https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings
Showing posts with label KLA. Show all posts
Showing posts with label KLA. Show all posts

02 August 2014

Sastra Bawah Tanah


DALAM pidatonya pada penganugerahan Hadiah Sastra Khatulistiwa ke-13 tahun lalu penyair Afrizal Malna antara lain menghaturkan ucapan "terima kasih" kepada toko-toko buku yang menolak menjual buku puisi.

Penolakan itu, menurutnya, justru telah "menyelamatkan" puisi menjadi satu-satunya produk aktivitas kita yang tidak bisa "ditekuk" oleh pasar.

Kalau semuanya diambil olah pasar, apalagikah yang masih tersisa buat kita, begitu dia bertanya retoris. 

Puisi Indonesia memang semakin menegaskan dirinya sebagai "produk bawah tanah". Buku-buku puisi pemenang KLA misalnya, dengan pengecualian pada satu-dua judul, tidak pernah bisa ditemukan di rak toko-toko buku. Ia harus belajar merasa puas (dan "tahu diri") dengan menjadi gunjingan sebentar segelintir orang yang tak jelas pula.

Statemen Afrizal Malna, bagi saya, terasa sebagai kegenitan atau "hiburan" yang miris.

(Untuk pidato Afrizal Malna itu sendiri sila menyimaknya di sini).

29 November 2010

Gus tf, "Hantu Kata", KLA

Gus tf Sakai, salah seorang juri Khatulistiwa Literary Award (KLA) tahun ini, menjagokan Hantu Kata (Kiblat Buku Utama, Bandung) sebagai buku puisi yang “sangat layak” masuk dalam shortlist KLA 2010.

Di bawah ini adalah penilaian tertulisnya yang disampaikannya kepada Panitia penghadiahan sastra lokal yang—sejauh ini—berhadiah duit termahal itu:

Inilah buku puisi yang, dalam sejarah kesusateraan Indonesia, bakal menempati posisi unik, karena paling banyak membicarakan dirinya, yakni puisi itu sendiri. Bukan hanya puisi sebagai salah satu bentuk ekspresi (dengan media kata-kata) yang figuratif, bersimbol, dan karenanya selalu ambigu, tetapi juga pada kenyataan betapa gentingnya apa yang disebut komunikasi. Dan kegentingan ini, secara ajek, dan konsisten, juga menjadi tubuh puisi-puisi lain pada bagian kedua buku ini, bahwa dunia, seperti halnya komunikasi, adalah kesiapan untuk tak mendapatkan apa-apa, menemukan kosong, hampa, sia-sia.

Tapi, sebagaimana kemudian kita tahu, buku itu tidak termasuk dalam daftar 5 besar yang diumumkan Panitia. Dalam emailnya kepada saya, Gus tf mengaku “tak bisa percaya” empat juri lain (Afrizal Malna, Donny Gahral Adian, Eka Kurniawan, Ronny Agustinus) tidak memasukkan Hantu Kata dalam pilihan mereka.

11 November 2009

Sindu Putra Raih Khatulistiwa Literary Award 2009


PENYAIR Sindu Putra (lahir 31 Juli 1968) meraih Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2009 untuk kategori puisi lewat kumpulan sajaknya “Dongeng Anjing Api” (penerbit Arti Foundation, Juli 2008). Sindu bukanlah nama baru dalam panggung puisi kita. Ia sudah menulis sejak 1980-an, hanya sepertinya selama ini “luput” dari perhatian. Ia mengaku “telat” masuk ke dalam “tim nasional”, mungkin karena selama ini “kurang bersemangat berkampanye” di media pusat.

Tapi “keterlambatan” itu barangkali malah menjadi berkah baginya, karena waktu “penantian” yang lama ini pada akhirnya memberinya kesempatan untuk terus berbenah sembari mematangkan diri. Hasilnya kemudian, seperti secara sepintas saya singgung dalam pengantar “obrolan” kami di halaman ini, adalah “satu dari sedikit saja buku puisi unggulan yang sempat terbit belakangan ini”. Kini, mungkin adalah waktu yang paling tepat untuk menengok kembali wawancara dengan Sindu Putra itu.

16 November 2008

KLA 2008 dan dominasi "Sastrawan TUK"

HASIL Khatulistiwa Award (KLA) 2008 akhirnya mengerucut pada “Jantung Lebah Ratu” kumpulan puisi Nirwan Dewanto dan “Bilangan Fu” novel Ayu Utami sebagai pemenangnya. Dua karya yang menang itu disebut oleh Hamsad Rangkuti, salah satu juri pada kontes tahun ini, sebagai karya yang “mewakili spirit sastra yang serius dan matang”. Dua karya itu, katanya pula, menunjukkan bahwa yang terpenting dalam sastra tetaplah gagasan yang bernas, selain juga sublimasi bahasa (Kompas, 15 November 2008).

Ada hal yang mengusik saya, yakni tiadanya blog atau situs yang menyiarkan warta akhir KLA ini—setidaknya sampai siang tadi. Lucunya bahkan situs resmi KLA juga ikut-ikutan mogok. Jika pengumuman akhir KLA ini bukan hal yang dianggap penting, mengapa pula sejumlah blog mewartakan kontes ini dengan begitu bersemangat pada saat kontes baru masuk pada tahap awal? Jika awalnya diberitakan (dengan bersemangat) mengapa ujungnya tidak diumumkan?

Mungkinkah ini semua gara-gara pemenang tahun ini adalah “sastrawan TUK”, sehingga tentu saja ini merupakan “kabar menggembirakan” bagi yang selama ini “anti TUK”? Dan aksi cuek yang dipertontonkan komunitas blog dengan demikian adalah semacam “aksi boikot”? Hmm, alangkah lucu, aneh, dan absurdnya jika benar itulah hal yang terjadi.

22 November 2006

Hadiah Sastra

DEWAN juri Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2005-2006 telah menuntaskan tugasnya pekan silam. Mereka sepakat "menuduh" kumpulan cerpen Mandi Api dari Gde Aryantha Soethama (penerbit buku Kompas, 2006) sebagai buku terbaik untuk kategori prosa. Sementara kumpulan puisi Santa Rosa, hasil jerih payah Dorothea Rosa Herliany (Indonesia Tera, 2005) "didakwa" sebagai pemenang untuk kategori puisi. Selaku pemenang mereka berdua berhak atas hadiah uang tunai sebesar masing-masing seratus juta rupiah.

Sebagai sesama warga dari "suku terasing" yang disebut komunitas sastra indonesia, saya ikut bersyukur dengan adanya tradisi sastra tahunan KLA ini. Agak susah saya membayangkan bahwa di zaman "repotnasi' seperti sekarang ini ternyata masih ada juga "sinterklas" yang mau bermurah hati menggelontorkan duit sebegitu besar untuk mengongkosi sebuah kegiatan yang di mata sebagian besar anggota masyarakat pastilah masih dianggap "ganjil" itu. Persis di situlah sebuah pertanyaan nakal menggoda saya : sungguhkan hadiah duit sebanyak itu sudah jatuh ke tangan pemenang yang memang "layak"?

Jangan keliru. Saya tak bermaksud mempertanyakan hasil kerja dewan juri. Saya hanya tergoda untuk sekedar mempertanyakan format dari lombanya. KLA, sepengetahuan saya hanya menjadikan buku -- artinya naskah yang sudah naik cetak dan beruntung diterbitkan -- sebagai bahan acuan lombanya. Di situlah letak masalahnya, karena kita paham betul betapa masih centang perenangnya iklim penerbitan buku-buku sastra kita. Dengan meletakkan format lomba KLA pada perspektif buram itu, orang pun, atau setidaknya saya, akan dengan gampang bertanya seberapa representatifkah buku-buku yang dilombakan itu memberi gambaran riil dari kekuatan atau kualitas kehidupan sastra kita hari ini?

Mernjadikan buku sebagai bahan sebuah lomba sastra adalah pilihan yang sah dan baik-baik saja. Tapi dalam konteks iklim pernerbitan kita kini, format seperti itu dengan sadar dan sengaja telah mengabaikan kemungkinan adanya materi lain yang "lebih baik" -- dan karenanya juga "lebih layak" untuk dimenangkan -- di luar buku-buku itu. Saya tengah membayangkan sebuah Khatulitiwa Literarry Award -- dan juga award-award sastra yang lainnya -- di masa depan yang mau juga sedikit repot mengikutsertakan materi yang masih belum beruntung terbit untuk ikut juga dilombakan.

Dengan cara begini, pertandingan akan berjalan lebih seru dan fair. Dan kelak, siapapun pemenangnya, mungkin akan lebih memberi gambaran nyata dari geliat hidup dan mutu kesusasteraan kita di lapangan. Tapi saya tak tahu, usulan semacam ini terdengar berlebihan atau tidak di kuping para petinggi sastra kita.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...