https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings
Showing posts with label Esai. Show all posts
Showing posts with label Esai. Show all posts

29 May 2015

Lima Tesis untuk "Tanda-tanda yang Bimbang"

Esai Hamzah Muhammad

Tanda-tanda yang Bimbang (TTYB) yang terbit medio 2013 buah tangan penyair Ook Nugroho yang merupakan anak keduanya setelah Hantu Kata (2010). Perbandingannya, terletak bagaimana Ook Nugroho dalam TTYB cenderung leluasa mengungkapkan kemungkinan artikulasi bahasa. Sehingga, ngunyah TTYB tidak sealot Hantu Kata. Salah satu penyebabnya, dikarenakan teks lebih terbuka untuk ditelisik.

Berbeda dari Hantu Kata, TTYB bernuansa segar. Kata-katanya plastis. Kelenturan pelbagai wacana dijajal. Pun, lanskap penghayatan dunia secara tatanan puitik diperluas. Di TTYB, puisi bagaikan tidak perlu khawatir kehilangan rima, atau kepadatan isinya. Meski, hal sebaliknya terjadi pada Hantu Kata. (Baca selanjutnya di sini)

02 August 2014

Sastra Bawah Tanah


DALAM pidatonya pada penganugerahan Hadiah Sastra Khatulistiwa ke-13 tahun lalu penyair Afrizal Malna antara lain menghaturkan ucapan "terima kasih" kepada toko-toko buku yang menolak menjual buku puisi.

Penolakan itu, menurutnya, justru telah "menyelamatkan" puisi menjadi satu-satunya produk aktivitas kita yang tidak bisa "ditekuk" oleh pasar.

Kalau semuanya diambil olah pasar, apalagikah yang masih tersisa buat kita, begitu dia bertanya retoris. 

Puisi Indonesia memang semakin menegaskan dirinya sebagai "produk bawah tanah". Buku-buku puisi pemenang KLA misalnya, dengan pengecualian pada satu-dua judul, tidak pernah bisa ditemukan di rak toko-toko buku. Ia harus belajar merasa puas (dan "tahu diri") dengan menjadi gunjingan sebentar segelintir orang yang tak jelas pula.

Statemen Afrizal Malna, bagi saya, terasa sebagai kegenitan atau "hiburan" yang miris.

(Untuk pidato Afrizal Malna itu sendiri sila menyimaknya di sini).

10 August 2013

Puisi yang Dibuang

SEORANG penyair bisa saja keliru menilai sajaknya sendiri. Misalnya ia  mengira telah melahirkan "naga" padahal yang nongol hanya seekor "cacing" belaka, atau sebaliknya. Sewaktu menyiapkan materi untuk "Tanda-tanda yang Bimbang" puisi di bawah ini dengan sadar telah saya sisihkan. 

Fakta bahwa puisi itu pernah tersiar di sebuah koran besar tepercaya (karena itu paling tidak secara obyektif bolehlah ia lalu dipandang "layak serta") tak menyurutkan samasekali niat saya.     


Liang Hitam
Sajak separoh jadi
Yang kau tinggalkan
Telantar di atas meja semalam
Percayalah, tak bakal rela ia diam
Menyerah pada kelam
Jalan nasibnya

"Kau telah meniupkan
Nyawa padaku
Menjadikanku sekadar
Mahluk tak utuh
Mengapa tak kaububuhkan
Juga sayap kata sepasang
pada pundakku lunak
Guna terbang
            Menjangkau
Ambang takdirku"

O pencipta buta
Ketahuilah tanpa kepak
Tanpa terbang
Sajak separoh jadi
Yang kau tinggalkan
Telantar di atas meja
Hanyalah mahluk cacat
Malang terbuang pada
Maha liang semesta


2011


Setelah "Tanda-tanda .." akhirnya terbit, saya kok malah jadi bertanya-tanya, benarkah keputusan saya ketika itu dengan tidak menyertakan puisi ini? Ah, jangan-jangan betul saya, dalam  "kebutaan" yang terang benderang ini, telah menjadikannya sebagai "mahluk cacat malang terbuang" begitu saja.

08 October 2011

Tomas Transtromer, Nobelis Sastra 2011

Hadiah Nobel Sastra 2011 akhirnya jatuh kepada Tomas Transtromer, seorang penyair besar Swedia yang sudah 20 tahun hidup digerogoti kelumpuhan akibat stroke. Luar biasa bahwa penderitaan itu tak membuat semangat menulisnya padam. Penyair gaek (80) yang karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam 60 bahasa itu menyisihkan penyair Suriah Adonis, novelis Jepang Haruki Murakami dan penyanyi Amerika Serikat, Bob Dylan. Sebagai pemenang ia berhak atas hadiah uang senilai 10 juta kron Swedia, atau setara dengan US$1,45 juta.

Pihak Akademi Nobel menilai karya-karya Transtromer sangat kaya perlambang serta gambaran alam negerinya, yang diolahnya intens lewat tema kematian, kesepian dan penebusan. Kemenangan Nobel untuk penyair ini tentulah sebuah hadiah berarti bagi negerinya, yang selama ini hanya dikenal luas karena penulis kriminal Henning Mankell dan kelompok musik pop ABBA.

Transtromer, yang juga menggemari musik (ia bermain piano dengan tangan kirinya) sudah pernah masuk nominasi hajatan akbar itu pada 1993. Ia lahir pada 15 April 1931, dari pasangan ibu seorang guru dan ayah seorang jurnalis. Karyanya tahun 1954, "17 Puisi", kerap disebut-sebut sebagai debut sastra terbaik pada dekadenya. Selain menulis ia juga menggeluti psikologi.

Penyair Amerika Serikat, Robert Hass, mengomentari karya-karya Tomas Transtromer sebagai “Memberi rasa yang pas tentang bagaimana rasanya menjadi orang kebanyakan yang menjalani hidup di saat segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya."

Swedia sebetulnya pernah pula menyabet Nobel Sastra pada 1974 lewat Eyvind Johnson dan Harry Martinson. Hanya saja kemenangan itu kemudian menyulut kontroversi, pasalnya mereka ternyata bagian dari Akademi Nobel yang membawahi hajatan tersebut.

07 October 2011

Cangkir Penyair

Cangkir itu sebetulnya biasa saja, seperti cangkir-cangkir pada umumnya. Hanya ukurannya memang agak lebih besar dari cangkir biasa. Aku tak begitu paham mengapa ayah selalu menggunakan cangkir itu kalau mau menyeduh kopi, padahal ada beberapa cangkir lain. Ia melarang kami, anak-anaknya dan yang lainnya, menggunakan cangkir itu. Ini cangkir penyair, katanya beberapa kali mengulang pengumumannya. Yang bukan penyair tak minum dari cangkir ini, katanya pula, dengan nada bicara yang dibuat terdengar takzim.

Aku suka memperhatikan kalau ia sedang menyeduh kopi. Seingatku caranya juga biasa saja, tak ada ritualnya yang aneh-aneh. Ia menuangkan kopinya lebih dulu, satu atau dua sendok serbuk hitam itu dicampuri gula putih secukupnya, mengambil termos berisi air panas, menuangnya ke dalam cangkir keramat itu. Ia akan mengaduknya pelan-pelan, diam-diam, seperti sedang berdoa..Lalu ia akan membawa minuman itu ke kamarnya. Ia akan duduk nyantai selonjor di depan televisi, seraya pelan-pelan menyeruput kopinya, juga pelan-pelan, seperti tengah berpikir-pikir, atau apa begitu Entahlah. Yang pasti tampaknya sublim sekali segala perilakunya itu.

Kadang ia suka nyelutuk sendiri, enak racun ini. Atau, kalau sudah minum racun ini baru penyair bisa menulis. Memang kadang aku pergoki, sesudah selesai dengan ritual minum kopinya ayah mengambil buku notes yang suka dibawa-bawanya, lantas menulis-nulis sesuatu di sana. Kadang cukup lama ia melakukan itu, mencoret ini, mencoret yang lain, membolak-balik halaman baru notes itu. Kadang ia pindah duduk ke kursi di teras atas rumah kami yang sempit. Di situ memang lebih tenang suasananya. Ia lalu tampak seperti karam dalam kesuntukannya menulis itu.

Ia tak pernah memperlihatkan apa yang barusan ditulisnya. Aku pun tak begitu berminat untuk mengintipnya. Tulisan-tulisan di buku notes itu lebih berupa corat-coret yang hanya bisa dipahaminya sendiri, bahkan kadang ia pernah kudemgar mengomel tak bisa membaca apa yang sudah ditulisnya di sana. Lucu sekali melihatnya uring-uringan mencari sambungan yang terputus dalam catatan yang sudah ditulisnya.

09 December 2010

Apa Kabar Anugerah Sastra Pena Kencana?

Setiap awal tahun semenjak 3 tahun yang lalu saya selalu mendapat kiriman surat-e yang mengabarkan bahwa ada puisi saya yang mendapatkan kehormatan—bersama beberapa puluh puisi lainnya yang disortir dari pemuatannya di koran-koran lokal--untuk diiikutkan dalam kitab puisi yang diberi label keren “kitab puisi terbaik setahun”.Itulah sebagian dari kegiatan yang berkaitan dengan program Anugerah Sastra Pena Kencana.

Tapi mulai tahun depan (2011) pemberitahuan seperti itu agaknya tak akan lagi saya terima, karena program sastra itu sepertinya memang tidak berlanjut. Buktinya program tahun ini saja hingga saat ini tiada kabar beritanya. Buku puisi—plus sekian program tambahan lainnya, seperti pengumuman pemenang puisi terbaik dan lain-lainnya—yang semula dengan gegap gempita dijadwalkan berlangsung Februari 2010 tak jelas bagaimana nasibnya.

Tak ada pengumuman apa pun di situsnya yang kini jadi rada mirip toko terbengkalai itu. Saya sangat menyesalkan ketiadaan sikap terbuka dari panitia program ini. Apa sih susahnya mengumumkan masalahnya? Kalau misalnya soalnya lagi-lagi karena cekaknya pendanaan, sehingga segala rencana program tak bisa jalan, rasanya juga tak ada masalah untuk diumumkan. Insan sastra di sini, percayalah, sudahlah amat terbiasa menghadapi hal-hal dan hil-hil semacam ini.

29 November 2010

Gus tf, "Hantu Kata", KLA

Gus tf Sakai, salah seorang juri Khatulistiwa Literary Award (KLA) tahun ini, menjagokan Hantu Kata (Kiblat Buku Utama, Bandung) sebagai buku puisi yang “sangat layak” masuk dalam shortlist KLA 2010.

Di bawah ini adalah penilaian tertulisnya yang disampaikannya kepada Panitia penghadiahan sastra lokal yang—sejauh ini—berhadiah duit termahal itu:

Inilah buku puisi yang, dalam sejarah kesusateraan Indonesia, bakal menempati posisi unik, karena paling banyak membicarakan dirinya, yakni puisi itu sendiri. Bukan hanya puisi sebagai salah satu bentuk ekspresi (dengan media kata-kata) yang figuratif, bersimbol, dan karenanya selalu ambigu, tetapi juga pada kenyataan betapa gentingnya apa yang disebut komunikasi. Dan kegentingan ini, secara ajek, dan konsisten, juga menjadi tubuh puisi-puisi lain pada bagian kedua buku ini, bahwa dunia, seperti halnya komunikasi, adalah kesiapan untuk tak mendapatkan apa-apa, menemukan kosong, hampa, sia-sia.

Tapi, sebagaimana kemudian kita tahu, buku itu tidak termasuk dalam daftar 5 besar yang diumumkan Panitia. Dalam emailnya kepada saya, Gus tf mengaku “tak bisa percaya” empat juri lain (Afrizal Malna, Donny Gahral Adian, Eka Kurniawan, Ronny Agustinus) tidak memasukkan Hantu Kata dalam pilihan mereka.

24 November 2009

2012

PADA tahun 2012 umur saya—tentu, jika tiada aral melintang--bakal genap 52 tahun. Anak saya yang pertama bakal berusia 12, sedang adiknya pas 10. Ia mungkin akan tetap seperti saat ini, gemuk padat (bayangkanlah tokoh film anak-anak “Boboho” jika ingin mendapatlan gambaran tentangnya), dan kakaknya sudah musti repot dengan persiapan memasuki kelas 7. Kakaknya itu selalu menjadi langganan “juara” di kelasnya, mungkin di tahun itu pun ia masih tetap “juara”, dengan barisan teman dan “penggemar” (ia mewarisi sebagian watak ibunya yang selalu kepingin “lebih cepat lebih baik”, dan bukan kebiasaan bapaknya yang suka kelewat lama menimbang-nimbang urusan) yang semakin berkerumun di sekitarnya.

Saya tak tahu apakah saya masih bekerja di tempat yang sekarang, di tahun 2012 nanti. Ketika saya menuliskan ini situasi di perusahaan sedang agak resah. Kabar-kabar seputar “perampingan” (mereka membuat sebutan sopan untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya) terus bergulir saban hari. Siapa bakal jadi “korban” berikutnya? Mungkin saya termasuk salah satu “korban” dalam daftar yang mereka siapkan, siapa yang tahu? Jika ternyata betul saya ikut “dibabat” (tahun ini juga?), saya belum punya gambaran persis akan bikin apa sesudahnya.

Beberapa waktu yang lalu saya mencoba menjajaki peluang bisnis di jagat maya, tapi hasilnya bikin saya (sementara) patah semangat. Tapi jika saya betul “dibabat” (apakah awal tahun depan?), mungkin saya akan kembali menjajal peluang di sana, dan mungkin siapa tahu, di tahun 2012, bisnis online saya sudah maju pesat, karena kali ini saya punya banyak kesempatan waktu (dan tekad) untuk mencoba lebih maksimal “main-main” di dunia maya ini. Karena situasinya sudah “to kill or be killed” bagi saya. Maka saya, seperti para pebisnis online lain yang sukses, cukup “ngantor” di rumah saja : terhindar dari stress karena kemacetan jalan-jalan Jakarta, yang menurut ramalan para pakar bakal tambah menjadi-jadi. (Di tahun itu, 2012, Fauzi Bowo, mungkin kembali sibuk memamerkan kumis ijuknya, mencalonkan diri lagi jadi gubernur).

Di tahun 2012, saya juga tak tahu apakah saya masih menulis puisi. Meskipun tidak terpikir niatan untuk berhenti, segala hal bisa saja terjadi. Mungkin saja karena saya di tahun itu menjadi terlalu repot (dan asyik) mendulang dolar dari bisnis internet saya yang booming, maka saya pun jadi “lupa” bagaimana caranya menulis sajak. Saya lalu menjadi “tumpul”, menjadi kehilangan minat pada hil-hil yang berurusan dengan estetika, dan bisa saja kemudian, kehilangan pula penghargaan kepada puisi.

Atau sebaliknya, karena saat itu saya sudah menjadi cukup kaya raya (meski belum setajir Anggoro Widjojo), dan ternyata minat saya pada sastra dan kesenian tidak menjadi mati, saya kemudian berinisiatif membuat program hadiah sastra yang lebih keren dari Khatulistiwa Award. Saya juga mungkin akan sibuk memantau dan mencari benih-benih unggulan di ranah sastra untuk “diselamatkan”. Jadi saya berharap, tak ada lagi penyair berbakat yang terlunta-lunta tidak bisa menerbitkan bukunya, hanya karena ia tak cukup punya “power”, atau duit, atau “koneksi”, atau “mantra”, atau entah apa sebutannya, yang bisa meluluhkan hati beton para juragan penerbitan.

(Di tahun 2012, jangan-jangan, tak banyak hal yang berubah. Indonesia masih begini-begini saja. PSSI tak kunjung juga bikin prestasi. Chris John mungkin sudah tak juara lagi, ia memilih berbisnis jamu kuat. Hukum rimba masih jadi panglima. Ada banyak blog yang dilarang tayang karena dianggap “menghina” ini dan itu. Mama Lauren sudah pikun, dan ramalannya jadi tidak lagi akurat. Banjir besar melanda Jakarta, sesuai “skedul” banjir bandang 10 tahunan (ingat banjir dahsyat 2002?). Tapi di tengah-tengah situasi muram itu ada juga menyeruak kabar baik, dan kabar baik itu anehnya datang dari dunia sastra : hadiah nobel sastra tahun itu ternyata jatuh kepada seorang sastrawan nusantara ...).

11 November 2009

Sindu Putra Raih Khatulistiwa Literary Award 2009


PENYAIR Sindu Putra (lahir 31 Juli 1968) meraih Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2009 untuk kategori puisi lewat kumpulan sajaknya “Dongeng Anjing Api” (penerbit Arti Foundation, Juli 2008). Sindu bukanlah nama baru dalam panggung puisi kita. Ia sudah menulis sejak 1980-an, hanya sepertinya selama ini “luput” dari perhatian. Ia mengaku “telat” masuk ke dalam “tim nasional”, mungkin karena selama ini “kurang bersemangat berkampanye” di media pusat.

Tapi “keterlambatan” itu barangkali malah menjadi berkah baginya, karena waktu “penantian” yang lama ini pada akhirnya memberinya kesempatan untuk terus berbenah sembari mematangkan diri. Hasilnya kemudian, seperti secara sepintas saya singgung dalam pengantar “obrolan” kami di halaman ini, adalah “satu dari sedikit saja buku puisi unggulan yang sempat terbit belakangan ini”. Kini, mungkin adalah waktu yang paling tepat untuk menengok kembali wawancara dengan Sindu Putra itu.

16 January 2009

Dua Tukul, Dua Peruntungan


Dunia Tukul yang pertama adalah dunia yang “muram, sunyi dan keras”. Sedemikian sunyi dan kerasnya hingga untuk menyiasatinya hanya tersedia satu cara, “hanya ada satu kata”, kata Tukul yang pertama, yaitu : “lawan!” Tapi perlawanan itu pun kita tahu sia-sia.

09 January 2009

Karena Kau Tak Punya Power

SELAMA 2008 yang barusan lewat, saya antara lain direpotkan oleh usaha “bergerilya” mencoba menawarkan naskah buku puisi saya kepada sejumlah penerbit. Tapi sampai terompet tutup tahun dibunyikan dan pesta kembang api digelar hasrat kepingin memiliki buku itu tetap tinggal jadi impian.

Saya ingat bertahun yang lalu seorang kawan pernah menyebut bahwa sebetulnya tulisan saya “bagus”, hanya sayang “kau tak punya power”, katanya. Ketika itu terus terang saya tak teramat paham apa gerangan yang dimaksudkannya dengan “power” itu. Tapi saya enggan menanyakannya sebab takut terlihat “pandir” di depannya.

Setelah sejumlah penerbit yang saya datangi dengan kompak menolak naskah buku saya, barangkali kini saya telah agak paham apa maksud sang kawan dulu. Ya, saya ternyata memang tak cukup punya power. Tulisan bagus saja tak cukup ternyata. Dan saya juga mulai agak paham bahwa sering tulisan “bagus” pun boleh tidak usah ada.

Sebab, yang penting “power” bung!

(Di tempat lain "power" mungkin dipanggil dengan nama lain juga; "koneksi" umpamanya?)

08 January 2009

Kisah "Hasan" yang Salah Posisi

HASAN adalah seorang guru yang baik dan rajin. Ia bukan hanya disukai para siswanya, tapi juga rekan-rekannya sesama guru, dan bahkan para pesuruh di sekolah tempat ia mengajar pun ikut menyenanginya. Hasan memang bukan guru kemarin sore. Selain menguasai dengan baik materi pengajarannya, ia juga dikenal pandai mengambil hati. Latar belakang pendidikannya juga bagus. Kabarnya ia sempat berguru kepada orang-orang pandai di tanah Jawa, kalau tak keliru di kota Bogor, yang banyak rujak asinannya itu.

Karena prestasi bagusnya itu, pihak yayasan kemudian mempromosikannya menjadi kepala sekolah. Begitulah ia kemudian ditempatkan di sebuah sekolah partikelir di Batam. Semua orang pun senang. Tapi Hasan ternyata tak teramat happy dengan posisi barunya itu. Entah mengapa ia merasa lebih enjoy berdiri berpegal-pegal kaki di depan kelas, menceramahi murid-muridnya yang pada menatapnya seraya terkesima, ketimbang musti duduk di belakang meja menghadapi surat-surat dan kertas-kertas belaka.

Singkat cerita, Hasan ternyata memang tak sukses (dan tak bahagia) sebagai kepala sekolah. Sekolah yang dikelolanya mengalami kemunduran, dan jumlah muridnya terus berkurang. Seandainya dulu Hasan tetap “dibiarkan” menjadi guru, sangat mungkin sumbangsihnya kepada dunia pendidikan akan jauh lebih nyata. Sebagai kepala sekolah ia hanya menang gengsi doang, tapi hanya sedikit yang telah dihasilkannya.

Kisah Hasan yang “salah posisi” banyak terjadi di sekitar kita. Seseorang mungkin menempati posisi salah itu karena kekuasaan di luarnya yang “memaksa”nya begitu (seperti dalam kisah Hasan tokoh kita), tapi lain kali mungkin ia sendiri yang dengan sengaja “mendorong-dorong” dirinya memasuki area yang salah itu. Susahnya, sering ia sendiri terlambat (atau bahkan tak kunjung) menyadari adanya kekeliruan itu.

Di dunia sastra urusan “salah posisi” ini, juga kerap terjadi. Kita semua kenal pada si Badu misalnya, seorang penyair yang lumayan berbakat. Sekiranya ia fokus “hanya” pada kerja “tukang syair” saja, mungkin sekali ia akan menelurkan banyak mahakarya nantinya. Sayang, ia ternyata tergoda juga untuk menjadi “tukang mengritik”. Kejadianlah, karena dasarnya ia memang tak kompeten, kritik-kritiknya jadi terdengar aneh, lucu, tapi kadang bikin sebal juga, sampai-sampai lalu ada yang menjulukinya “tukang kritik palsu”. Ada pula yang menyebutnya “Si Peracau”, “Ember Bocor”, dan beberapa sebutan lainnya.

(Maaf, siapakah ada yang sudi memberitahu Badu supaya ia sebaiknya berhenti saja jadi “kepala sekolah” dan kembali “mengajar” seperti dulu—itu sungguh terlebih manfaat baginya, dan insyallah untuk “sekolah” ini juga. Bilanglah sama dia, saya sangat “sayang” padanya, jadi tolonglah jangan lagi menghabiskan waktu memukuli tong kosong seperti itu. Paham ya, maksud saya?).

10 December 2008

Kenangan Kantor Pos

SAMPAI waktu yang belum terlalu lama lewat, saya masih suka mondar-mandir ke kantor pos. Itu saya lakukan dalam kaitan dengan “kerepotan” saya selaku (konon) penulis : dari kantor poslah karya-karya “besar” saya (ehm) memulai peruntungan nasibnya. Kadang saya tiba di tempat itu dengan amplop naskah yang belum sempat dilem. Kadang saya malah mengeluarkan sekali lagi naskah itu, membacainya, sebelum melipatnya kembali dan menempelkan perangko di pojok kanan atasnya. Pada halaman muka amplop itu biasanya saya cantumkan kata “KILAT”, walaupun nilai perangko yang dibubuhkan sudah cukup menerangkan. Saya hanya ingin memastikan naskah itu selamat sampai di tujuan.

Ritual pelepasan naskah adalah momen yang diruapi suasana hati penuh harap sekaligus keraguan juga. Saya suka merasa menjadi seorang “ibu” yang sedang mengantar keberangkatan “anak-anak”nya ke rantau. Begitulah, kantor pos adalah stasiun atau terminal tempat sejumlah harapan diberangkatkan. Sebagai “ibu”, tugas saya adalah menyiapkan bekal perjalanan yang cukup untuk “anak-anak” saya, supaya mereka tidak keleleran di jalan. Tapi sesudah mereka tiba di “kota tujuan” nanti, saya tak berdaya lagi berbuat apa jua guna menolong mereka. Mereka harus berjuang sendirian menghadapi tatapan dingin dan angkuh dari yang “maha kuasa” para redakur itu. Saya pun pulang dan menanti-nanti warta siapa tahu ada “anak” saya yang bisa juga sukses di rantau. Kadang, layaknya ibu yang baik, suka juga saya mengirim doa untuk mereka.

Alhamdulillah, meskipun tidak semua, biasanya ada saja kabar dari satu dua “anak” saya di rantau yang mewarta bahwa mereka sudah berhasil “diterima” di kota tujuan. Mereka sungguh “anak-anak” yang berbakti. Sebagai bukti tak pernah lupa jasa “ibu”nya, yang sudah susah payah selama 9 bulan merahimi dan melahirkan mereka dengan taruhan luka, mereka pun mengirimi saya sejumlah uang lewat wesel pos, yang suka saya pandangi dengan tatapan berbinar dan saya genggam dengan tangan gementar penuh rasa syukur—meskipun jumlah duitnya terus-terang saja tidaklah seberapa.

Maka saya pun bergegas kembali ke kantor pos guna menguangkan kiriman wesel “anak” saya itu. Biasanya saya suka membawa juga lembaran koran yang mewartakan ihwal “anak” saya di kota. Untuk jaga-jaga saja, soalnya petugas di kantor pos biasanya bekerja ekstra teliti. Mereka misalnya akan bertanya kenapa nama yang tercantum di wesel tidak sama dengan nama saya yang dicetak di KTP. Maka, dengan agak malu-malu, saya akan menjelaskan bahwa yang di wesel itu “nama samaran” saya (saya tak menyebut “nama pena”, kuatir nanti ia tambah puyeng). Biasanya petugas pos itu diam saja. Tapi pernah ada juga yang “nekat” menasehati. Katanya : “Lain kali kalau menulis nggak usah pakai nama samaran ya”. Saya ingat waktu itu saya menjawab “iya pak”, seraya masih kemalu-maluan.

27 November 2008

Film "Lewat Djam Malam" ...

“Lewat Djam Malam” bagi saya sungguh sebuah film hebat. Film itu berkisah tentang kekecewaan “para pejuang” revolusi ketika mereka kembali ke dalam kehidupan “damai” di kota. Tokoh utamanya diceritakan “gagal” berdaptasi dengan situasi kehidupan yang “normal” dan terlibat dalam sejumlah konflik, bahkan juga dengan bekas teman-temannya sesama “pejuang”.

Tulisan selengkapnya baca di sini

19 November 2008

Adam yang "Sexi" ...

Seperti anak saya yang kelas 3 SD itu, ada banyak sekali orang yang sungguh percaya bahwa kisah Adam dan Hawa di Firdaus adalah sebuah kejadian nyata. Para fundamentalis dan barisan panjang pengikutnya terlalu takut (atau malas) untuk membaca dan mencari yang “tersirat” di belakang yang tersurat. Mereka membaca kitab suci bak memelototi kitab sejarah, dan meyakininya mentah-mentah sebagaimana tertulis di sana. Setiap huruf dan noktah dalam buku itu haram untuk dipersoalkan.

Selengkapnya baca di sini

04 November 2008

Bolak-Balik Menimbang "Orgasmaya"

SAYA menerima kiriman buku kumpulan puisi “Orgasmaya” baru-baru ini saja. Penulisnya, penyair Hasan Aspahani (seterusnya HAH), adalah salah satu penyair yang cukup berhasil membetot perhatian kita beberapa tahun belakangan ini. Ada sejumlah hal yang selama ini memang “mengusik” saya pada sajak-sajaknya, maka ketika “Orgasmaya”, kitab puisi sulungnya, sampai di haribaan, saya tergoda untuk menuliskan semacam komentar kecil atasnya. Tapi saya agak bingung musti memulai dari mana. Pun saya ragu, adakah saya pengulas yang pantas untuk buku itu?

HAH memberi pengantar yang, bagi saya, terasa “menyegarkan” untuk buku puisinya : sebuah obrolan imajiner dengan Pablo Neruda, penyair besar dunia yang sangat dikaguminya. Lalu terpikir untuk memberi judul ulasan saya nanti “Pablo Neruda dari Batam”, tapi saya kuatir nanti dikira malah mengolok-olok HAH. Maklum, spesies ajaib yang disebut penyair itu bukankah tergolong jenis yang sangat sensitif? Kudu ekstra hati-hati untuk mendekatinya. Maka saya pikir pilihan judul itu baiklah saya batalkan.

Lalu saya membaca komentar yang dimuat di kulit belakang buku. Nah, saya pikir apa yang ditulis Joko Pinurbo di sana sudah mewakili sebagian besar hal yang mau saya katakan. Dan seperti Joko, saya pun diam-diam suka “iri” dengan energi intelektual Hasan, yang meluap seperti tiada habisnya itu. Kalau melihat betapa energiknya ia menulis (di blognya) saya suka ingat pada dahsyatnya semburan lumpur di Porong. Kebetulan ia juga ada menulis perihal lumpur. Begitulah sajak-sajaknya itu, macam lumpur. terus saja menyembur, membanjir dan “mendengus” tak henti-hentinya, “seperti ribuan jemaah haus” (Sajak “Kisah Kota Lumpur”).

HAH juga seorang penjelajah yang rajin dan cermat. Mungkin kiprahnya di jurnalisme—yang memaksanya hidup berdempetan dengan banyak ihwal dalam tempo yang bergesa--ikut menempa semangat jelajahnya itu. Maka ia sering kedapatan asyik menyelinap di antara beragam celah peristiwa dan kabar sehari-hari, yang heboh maupun yang remeh kecil-kecilan, berindap-indap memilih sudut pandangnya sendiri (yang biasanya unik), sebelum lantas keluar dari sana dengan segenggam sajak tak terduga. Ia sungguh seorang “pencuri” dan pengecoh yang handal..

Tentulah butuh kearifan khusus bagaimana menggabungkan dua jenis dunia yang bergerak bertolak belakang itu—jurnalisme yang mensyaratkan “kesegeraan” dan dunia puisi yang meminta kedalaman, dan itu tentunya antara lain berarti adanya “perlambatan” tempo—menjadi sebuah sintesa yang padu. Penjelajahan ke banyak ihwal itu membawa HAH ke banyak eksperimen bentuk dan gaya pengucapan sajak, yang tidak selamanya bisa ia menangkan.

Hal yang paling mengganggu kenikmatan saya ketika membaca sajak-sajaknya adalah menemukan pengaruh Jokpin yang sangat sekali terasa pada sebagian karyanya. Periksalah sajak-sajak berikut ini misalnya : Dongeng Penyair Pemburu Kaos Oblong, Dongeng Tukang Jahit Selimut, Dongeng Tukang Foto Keliling, Dongeng Pemimpi dan Peti Mimpinya—sajak-sajak itu adalah contoh karya HAH yang sebetulnya bagus, hanya sayang sajak-sajak (seperti) itu sudah “duluan” ditulis Jokpin. Maka sebagus apa pun ia menggarapnya, nilainya jadi berkurang di mata saya.

HAH mungkin baru mulai sungguh mencuri perhatian ketika beberapa tahun yang lalu melempar seri sajak-sajak “Kamus”nya di Kompas. Sajak-sajak tematis itu memberitahu saya kekuatan HAH yang lain lagi. Ia rupanya sungguh melakoni “kredo” yang ditulisnya bahwa “syair itu cuma permainan iseng-iseng mengasyikkan” (Sajak “Dongeng Penyair dan Kehidupan”). Maka baginya menulis sajak rupanya bisa dimulai (dan berakhir) dari mana saja dan di mana saja, dan dengan cara apa saja. Lewat sajak-sajak tematisnya, saya merasa mendapat “garansi” bahwa ia sungguh bukan penyair as usual saja.

Maka saya membayangkan, “Orgasmaya” akan menjadi sebuah kumpulan puisi yang sungguh kuat, padu, dan khas jika saja HAH bersedia menuang seluruh puisi tematis yang sudah pernah ditulisnya selama ini ke dalamnya, seraya dengan besar hati melepaskan puisi-puisi hasil “magangnya” kepada Jokpin. Tapi HAH rupanya punya hitung-hitungan sendiri tentang hal ini--mana tahu kalkulasinya lebih akurat pula ketimbang saya?

Hmm, jadi seperti inilah kira-kira saya akan mengulas “Orgasmaya”. Soal judul ulasan, nanti saja diputuskan saat saya akan mempostingnya. Toh, untuk banyak alasan, judul sering tak teramat penting juga. Meskipun sebetulnya saya sudah cukup sreg dengan judul “Pablo Neruda dari Batam” itu.

10 October 2008

Orang Pandai yang Bersembunyi

SALAH satu hal yang menarik perhatian saya dalam membaca cerita silat Cina adalah kehadiran mereka yang baiklah saya sebut saja “orang pandai yang bersembunyi”. Mereka bukanlah tokoh utama dalam cerita, tapi kemunculannya—yang juga tidak kerap, kadang bahkan hanya muncul sekali saja--sering menentukan, dan bagi saya sebagai pembaca, selalu terasa “mengilhami”. Sering malah kehadiran mereka lebih membetot perhatian saya ketimbang tokoh utamanya sendiri.

Dalam prolog dari Kisah Membunuh Naga (Ie Thien To Liong) versi OKT diceritakan tentang seorang rahib lugu bernama Kak Wan Taysu, yang sebetulnya sudah muncul dalam penghujung cerita Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar atawa Sin Tiau Hip Lu. Kak Wan adalah “paderi bodoh” yang bekerja di perpustakaan biara Siauw Liem. Tugasnya sehari-hari adalah menjaga keamanan dan kebersihan ribuan kitab di perpustakaan itu. Ia sendiri diceritakan tak mengerti ilmu silat, dan memang begitulah adanya.

Syahdan, suatu ketika dalam keasyikannya membersihkan kitab, secara tak sengaja ia menemukan sejilid kitab tipis yang berisi pelajaran ilmu silat dahsyat yang secara ajaib luput dari perhatian para penghuni Siauw Liem lainnya. Meskipun “tolol” ia toh mengerti kitab itu sebuah mustika yang tiada taranya sebab ditulis langsung oleh Bodidharma, tokoh yang konon adalah peletak dasar silat Siauw Liem.

Begitulah diam-diam tanpa sepengetahuan siapa pun rahib “bodoh” itu meyakinkan ilmu dalam kitab tipis itu, dan tanpa ada yang tahu ia kemudian mengalami metamorfosis dari seorang yang tak paham ilmu silat menjadi seorang sakti yang tersembunyi. Tersembunyi,karena ia, setelah jadi hebat tak tertarik untuk gembar-gembor, melainkan terus tinggal di perpustakaan merawat ribuan kitab yang jadi tanggung jawabnya.

Dalam kehidupan kita sehari-hari tokoh seperti Kak Wan ini--“orang pandai yang bersembunyi”—pasti juga ada. Mereka tak begitu hirau dengan segala ingar bingar publisitas semu. Mereka lebih memilih tinggal di sudutnya, dalam kesendirian dan kesepian, seraya terus mendalami dan meyakinkan bidang yang menjadi pilihannya. Saya membayangkan, ia mungkin saja seorang penyair jenius yang lebih memilih menyimpan saja puisi-puisinya (dan pikiran-pikirannya) dalam laci—kita pasti teringat Emily Dickinson ….

Pertanyaannya kini, salahkah pilihan “bersembunyi” yang mereka ambil? Kak Wan dalam Kisah Membunuh Naga, lantaran terpaksa sekali, akhirnya muncul ke gelanggang, mengobrak-abrik musuh dan sekaligus membuka mata banyak orang. Ia pun kemudian, menurut sang empunya cerita konon, menjadi inspirator bagi lahirnya silat Wudang dan ilmu pedang Gunung Emei.

06 October 2008

Kemenangan yang Merepotkan?

MEMPERCAYAKAN penilaian atas puisi kepada para “juri anonim”—seperti dilakukan Pena Kencana —sungguh mengandung resiko. Belum mapannya kehidupan sastra di sini menjadi alasan kuat untuk skeptis. Saya pernah menyebut manuver Pena Kencana ini sebagai sebuah “eksperimen yang berani” (atau kepagian?), yang biarpun hasilnya bisa saja konyol, tapi tetap saja menarik ditunggu.

Seraya mengingat bahwa siapa pun yang kemudian muncul sebagai pemenang dalam kontes seperti itu bolehlah dipandang sebagai seorang yang “benar sedang mujur”. Kemenangannya bukan kemenangan artistik, sebab sesungguhnya tak ada peristiwa literer di sana. Yang terjadi adalah sebuah kegiatan yang berlangsung “untung-untungan”, yang melibatkan sejumlah orang yang tak jelas siapa saja, serta tak jelas juga mereka sudah memilih puisi siapa.

Maka bagaimana kemudian sang pemenang musti bersikap menghadapi hal ini? Saya tanyakan itu kepada Jimmy Maruli Alfian, yang memenangkan kontes ini untuk kategori puisi. Saya tanyakan juga apakah ia mempunyai usulan untuk perbaikan supaya award ini tidak lalu berkembang menjadi sekadar sasaran sinisme belaka. Saya pikir menarik sekali menguping apa komentarnya. Kebetulan kemudian memang ada sedikit “ribut-ribut” di blognya Hasan Aspahani tentang hasil kontes ini, maka saya pikir ini adalah kesempatan bagus bagi Jimmy untuk bicara.

Sayang sekali, Jimmy Maruli Alfian, penyair muda potensial--yang saya sukai puisinya, antara lain karena bahasa sajaknya yang lugas dan tidak bertele-tele--itu agaknya tak tertarik merespons pertanyaan saya, pun mengurusi “ribut-ribut” itu. Mungkinkah karena kemenangan ini sudah membikinnya menjadi “serba salah” dan “repot”? Tapi mengapa harus jadi merasa "bersalah" dan "repot"? Jimmy yang berhak menjawabnya.

22 September 2008

Zatako, Titanic, Kegilaan

DI TAHUN 1980-an dulu saya kerap menemukan puisinya dimuat secara rutin sebuah koran ibukota. Setahu saya ia lebih seorang wartawan ketimbang penyair. Tapi sebagai wartawan ataupun penyair sepertinya namanya memang “kurang bergema”. Saya pun tak begitu ingat adakah ia sempat punya kumpulan puisi. Baiklah. Ia adalah Zainudin Tamir Koto, dan sering menyingkat namanya itu dengan akronim Zatako.

Puisi-puisi Zatako tidak istimewa, malah banyak yang musti saya bilang jelek. Saya menduga sajak-sajaknya (yang tidak istimewa) itu bisa muncul di koran ibukota lebih karena alasan pertemanan—begitulah saya meyakininya—yang ada antara dia dengan redaktur sastra koran termaksud.

Puisi-puisi Zatako pendek-pendek, berisi umumnya kesan-kesan yang didapatnya dalam pengembaraannya sewaktu bertugas selaku wartawan, saya kira. Kadang, ada juga saya temukan satu dua puisinya yang bagus. Maka saya menduga mungkin puisi-puisinya menjadi kurang bertenaga karena ia—selaku wartawan--tak punya cukup waktu untuk mengolah lebih masak bahan-bahan puisinya tersebut.

Tapi hal yang saat ini paling mengesan pada saya adalah bahwa ia sepertinya tidak ambil mumat dengan apa pendapat orang tentang sajaknya. Ia terus saja menulis, dan memang ia tergolong penyair “subur”, seraya dengan rajin mengirimkannya ke koran Jakarta itu. Adakah yang membacanya? Pastilah ada, minimal saya terus mengikuti puisinya setiap kali muncul.

Sikap “tidak ambil peduli” itu mendadak jadi terasa penting buat saya. Sikap keras kepala itu bisa saja lahir dari semacam rasa cinta, bukan? Zatako, dalam keserba-sempitan waktunya, mungkin begitu mencintai puisi, maka ia terus menulis, seraya belajar tak hirau dengan komentar miring orang lain. Dengan caranya sendiri ia merayakan komitmennya pada puisi.

Saya teringat pada sebuah adegan dalam film Titanic. Sewaktu kapal pesiar mewah itu pelan tapi pasti karam, dan para penumpamgnya dilanda panik berlarian ke sana ke mari, sejumlah pemusik yang biasa bertugas menghibur di kapal keren itu malah terlihat terus asyik berdendang. Dan ketika salah seorang dari mereka mengingatkan konco-konconya bahwa tak ada (lagi) yang menonton aksi mereka, sang kawan dengan kalem bilang “ah, biasa juga mereka tak menyimak kita bermain, kenapa sekarang kau meributkannya--terus saja mainkan musikmu”. Dan mereka melanjutkan aksi mereka.

Sudah gilakah para pemusik itu? Mungkin ya, tapi soalnya bukan itu barangkali. Soalnya adalah, jika dunia kita hari ini ternyata semakin mirip dengan Titanic yang dengan pasti tengah berangkat karam di mana harapan untuk selamat serasa mustahil—karena jumlah sekoci penyelamat sungguh tidak memadai, tetapi terutama karena ketiadaan kepemimpinan dengan wibawa yang cukup—tidakkah apa yang diperbuat para pemusik itu bukan malahan sebuah pilihan sikap yang “heroik”?

Ah, dari para pemusik “gila” itu (juga dari penyair Zatako) saya merasa telah mendapatkan sebuah pelajaran penting dan berharga.

09 September 2008

Paceklik Puisi

TERJEBAK dalam “musim paceklik puisi” adalah kejadian yang cukup sering saya alami. Meskipun pengalaman selama ini mengajarkan bahwa “musim kering puisi” itu hanya sebuah siklus biasa dalam perjalanan saya selaku penulis, entah mengapa rasa gelisah (dan cemas itu) terus saja (kembali) hadir. Saya cemas, misalnya, jangan-jangan kali ini saya memang segera “tamat” sebagai penyair. (Kalau tak ada sajak lagi yang bisa kita tulis, masihkah kita penyair?)

Nah, sudah dua bulan lebih ini saya mengalani kembali musim kering itu. Saya coba runut kembali kejadiannya. Oh, ternyata sebelum itu terjadi memang sudah ada rasa jenuh dan “lelah” kepada puisi .Itu pun bukan kejadian luar biasa menurut saya--manusiawi dan wajar saja bahwa seorang penyair pun sesekali merasa “capek” kepada puisinya. Mungkin sama wajar dan manusiawinya seperti kalau kita sesekali juga suka merasa “lelah” dengan pasangan kita?

Lalu yang saya lakukan untuk mengisi saat vakum itu biasanya adalah “jajan”, mencari selingan, karena ada petuah bagus yang bilang bahwa kalau kita suatu saat tidak bisa “kreatif”, setidaknya kita musti bisa tetap “produktif”. Dan “jajanan” saya kali ini (supaya bisa tetap produktif) adalah kitab-kitab cerita silat wuxia, jenis bacaan yang sering dilecehkan sebagai “klangenan” tidak bermutu oleh sebagian orang yang merasa punya selera seni “adiluhung”.

Mungkin saking “seru dan dahsyat”nya novel-novel itu saya pun jadi mendadak rajin berolah-tubuh (yang sudah sekian lama saya abaikan) setiap hari, seraya dengan lahap menyantap halaman-halaman literatur seputar martial art. Dalam kungkungan atmosfer seperti itulah antara lain sajak “Pesilat”, yang dimuat di halaman ini beberapa waktu yang lalu, tercipta.

Syahdan, sesudah luntang-lantung mengembara di dunia “sungai telaga” sekian lama, berjumpa dan “bertarung” dengan sekian tokoh aneh dan sakti dari berbagai golongan, saya pun mulai menjadi letih dan kini berbalik merasa “kangen” kembali untuk “berolah-rasa”, untuk pulang kepada kata, kepada puisi.

Masalahnya kemudian ternyata yang saya kangeni ini seperti jual mahal. Saya sudah mencoba memanggilnya, membelainya, merayunya, belum ada hasilnya juga. Meski saya termasuk yang meyakini bahwa puisilah yang sering “mendatangi” penyair, tapi dari pihak penyair rupanya dituntut semacam syarat. Ia harus sungguh dalam kondisi “mabuk kepayang” kepada puisi, berada dalam tangkapan atmosfer puitik seintens mungkin. Ia harus dalam kondisi sungguh “on” ketika puisi sesewaktu datang memergokiya.

Barangkali syarat inilah yang belum sepenuhnya saya penuhi. Sebagian dari diri saya mungkin masih tertinggal di puncak permai berkabut gunung Wudang, terumbang-ambing bersama Zhang San Feng (atawa Thio Sam Hong), konon peletak dasar Tai Chi, merenungi keindahan sekaligus kedahsyatan tersembunyi dedahan pinus. Atau tenggelam dalam khusuk samadi bersama para rahib sepuh, di ruang sunyi angker Tat Mo Tong, di kuil Siauwlim, di gunung Siong San sana …
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...