Sepulang nanti ke kotamu
Ke rumah asalmu, bersama
Istri dan anak-anak tersayang
Janganlah terlalu lekas
Melupakan saya begitu saja
Ingatlah malam-malam putih
Yang kita seberangi bersama
Kuingat, kau tidur teramat pulas
Sehabis menuntas waktu
Yang lama terganjal rindu
Di atas lunak kasur dan temaram
Lelampu taman yang menyeret karam
Bumi, aku tak tega membangunkan
Kumatikan maka setelan alarm jam
Supaya kau bisa terus terpejam
Hingga menembus ambang
Paling kelam
Aku tahu, cepat atau sebentar
Kau akan melupakan juga saya
Tenggelam dalam kebanalan kerja
Sehari-hari, sepulang nanti ke Jakarta
Dua jam kurang perjalanan dari sini
Dengan penerbangan yang biasa
Saya hanya berharap, semoga
Tak semua hal tentang saya terlupa
Begitu saja, ingatlah misalnya lukisan
Kembang jepun di senyap dinding kamar:
Lukisan itu biasa & pasaran belaka kutahu
Seperti katamu juga, tapi bukan itu soalnya
Soalnya pada gegurat garis dan warnanya
Kini telanjur terbawa kisah kita
Berdua, terpapar pada ini latarnya
Juga meja kecil, di sebelah ranjang
Di atasnya, ketika itu kau letakkan sembarang:
Dompetmu, kaca mata, uang receh, kitab doa
Yang sengaja kau bawa dari rumah
Guna mengawal liburanmu pendek sayang
Dari kerumun roh dan jin tanah Bali
Yakinlah, pintu kamar ini
Terbuka kini senantiasa, guna kau masuki
Kembali kapan juga, seakan kenangan tak rela surut
Tulislah sajak jika sempat
Sepulangmu nanti
Agar cerita kita awet tersimpan lama
Terlindung dari hembusan cuaca
Ekstrem belakangan ini
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
Showing posts with label Bali. Show all posts
Showing posts with label Bali. Show all posts
09 November 2011
21 October 2011
Turis
Kini saya percaya
Turis itulah
Insan paling bahagia
Di bumi lata
Kampung mereka
Tidak di sini
Tiada tersurat
Dalam atlas biasa
Mungkin di sebalik
Benda-benda
Jauh sebelum
Tercipta nama
Dunia sekadar
Alamat singgah
Dalam kunjungan
Singkat mereka
Guna liburan
Sehari hanya
Di planit tua ubanan
Sarat kisah
Sebelum pulang
Lagi ke rumah lama
Jauh di sebalik ufuk
Di kampung asal
Kini saya percaya
Bahagia bisa hanya
Jika kupunya tulus
Hati seorang turis
Turis itulah
Insan paling bahagia
Di bumi lata
Kampung mereka
Tidak di sini
Tiada tersurat
Dalam atlas biasa
Mungkin di sebalik
Benda-benda
Jauh sebelum
Tercipta nama
Dunia sekadar
Alamat singgah
Dalam kunjungan
Singkat mereka
Guna liburan
Sehari hanya
Di planit tua ubanan
Sarat kisah
Sebelum pulang
Lagi ke rumah lama
Jauh di sebalik ufuk
Di kampung asal
Kini saya percaya
Bahagia bisa hanya
Jika kupunya tulus
Hati seorang turis
14 October 2011
Kartu Pos Bergambar
(Inilah Bali
Tempat Wayan lahir
Suatu hari, dan menemu surya
Di lubuk samudra)
Hari ini kusalami
Tanahmu yang liat
Kisahmu yang sarat
Ceraplah, selaku
Sesembahan pelancong
Dari utara, kuharap sepadan
Selayak tamu
Pada lekuk-liku sajak
Lama kuselami
Gunung dan lautmu
Kurasa tapi baru sesudah
Genap langkahku
Menempuh Uluwatu
Kupahami akhirnya
Bahasa rindu
(Ya, inilah Bali
Tempat Wayan mangkat
Suatu hari, pulang mencapai
Moksa, di lepas lakon)
Tempat Wayan lahir
Suatu hari, dan menemu surya
Di lubuk samudra)
Hari ini kusalami
Tanahmu yang liat
Kisahmu yang sarat
Ceraplah, selaku
Sesembahan pelancong
Dari utara, kuharap sepadan
Selayak tamu
Pada lekuk-liku sajak
Lama kuselami
Gunung dan lautmu
Kurasa tapi baru sesudah
Genap langkahku
Menempuh Uluwatu
Kupahami akhirnya
Bahasa rindu
(Ya, inilah Bali
Tempat Wayan mangkat
Suatu hari, pulang mencapai
Moksa, di lepas lakon)
10 October 2011
Sukawati
Kita ke Sukawati
Seru berburu cenderamata
Supaya laut, ombak, pantai
Bersama nasi campur
Dan Ayam Betutu
Awet tersimpan dalam
Kenangan waktu
Nanti sesudah pulang
Setiap kali terjaga
Subuh hari sebelum
Berkemas kerja
Semoga masih ada
Sisa ombak dan laut
Berdebur di pojok kamar
Masih ada Wayan
Menunggu di teras hotel
Dengan sesobek karcis
Masuk gerbang Uluwatu
Jadi kita ke pura dulu
Setiap pagi, menyalami
Sahabat kera, menyerahkan
Sukma keramat
Selaku sajen sebelum
Bunuh diri beramai, terjun
Ke jalan-jalan ibu negeri
Ringan dan meriah
Seperti lelucon di Joger
Seru berburu cenderamata
Supaya laut, ombak, pantai
Bersama nasi campur
Dan Ayam Betutu
Awet tersimpan dalam
Kenangan waktu
Nanti sesudah pulang
Setiap kali terjaga
Subuh hari sebelum
Berkemas kerja
Semoga masih ada
Sisa ombak dan laut
Berdebur di pojok kamar
Masih ada Wayan
Menunggu di teras hotel
Dengan sesobek karcis
Masuk gerbang Uluwatu
Jadi kita ke pura dulu
Setiap pagi, menyalami
Sahabat kera, menyerahkan
Sukma keramat
Selaku sajen sebelum
Bunuh diri beramai, terjun
Ke jalan-jalan ibu negeri
Ringan dan meriah
Seperti lelucon di Joger
06 October 2011
Hotel
Dengan 50 dolar semalam
(Sudah termasuk
Pajak dan sarapan)
Kita dapatkan akhirnya
Surga kecil ini
Tapi sebelum mulai
Tanggalkan dulu seragam
Buruk yang menodai
Luka-lukamu itu
Kita bisa sebentar
Istirah melupakan nama
Dan asal-usul
Bumi yang ruwet
Mungkin seraya
Melepas kutuk
Ke seberang ufuk
Yang sepanjang musim
Mendera kita dengan
Warna-warni
Semu
Dan jika jemu
Bercumbu, bukalah jendela
Itu sedikit olehmu
Di kebun yang teduh
Saksikan hari berlabuh
Serupa kapal Nuh
Melepas sauh
Menurunkan muatannya
Kau dan aku
Di pinggir kolam
Dangkal yang airnya
Mengalir kembali
Ke sumber
(Sudah termasuk
Pajak dan sarapan)
Kita dapatkan akhirnya
Surga kecil ini
Tapi sebelum mulai
Tanggalkan dulu seragam
Buruk yang menodai
Luka-lukamu itu
Kita bisa sebentar
Istirah melupakan nama
Dan asal-usul
Bumi yang ruwet
Mungkin seraya
Melepas kutuk
Ke seberang ufuk
Yang sepanjang musim
Mendera kita dengan
Warna-warni
Semu
Dan jika jemu
Bercumbu, bukalah jendela
Itu sedikit olehmu
Di kebun yang teduh
Saksikan hari berlabuh
Serupa kapal Nuh
Melepas sauh
Menurunkan muatannya
Kau dan aku
Di pinggir kolam
Dangkal yang airnya
Mengalir kembali
Ke sumber
04 October 2011
Tanjung Benoa
Di Tanjung Benoa
Di perairan yang jinak
Arusnya, untuk pertama kali
Dalam hidupnya
Ia naik perahu motor
Mengarungi biru lautan
Dalam kenyataan
Ombak nakal
Yang agaknya mengerti
Menggodanya dengan
Hempasan lunak pada
Ringkih tubuh perahu
Itu pun sudah cukup
Membuatnya ngeri
Dan teramat paham apa
Artinya karam
Di Tanjung Benoa
Di perairan yang jinak
Ombaknya, untuk pertama kali
Dalam hidupnya yang datar
Penyair itu menyewa perahu
Mengarungi biru samudra
Bukan dalam sajak
Di perairan yang jinak
Arusnya, untuk pertama kali
Dalam hidupnya
Ia naik perahu motor
Mengarungi biru lautan
Dalam kenyataan
Ombak nakal
Yang agaknya mengerti
Menggodanya dengan
Hempasan lunak pada
Ringkih tubuh perahu
Itu pun sudah cukup
Membuatnya ngeri
Dan teramat paham apa
Artinya karam
Di Tanjung Benoa
Di perairan yang jinak
Ombaknya, untuk pertama kali
Dalam hidupnya yang datar
Penyair itu menyewa perahu
Mengarungi biru samudra
Bukan dalam sajak
Subscribe to:
Posts (Atom)