: JP
Penyair itu mandi
Mandi seperti kita semua mandi
Di ambang pintu tubuhnya
Membayang peluh bumi
Dicopotnya baju
Yang sekadar tipu
Dihempasnya kucel tubuh
Yang lama ngangkangi ruh
Ia loloskan juga
Tulang-tulangnya miskin
Menggantungnya sembarang
Pada cantelan kenang
Lantas khusuk ia sabuni
Mimpi yang dipenuhi daki
Cinta yang tambah meluntur
Umur yang sebentar tergusur
Penyair itu mandi
Mandi seperti saya mandi
Keluar dari pintu tubuhnya
Mewangi aroma malam
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
Showing posts with label Jokpin. Show all posts
Showing posts with label Jokpin. Show all posts
24 October 2008
22 July 2008
Nasehat Mandi Pinurbo
Mandi dan sembahyang itu ada miripnya
Yang pertama mencuci bersih badan
Satunya mengawal rapuh jiwa
Kalau mandimu bukan asal mandi
Dan sembahyangmu tak asal meradang
Insyallah, sehat afiat sekujur hidupmu itu
Yang pertama mencuci bersih badan
Satunya mengawal rapuh jiwa
Kalau mandimu bukan asal mandi
Dan sembahyangmu tak asal meradang
Insyallah, sehat afiat sekujur hidupmu itu
05 June 2008
Jokpin's Poems in Concert

ITB Choir in Concert 2008
Conducted by Indra Listiyanto
Aula Barat ITB
Jl. Ganesa 10 Bandung
Pukul 19:30 WIB
Pukul 19:30 WIB
PSM-ITB akan menyanyikan karya Ananda Sukarlan Jokpiniana No. 1 yang liriknya diambil dari puisi-puisi Joko Pinurbo
Reservasi : Daniel 022 9246 6483
Lebih Jauh tentang Musik Kunjungi Blog Ananda Sukarlan : http://andystarblogger.blogspot.com/
09 March 2008
Tafsir Celana
: Pinurbo
Celana kerjaku sobek
Tergores tajam paku sialan
Sewaktu seru berebut
Naik bus di Jakarta*)
Pergi aku ke tukang jahit
Supaya terkatup koyaknya
Tak menganga perih lukanya
Yang di dalam mengaduh
Di jalan tapi entah kenapa
Teringat aku kawan penyair
Pada celana begitu tersihir
Aku pun jadi berpikir-pikir
Bisakah masih ia menyair
Jika celana pudar meluntur
Oleh umur hilang tercuri
Dengan apa dibujuk puisi
*) Judul sebuah sajak Joko Pinurbo
Celana kerjaku sobek
Tergores tajam paku sialan
Sewaktu seru berebut
Naik bus di Jakarta*)
Pergi aku ke tukang jahit
Supaya terkatup koyaknya
Tak menganga perih lukanya
Yang di dalam mengaduh
Di jalan tapi entah kenapa
Teringat aku kawan penyair
Pada celana begitu tersihir
Aku pun jadi berpikir-pikir
Bisakah masih ia menyair
Jika celana pudar meluntur
Oleh umur hilang tercuri
Dengan apa dibujuk puisi
*) Judul sebuah sajak Joko Pinurbo
20 April 2007
Kedai "Celana" Juga Ditutup
NIAT penyair Joko Pinurbo alias Jokpin untuk menanggalkan “celana” yang sudah menjadi “merek” puisinya tidak kepalang tanggung. Bahkan blognya yang diberi nama “Kedai Arsip Celana Senja” pun ikut ditutup, seakan ingin menghapus samasekali semua jejak yang bisa mengingatkan orang pada merek sohornya itu.Menutup blog tentu saja menjadi hak prerogatif si pemilik blog. Hanya saja apa yang dibuat Jokpin ini membawa saya pada kesimpulan lain, yaitu bahwa ngeblog ternyata “belum perlu” buat Jokpin. Mungkin juga itu bisa diartikan bahwa blog atau ngeblog tidak penting buatnya.
Memang, dengan atau tanpa blog nama besar Jokpin tidak terpengaruh. Ia tetap penyair fenomeal yang sudah membawa sumbangan besar untuk khazanah puisi kita. Sebaliknya, bisa saja kegiatan ngeblog malah membuatnya repot dan jangan-jangan ujungnya mencederai mutu kerja sastranya.
Ada hipotesis lain yang selama ini saya simpan perihal perilaku ngeblog ini, yang gara-gara Jokpin menutup blognya menjadi semakin saya yakini. Yaitu bahwa blog untuk saat ini—dengan sejumlah pengecualian, tentu--hanya menjadi tempat berkubangnya penulis yang “gagal” mendapat tempat di ranah sastra cetak. Lucunya nama-nama yang telanjur dianggap “besar” di khazanah sastra cetak itu malah “meremehkan” eksistensi blog.
Senang atau tidak, seperti itulah faktanya saat ini. Tapi daripada mengeluh bukankah lebih baik saya mendadani saja statemen keren Chairil Anwar “yang bukan penyair tidak ambil bagian” menjadi “yang bukan blogger tidak usah ikutan”. Begini jauh lebih nyaman rasanya.
18 April 2007
In Memoriam "Celana"
KEJADIANNYA sudah seminggu yang lalu, tapi saya baru membacanya hari ini (Koran Tempo, 18 April 2007). Penyair Joko Pinurbo--akrab dengan sapaan Jokpin—menyampaikan niatnya untuk mencopot “celana” yang selama ini sudah menjadi “merek” puisinya. Antologi puisi Kepada Cium yang baru saja terbit disebutnya sebagai edisi pamungkas dari episode “celana” itu.Bagi saya ini sebuah kabar “besar” sekaligus menggembirakan. Dalam sebuah catatan di halaman ini beberapa waktu lalu saya memberi catatan khusus perihal perlunya Jokpin keluar dari “zona amannya” guna menjelajah dan menemukan zona kreatif baru. Kalau tidak cepat atau lambat ia hanya akan tinggal kenangan.
Celana dan Jokpin memang sebuah fenomena menarik. Imaji “celana” di satu sisi dan nama Jokpin di pihak lain seperti tak bisa dipisahkan. Seperti imaji “hujan” serta merta mengingatkan kita pada penyair Sapardi Djoko Damono, atau “kapak” membawa kita pada sosok Sutarji Calzoum Bachri, begitulah halnya “celana” dan Jokpin.
Jokpin sudah berhasil mengangkat pamor “celana”, dari sebuah substansi yang fisikal dan remeh menjadi substansi lain yang rohaniah dan malahan sering juga filosofis. Sebaliknya “celana” telah pula mengganjar Jokpin dengan banyak penghargaan sastra bergengsi : SIH Award, KLA, untuk sekedar menyebut contoh. Sebuah kisah kasih yang indah.
Tapi untuk kepentingan yang lebih besar, kisah indah itu musti diakhiri sekarang. Siapa tahu dengan menanggalkan “celana” Jokpin malah akan membawa kita ke alamat-alamat baru, addres-addres rahasia yang lebih heboh lagi. Bagi Jokpin memang hanya tersedia 2 pilihan itu : tinggal tentram dalam “celana”—seraya mungkin mati pelan-pelan—atau mencopot itu “celana”, dan “tanpa celana” menempuh segala resiko yang menanti. Ah, celana …
14 March 2007
Berharap yang Baru dari Jokpin
KALAU anda penggemar berat Joko “celana” Pinurbo alias Jokpin, kemungkinan besar anda sudah tahu kabar bakal segera terbitnya kumpulan puisi Jokpin yang paling gres. Judul bukunya Kepada Cium, dan inforrmasi tentang itu bisa dilongok di sini. Antologi ini akan menjadi buku Jokpin yang ketujuh, sebuah prestasi yang sungguh tergolong ajaib dalam dunia puisi kita.Jokpin dinilai telah berhasil menembus kebekuan dunia puisi kita dengan sumbangan gaya puisinya yang sudah sama kita kenal itu. Sesudah Afrizal Malna, memang Jokpin adalah fenomena yang paling banyak menyedot perhatian kita. Jualan “celana”nya ternyata terus saja laris manis -- tapi sampai kapan kira-kira ya?
Seperti kita pahami, pembaca adalah juri yang paling jujur dan tak mempan dibohongi. Mereka pun adalah species pembosan yang mengerikan. Maka bagi saya pertanyaan “sampai kapan” jualan Jokpin masih bakal laku, menjadi hal yang menarik buat ditunggu.
Sapardi Djoko Damono menyiasatinya dengan menciptakan varian-varian baru dalam puisinya, sehingga ketika Akuarium dan Mata Pisau lahir, kita tidak merasa sedang membaca DukaMu Abadi dengan kulit sampul dan judul yang diganti. Varian-varian baru itu terus berlanjut ke Ayat-Ayat Api dan Ada Kabar Apa Hari Ini Den Sastro?, buku puisinya yang paling belakangan.
Kalau ditarik garis lurus akan kita dapatkan jarak yang jauh antara “estetika daun gugur” yang dulu menjadi roh DukaMu Abadi dengan puisi-puisi seperti "Kelereng" atau "Iklan" – untuk sekadar menyebut contoh – yang ada dalam antologi Ayat-Ayat Api.
Kalau Joko Pinurbo gagal menciptakan varian-varian baru itu – atau “puncak-puncak baru” dalam kosa kata Sutarji Calzoum Bachri – maka saya khawatir kita akan terlalu pagi bicara perihal “sandyakala Jokpin”, seraya mungkin dengan sedih mengenangnya sebagai seorang mantan penjual “celana” yang pernah sukses.
07 March 2007
Masa Pensiun
(Pinurbo)
Nanti kalau sudah pensiun
Ia berencana jualan celana
Seraya menikmati jatah senjanya
Ia sudah menemukan lokasi
Tempat jualan yang bagus
Ialah kuburan tempatnya rebah
Ia tak punya target muluk
Asal sehari ada saja penziarah
Datang meratapi rombeng celananya
Ia sudah akan puas dan bahagia
Nanti kalau sudah pensiun
Ia berencana jualan celana
Seraya menikmati jatah senjanya
Ia sudah menemukan lokasi
Tempat jualan yang bagus
Ialah kuburan tempatnya rebah
Ia tak punya target muluk
Asal sehari ada saja penziarah
Datang meratapi rombeng celananya
Ia sudah akan puas dan bahagia
29 January 2007
Jokpin Bilang Apa?
Suplemen Ruang Baca edisi Januari 2007 dari Koran Tempo menampilkan percakapan dengan Joko Pinurbo alias Jokpin, penyair yang kerap disebut-sebut sebagai sudah membawa angin segar dalam kehidupan puisi kita hari-hari ini. Mungkin sebagian dari Anda belum sempat membaca percakapan dengan Jokpin yang “penting dan perlu” itu. Dengan pertimbangan itulah saya memberanikan diri memuat (sebagian) dari percakapan itu di halaman ini. Semoga bermanfaat.
Sekarang Anda dipandang sudah mempunyai pengucapan sendiri yang berbeda dengan penyair-penyair sebelum Anda. Bagaimana proses pencariannya?
Saya sudah lebih dari 20 tahun menulis puisi. Artinya menulis secara serius. Saya pelajari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Sutarji Calzoum Bachri, Sitor Situmorang, dan sebagainya. Saya pelajari betul-betul sampai saya tahu ciri masing-masing penyair. Dengan begitu lebih mudah bagi saya untuk menghindari gaya pengucapan yang pernah mereka lakukan. Tapi ternyata dalam perjalanannya ya tetap sulit juga. Boleh dibilang baru pada tahun 1996 itulah ketika saya menggunakan ungkapan-ungkapan celana, saya merasa menemukan gaya yang selama ini saya cari-cari.
Jika Mei 1998 dijadikan salah satu tonggak sejarah Indonesia modern, adakah ciri-ciri signifikan yang membedakan puisi pra reformasi, dan puisi-puisi pasca-reformasi?
Menurut saya tidak ada perbedaan mendasar. Tidak terjadi semacam patahan dan gempa, misalnya, yang membuat keadaan benar-benar berubah. Perbedaannya, sekarang ini tampak semakin banyak orang keranjingan puisi. Juga ruang untuk publikasi dan sosialisasi puisi semakin luas dan beragam, baik melalui media cetak maupun media cyber. Namun situasi ini, sekali lagi, belum melahirkan terjadinya perubahan mendasar atau radikal dalam khazanah perpuisian Indonesia jika yang dimaksud adalah perubahan yang, katakanlah, bersifat ideologis.
Jika peristiwa sosial politik sebesar Peristiwa Mei 1998 yang mengakhiri dominasi rezim yang berkuasa puluhan tahun masih gagal menjadi inspirasi para penyair, lantas bagaimana Anda melihat pokok masalahnya?
Ada dua kemungkinan. Pertama, para pennyair tidak tegiur lagi oleh kepalsuan-kepalsuan dan kesemuan-kesemuan dalam dunia politik. Memang pernah pada masa awal-awal masa “reformasi” kita kebanjiran sajak-sajak “reformasi”, tapi sebagian besar segera menguap karena mutu sastranya tak seberapa kuat dan lebih banyak ditulis dalam suasana euforia semata. Kedua, mereka tidak lagi terpukau pada metanarasi atau narasi-narasi besar. Banyak di antara mereka yang berusaha menghidupkan daya puitik dengan menggali dan menjelajah hal-hal yang (tampak) kecil dan sederhana untuk menyentuh esensi yang lebih dalam dan kompleks.
Siapa saja tokoh-tokoh penyair yang menonjol pasca-reformasi, dan apa ciri utama karya mereka?
Saya belum ingin menggunakan paradigma ketokohan. Kita masih perlu waktu untuk melihat dan menguji bobot “ketokohan” para penyair kita. Namun saya gembira melihat penyair-penyair muda berbakat kelahiran tahun 1970-an dan 1980-an yang muncul dan tumbuh berkembang setelah “gerakan reformasi”. Mereka itu antara lain Hasan Aspahani, Inggit Putia Marga, Raudal Tanjung Banua, Wayan “jengki” Sunarta, Ricky Damparan Putra, Nur Zen Hae, Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Binhad Nurohmat, Putu Vivi Lestari, Dina Oktaviani, Ira Komang Puspitaningsih, Aida Idris, S Yoga, TS Pinang, Nanang Suryadi, Urip Herdiman Kambali, Firman Venayaksa, Pranita Dewi, Aurelia Tiara. Itu yang sempat saya amati, di luar itu saya kira masih banyak nama-nama lain.
Ada pengamatan khusus?
Baru sekarang saya menyaksikan munculmya generasi penyair yang jumlah penyair perempuannya agak sebanding dengan jumlah penyair pria. Mereka itu anak-anak muda yang pintar dan cerdas, memiliki wawasan intelektual yang luas, mungkin karena dukungan teknologi informasi juga. Terus terang saya belum bisa merumuskan apa ciri utama karya mereka karena saya sendiri tengah menikmati mereka. Mungkin belum tampak ciri-ciri tertentu yang benar-benar dominan. Syukur jika malah beragam. Yang jelas, karya-karya mereka menunjukkan adanya upaya untuk menjelajahi sumber-sumber pinciptaan yang beraneka warna, mulai dari tradisi sampai budaya pop. Juga ada usaha untuk menjajaki berbagai kemungkinan bentuk atau cara pengucapan. Kalau mau bekerja lebih keras, saya kira mereka memiliki potenti hebat untuk memberikan sumbangan berarti bagi prekembangan dunia puisi Indonesia.
(Dikutip dari rubrik Percakapan pada Ruang Baca – suplemen Koran Tempo -- edisi Januari 2007).
Sekarang Anda dipandang sudah mempunyai pengucapan sendiri yang berbeda dengan penyair-penyair sebelum Anda. Bagaimana proses pencariannya?
Saya sudah lebih dari 20 tahun menulis puisi. Artinya menulis secara serius. Saya pelajari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Sutarji Calzoum Bachri, Sitor Situmorang, dan sebagainya. Saya pelajari betul-betul sampai saya tahu ciri masing-masing penyair. Dengan begitu lebih mudah bagi saya untuk menghindari gaya pengucapan yang pernah mereka lakukan. Tapi ternyata dalam perjalanannya ya tetap sulit juga. Boleh dibilang baru pada tahun 1996 itulah ketika saya menggunakan ungkapan-ungkapan celana, saya merasa menemukan gaya yang selama ini saya cari-cari.
Jika Mei 1998 dijadikan salah satu tonggak sejarah Indonesia modern, adakah ciri-ciri signifikan yang membedakan puisi pra reformasi, dan puisi-puisi pasca-reformasi?
Menurut saya tidak ada perbedaan mendasar. Tidak terjadi semacam patahan dan gempa, misalnya, yang membuat keadaan benar-benar berubah. Perbedaannya, sekarang ini tampak semakin banyak orang keranjingan puisi. Juga ruang untuk publikasi dan sosialisasi puisi semakin luas dan beragam, baik melalui media cetak maupun media cyber. Namun situasi ini, sekali lagi, belum melahirkan terjadinya perubahan mendasar atau radikal dalam khazanah perpuisian Indonesia jika yang dimaksud adalah perubahan yang, katakanlah, bersifat ideologis.
Jika peristiwa sosial politik sebesar Peristiwa Mei 1998 yang mengakhiri dominasi rezim yang berkuasa puluhan tahun masih gagal menjadi inspirasi para penyair, lantas bagaimana Anda melihat pokok masalahnya?
Ada dua kemungkinan. Pertama, para pennyair tidak tegiur lagi oleh kepalsuan-kepalsuan dan kesemuan-kesemuan dalam dunia politik. Memang pernah pada masa awal-awal masa “reformasi” kita kebanjiran sajak-sajak “reformasi”, tapi sebagian besar segera menguap karena mutu sastranya tak seberapa kuat dan lebih banyak ditulis dalam suasana euforia semata. Kedua, mereka tidak lagi terpukau pada metanarasi atau narasi-narasi besar. Banyak di antara mereka yang berusaha menghidupkan daya puitik dengan menggali dan menjelajah hal-hal yang (tampak) kecil dan sederhana untuk menyentuh esensi yang lebih dalam dan kompleks.
Siapa saja tokoh-tokoh penyair yang menonjol pasca-reformasi, dan apa ciri utama karya mereka?
Saya belum ingin menggunakan paradigma ketokohan. Kita masih perlu waktu untuk melihat dan menguji bobot “ketokohan” para penyair kita. Namun saya gembira melihat penyair-penyair muda berbakat kelahiran tahun 1970-an dan 1980-an yang muncul dan tumbuh berkembang setelah “gerakan reformasi”. Mereka itu antara lain Hasan Aspahani, Inggit Putia Marga, Raudal Tanjung Banua, Wayan “jengki” Sunarta, Ricky Damparan Putra, Nur Zen Hae, Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Binhad Nurohmat, Putu Vivi Lestari, Dina Oktaviani, Ira Komang Puspitaningsih, Aida Idris, S Yoga, TS Pinang, Nanang Suryadi, Urip Herdiman Kambali, Firman Venayaksa, Pranita Dewi, Aurelia Tiara. Itu yang sempat saya amati, di luar itu saya kira masih banyak nama-nama lain.
Ada pengamatan khusus?
Baru sekarang saya menyaksikan munculmya generasi penyair yang jumlah penyair perempuannya agak sebanding dengan jumlah penyair pria. Mereka itu anak-anak muda yang pintar dan cerdas, memiliki wawasan intelektual yang luas, mungkin karena dukungan teknologi informasi juga. Terus terang saya belum bisa merumuskan apa ciri utama karya mereka karena saya sendiri tengah menikmati mereka. Mungkin belum tampak ciri-ciri tertentu yang benar-benar dominan. Syukur jika malah beragam. Yang jelas, karya-karya mereka menunjukkan adanya upaya untuk menjelajahi sumber-sumber pinciptaan yang beraneka warna, mulai dari tradisi sampai budaya pop. Juga ada usaha untuk menjajaki berbagai kemungkinan bentuk atau cara pengucapan. Kalau mau bekerja lebih keras, saya kira mereka memiliki potenti hebat untuk memberikan sumbangan berarti bagi prekembangan dunia puisi Indonesia.
(Dikutip dari rubrik Percakapan pada Ruang Baca – suplemen Koran Tempo -- edisi Januari 2007).
Subscribe to:
Posts (Atom)