https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings
Showing posts with label Bom. Show all posts
Showing posts with label Bom. Show all posts

26 September 2011

Siang Terakhir Seorang Teroris

: Dulmatin

Di sebuah warnet yang sepi
Kurancang wajah sebuah negeri
Sebuah negeri yang terbikin dari api
Para penguasanya bersuara benci

Di jalan-jalannya yang tegang
Mondar-mandir polisi menghadang
Mengontrol isi batok kepala warganya
Cemas nyelip di sana begundal amerika

Negeri yang seperti mimpi itu
Memang pernah ada ditulis dulu
Kini di sebuah warnet yang sepi
Aku duduk merancangnya sekalilagi

2010-2011

31 July 2009

Silence Detector

Silence Detector

Kau teramat fasih membaca
Bahasa logam dan struktur gramatikanya
Tapi luput kau selami yang lebih baka :
Sunyi dan sekalian struktur genetikanya


Jum’at

Bagimu semua sudah lalu
Bagiku semua serasa baru
Hari Jum’at selalu datang lagi
Jam tujuh pagi bom itu meledak lagi

Bagimu semua sudah usai
Bagiku semua baru saja mulai
Jum’at pagi selalu kembali lagi
Suamiku yang mati kembali mati

28 July 2009

Penata Bunga

Dulu saya penata bunga
Itu memberi saya cukup latihan
Sewaktu kelak menata
Bunga-bunga api
Dari bom yang
Saya susun
Ketika mereka
Berledakkan meriah
Tenang saya menatapnya
Tak lagi terperangah

Bom dan bunga
Secara hakiki tak jauh
Mereka saling mendekatkan
Coba saja pikirkan
Orang-orang sekarat
Terkena bom
Sebagian mati
Penata bunga pun
Ramah menyambangi
Menyematkan sunyi
Dengan bebunga

Dulu saya penata bunga
Mungkin juga kini
Tak ada beda
Bom dan bunga
Secara hakiki dekat
Mereka saling mengisi
Mereka tumbuh dan meledak
Di sekitar hidupmu
Di dekat matimu

26 July 2009

Kamar 666

Pintu kamar melihat mereka datang
Meja kursi tahu persis jumlah mereka
Jam dinding menonton mereka berunding
Tembok kamar menguping obrolan itu
Televisi menyala menyusun kabar-kabar
Telpon diam dibikin bungkam sengaja
Ranjang tidur paham agak gugup mereka
Room boy menjenguk tahu apakah ia
Tetangga sebelah mana pula menyapa
Kamar mandi menghapus jejak-jejak
Tas ransel coklat menyimpan isyarat
Mimpi alangkah berat tapi kita sepakat
Cuaca di luar mengirimi mereka tanda
Hari berkemas mundur tak mungkin lagi
Masukkan dalam kopor pak lebih rapi
Rencana tak berubah ya besok saatnya
Jangan ada tertinggal sidik jejari malam
Pada wastafel bersihkan juga sisa cemas
Arahan singkat lagi diulang takzim
Jam beringsut mundur sudah tak bisa
Kita bergerak sebentar waktu sarapan
Lelangit kamar mungkin kenal mereka
Meja kursi tahu persis jumlah mereka
Ada salam peluk cium sekadar sebelum
Pintu kamar melepas mereka bergegas
Formasi mati mengiring sang dajal

24 July 2009

Teroris, Satpam, Kepala, Kaki

Teroris

Sejumlah teroris telah menguasai tubuhnya
Lama semenjak ia dilahirkan dulu hari itu
Mereka merakit banyak sepi dan menunggu
Dengan sabar kapan hari baik untuk meledakkannya


Satpam

Sudah sepuluh tahun saya di sini menjaga
Saya tak percaya bakal ada bom di sini
Tapi saya percaya ada banyak sepi di sini
Satu atau dua mungkin meletus melanggar saya


Kepala

Sehabis bom meledak saya tinggal kepala
Setelah tinggal kepala barulah orang bertanya
Mereka-reka siapa saya, asalnya dulu desa mana
Datang jauh-jauh menebar petaka kok bisa ya


Kaki

Saya adalah kaki sebelah kiri
Siapa bilang nomor sepatu saya empat dua?
Sesudah bom meledak saya pun tak tahu lagi
Saya ini siapa, saya sekarang di mana

19 July 2009

Bom Bunuh Diri

Sudah semenjak lama ia tahu
Ada bom tersimpan dalam dirinya
Kalau mau sebetulnya, bisa saja sesewaktu
Ia meledakkannya di antara kerumunan

Atau tempat-tempat terhormat lainnya
Tapi malahan ia memilih sebuah sajak
Sebagai target tempat bom itu diledakkan
Sebuah sajak sepi yang tak dibaca orang

17 July 2009

Perakit Kata

Ia seorang perakit kata yang telaten
Dikumpulkannya mula-mula semua bahan
Yang dibutuhkannya : sejumlah kabel sepi
Saling telikung dalam kenyerian yang sempurna
Tapi luka, luka itulah nanti yang bakal memantik
Mereka, menciptakan semacam kehebohan

Di dalam kamar ingatan yang disewanya tunai
Ia rampungkan segala rencana rahasianya
Kabel-kabel sepi itu mewakili banyak suara
Yang lama ditindas, bumi yang memeram impian
Ada pun luka yang berujung pada ledakan-ledakan
Hanyalah bentuk paling murni dari kerinduan musim

Ia seorang perakit kata yang cekatan
Dikumpulkannya mula-mula semua bahan
Yang diperlukannya : serbuk sepi yang dipadatkan
Kabel & mur pengikat luka, jam penunjuk waktu
Sederhana, sekadar untuk memastikan belaka kapan
Kiranya saat terbaik meledakkan itu sunyi

09 November 2008

Dongeng Amrozi

Kakek buyutmu dulu
Seorang yang soleh, anakku
Taat shalatnya
Mengalir dzikirnya

Tapi ia memang suka berfikir
Tentang bagaimana
Berjuang membasmi
Kaum kafir
Dari muka bumi

Ia tak pernah lelah
Menyusun ikhtiar

Begitulah suatu malam
Malam yang selalu kukenang
Dengan rasa gemilang

Kakek buyutmu
Berhasil juga
Mendirikan pahala
Maha pahala, anakku

Di malam yang gemilang itu
Yang penuh gelimang darah

Kakek buyutmu
Bersama dua karibnya
Telah menyudahi
Hidup tak senonoh
Sekawan jahanam

Mereka tengah kepayang
Dalam pesta jalang

Tentu saja
Para penguasa kafir
Dengan undang-undang kafir
Berpihak pada yang dzalim

Kakek buyutmu
Mereka nistakan

Begitulah, anakku
Malam ini marilah
Kita kenangkan kembali

Malam kala kakek buyutmu
Bersama dua karib solehnya itu
Menyudahi hidupnya

Menyerahkani umurnya
Selaku syuhada
Kepada barisan algojo
Penguasa durhaka

Jadi, anakku
Jelek-jelek begini
Kita ini turunan syuhada
Kaum pilihan suarga

Tapi para penulis kisah
Telah memuntir sejarah
Seraya menyebut kita
Juga kakek buyutmu, nak

Kaum angkara
Orang-orang dursila

07 November 2008

Tema Amrozi

Regu tembaknya
Boleh kamu yang pilih

Senapan tak soal
Kamu yang siapkan

Waktu & tempat
Silakan kamu putuskan

Mayat kaku membujur
Bereskan ikut prosedur

Hanya pelurunya
Biarlah saya jadi pelurunya
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...