Kisah orang mati yang hidup kembali bisa kita baca dalam Kitab Suci. Tapi cerita blog yang tadimya dikira "mati" ternyata masih (bisa) hidup kembali mungkin hanya terjadi di Blogspot. Kalau tak mengalaminya sendiri, mungin saya susah percaya.
Ceritanya, tadi pagi seperti biasa saya membuka inbox email. Aneh, saya menemukan sebuah email masuk yang me-link ke Ruang Samping, sebuah blog saya yang selama ini sudah saya anggap "marhum". Isinya sebuah komentar atas sebuah artikel dalam blog itu. Penasaran, langsung saya klik ternyata blog itu memang masuh ada, atau lebih tepat, dia ternyata bisa online kembali.
Saya periksa Rak Puisi (yang bersama-sama ketika itu ikut "lenyap") ternyata juga sudah bisa "siaran kembali". Hanya akses ke akun Google yang belum terbuka, sehingga saya masih belum bisa masuk ke dasbor. Tapi sore ini, ternyata saya sudah bisa kembali mengaduk-aduk jeroan blog saya ini.
Jadi selama ini apa yang sebetulnya terjadi? Semula saya mengira blog saya (dan akun Google saya) dikerjai hacker. Tapi kini saya cenderung percaya rupanya selama ini pihak Google telah "menghukum" saya. Mungkin ada perilaku saya yang dianggap menyalahi aturan main mereka.
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
Showing posts with label Blogging. Show all posts
Showing posts with label Blogging. Show all posts
20 September 2011
20 August 2008
Nirwan Dewanto Mulai Ngeblog
Ia tidak datang ke upacara itu. Ia tidak ingin. Ia memang tidak pernah lagi datang ke upacara semacam itu. Terakhir kali ia ikut upacara bendera adalah 17 Agustus 1991, di lapangan parkir Gedung Pertamina di Gambir, ketika ia masih geolog (semua karyawan perusahaan minyak, juga perusahaan asing, harus ikut upacara supaya mereka ber-Pancasila). Sudah lama sekali. Waktu itu wajahnya masih sangat licin dan kampungan, seperti dilukis Rudolf Bonnet. Sekarang wajahnya kasar dan terpiuh, seperti potret diri Oskar Kokoschka.(Penggalan “Hadiah Tujuh Belasan”, dipinjam dari blog Nirwan Dewanto).Seperti pernah di”janjikan”nya dalam obrolan tertulis di halaman blog ini beberapa bulan lewat, Nirwan Dewanto akhirnya memenuhi janjinya : blognya, yang ia beri nama unik, “Kualakuali”, kini sudah hadir. Ia mencanangkan antara lain “Dalam blog ini saya tampilkan petikan catatan, ulasan pendek, aforisme, cerita, dan (semacam) berita, juga jawaban terhadap sejumlah soal yang, secara langsung atau tak, dialamatkan ke saya”.
Sementara ini sudah terpajang 5 artikel di laman blog itu. Meski masih dalam “edisi percobaan”, sudah bisa terendus blog ini sepertinya akan memberi tawaran pilihan yang menarik di rimbun sesaknya rimba belantara blog saat ini.
Nirwan, selamat datang di blogosphere! Semoga kerasan …
31 January 2008
Blog Hanya untuk Penulis Underdog?
DALAM salah satu suratnya kepada saya, pianis-komponis Ananda Sukarlan mengeluhkan sedikitnya sastrawan kita yang ikutan tren ngeblog. Sebetulnya sudah lama pertanyaan yang sama mengusik saya. Kenapa hal ini terjadi, saya pun tak punya jawabannya. Hanya ada beberapa terkaan yang bisa saja salah.
Pertama, barangkali karena kegiatan ngeblog bagaimanapun masih tergolong “baru”. Jadi masih perlu waktu untuk sosialisasi lebih jauh. Berapa lama? Entahlah. Lalu saya amati juga, mayoritas penulis kita yang pada ngeblog adalah mereka yang, sepertinya, belum dianggap eksis betul oleh “penguasa” kerajaan sastra di sini. Jadi, sepertinya blog lalu menjadi semacam ajang kompensasi untuk mereka unjuk diri, karena di ranah “sastra resmi”, kehadiran mereka kurang dianggap.
Kalau analisis ini betul, maka keengganan sastrawan kondang untuk ngeblog agaknya karena mereka merasa sudah “mapan”, sudah punya media yang bersedia dengan senang hati menerima karya-karya mereka kapan saja, dan biasanya mereka pun punya akses mulus ke dunia penerbitan. Singkat kata, peluang mereka untuk "tampil" begitu besar dan mudah. Karena itu lantas mungkin mereka berpikir, ngapain juga gua musti repot-repot ngeblog segala?
Saya sungguh berharap sangkaan yang terakhir itu salah besar. Alangkah meriahnya jagat blog kita sekiranya nama-nama beken semisal Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Sutarji Calzoum Bachri, Nirwan Dewanto, Acep Zamzam Noor dan seabrek nama besar lainnya pada ikut terjun ke dunia blog. Ah, mudah-mudahan ini bukan mimpi yang kelewat jauh dari kenyataan.
Pertama, barangkali karena kegiatan ngeblog bagaimanapun masih tergolong “baru”. Jadi masih perlu waktu untuk sosialisasi lebih jauh. Berapa lama? Entahlah. Lalu saya amati juga, mayoritas penulis kita yang pada ngeblog adalah mereka yang, sepertinya, belum dianggap eksis betul oleh “penguasa” kerajaan sastra di sini. Jadi, sepertinya blog lalu menjadi semacam ajang kompensasi untuk mereka unjuk diri, karena di ranah “sastra resmi”, kehadiran mereka kurang dianggap.
Kalau analisis ini betul, maka keengganan sastrawan kondang untuk ngeblog agaknya karena mereka merasa sudah “mapan”, sudah punya media yang bersedia dengan senang hati menerima karya-karya mereka kapan saja, dan biasanya mereka pun punya akses mulus ke dunia penerbitan. Singkat kata, peluang mereka untuk "tampil" begitu besar dan mudah. Karena itu lantas mungkin mereka berpikir, ngapain juga gua musti repot-repot ngeblog segala?
Saya sungguh berharap sangkaan yang terakhir itu salah besar. Alangkah meriahnya jagat blog kita sekiranya nama-nama beken semisal Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Sutarji Calzoum Bachri, Nirwan Dewanto, Acep Zamzam Noor dan seabrek nama besar lainnya pada ikut terjun ke dunia blog. Ah, mudah-mudahan ini bukan mimpi yang kelewat jauh dari kenyataan.
17 October 2007
Tiada Lawan Selain Waktu
TAHUKAH Anda bahwa lawan yang terutama harus dihadapi seorang penulis bukanlah para kritikus yang suka asal bantai, atau para redaktur kolom sastra di koran yang sering diganyang dari belakang, dan dituduh telah “memacetkan” perkembangan kesusasteraan. Bukan juga para editor penerbitan yang diam-diam bertindak sebagai “tuhan” atas karya-karya yang ditawarkan pada mereka. Bukan. Bukan. Bukan. Lawan terberat seorang penulis adalah waktu.Pernah ada “sindiran” bahwa umur kreatif sastrawan Indonesia mencapai puncaknya pada saat sastrawannya berumur 20 atau 30-an, dan sesudahnya mulai meredup, lalu pada usia 40 semakin suram, untuk akhirnya “mati” pada umur 50. Tapi sinyalemen itu ternyatalah tidak sepenuhnya benar. Sitor Situmorang, umpamanya, masih menulis sampai saat ini. Dan jangan dilupakan Goenawan Mohamad, yang tambah tua tampaknya makin menjadi.
Tapi di sisi lain memang ada cukup contoh yang membuktikan kebenaran omongan itu. Eka Budianta, seorang penyair cukup ternama, sepertinya cocok sekali dengan gambaran pendeknya umur kreatif itu. Eka Budianta—bersama sejumlah nama “besar” lain, sebutlah si kembar Yudhis dan Noorca—berguguran, atau setidaknya menunjukkan penurunan kualitas karya sewaktu memasuki umur pertengahan.
Pertanyaan besarnya adalah mengapa Sitor dan Goenawan bisa awet, sedang Yudhis cs begitu cepat kehabisan bensin? Kita mungkin akan menyebut hal-hal seperti kesibukan kerja, dan perubahan kondisi hidup ke arah kemapanan finansial sebagai faktor penyebab kendurnya spirit kreatif itu. Marilah kita lihat sejauh mana pendapat itu benar, atau salah.
Sitor mungkin betul bukan figur “sibuk”, sehingga ia beruntung bisa memanfaatkan situasi “nganggur”nya untuk tetap menulis. Tapi Goenawan Mohamad kita tahu adalah seorang yang super sibuk, tapi tetap bisa menjaga “iman” puisinya. Dan kalau bicara kemapanan finansial, kurang mapan dan makmur bagaimana lagi beliau? Toh semua itu tak mengguyahkan gairahnya untuk terus menulis.
Ada istilah “passionate blogger’, untuk menyebut para blogger yang terus dengan bergairah ngeblog tanpa peduli apakah ada orang yang membaca atau mengomentari tulisannya. Mereka terus ngeblog, karena dasarnya memang mencintai kerja ngeblog itu. Cinta jugalah agaknya yang terus memompa Sitor, Goenawan (juga Sapardi) untuk terus menulis puisi. Dan, cinta jugalah agaknya yang sanggup menaklukkan waktu.
19 September 2007
Kado Ulang Tahun yang "Manis"
PERSIS pada ulang tahunnya yang pertama, situs ini mendapat kado yang sungguh “manis”. Entah kena gempa apa, mendadak saja tampilan blog ini jadi berantakan seperti anda lihat sekarang. Saya sungguh tak tahu apa yang sebetulnya terjadi—tapi barangkali inilah resiko punya situs yang gratisan.
Seorang teman, Saeful Badri, yang memakai template sama ternyata mengalami nasib serupa : tampilan templatenya jungkir balik. Yah, setidaknya saya tidak sendirian dalam musibah ini. Tapi Saeful kayaknya sudah lebih cepat pulih. Saya, karena dogol dan tak punya waktu, baru bisa bikin press release ini.
Mohon maaf kepada para pengunjung yang jadi merasa terganggu dengan hal ini. Terima kasih kepada anda yang mau juga tetap mempir ke sini. Saya akan berusaha sedapatnya memperbaiki tampilan blog ini. Jika tidak mungkin, terpaksa saya akan ganti kulit. Apa boleh buat.
Seorang teman, Saeful Badri, yang memakai template sama ternyata mengalami nasib serupa : tampilan templatenya jungkir balik. Yah, setidaknya saya tidak sendirian dalam musibah ini. Tapi Saeful kayaknya sudah lebih cepat pulih. Saya, karena dogol dan tak punya waktu, baru bisa bikin press release ini.
Mohon maaf kepada para pengunjung yang jadi merasa terganggu dengan hal ini. Terima kasih kepada anda yang mau juga tetap mempir ke sini. Saya akan berusaha sedapatnya memperbaiki tampilan blog ini. Jika tidak mungkin, terpaksa saya akan ganti kulit. Apa boleh buat.
02 April 2007
Serius Ngeblog? Belajarlah ke Pak Cosa
KALAU anda kepingin serius ngeblog, bahkan mau melangkah lebih jauh lagi, misalnya memanfaatkan blog anda sebagai sumber penghasilan “tambahan” misalnya—selain sebagai tempat anda hahahihi--maka sangat tidak ada salahnya kalau anda rajin-rajin mendatangi blognya pak Cosa, yang bisa diklik di sini.Di sana pak Cosa dengan murah hati membagikan seabrek trik dan akal-akalan lihai bagaimana caranya supaya blog anda menjadi tidak sekedar hadir gitu lho.
Ada 3 paket utama yang disediakan pak Cosa di blognya itu : rubrik konsultasi AdSence, rubrik konsultasi Search Engine Optimation (SEO) dan satunya lagi rubrik buat anda yang kepincut mau belajar Wordpress. Tinggal pilih. Di luar itu masih banyak topik bahasan lain yang uenaak dikunyah.
Pak Cosa dengan bahasa yang sederhana akan memandu anda. Kalau misalnya masih belum puas atau nggak mudeng dengan panduan itu, pak Cosa mempersilakan anda mengontaknya secara pribadi. Boleh lewat email, malah bisa lewat HP, bahkan kopi darat pun diladeni. Hebat kan? Kalau nggak percaya klik aja di sini untuk informasi sejelasnya.
Sebetulnya situs tutorial seperti punyanya pak Cosa ada banyak. Misalnya yang juga sangat layak dikunjungi adalah Blog Tutorial, atau juga blognya pak Budi Putra, mantan wartawan Tempo. Satu lagi padepokan yang juga pantas didatangi adalah punyanya Agushery Bandung. Blog-blog ini tentu saja memiliki kelebihannya masing-masing, dan saling melengkapi.
Meskipun blog saya berbeda “genre” dengan blog pak Cosa, bukan tabu bagi saya datang bertamu lama-lama di sana setiap hari. Pak Cosa dan blognya bagaimana pun memang beda. Kalau meminjam motto blognya Tempo, situsnya pak Cosa itu memang “enak diblog dan perlu”.
Lalu kenapa juga saya mau repot-repot bikin tulisan yang isinya memuji-muji blognya pak Cosa yang memang nyatanya muantab itu? Ceritanya blognya pak Cosa kan mau ulang tahun, 13 April besok. Nah, bukan pak Cosa namanya kalau lantas nggak bikin hajatan spesial. Dan heboh. Lha, postingan ini dibuat sehubungan dengan hajatan ultah itu. Kalau mau tahu lebih jelas soal hajatan itu (ada hadiahnya lho), klik di sini ya.
30 March 2007
Ulil Ngeblog (!)
ULIL ABSHAR-ABDALLA, pemikir muda Islam yang kontroversial, salah satu pendiri Jaringan Islam Liberal yang saat ini tengah sekolah lagi di negerinya Bush sana, kini meramaikan pula atmosfir jagat maya dengan ikutan ngeblog. Kabar ini mula-mula saya temukan di blog Enda Nasution, yang selanjutnya merujuk pula ke blognya Arif Widianto. Kehadiran Ulil di ranah blog kita harapkan membuat suasana tambah semarak. Sewaktu tadi saya berkunjung ke blognya, baru ada satu tulisan, yang sebagian—dengan tanpa ijin dan memberanikan diri—saya kutipkan di bawah ini. Semoga bermanfaat.
Sebagian besar bahan-bahan yang termuat di sini berkaitan dengan tema-tema keislaman. Tetapi masalah yang menjadi bahan pemikiran saya tentu tidak terbatas di sana. Saya mempunyai minat yang luas sekali di banyak bidang, meskipun tema Islam berada di titik pusat perhatian saya. Secara pribadi, saya meminati bidang-bidang seperti filsafat, teori-teori politik modern, pemikiran ekonomi, sosiologi (terutama sosiologi agama), sastra, mistik, film, musik, dll. Oleh karena itu, tidak mustahil renungan-renungan yang termuat di ruangan ini suatu saat akan berkaitan dengan tema-tema itu.
Sekarang ini, ratusan ribu blog bersliweran di ruang maya. Teknologi internet telah memungkinkan terjadinya “revolusi” yang luar biasa pada banyak bidang. Internet telah melahirkan sejumlah “revolusi” kecil-kecilan seperti blog, YouTube, google, dsb. Revolusi internet membawa dampak yang sangat penting, yaitu demokratisasi di bidang informasi.
Saya kira kita perlu memberikan apresiasi pada otak-otak brilian yang telah menemukan teknologi ini. Sekali lagi ini memperlihatkan bahwa akal manusia, jika diberikan kebebasan, akan menghasilkan manfaat yang besar bagi kemanusiaan. Meskipun akal mengandung sisi gelap dalam dirinya, tetapi kecurigaan yang berlebihan pada akal adalah sama sekali tidak pada tempatnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)