https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings
Showing posts with label Obituari. Show all posts
Showing posts with label Obituari. Show all posts

26 May 2015

Tonggak, Nirwana



Saya membayangkan kita mungkin seperti para penumpang dalam bahtera besar yang disebut “waktu”. Jika kau atau seseorang mati, kau diturunkan dari bahtera itu, lalu yang lain segera meneruskan perjalanan. Orang-orang yang mati, yang telah diturunkan dari bahtera, mula-mula mungkin terlihat seperti tonggak-tonggak, setidaknya bagi sejumlah orang, lalu pelan tapi pasti, tonggak-tonggak itu berubah menjadi titik-titik yang segera juga mengabur. Lalu pada akhirnya mereka pun menjelma asap, mungkin dongeng, atau barangkali juga bukan apa-apa?

Mungkin kematian juga bisa dilihat dengan kaca mata yang lebih “gembira”. Barangkali kematian adalah sebuah awal baru yang melegakan. Kalau kau mati, kodratmu sebagai “mahluk kasar” yang terikat pada bumi fana pun berakhir. Bentuk kasar itu tertinggal pada tanah, sedang jiwamu sebagau kupu terbang melayang menembus kepompong samsara dan menjangkau moksa, nirwana, yang diyakini menjadi sumbernya yang mula-mula.

02 March 2011

In Memoriam : Ags Arya Dipayana (1961-2011)

Ags Arya Dipayana tak saya kenal secara pribadi, tapi toh saya merasa mengenalnya “dekat” karena sejumlah puisinya. Terus terang saya sangat menyukai sajak-sajaknya dari periode belakangan yang banyak mengambil bahan dari dunia kuliner. Bagi saya puisi-puisi kulinernya itu bisalah dianggap terobosan yang berharga bagi khazanah puisi kita yang memang selama ini cenderung agak “seragam” dalam pilihan tema.

Saking kesengsemnya saya sampai tergerak menulis sebuah sajak tentang itu uintuknya. Sajak yang saya juduli “Sajak Juru Masak” itu dimuat Kompas beberapa pekan lalu. Sajak itu pernah pula saya "pamerkan" kepada Ags Arya Dipayana lewat akun Facebooknya. Ia, ketika itu, mengomentari puisi ini sebagai “puisi sederhana yang bagus”, atau semacam itulah. Saya menduga bisa saja ia hanya sekedar berbasa-basi untuk membesarkan hati saya.

Jika terkaan itu benar, berarti ia memang seorang kawan yang baik, seorang yang rendah hati dan teramat peduli menjaga perasaan orang lain. Sayang, kawan sebaik itu telah mendahului kita kelewat lekas. Ags Arya Dipayana, penulis dan pegiat teater itu, meninggal dunia semalam, 1 Maret 2011, di Purwakarta, sekitar pukul 23.00. Warta duka ini baru saya tahu pagi ini lewat akun Twitter Nirwan Dewanto, seorang konco karibnya.

Melepas keberangkatannya saya ingin menerbitkan ulang “Sajak Juru Masak” sebagai salam perpisahan saya baginya. Kebetulan edisi yang dimuat Kompas beberapa waktu lalu mengandung salah cetak, atau lebih tepat, salah letak. Sedangkan yang pernah diterbitkan lewat Facebook adalah edisi yang belum direvisi. Entah apa komentarnya tentang edisi yang telah direvisi ini. Saya tak sempat lagi menanyakannya.


Sajak Juru Masak

: Ags. Arya Dipayana

Ia tunjukkan bagaimana
Juru masak bijak bekerja
Dengan bahan seadanya tersedia di dapur
Sejumlah bumbu yang didapat dari penjual sayur
Yang kebetulan saja lewat

Ia buktikan tak ada
Yang samasekali kebetulan
Bumbu dan bahan diracik cermat
Agar tercipta rasa yang padu. Lezat
Atau nikmat di ujung kata
Bukanlah soal untung-untungan

Tapi ia tunjukkan juga
Campuran yang seksama
Dalam kari waktu yang telah mendidih
Dengan karut-marut rindu dendam
Yang telah cukup pula masam perihnya
Tak selamanya menghantar pada rasa yang dituju

Kadangkala bumbu dan bahan
Berselisih wajan atau takaran
Seperti nasib dan waktu
Merdeka menukar jalan dan kisahnya

Ah ya, ia ingatkan pula bahwa
Memang ada hal ihwal yang boleh saja
Ditambahkan atau dikurangi
Demi tercapai campuran yang pas. Utuh
Atau selaras dalam ungkapan
Memanglah juga soal permainan

2010

07 August 2009

Rendra dalam Kenangan (1935-2009)




Kebun Belakang Rumah Tuan Suryo

Di tempat yang lama
aku teringat lagi
akan segala kesedihanku
yang telah lalu.
Di kebun rumah tetangga ini
di mana aku biasa bersembunyi
aku terkenang lagi
Willy yang kecil
menangis tersedu.
Pohon-pohon di sini masih seperti dulu
cuma lebih tua, lebih akrab, dan tahu.
Pohon mangga, pohon nangka, dan pohon randu.
Di pokok menempel lumutan dan di dahan benalu.
Pagarnya bunga merak, bunga sepatu dan rumput perdu.
Semuanya masih ada di sini
dan sekarang dengan akrab
Kami berpandangan lagi.

Kepada pohonan di sini aku biasa berlari
dan dengan aman aku uraikan
segala duka yang aku rahasiakan
segala tangis yang kusembunyikan
dan bahkan kasmaran yang pertama.
Mereka tahu memegang rahasia
dan selalu sabar
memandang kelemahan.

Melihat tanah di sini yang kelabu
dan mendengar daun berisik di dahan-dahan
aku terkenang lagi
Willy yang kecil
menangis tersedu.
Tapi menyenangkan juga dikenangkan
bahwa akhirnya satu demi satu
berpuluh kesedihan
telah terkalahkan.

(Dari Kumpulan Puisi “Sajak-Sajak Sepatu Tua”, penerbit Pustaka Jaya, 1978)

02 November 2006

Obituari Ayah (1921-1980)

Ayah saya, seperti jutaan ayah lain di dunia, hanya manusia biasa. Ia lahir di Jamblang, sebuah kota kecamatan yang lengang di pinggir Cirebon, beberapa puluh kilometer dari Jatiwangi, kampungnya sastrawan Ajip Rosidi. Ia hanya sempat sekolah sampai MULO (sekarang SLP), lalu dengan bercelana pendek merantau ke Jakarta. Itu sekitar tahun 50’an. Ia memulai perjuangannya sebagai klerk di sebuah perusahaan asuransi swasta Inggris, dan kelak pensiun sebagai seorang manajer, juga di sebuah perusahaan asuransi yang lumayan besar. Ia mencapai itu semua lewat jalur otodidak. Tapi banyak orang mengakui tangan dinginnya dalam urusan perasuransian. Ia juga dianggap berhasil mempertahankan integritasnya sebagai seorang pegawai yang jujur, padahal pada tahun-tahun terakhir masa kerjanya, ia memiliki banyak peluang untuk, katakanlah , sedikit bermain sulap. Tapi ia tak mengambil kesempatan itu.

Saya mengenangnya sebagai ayah yang penyabar. Setidaknya dibanding ibu yang pemberang, dan kerap “menghajar” saja dengan pecutan ikat pinggang atau rotan kalau saya keluyuran agak berlama-lama. Ia mengajari saya beberapa jurus silat waktu saya SD. Ia pengagum berat Prof Sumitro, bapaknya Prabowo, yang mantunya Suharto itu. Tapi ia meremehkan figur semacam Benyamin S, yang walaupun sesosok figur sukses, dianggapnya “kasar” dan (maaf) “kampungan”. Untuk pelawak, pilihannya jatuh pada Bing Slamet. Sedang penyanyi idolanya adalah Jim Reeves, Pat Boone, Conny Francis, tapi ia bisa menikmati juga beberapa lagu The Bee Gees. Ah, ia juga penyuka tontonan tinju.. Ia memaksakan diri bangun dari ranjang sakitnya hanya untuk melihat bagaimana si “mulut besar” Muhammad Ali dibungkamkan muridnya sendiri, Larry Holmes.

Ia tak bosannya menasehati saya supaya “pandai bergaul”. Ia sungguh khawatir melihat anak pertamanya, lelaki pula, begitu pemalu dan malas bergaul. Pandai bergaul adalah kunci pertama untuk bisa sukses, itu beberapa kali diulangnya. Dan tidak sukes, yang artinya di sini adalah “hidup miskin” sungguh tidak enak, katanya meyakinkan. Dan ia memang mengenal betul apa artinya “hidup tidak enak dalam kemiskinan itu”. Ia pernah kena tipu tetangga Arab di sebelah rumah yang mengajaknya kongsian bikin kecap. Membuat kecap adalah salah satu keahlian sampingannya. Banyak yang bilang kecap buatanya “lumayan”, tapi barangkali karena “kurang pandai bergaul” modal bagus itu terbuang percuma. Ia, agaknya, tak mau saya mengulang kesalahan itu.

Di masa mudanya ia jauh dari agama. Ia malah dekat dengan ilmu kebatinan, bahkan menggaulinya dengan cukup intens. Ia juga belajar hipnotisme, sampai tingkat yang lumayan jauh. Menginjak usia pertengahan, ia meninggalkan semua itu, dan kembali ke pangkuan agama. Mungkin karena latar belakangnya yang begitu, ia tak memaksa sewaktu saya kelihatan seperti mengikuti jejaknya dulu. Ia malah menyerahkan sebuah buku berisi catatan pelajaran kebatinannya. Ah, adegan penyerahan kitab itu, kalau saya mengenangnya sekarang, bak adegan dalam sebuah cerita silat saja.

Tiga bulan sesudah menyerahkan kitab itu, ia tak tertolong lagi. Ibu saya bercerita bahwa ayah saya sudah pernah 2 kali nyaris meninggal sebelumnya. Ia pernah coba “diserang” dengan semacam ilmu santet. Tiga hari terlentang di rumah sakit. Gejalanya mirip tbc akut, begitulah kata dokter rumah sakit yang merawatnya. Dan dokter itu menyerah, seraya menyebut ayah hanya tinggal menunggu waktu. Tapi ia tertolong oleh seorang paranormal, begitulah sekarang kita biasa menyebutnya, yang kemudian menjadi gurunya. Kali lain sepeda motor yang dikendarainya bertabrakan hebat dengan sebuah truk di sebuah pengkolan. Ajaib. Ia tak langsung mati. Waktu sadar ia menemukan tubuhnya masih terbujur di jalan, berdarah-darah. Orang-orang hanya asyik menontoninya. Tapi lalu lewat serombongan suster Belanda. Dan ia kembali selamat.

Tapi hari itu, ia tak terselamatkan lagi. Dokter mendiagnosa penyakitnya sebagai kanker. Tapi ia sendiri percaya kankernya adalah “kiriman” seseorang. Karena ia memang pernah tahu soal seputar ini, saya pun cenderung agak mempercayainya. Tapi ketika saya mendesak siapa kira-kira “seseorang” yang mengiriminya paket kanker itu, ia hanya menggeleng lemah. “Takut salah”, katanya. Saya pun hanya terdiam.

Kalau masih hidup, umurnya kini 85. Tapi, 2 November, 26 tahun yang lalu, pada suatu Minggu pagi yang biasa, ia pergi buat selamanya. Sabtu kemarinnya, adalah hari pertama saya masuk kerja. Ada tahyul yang bilang bahwa “tak baik memulai sesuatu pada hari Sabtu”. Apakah ini ada hubungannya? Entahlah. Sebetulnya sudah sejak Kamis kondisinya memburuk. Tapi ia seperti mencoba bertahan sampai mendapat kepastian bahwa anak lelaki pertamanya, yang pemalu dan malas bergaul itu, akhirnya masuk kerja. Apa betul demikianlah halnya? Tentu saja, lagi-lagi, saya tak tahu.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...