https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings
Showing posts with label Puisi Tamu. Show all posts
Showing posts with label Puisi Tamu. Show all posts

02 July 2008

Sajak Tamu : Eka Budianta

Eka Budianta, yang lahir di Ngimbang, 1 Februari 1956, adalah salah seorang penyair kita yang cukup penting. Ia dikenal melalui sajak-sajaknya yang bergaya-ucap jernih dan sederhana. Sajak “Teringat pada Daun” adalah contoh tipikal puisinya. Ia pun kerap menyisipkan idiom-idiom kontemporer ke dalam puisinya. Ini adalah kecendrungan dominan lain padanya, selain kesukaannya bermain dengan imaji-imaji alam. Sajak “Tembang Biasa” mewakili tren itu.

Dua sajak yang dimuat di sini dipetik dari kumpulan puisi “Sejuta Milyar Satu” (penerbit Arcan, 1984). Kumpulan ini mendapat penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta. Sayang, kiprah kepenyairannya menyurut kemudian. Sajak-sajaknya tak pernah muncul lagi kepada kita. Sungguh sudah “habiskah” Eka Budianta sebagai penyair?


Teringat pada Daun

Bagaimana aku bisa lupa padamu, daun
Setelah kauajar selama bertahun-tahun
Menghadapi berbagai musim dan kekecewaan
Di laut, sekarang aku jadi biduk
Tak berdaya, kosong dan sakit-sakitan
Jauh dari hutan, jauh dari kalian
Tapi lupakah aku padamu begitu saja?

Nasib membuatku jadi sepotong gabus
Kapal tanpa kompas, perahu tanpa layar
Tapi jangan bilang aku lupakan kalian
Hutang rindu, hutang kasih sayang
Tak tertebus dengan sejuta bait gurindam
Hidup bukan sekedar iuran perkataan
Sejak dulu telah kauajar aku membuktikan

Sekarang, di tengah lautan kata-kata
Aku memanggilimu, daun-daun
Yang telah menghijaukan perasaan
Dengan usapan dan tamparan di masa kecil
Ombak kini menggantikanmu
Dengan ayunan dan hempasan
Mendekatkan aku ke akhir perjalanan


Tembang Biasa

Pemenang Nobel perdamaian
Bukanlah ayahku
Meskipun setetes spermanya
Bersama ovum bintang film itu
Tumbuh menjadi aku
Seperti engkau
Di dunia ini aku sendiri
Normal dan terasing

Akulah mereka
Penanam modal di planit Yupiter
Pendatang baru di galaksi tanpa nama
Aku membuat semilyar komputer
Reaktor-reaktor atom dan mesin sinar laser
Untuk membunuh orang-orang Kamboja
Membantai sisa-sisa Palestina
Menghabisi Indian Amerika, Yahudi di Eropa
Aku perintis teknologi metafisika
Sekaligus pelacur, tukang sepatu
Algojo, muazin dan perawat yang rajin

Aku lari meninggalkan firdaus
Menyumpahi Tuhan sepuas-puasku
Dan menyembah-nyembahnya lagi
Aku membangun piramida dan tembok Cina
Dan tidak menangis
Ketika Hiroshima berantakan
Tidak marah melihat rakyat dibantai di Gullac
Aku tersenyum bersama cahaya
Menyusup ke segala rongga, seperti biasa

19 January 2007

Sajak-Sajak Oewiek Sanuri Emwe (1957-1985)

Justicia

Sepucuk pistol
moncongnya membidik
mulut bergula

(Katanya seekor musang tak
pernah jadi seekor ayam)

Korban tersungkur
dengan lidah terjulur


Catatan Pagi, Setelah Tiga Puluh Hari

1
Sebenarnya aku ingin segelas kopi, sepotong ubi dan
secercah senyum pagi ini
Engkau mematung, matumu tajam menyayat-nyayat
Mengingat benih yang baru kutanam malam kemarin,
aku buka pusaka tua berdarah keluar masuk toko,
Mesjid, Gereja, gedung-gedung mencari rezekiku yang
hilang dimakan waktu

2
Engkau tak berkata : ya atau tidak
tetap mematung seperti puteri kena tenung

3
Aku pulangkan engkau!
Tanah! Tanah! Tanah!
Simpanlah!

4
Ruang ini hampa udara
berputar pada empat dinding
membalikkan hari-hari lalu
Di sana, di tengah hutan sekelompok manusia dingin
menyiapkan tiang salib upacara bagi sang
pembunuh


Tentang Jakarta

Setelah Sodom dan Gomora
Kini Jakarta menyerahkan tubuhnya
untuk dikoyak-moyak dan
dibumihanguskan

Jangan menoleh
Jangan menoleh, adikku!


Kami Punya Satu Rembulan

Kami punya satu rembulan
dan satu matahari

Kadangkala mereka
mendongeng kepada kami
tentang sysypus atau ahasveros
hingga larut malam

diam-diam, tanpa sepengatahuan Ibuku
aku gigit rembulan itu
sementara matahari kutusuk ulu hatinya
dengan pisau pemberian Bapakku!


Siklus 0

Aku berdoa. Tergelincir jatuh. Menari. Dan berdoa lagi
-- menajamkan jejak-jejak di air

kembang-kembang yang taman merekuimkan dunia ajal
hidup dari matahari hujan siraman

- jalan bisu, jalan yang ditumbuhi lalat-lalat
mengerdipkan mata bangkai

dan tangan yang menjulur memotes tengkuk-tengkuknya
melempar jauh ke batas jalan asing --ialah laut diriMu

Aku berdoa. Tergelincir jatuh. Menari dan berdoa lagi
-- menajamkan jejak-jejak di air

(Dipetik dari kumpulan puisi Beri Aku Matahari, penerbit Puisi Indonesia 1985, editor Afrizal Malna)
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...