Musuh-musuhnya sengit menuduhnya komunis
Tapi para sahabat sepakat, menjulukinya humanis
Cewek-cewek penggemarnya bilang ia “anak manis”
Sedang koran-koran berkabar hidupnya tragis
Aku tak paham, sungguhkah kisahnya begitu dramatis
Yang kutahu, ia memang pergi pada suatu Kamis manis
Di sebuah ceruk Mahameru, terhisap olehnya racun, amis
Dan lama sesudahnya, masih ada saja yang terkenang menangis
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
Showing posts with label Soe Hok Gie. Show all posts
Showing posts with label Soe Hok Gie. Show all posts
13 August 2008
30 November 2006
G i e
SOE HOK GIE (Gie) adalah sebuah inspirasi, setidaknya bagi Riri Riza, sineas muda berbakat yang kemudian mengangkat sosok kontroversial itu ke dalam film. Gie dengan demikian adalah sebuah “model” , sebuah contoh “hero” yang lain. Kenyataan ini bagi saya sedikit membingungkan, dan “ganjil”. Mengapa gerangan di sebuah zaman yang dikomando oleh perilaku hidup konsumtif dan mental serba gengsi, perhatian bisa terarah pada sosok kurus bersahaja yang meninggal tragis di Semeru, Desember 1969 itu? Apa yang sebetulnya menarik dari Gie?
Kalau anda terlahir sebagai “cina” di negara ini, anda akan tahu bahwa pilihan hidup anda tidaklah banyak. Pilihannya paling-paling antara menjadi “juragan”, atau juara badminton. Maka kalau kemudian ada “cina” yang menjadi penyair – seperti Tan Lioe Ie, atau Oei Sien Tjwan dulu – kita pun menatap fenomena itu dengan sedikit heran dan takjub. Keheranan itu akan berubah menjadi “kebingungan” kalau si “cina” itu menjadi aktivis politik, pilihan yang dengan sadar diambil Gie. Pilihan sensitif yang bahkan oleh kelompok “non-cina” pun tidak banyak diminati.
Jadi agaknya itulah beberapa hal yang membuat sosok Gie menjadi terasa “eksotis”. Pertama, ia seorang cina, dan kedua ia memilih bidang yang “tak biasa”. Di luar itu, Gie, secara qua individu memang berada di atas rata-rata. Ia bukanlah eksemplar “biasa” yang lahir dari bokong zamannya. Almarhum Nugroho Notosusanto menggambarkannya sebagai “seorang yang selalu lurus memegang prinsipnya” dan karena itu ia menjadi sosok yang “mengerikan”. Di zaman ketika berkata “tidak” – juga “tidak” kepada tawaran hidup yang edan dan hedonistik --terasa begitu merepotkan, maka sosok “mengerikan” seperti Gie tentu saja menyodorkan sebuah “pencerahan”.
Diterimanya figur Gie sebagai sebuah “model” membuktikan juga bahwa kita ternyata masih cukup “sehat”. Masih cukup “waras” untuk tidak terkerangkeng begitu saja dalam penjara dungu bernama fanatisme etnis, golongan, atau entah bagaimana sajalah anda menyebutnya. Dan Gie, bagi saya, adalah spirit yang tak mau sudah untuk tetap berkata “tidak” kepada begitu banyak hal “tak waras” yang pada hari-hari ini terus mengepung dan mencoba menggasak kita.
Kalau anda terlahir sebagai “cina” di negara ini, anda akan tahu bahwa pilihan hidup anda tidaklah banyak. Pilihannya paling-paling antara menjadi “juragan”, atau juara badminton. Maka kalau kemudian ada “cina” yang menjadi penyair – seperti Tan Lioe Ie, atau Oei Sien Tjwan dulu – kita pun menatap fenomena itu dengan sedikit heran dan takjub. Keheranan itu akan berubah menjadi “kebingungan” kalau si “cina” itu menjadi aktivis politik, pilihan yang dengan sadar diambil Gie. Pilihan sensitif yang bahkan oleh kelompok “non-cina” pun tidak banyak diminati.
Jadi agaknya itulah beberapa hal yang membuat sosok Gie menjadi terasa “eksotis”. Pertama, ia seorang cina, dan kedua ia memilih bidang yang “tak biasa”. Di luar itu, Gie, secara qua individu memang berada di atas rata-rata. Ia bukanlah eksemplar “biasa” yang lahir dari bokong zamannya. Almarhum Nugroho Notosusanto menggambarkannya sebagai “seorang yang selalu lurus memegang prinsipnya” dan karena itu ia menjadi sosok yang “mengerikan”. Di zaman ketika berkata “tidak” – juga “tidak” kepada tawaran hidup yang edan dan hedonistik --terasa begitu merepotkan, maka sosok “mengerikan” seperti Gie tentu saja menyodorkan sebuah “pencerahan”.
Diterimanya figur Gie sebagai sebuah “model” membuktikan juga bahwa kita ternyata masih cukup “sehat”. Masih cukup “waras” untuk tidak terkerangkeng begitu saja dalam penjara dungu bernama fanatisme etnis, golongan, atau entah bagaimana sajalah anda menyebutnya. Dan Gie, bagi saya, adalah spirit yang tak mau sudah untuk tetap berkata “tidak” kepada begitu banyak hal “tak waras” yang pada hari-hari ini terus mengepung dan mencoba menggasak kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)