https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings
Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

02 August 2014

Sastra Bawah Tanah


DALAM pidatonya pada penganugerahan Hadiah Sastra Khatulistiwa ke-13 tahun lalu penyair Afrizal Malna antara lain menghaturkan ucapan "terima kasih" kepada toko-toko buku yang menolak menjual buku puisi.

Penolakan itu, menurutnya, justru telah "menyelamatkan" puisi menjadi satu-satunya produk aktivitas kita yang tidak bisa "ditekuk" oleh pasar.

Kalau semuanya diambil olah pasar, apalagikah yang masih tersisa buat kita, begitu dia bertanya retoris. 

Puisi Indonesia memang semakin menegaskan dirinya sebagai "produk bawah tanah". Buku-buku puisi pemenang KLA misalnya, dengan pengecualian pada satu-dua judul, tidak pernah bisa ditemukan di rak toko-toko buku. Ia harus belajar merasa puas (dan "tahu diri") dengan menjadi gunjingan sebentar segelintir orang yang tak jelas pula.

Statemen Afrizal Malna, bagi saya, terasa sebagai kegenitan atau "hiburan" yang miris.

(Untuk pidato Afrizal Malna itu sendiri sila menyimaknya di sini).

10 August 2013

Puisi yang Dibuang

SEORANG penyair bisa saja keliru menilai sajaknya sendiri. Misalnya ia  mengira telah melahirkan "naga" padahal yang nongol hanya seekor "cacing" belaka, atau sebaliknya. Sewaktu menyiapkan materi untuk "Tanda-tanda yang Bimbang" puisi di bawah ini dengan sadar telah saya sisihkan. 

Fakta bahwa puisi itu pernah tersiar di sebuah koran besar tepercaya (karena itu paling tidak secara obyektif bolehlah ia lalu dipandang "layak serta") tak menyurutkan samasekali niat saya.     


Liang Hitam
Sajak separoh jadi
Yang kau tinggalkan
Telantar di atas meja semalam
Percayalah, tak bakal rela ia diam
Menyerah pada kelam
Jalan nasibnya

"Kau telah meniupkan
Nyawa padaku
Menjadikanku sekadar
Mahluk tak utuh
Mengapa tak kaububuhkan
Juga sayap kata sepasang
pada pundakku lunak
Guna terbang
            Menjangkau
Ambang takdirku"

O pencipta buta
Ketahuilah tanpa kepak
Tanpa terbang
Sajak separoh jadi
Yang kau tinggalkan
Telantar di atas meja
Hanyalah mahluk cacat
Malang terbuang pada
Maha liang semesta


2011


Setelah "Tanda-tanda .." akhirnya terbit, saya kok malah jadi bertanya-tanya, benarkah keputusan saya ketika itu dengan tidak menyertakan puisi ini? Ah, jangan-jangan betul saya, dalam  "kebutaan" yang terang benderang ini, telah menjadikannya sebagai "mahluk cacat malang terbuang" begitu saja.

28 July 2013

"Tanda-tanda yang Bimbang", Buku Puisi Ook Nugroho

Buku puisi saya yang kedua akhirnya terbit, saya beri tajuk Tanda-tanda yang Bimbang. Buku ini memuat puisi dari periode 2007-2011. Boleh dikata tak ada puisi baru, artinya hampir semuanya sudah pernah tersiar di media cetak. Tapi sebagian besar dari padanya telah mengalami proses "tulis ulang" alias revisi cukup besar, sampai saya sendiri menjadi rada pangling ketika membacanya kembali dalam bentuk cetakan di lembaran buku ini.

Tanda-tanda yang Bimbang diterbitkan oleh Kiblat Buku Utama (Bandung), yang sebelumnya menerbitkan juga Hantu Kata, sang "abang kandung" dari "Tanda-tanda ... ". Silakan mulai mencarinya di toko-toko buku di kota Anda, atau bisa juga langsung ke penerbitnya, Kiblat Buku Utama.

16 July 2008

Buku yang Tak Dibaca

Ia sebuah buku
Yang tak dibaca lagi
Terselip kesepian
Dalam rak kenangan

Kulit sampul meluntur
Saru dimangsa waktu
Judulnya gagap
Kikuk menatap zaman

Tema dan gaya
Sama kadaluwarsa
Halaman yang pernah perkasa
Nelangsa tak berdaya

Ia sebuah buku
Yang tak dibaca lagi
Bahkan saya lupa
Dulu pernah membelinya

11 July 2008

Surat dari Penerbit

Saudara Ook yang terhotmat,

Singkat dan langsung saja ya bung. Kami sudah menerima kiriman naskah puisi anda, kami juga sudah mempelajarinya, dan kami pun telah mengambil keputusan untuk “tidak menerbitkannya”. Seperti anda pun pasti sudah paham, proyek penerbitan buku puisi adalah proyek “tumbal”, proyek “makan hati”, alias proyek pasti rugi melulu.

Anda juga tahu harga bensin belum lama ini naik, dan itu menyebabkan lonjakan yang tinggi pada biaya produksi buku. Sementara sebelumnya harga kertas juga sudah duluan naik. Cobalah anda hitung berapa tinggi resiko yang harus kami tanggung jika kami menerbitkan naskah puisi anda. Apalagi, maaf sekali, anda hanya penyair gurem yang “tidak menjual”.

Kami lebih mendahulukan penulis-penulis yang “menjual”, yang sudah punya merk. Bahkan bukan penulis pun apabila mereka berpotensi “laku” pasti akan kami pertimbangkan serius. Misalnya, kami akan mempertimbangkan jika ia misalnya mantan aktivis politik yang pernah masuk penjara, atau minimal pernah ikut rame-rame turun ke jalan dan digebuki tentara. Tokoh selebriti yang kontroversial pun akan kami prioritaskan.

Soal mutu karya, bagi kami nomor dua. Kami punya tim hebat yang sanggup menyulap karya yang hanya “sampah” sekalipun menjadi “maha karya” yang berpotensi “best seller”. Akan halnya karya anda, mohon maaf, kami tak melihat peluang sama sekali untuk bisa disulap menjadi “laku”. Jadi ini kami kembalikan naskah anda, cobalah ke yang lain, siapa tahu ada juga penerbit “sinting” yang mau menerimanya.

Salam dan semoga anda tidak jadi putus asa, atau murka, karena surat kami yang terlalu berterus-terang. Ini.memang sudah menjadi kebijakan dan gaya kami selaku penerbit besar dan terkenal yang mengusung motto “mencerdaskan bangsa seraya menggendutkan dompet sendiri”.

04 July 2008

Misalkan, Saya Ini Buku

Misalkan, saya ini buku
Sejauh mana sudah kau jelajah
Halaman-halamannya?

Di luar urusan salah cetak
Yang mengganggu ada-ada saja

Apa komentarmu
Perihal tema dan isinya :

Cukup dalam atau banalkah?

Bagaimana pula
Struktur narasinya digarap?

Antara kadar literasi
Dan kemestian gramatikanya
Sudahkah terjalin serasi
Sebagai darah dan lukanya?

Adakah menjemukan
Pilihan sampul depanku?

Misalkan, misalkan
Saya ini benar sebuah buku
Di rak perpustakaan mana gerangan
Kelak ia bakal disimpan?

23 January 2008

Saya Tengah Menunggu Keajaiban

KURANG lebih sepuluh hari yang lalu saya mengirimkan naskah kumpulan puisi saya ke sebuah penerbit. Penerbit ini dulunya sebuah yayasan nirlaba yang banyak menelorkan buku-buku puisi bagus, tapi belakangan ini berubah menjadi lembaga yang full profit oriented. Yang juga membedakan adalah penerbit ini sekarang tidak fokus lagi ke buku bertema sastra. Mungkin karena diyakini sastra bukan komoditi yang mendatangkan profit.

Tapi saya tetap “nekat” mengirimkan naskah itu ke sana, antara lain karena salah satu orang penting di sana adalah sesama penyair. Sebetulnya kami tak saling kenal secara pribadi. Dibanding saya—yang kuper ini—nama beliau jauh lebih sohor. Tapi saya tetap berharap bahwa “kesamaan” status antara kami—yaitu bahwa kami sesama penyair--ini bisa membukakan atau menyisakan peluang bagi naskah saya.

Saya tak tahu seberapa realistiskah harapan itu, karena konon katanya “business is business”, apalagi di antara kami memang tiada ikatan perjanjian apa pun yang mesti disepakati. Maka setiap hari saya mengecek email dengan perasaan sedikit was-was : sudah adakah jawaban dari mereka, ditolakkah naskah saya, bagaimana kalau ternyata betulan ditolak? Uaah lumayan menegangkan.

Hanya itulah sementara yang bisa saya lakukan, selain terus berdoa..Perasaan saya ada miripnya mungkin dengan perasaan seorang calon pegawai yang sedang dag dig dug menantikan datangnya surat panggilan kerjanya. Begitulah, saya memang sedang menunggu semacam keajaiban, atau mujizat, hari-hari ini.

04 May 2007

Madura, Luang Prabhang

Tulisan ini sebelumnya pernah “dipinjamkan” ke Perca—sebuah blog khusus review buku— dengan judul Meditasi Panjang Abdul Hadi WM, dan kemudian dimuat juga di Kutu Buku. Kini tulisan ini kembali ke habitat asalnya. Mudah-mudahan masih belum basi dan bermanfaat.

SUDAH sejak sekitar 10 tahunan ini penerbit Grasindo rajin menerbitkan seri “100 puisi pilihan” dari penyair-penyair senior kita. Kalau tak keliru proyek ini dulu diawali dengan antologi puisi Goenawan Mohamad, “Asmaradhana”. Sesudahnya nama-nama besar lain semisal Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, Sitor Situmorang – untuk sekedar menyebut contoh – bergiliran mendapat kehormatan itu. Agak mengherankan bahwa Abdul Hadi WM, yang juga adalah salah satu nama besar di dunia puisi nasional, seperti terlewatkan. Padahal nama-nama lainnya yang lebih “yunior” – sebutlah Isbedy Stiawan SZ atau Soni Farid Maulana – malah sudah terbit duluan bukunya. Apa pun kisah di belakangnya, saat ini antologi “100 puisi pilihan” Abdul Hadi WM, yang dijuduli “Madura, Luang Prabhang”, sudah hadir di tengah kita.

Antologi ini memuat karya-karya Abdul Hadi antara 1965-1992, periode yang diakui oleh penyairnya sendiri sebagai masa-masa suburnya. Dan buku “Madura, Luang Prabhang” memang memajang sajak-sajak unggulannya, yang sudah berhasil mendongkrak nama penyairnya menjadi salah satu ikon puisi Indonesia modern.

Karena merentang antara 1965-1992 (27 tahun), dengan sendirinya buku ini memberikan gambaran yang cukup utuh seputar perjalanan kepenyairan Abdul Hadi. Pergeseran tema dan gaya ucap sangat terasa terutama pada puisi-puisi yang ditulis pasca 1980-an. Kegelisahan-kegelisahan “eksistensialistik” yang menandai periode “Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur”, “Cermin”, “Tergantung pada Angin”, dan “Meditasi”, beralih pada kerinduan mitis-relijius yang lebih tenang. Umur bertambah, dan sang penyair pun agaknya berubah. Sangat wajar dan biasa
.

Dan itu agaknya juga membawa konsekuensi pada gaya ucap. Seolah “lelah” dengan gaya puisi lamanya yang cenderung “samar dan gelap”, pada periode akhir (1990-an), penyair kerap hadir dengan puisi-puisi yang bergaya ucap “terang benderang”. Marilah saya cuplilkkan sebuah contoh :

Barat dan Timur

Barat dan timur adalah guruku
Muslim, Hindu, Kristen, Buddha
Pengikut Zen atau Tao
Semua adalah guruku
Kupelajari dari semua orang saleh dan pemberani
Rahasia cinta, rahasia bara menjadi api menyala
Dan tikar sembahyang sebagai pelana menuju arasy-Nya
Ya, semua adalah guruku
Ibrahim, Musa, Daud. Laotze
Sidharta, Zarathustra, Socrates, Isa Almasih
Namun hanya pada Muhammad Rasulullah
Dan di masjid aku berkhidmad
Walau jejak-Nya
Kujumpai di mana-mana

Puisi di atas sangat terasa berbeda jika dibandingkan dengan puisi-puisi Abdul Hadi dari periode “eksistensialistiknya” dulu. Selain “terang ben derang”, sajak di atas juga jatuh pada bombasme dan sloganistik pula – hal-hal yang dulu paling dicereweti Abdul Hadi dalam menyikapi sebuah puisi. Marilah kita tengok sebuah puisi lamanya yang ditulis pada 1972, yang walaupun secara tematis begitu “remeh” dan “biasa”, tapi sebagai puisi mampu hadir dengan demikian utuhnya. Saya kutipkan selengkapnya :


Sehabis Hujan Kecil

Retakan hujan yang tadi jatuh, berkilau
Pada kelopak kembang yang memerah
Antara batu-batu hening merenungi air kolam
Angin bercakap-cakap, sehelai daun terperanjat dan lepas

Akhirnya, sebagai penikmat puisi, saya hanya bisa berharap Abdul Hadi WM masih akan terus membombardir kita dengan puisi-puisi barunya yang lebih bagus lagi. Dan “meditasi panjangnya” tidak selesai begitu saja sampai di sini, di Luang Prabhang ini, di mana “… Hanya terdengar dengung laler di jalan-jalan dan kedai”, dan “Di jalan ke kuil, sekelompok serdadu yang letih bermain gitar mencari keindahan antara sinar bulan dan bau bangkai” (sajak “Luang Prabhang”, hal. 76).

22 November 2006

Hadiah Sastra

DEWAN juri Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2005-2006 telah menuntaskan tugasnya pekan silam. Mereka sepakat "menuduh" kumpulan cerpen Mandi Api dari Gde Aryantha Soethama (penerbit buku Kompas, 2006) sebagai buku terbaik untuk kategori prosa. Sementara kumpulan puisi Santa Rosa, hasil jerih payah Dorothea Rosa Herliany (Indonesia Tera, 2005) "didakwa" sebagai pemenang untuk kategori puisi. Selaku pemenang mereka berdua berhak atas hadiah uang tunai sebesar masing-masing seratus juta rupiah.

Sebagai sesama warga dari "suku terasing" yang disebut komunitas sastra indonesia, saya ikut bersyukur dengan adanya tradisi sastra tahunan KLA ini. Agak susah saya membayangkan bahwa di zaman "repotnasi' seperti sekarang ini ternyata masih ada juga "sinterklas" yang mau bermurah hati menggelontorkan duit sebegitu besar untuk mengongkosi sebuah kegiatan yang di mata sebagian besar anggota masyarakat pastilah masih dianggap "ganjil" itu. Persis di situlah sebuah pertanyaan nakal menggoda saya : sungguhkan hadiah duit sebanyak itu sudah jatuh ke tangan pemenang yang memang "layak"?

Jangan keliru. Saya tak bermaksud mempertanyakan hasil kerja dewan juri. Saya hanya tergoda untuk sekedar mempertanyakan format dari lombanya. KLA, sepengetahuan saya hanya menjadikan buku -- artinya naskah yang sudah naik cetak dan beruntung diterbitkan -- sebagai bahan acuan lombanya. Di situlah letak masalahnya, karena kita paham betul betapa masih centang perenangnya iklim penerbitan buku-buku sastra kita. Dengan meletakkan format lomba KLA pada perspektif buram itu, orang pun, atau setidaknya saya, akan dengan gampang bertanya seberapa representatifkah buku-buku yang dilombakan itu memberi gambaran riil dari kekuatan atau kualitas kehidupan sastra kita hari ini?

Mernjadikan buku sebagai bahan sebuah lomba sastra adalah pilihan yang sah dan baik-baik saja. Tapi dalam konteks iklim pernerbitan kita kini, format seperti itu dengan sadar dan sengaja telah mengabaikan kemungkinan adanya materi lain yang "lebih baik" -- dan karenanya juga "lebih layak" untuk dimenangkan -- di luar buku-buku itu. Saya tengah membayangkan sebuah Khatulitiwa Literarry Award -- dan juga award-award sastra yang lainnya -- di masa depan yang mau juga sedikit repot mengikutsertakan materi yang masih belum beruntung terbit untuk ikut juga dilombakan.

Dengan cara begini, pertandingan akan berjalan lebih seru dan fair. Dan kelak, siapapun pemenangnya, mungkin akan lebih memberi gambaran nyata dari geliat hidup dan mutu kesusasteraan kita di lapangan. Tapi saya tak tahu, usulan semacam ini terdengar berlebihan atau tidak di kuping para petinggi sastra kita.

17 October 2006

Saya (Juga) Pernah Nyolong Buku

Kejadiannya sudah lama sekali. Tahun 1983, atau sekitar itulah. Buku yang disasar adalah kumpulan esai Rendra, Mempertimbangkan Tradisi, penerbitnya, kalau tak keliru, Gramedia. Dan toko bukunya "SA", di lantai bawah gedung "S" di Thamrin Jakarta. Harga buku itu saya sudah lupa, tapi seingat saya buat ukuran kantong saya waktu itu, yang hanya seorang karyawan gurem, lumayan membebani. Sebetulnya saya tak merencanakan pencurian itu sebelumnya. Beberapa hari sebelumnya. saya sudah sempat membolak-balik buku itu. Menurut saya, buku itu tidaklah bagus-bagus amat (kita sama tahu Rendra besar karena sajak-sajak dan dramanya, dan bukan karena esai-esainya bukan?), tapi juga tidak jelek sih. Melihat kualitas buku yang "tanggung" seperti itu saya merasa sayang kalau harus memiliki dengan membelinya. Apalagi saat itu adalah periode "sulit" buat saya. Itulah masa ketika kadang saya makan siang hanya dengan pepaya sepotong yang saya beli dari tukang rujak gerobak pinggir jalan di dekat kantor. Harganya ketika itu seratus perak sepotongnya.

Juga ada semacam "rasa marah" yang mengusik saya : mosok buku semutu itu harus dijual semahal itu? Maka muncullah godaan untuk mencuri saja buku itu. Ketika memutuskan hal "besar" ini, saya pun terbayang pada sosok penyair sohor Chairil Anwar, yang konon katanya dulu suka juga melakukan hal ini. Tentu saja saya tak bermaksud menyaingi beliau dengan merencanakan pencurian ini. Tapi motif kami kurang lebih sama ternyata : sama-sama bokek. Bedanya, Chairil (begitu pernah saya baca) melakukan ini dengan sangat tenang dan santainya. Mungkin karena toko bukunya sepi, dan sudah pasti tak ada kamera yang diam-diam membayangi gerak-geriknya. Sebab lain, barangkali ia memang betul "ahli" atau "berbakat" dalam urusan ini.

Saya pun menjalankan rencana "besar" saya, pada suatu siang, sewaktu jam istirahat kantor. Lokasi toko buku "SA" memang dekat dengan kantor. Saya masuki toko buku dengan sikap yang sebiasa mungkin. Sengaja hari itu saya memakai kemeja yang agak gedombrangan, dengan dua kancing depan saya biarkan terbuka. Suasana toko buku lumayan ramai, tapi untunglah konter buku-buku sastra (sebagaimana kita juga tahu) selalu sepi. Singkat cerita, operasi itu berjalan sukses, meski saya melakukannya dengan sedikit gugup dan gemetaran. Ada satu hal "kecil" yang masih terus teringat dari kejadian itu. Saya ingat di sebelah saya berdiri seorang entah siapa, sedang asyik membaca. Saya hampir yakin dia sebetulnya melihat segala perbuatan saya, karena sewaktu akan memasukkan buku ke dalam baju yang kancingnya sudah saya buka itu, buku itu sempat tersangkut, karena saya gugup, jadi manuver saya agak sedikit terhambat. Tapi untunglah seorang entah siapa itu tak mau usilan.

Saya pun buru-buru pulang ke kantor, memamerkan hasil operasi itu kepada beberapa teman sembari ketawa-ketiwi dengan puasnya. I was really excited at that time. Dan saya katakan kepada diri saya, bukan, yang kau lakukan bukanlah kejahatan, ini hanya semacam kenakalan, jadi tenang saja. Saya pun mulai membaca buku itu. Selesai. Mendadak muncul keinginan membuat resensinya. Saya kerjakan, dan selesai, lalu iseng-iseng saya kirim resensi buku curian itu ke majalah Horison. Lantas saya mencoba melupakannya. Beberapa bulan kemudian, seorang kawan penyair, Oewiek Sanuri Emwe (sekarang almarhum) memberitahu bahwa esai yang saya kirim itu sudah di-acc redaksi Horison. Teman ini memang "orang dalam" Horison, dia bekerja lepas membantu menulis kolom "Kronik" di majalah itu. Kaget. Surprise. Itulah reaksi saya. Dan benar, akhirnya resensi dengan judul Mempertimbangkan Tradisi, Menolak Kebekuan itu muncul di majalah sastra yang saat itu pamornya masih lumayan kinclong. Dan itulah juga tulisan saya yang pertama sekali dimuat Horison
. Tapi kisahnya belum selesai. Kawan saya, yang "orang dalam" majalah Horison itu meminta honor tulisan saya yang baru dimuat itu. Untuk menebus obat, katanya. Dia memang saya tahu sakit-sakitan ketika itu. Dan kondisi dompetnya lebih runyam dari saya. Saya pun merelakannya dengan senang hati. Saya anggap ini semacam tebusan untuk harga buku Rendra yang saya dapat dari nyolong itu. Jadi, impaskah "dosa" saya karena itu. Tentu saja saya tak tahu, tapi saya harap begitu.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...