https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings
Showing posts with label Afrizal Malna. Show all posts
Showing posts with label Afrizal Malna. Show all posts

05 August 2014

Usaha Mencatat Gerimis

- Menafsir Malna

Sebelum dituliskan ia masih sepenuhnya gerimis
Melayang merdeka tak beribu-bapak di udara tak bernama
Lantas lembut sempurna bisa kau rasakan mendarat ia
Di pusat kebun, atau pada pepuncak ubunmu

Sewaktu kau berkeras menuliskannya, menguncinya
Dalam kotak-kotak sempit yang kau sebut sajak, mati-matian ia
Memberontak, seakan menampik garis takdir yang begitu saja
Kau paksakan pada cair wujudnya tak bersilsilah

Sewaktu rampung dituliskan, atau begitulah kau menduganya
Terang kau pastikan tak tersisa lagi itu gerimis, tak ada juga kau
Yang riuh mencatatnya pada ini wadah sarat cacat--
Hanya ada sepi di ujung baris yang sekonyong buntu, gagu

02 August 2014

Sastra Bawah Tanah


DALAM pidatonya pada penganugerahan Hadiah Sastra Khatulistiwa ke-13 tahun lalu penyair Afrizal Malna antara lain menghaturkan ucapan "terima kasih" kepada toko-toko buku yang menolak menjual buku puisi.

Penolakan itu, menurutnya, justru telah "menyelamatkan" puisi menjadi satu-satunya produk aktivitas kita yang tidak bisa "ditekuk" oleh pasar.

Kalau semuanya diambil olah pasar, apalagikah yang masih tersisa buat kita, begitu dia bertanya retoris. 

Puisi Indonesia memang semakin menegaskan dirinya sebagai "produk bawah tanah". Buku-buku puisi pemenang KLA misalnya, dengan pengecualian pada satu-dua judul, tidak pernah bisa ditemukan di rak toko-toko buku. Ia harus belajar merasa puas (dan "tahu diri") dengan menjadi gunjingan sebentar segelintir orang yang tak jelas pula.

Statemen Afrizal Malna, bagi saya, terasa sebagai kegenitan atau "hiburan" yang miris.

(Untuk pidato Afrizal Malna itu sendiri sila menyimaknya di sini).

29 November 2010

Gus tf, "Hantu Kata", KLA

Gus tf Sakai, salah seorang juri Khatulistiwa Literary Award (KLA) tahun ini, menjagokan Hantu Kata (Kiblat Buku Utama, Bandung) sebagai buku puisi yang “sangat layak” masuk dalam shortlist KLA 2010.

Di bawah ini adalah penilaian tertulisnya yang disampaikannya kepada Panitia penghadiahan sastra lokal yang—sejauh ini—berhadiah duit termahal itu:

Inilah buku puisi yang, dalam sejarah kesusateraan Indonesia, bakal menempati posisi unik, karena paling banyak membicarakan dirinya, yakni puisi itu sendiri. Bukan hanya puisi sebagai salah satu bentuk ekspresi (dengan media kata-kata) yang figuratif, bersimbol, dan karenanya selalu ambigu, tetapi juga pada kenyataan betapa gentingnya apa yang disebut komunikasi. Dan kegentingan ini, secara ajek, dan konsisten, juga menjadi tubuh puisi-puisi lain pada bagian kedua buku ini, bahwa dunia, seperti halnya komunikasi, adalah kesiapan untuk tak mendapatkan apa-apa, menemukan kosong, hampa, sia-sia.

Tapi, sebagaimana kemudian kita tahu, buku itu tidak termasuk dalam daftar 5 besar yang diumumkan Panitia. Dalam emailnya kepada saya, Gus tf mengaku “tak bisa percaya” empat juri lain (Afrizal Malna, Donny Gahral Adian, Eka Kurniawan, Ronny Agustinus) tidak memasukkan Hantu Kata dalam pilihan mereka.

20 November 2008

Bedah Buku Afrizal Malna

Diskusi Sastra Membedah Buku Puisi Afrizal Malna
“Teman-temanku dari Atap Bahasa”

Pembicara :
Iwan Pirous (antropolog)
Nirwan Ahmad Arsuka (pengamat sastra)
Wicaksono Adi (pemerhati seni)
Moderator : Damhuri Muhammad

Waktu & Tempat :
Jumat 21 November 2008
Pukul 15.00 – 18.00 Wib
Cemara 6 Galeri
Jl. HOS. Cokroaminoto No. 9-11
Menteng Jakarta

Info Phone: 08561286005
Email: geger255@gmail.com

09 March 2007

Puasa Puisi Afrizal Malna

AFRIZAL Malna pernah memutuskan “bercerai” dari puisi. Itu terjadi sekitar 1970-an pertengahan. Alasannya sungguh idealistis : ia merasa puisi-puisi yang ditulisnya saat itu tidak memuaskannya samasekali. Maka daripada hanya nyampah, ia putuskan lebih baik stop menulis saja. Ia pun lalu mengalihkan perhatiannya pada hal-hal “di luar” puisi, dan sekuat tenaga menahan semua dorongan libidinalnya untuk menulis.

Tapi “puasa” nya hanya bertahan 2 tahun. Berahi puitikal yang begitu kuat dari dalam dirinya akhirnya memaksanya kembali “menghunus” kata. Namun ada yang berbeda. Puisi-puisinya pasca puasa itu bukan lagi “spam”, alias “sampah”, dan motivasi menulisnya pun dirasanya lebih “murni”, bukan lagi didorong oleh hal-hal yang hanya artifisial dan sampingan.

Kisah Afrizal Malna ini selalu menginspirasi saya. Ini adalah kisah refleksi dan pencarian “iman” seorang pencinta puisi sejati. Bayangkan, ia rela melakukan puasa, bermatiraga, berpantang, menolak berhubungan dengan puisi, justru untuk mendapatkan jawaban sejati apakah ia memang sungguh-sungguh memerlukan kehadiran puisi dalam hidupnya.

Afrizal Malna kita tahu sudah menjawab pertanyaan itu. Tapi bagaimana dengan kita, saya dan anda? Ingat lho, kualitas dan buah kerja menyair kita antara lain juga ditentukan oleh bobot atau kualitas jawaban yang kita berikan atas pertanyaan itu.

Jadi, coba tanyakan dan jawablah dengan jujur, sungguhkah anda memerlukan kehadiran puisi dalam hidup anda? Dan sebagai apa? Teman ngerumpi iseng, pacar musiman, selingkuhan gelap, atau pasangan hidup permanen anda? Suami atau istri begitu? Atau anda masih belum punya jawabannya? Ah, bagaimana kalau puasa puisi dulu …baru nanti menjawabnya?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...