran sukses anda selaku penulis. Lihatlah Sapardi Djoko Damono, penyair sohor papan atas kita. Selama berpuluh tahun beliau malang-melintang di dunia puisi dengan sajak-sajaknya yang mengangkat tema-tema yang amat “sepele” dan keseharian. Sapardi ternyata bisa menjaga kesehatan kreatifnya cukup dengan menghirup aroma di seputar “pekarangan” rumahnya.

Lantas ada Joko Pinurbo. Ia sukses menjadi salah satu ikon puisi kita karena “celana”, sebuah substansi “remeh” yang juga sangat sekali sehari-sehari dan tak masuk hitungan tadinya Tapi di tangan penyair ini, substansi yang “tidak puitis” ini telah diubahnya menjadi puisi-puisi kelas satu yang sebelumnya tidak pernah bisa kita bayangkan. Joko telah berhasil mengangkat “celana” menjadi substansi yang tidak lagi sekedar “celana”.

Syarat menjadi penyair sukses juga bukan tersedianya stok pengalaman nan dahsyat. Sapardi Djoko Damono mengaku suka iri kalau membaca pengalaman sastrawan lain yang serba hebat. Untunglah, sekali lagi, mempunyai pengalaman aneh atau dahsyat bukan menjadi syarat. Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo sukses karena mereka tahu “bagaimana” menyulap yang “sepele” itu menjadi “tidak sepele” lagi.

Memang, urusan kesusasteraan lebih pada masalah “bagaimana” kita menuliskannya ketimbang “apa” yang kita tuliskan. Tugas kita yang pertama adalah menemukan dulu “apa” yang menjadi tema hidup kita, atau “apa” yang paling jadi obsesi kita. Tidak usah risau—atau malu--kalau kita misalnya tidak tertarik pada tema sosial dan “besar” lainnya, tapi sebaliknya begitu kesengsem dengan hal-hal “remeh” di seputar kita. Tulislah saja “apa” yang paling ingin kita tulis. Jangan mulai menulis dengan membohongi diri sendiri.

01 July 2007

Orang Ketiga

SEORANG penulis mungkin saja terkecoh oleh tulisannya sendiri. Keterkecohan itu bisa datang dalam dua model. Seorang penulis bisa saja mengira ia baru sukses melahirkan sebuah karya besar, padahal itu hanya karya biasa. Atau sebaliknya, bisa jadi ia kecewa berat dengan karya yang baru ditulisnya, menganggapnya sebagai karya gagal, padahal ia baru saja melahirkan sebuah karya bagus, bahkan mungkin sebuah masterpiece.

Kadang dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyadari kekeliruan itu. Suatu ketika pernah saya mengirim sejumlah puisi ke sebuah jurnal sastra ternama. Kiriman itu dikembalikan dengan disertai alasan penolakan dari redaksinya. Tak puas dengan penolakan itu, naskah itu saya kirim balik disertai permintaan supaya redaksi memberikan alasan yang “lebih jelas” tentang alasan penolakannya. Baru bertahun-tahun kemudian saya ngeh sendiri betapa buruknya puisi-puisi yang saya kirimkan dulu itu.

Athol Fugard pernah menelantarkan naskah Tsotsi selama 20 tahun, karena menganggap itu sebuah karya yang gagal, dan tak layak terbit. Ia malah pernah mencoba memusnahkan naskah novel itu. Untunglah masih ada draft yang bisa diselamatkan, dan kemudian seorang Stephen Gray—dengan ijin ketat Athol Fugard sendiri—menyunting naskah itu, lalu menerbitkannya. Dan kisah selanjutnya adalah sejarah.

Seorang penulis ternyata juga memerlukan kehadiran “orang ketiga”—selain pembaca imajiner selaku “orang kedua” yang sudah dibayangkannya sewaktu ia menulis--yang bisa membantunya melihat dengan lebih jernih. Posisi “orang ketiga” itu itu bisa saja ditempati oleh seorang kritikus. HB Jassin pernah memainkan peran “orang ketiga” ini dalam sejarah sastra kita. Entah berapa persisnya jumlah sastrawan yang sempat dibaptisnya, dan entah berapa pula calon sastrawan yang sudah dibantainya.

Selain teman-teman karib yang bisa diandalkan dan dipercaya, sekarang ini peran “orang ketiga” itu kerap dimainkan oleh para redaktur sastra di koran-koran. Tidak semua redaktur koran bisa memainkan peran ini dengan baik. Banyak juga yang malah bikin bingung--tapi bukan tidak ada redaktur sastra koran yang bisa diandalkan. Saya ingin katakan bahwa redaktur seperti itu memang ada. Carilah dan temukan mereka, dan kesanalah sebaiknya kita kirimkan karya-karya kita. Tidak terutama untuk menguber pengakuan—atau honorarium—melainkan sebagai kesempatan mengetes seberapa jernih kita sudah menilai dengan benar tulisan-tulisan kita sendiri.

10 June 2007

Saat Vakum Sebagai "Berkah"

SETIAP penulis, bahkan yang “juara nobel” sekalipun, pasti pernah mengalami saat-saat vakum dan buntu berkarya. Waktunya tak menentu, bisa hanya beberapa minggu, tapi mungkin saja berbulan-bulan. Itulah kiranya masa-masa paling “bete” dan mencemaskan bagi sebagian penulis. Maka ada yang kemudian menjadi tidak sabaran lalu memakai cara-cara “tidak biasa”—mengonsumsi ganja atau ramuan aneh lain--untuk memaksa sang ilham buru-buru datang menemuinya.

Ada pula yang lebih suka menempuh jalan “relijius”. Remy Sylado berkisah tentang seorang penyair Yogya yang punya kebiasaan mandi kumkum di Parangtritis sebagai upaya memanggil ilham. Ada juga yang merasa perlu melakukan “puasa” dulu, melakoni hidup bermati-raga selama beberapa waktu, karena kondisi batin yang “bersih” konon katanya berkorelasi erat dengan suasana kondusif dalam proses penciptaan.

Tapi mengalami saat-saat “vakum”, saat-saat mandul sewaktu tidak sebaris pun puisi bisa ditulis sebetulnya ada berkahnya juga. Karena seorang penyair hakikatnya adalah manusia biasa maka ia pun memerlukan jeda dari kekhusukannya menulis. Tanpa jeda itu ia akan menjadi mahluk asing—dan mungkin “aneh--di tengah masyarakatnya. Pada saat jeda itulah ia kembali berkesempatan menjadi manusia “normal”, turun dari “awan gemawan” dan mendarat di bumi sebagai orang kebanyakan pada umumnya, yang tidak terbebas dari segala tetek bengek keseharian.

Saat-saat “vakum” itu sebetulnya juga bisa disulapnya menjadi waktu yang tidak mubazir. Sebab pada saat-saat seperti itulah ia mendapat peluang untuk melihat banyak hal dari sudut pandang yang lain. Bukankah ini juga sebuah kesempatan untuk “ngeluyur” guna mendapatkan lanskap baru dan segar? Kelak setelah waktu jeda itu lewat ia pun akan kembali ke puncak “menara kata”, tempatnya khusuk mengolah hidup, sebagai seorang penulis yang sudah jauh lebih diperkaya.

18 May 2007

Puisi Tidak Jatuh dari Langit

SEORANG kawan suatu kali berujar bahwa “puisi bisa jatuh dari langit”, tapi penyair, “tidak”. Maksud si teman itu kiranya cukup jelas : menjadi penyair itu bukan pekerjaan instan, ia butuh waktu, kerja keras, dan konon juga “bakat”, atau barangkali lebih tepat “kenekatan”. Baiklah, soal itu mungkin bisa agak mudah kita sepakati.

Tapi, betulkah kalau dikatakan puisi bisa sekonyong tercipta, begitu saja “jatuh dari langit”, seakan tidak ada ancang-ancang yang perlu mendahuluinya? Subagio Sastrowardoyo pernah menggambarkan seorang penyair seperti seorang pencuri yang tersesat masuk ke dalam gua penuh harta yang harus berburu dengan waktu sebelum sang penjaga gua itu keburu datang memergokinya

Meskipun penggambaran itu mengandaikan kerja menulis puisi sebuah kerja yang harus diselesaikan “secepat kilat” dan dalam ketergesaan, rasanya bukan maksud Subagio mau mengatakan bahwa sebuah puisi bisa sekonyong-konyong tercipta. Mesti ada sebuah proses yang mendahuluinya. Ada embrio—berupa mungkin sebuah pengalaman di masa lampau, misalnya--yang bersiap menanti saatnya menetas menjadi puisi.

Tidak karena melihat “apel jatuh” lantas tuan Newton mendadak menemukan teori gravitasi, bukan? Momen “apel jatuh” itu “hanya” berfungsi sebagai pemantik yang menggolkan teori itu. Sebelum sampai pada “point of no return” itu ada serangkaian proses panjang--yang keras, sunyi, melelahkan--yang mendahuluinya.

Dan begitulah juga sebuah puisi kiranya tercipta. Puisi yang kemudian berhasil ditulis itu hakikatnya hanya sebuah “titik” dari sebuah garis panjang tak terukur. Nah, tugas mahluk yang menyebut diri penyair adalah menjaga agar “garis panjang” itu jangan sampai terputus, seraya terus mencoba menciptakan momen-momen “apel jatuh” pada garis panjang itu.

13 April 2007

Merawat Kesetiaan

DALAM kata pengantar untuk kumpulan puisi lengkap Goenawan Mohamad (1961-2001), Ayu Utami dan Sitok Srengenge menulis antara lain bahwa penerbitan secara lengkap karya seorang penyair adalah sebentuk penghargaan untuk “kesetiaan” yang sudah dilakoninya. Seorang penyair, mungkin saja lelah dan bosan, atau malahan membenci tulisannya sendiri, tapi toh ia—dalam konteks ini Goenawan Mohamad—ternyata terus bertahan menulis.

Banyak sekali godaan yang bisa merontokkan “iman” seorang penyair berhenti menulis. Banyak alasan untuk “murtad”. Panggung puisi kita pada era 1980-an pernah diisi antara lain oleh nama-nama “besar” dari dinasti Masardi : Yudhistira, Noorca, Adhie. Mereka adalah bibit-bibit unggul yang pernah diharapkan bakal menyumbang banyak. Tapi sesudah sempat bikin “ribut” sebentar, pelan-pelan mereka malah menghilang dari panggung.

Contoh seperti mereka lumayan banyak. Marilah coba iseng kita hadirkan lagi mereka : Adri Darmaji Woko, B Priyono Sudiono, Adek Alwi, Fakhrunnas MA Jabbar, Irawan Sandya Wiraatmaja, Lazuardi Adi Zage, Heryus Saputro, Heru Emka, Suparwan G Parikesit, Beni Setia, Andrik Purwasito, Lucianus Bambang Suryanto, Bambang Widiatmoko, Aming Aminudin, Slamet Raharjo Rais, Nasrudin Anshory—silakan menambah sendiri daftar ini.

Sebagian kecil dari mereka pernah “kepergok” ternyata masih menulis, tapi dengan produktivitas dan kualitas yang sudah jauh merosot. Sisanya tak sempat terlacak. Bisa saja mereka pun masih terus menulis, hanya mungkin—dengan alasan yang tidak bisa diganggu gugat--tidak berminat lagi ikut bermain di panggung. Kalau begitu duduk soalnya kita pun tidak bisa apa-apa.

Di luar itu pastilah ada mereka yang betul-betul “mati”. Sebagian dari mereka mungkin “dibunuh” oleh rutinitas keseharian--ini barangkali kasus terbanyak—lainnya oleh sebab-sebab yang bisa disebut “ideologis”—misalnya karena hilangnya rasa respek mereka kepada puisi itu sendiri. Nah yang begini ini baru repot.

Dalam urusan “kesetiaan” kepada puisi ini, tentulah juga menarik menunggu bagaimana gerangan kelanjutan kiprah sejumlah besar nama “baru” yang belum lama ini pernah direkomendasi oleh Joko Pinurbo sebagai bibit-bibit unggul di panggung puisi kita hari ini. Sampai berapa lamakah mereka bisa bertahan untuk tidak jatuh pada godaan-godaan untuk, katakanlah, “selingkuh” dari puisi? Silakan menjawab, dengan karya …

09 March 2007

Puasa Puisi Afrizal Malna

AFRIZAL Malna pernah memutuskan “bercerai” dari puisi. Itu terjadi sekitar 1970-an pertengahan. Alasannya sungguh idealistis : ia merasa puisi-puisi yang ditulisnya saat itu tidak memuaskannya samasekali. Maka daripada hanya nyampah, ia putuskan lebih baik stop menulis saja. Ia pun lalu mengalihkan perhatiannya pada hal-hal “di luar” puisi, dan sekuat tenaga menahan semua dorongan libidinalnya untuk menulis.

Tapi “puasa” nya hanya bertahan 2 tahun. Berahi puitikal yang begitu kuat dari dalam dirinya akhirnya memaksanya kembali “menghunus” kata. Namun ada yang berbeda. Puisi-puisinya pasca puasa itu bukan lagi “spam”, alias “sampah”, dan motivasi menulisnya pun dirasanya lebih “murni”, bukan lagi didorong oleh hal-hal yang hanya artifisial dan sampingan.

Kisah Afrizal Malna ini selalu menginspirasi saya. Ini adalah kisah refleksi dan pencarian “iman” seorang pencinta puisi sejati. Bayangkan, ia rela melakukan puasa, bermatiraga, berpantang, menolak berhubungan dengan puisi, justru untuk mendapatkan jawaban sejati apakah ia memang sungguh-sungguh memerlukan kehadiran puisi dalam hidupnya.

Afrizal Malna kita tahu sudah menjawab pertanyaan itu. Tapi bagaimana dengan kita, saya dan anda? Ingat lho, kualitas dan buah kerja menyair kita antara lain juga ditentukan oleh bobot atau kualitas jawaban yang kita berikan atas pertanyaan itu.

Jadi, coba tanyakan dan jawablah dengan jujur, sungguhkah anda memerlukan kehadiran puisi dalam hidup anda? Dan sebagai apa? Teman ngerumpi iseng, pacar musiman, selingkuhan gelap, atau pasangan hidup permanen anda? Suami atau istri begitu? Atau anda masih belum punya jawabannya? Ah, bagaimana kalau puasa puisi dulu …baru nanti menjawabnya?

09 February 2007

Pengrajin dan Pemburu

JOKPIN mengaku selalu mengantongi buku catatan kecil ke mana saja ia pergi. Buku kecil itu berfungsi sebagai semacam tustel yang digunakannya untuk “memotret” apa saja yang ia lihat atau melintas di benaknya, hal-hal yang siapa tahu bisa menjadi embrio sebuah puisi. Finishing touchnya biasanya dikerjakannya malam hari. Atmosfir malam memang sering dimanfaatkan banyak penyair untuk menulis. Mungkin juga banyak puisi bagus dan “besar” yang sudah ditulis malam hari selama ini?

Ia memiliki sejumlah folder di komputernya yang menyimpan tema-tema yang sudah berhasil dijepret dan dikumpulkannya dalam buku kecil itu. Seperti seorang fotografer dalam bilik fotonya, dengan telaten ia mulai mencoba menggarap tema-tema itu menjadi puisi. Kalau macet di tema yang satu, ia pun dengan santai akan beralih ke tema lainnya, dan begitu seterusnya. Dan kalau misalnya malam itu ia gagal merampungkannya, ia pun akan mencoba di malam berikutnya.

Cara kerja menyair seperti diperagakan Jokpin itu barangkali bolehlah kita sebut sebagai gaya penyair “pengrajin”.

Tapi ada penyair yang tidak begitu telaten berlama-lama mengutak-atik bahan untuk puisinya. Marilah kita sepakat menyebut ia ini tipe penyair “pemburu”. Kalau “ruh” puisi itu tidak kunjung bisa dipanggilnya ia cenderung akan meninggalkan obyek yang sudah mulai mendingin itu, mungkin seraya mencoba melupakannya. Penyair semacam ini lebih menyukai tubuh imaji yang masih hangat, dengan darah kata menetes-netes pada ujung jemarinya.

Jika penyair “pengrajin” selalu punya stok bahan yang bisa dijadikan puisi, maka penyair “pemburu” tidak selalu punya stok. Kadang sampai berbulan-bulan ia “nganggur”, luntang-lantung tanpa tahu apakah masih bisa terus menulis puisi lagi atau tidak. Tapi sekali impuls puitikya bisa dibangunkan biasanya ia akan mengejar “korban”nya sampai mungkin berhari-hari, atau berminggu-minggu, bahkan mungkin saja berbulan-bulan

Selama masa-masa itu ia seperti, dalam kata-kata Sitor Situmorang, hanyut dalam arus ilham. Suasana batin yang mirip trance, yang membuatnya seperti linglung, tapi tanpa kehilangan kesadaran sosialnya samasekali. Pada saat itu ia berada dalam kepekaan puitik yang begitu tinggi, sehingga seperti dalam dongeng raja Midas, apa pun yang disentuhnya saat itu dengan mudah menjelma puisi. Bacalah lebih rinci perihal ini dalam Sitor Situmorang : Usaha Rekonstruksi yang Dirundung Ragu (Proses Sajak) – dimuat sebagai lampiran pada antologi Bunga Di atas Batu (Gramedia 1989).

Jadi ada dua gaya, gaya “pengrajin”, satunya lagi gaya “pemburu”. Anda, menganut gaya yang mana?

19 January 2007

Oewiek Sanuri Emwe, Sejumput Kenangan

Nama Oewiek Sanuri Emwe hampir bisa saya pastikan tidak anda kenal. Maklumlah, yang bersangkutan memang hanya orang “biasa”, bukan tokoh penting atau orang besar. Lagi pula ia sudah marhum hampir seperempat abad yang lalu. Oewiek Sanuri Emwe semasa hidupnya dikenal sebagai penyair yang sebetulnya cukup diperhitungkan. Bahkan seorang Sutarji Calzoum Bachri pernah ikut juga menjagokannya. Sebagai penyair ketika itu ia berada satu “barisan” dengan nama-nama semisal Afrizal Malna, Kriapur (alm), Heru Emka, Beni Setia, dll. Sayang ia pergi begitu lekas.

Ia lahir di Jakarta, 1957. Pendidikan formalnya yang hanya SLA tak menghalanginya untuk berprestasi bagus di dunia sastra. Pada 1980 sebuah puisinya mendapatkan penghargaan dalam sebuah lomba di Semarang. Ia juga bergiat di teater, malah sempat pula mendapatkan penghargaan sebagai sutradara terbaik dalam Festival Drama Islam di Jakarta. Ia sungguh-sungguh hidup mengandalkan honor tulisannya. Pernah juga membantu majalah sastra Horison. Hamsad Rangkuti, pemimpin redaksi Horison saat itu, menugasinya mengisi halaman Kronik Kebudayaan.

Kemiskinan dan penyakit adalah dua hal yang seolah melekat pada hidupnya. Kemiskinan memaksanya berhenti sekolah. Kemiskinan juga – barangkali ditambah gaya hidup “nyeniman” yang dijalaninya – menyebabkannya gampang jatuh sakit. Ia tak sempat menghadiri upacara pemakaman ibundanya karena ia sendiri saat itu terkapar di ranjang rumah sakit. Kejadian ini agaknya meninggalkan luka yang dalam padanya.

Saya sempat memjenguknya. Ia memohon supaya honor-honor tulisan saya di Berita Buana diserahkan kepadanya untuk membantu biaya pengobatannya. Dengan ringan hati saya sanggupi permintaannya itu. Hubungan kami memang sangat dekat. Saya bahkan hampir menganggapnya “abang” saya. Selasa, 3 September 1985, sore sepulang dari kantor, saya kembali ke rumah sakit dengan menenteng surat kuasa untuk pengambilan honor di Berita Buana itu.

Ketika sampai di ruangan tempat ia dirawat saya heran mendapati ranjang yang biasa ditidurinya sudah kosong. Saya masih tak menduga jelek saat itu. Saya mengira ia sekadar pindah kamar. Ternyata tidak. Oewiek Sanuri Emwe meninggal hari itu, pada pagi harinya. Ia dikuburkan hari itu juga dengan nama Ahmad Sanuri. Sejumlah seniman dan sahabat ikut mengantarnya. Ikranagara berpidato mewakili pihak Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) TIM, tempat almarhum banyak mendedikasikan waktu dan tenaga semasa hidupnya.

20 November 2006

Kepada Seekor Keledai

TOKOH kita hari ini tentu saja George Bush. Tapi saya lebih tertarik bercerita yang lain. Sebuah kisah cinta. Bukan cinta biasa. Mungkin tergolong luar biasa. Malah sedikit gila. Tapi bukan cinta namanya kalau tidak edan, bukan? Saya mengutipnya dari seorang kawan.

Alkisah, di Hongaria dulu hidup seorang penyair, yang cintanya kepada puisi sungguh tak terbagi. Begitu cintanya dia pada puisi hingga ia cuma punya tiga hal yang dengan bersemangat kerap diperkatakannya kepada setiap orang yang ia jumpai. Yang pertama adalah puisi, yang kedua adalah puisi, dan yang ketiga juga puisi, sehingga orang-orang pun belajar menjadi bosan dan mulai menjauhinya.

Tapi, sang penyair tokoh kita ini, tak menyerah begitu saja. Begitulah, sesudah memeras otak berhari-hari ia pun menemukan sebuah gagasan yang tidak biasa. Ia pergi ke sebuah pasar hewan dan membeli seekor keledai di sana. Keledai itu dibawanya pulang, dibuatkan kandang yang bagus, dicukupkan makan dan minumnya, yah pokoknya dijaganya dengan cermat lagi teliti. Dan setiap sore, kalau cuaca bagus, keledai itu dibawanya keluar. Dengan telaten ia menuntun keledai itu menyusuri jalanan desa yang tentram. Seraya menikmati udara sore yang sejuk di Hongaria sana, sang penyair tokoh kita ini pun mulailah bertutur segala apa perihal puisi kepada keledainya. Itulah yang ia lakukan setiap sore. Dan sang keledai, layaknya sahabat yang "bijak" dengan sabar mengunyah segala ocehan itu.

Mungkin anda bertanya, bagaimana kalau kebetulan cuaca hujan? Ah, gampang. Tokoh kita ini akan menyambangi keledainya di kandangnya, dan meneruskan "diskusi sastranya" di tempat itu. Ia juga punya kiat lain guna mencegah kebosanan. Biasanya ia akan masuk ke kamarnya yang sesak dijejali buku-buku puisi,, mengunci pintunya dengan cermat, lalu seraya dengan takzim menghadap dinding, mulailah ia kembali bertutur apa saja seputar puisi, kepada dinding kamarnya itu. Dan sang dinding, layaknya "pencinta" yang setia, dengan telaten mendengarkan segala omong kosong itu
.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...