https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

07 December 2006

Belajar Diam

Belajar diam, seperti pohon-pohon
Tunduk dan rendah hati, memandang bumi
Belajar menerima apa pun, seperti rumputan
Mengendap pada tanah, berserah dan istirah

Belajar memberi, seperti lautan
Belajar menerima, seperti pantai, seperti muara
Seperti sungai, tabah dan setia, menghilir
Mengalir pada sunyi kalammu

Belajar diam, seperti batu-batu
Tidak bertanya, seperti musim, seperti cuaca
Mengembang saja, gugur pada saatnya
Seperti daun, seperti bunga

06 December 2006

Senandung

Siapa saya ini kiranya
Selain hanya pejalan saja
Tanpa peta saya susuri gelap usia
Labirin sunyi tanpa nama

Harta dunia dan senjata
Tidak membikin hidup saya lega
Jiwa saya rusuh terus saja ngembara
Dari senja ke senja

Siapa saya ini kiranya
Selain hanya gelandangan saja
Tersaruk-saruk di penjuru benua
Menyandang luka semesta

05 December 2006

H o r i s o n

DIAM-DIAM tanpa disertai banyak keplok tangan majalah sastra Horison memasuki umurnya yang ke-40, Juli 2006 yang lalu. Bisa bertahan begitu lama – di tengah banyak kritik dan cerca serta situasi secara umum yang tidak memihak – sungguh sebuah prestasi yang sangat fenomenal sebetulnya. Empat puluh tahun itu bukanlah masa yang singkat kalau kita ingat bahwa rejim Orde Baru Soeharto saja “hanya” bisa bertahan selama 32 tahun. Jadi, secara goblok bolehlah buat sementara ditarik kesimpulan bahwa majalah Horison ternyata “lebih perkasa” ketimbang sang tiran yang murah senyum itu.

Soal mengapa prestasi fenomenal itu hanya disambut dingin, agaknya itu bersangkutan dengan pamor majalah itu yang oleh banyak pihak diakui kini “sudah luntur”. Sastra Indonesia hari ini mengambil tempat (terbanyak) di halaman-halaman surat kabar, ditambah halaman-halaman buletin di daerah yang secara bergerilya diusahakan para pendukungnya. Kehadiran situs-situs sastra di internet, meskipun untuk saat ini kesannya baru sekadar jadi “penggembira”, diakui atau tidak sudah ikut pula “merongrong” kewibawaan Horison. Jadi, ada banyak “horison” lain, ada banyak pilihan saat ini, sehingga posisi majalah sastra Horison itu sendiri menjadi relatif, bukan lagi “pusat” yang disembah-sembah.

Bermigrasinya sastra kita dari majalah ke koran-koran, mengundang banyak polemik. Katrin Bandel, seorang peneliti sastra Indonesia asal Jerman, memiliki argumen kuat yang mempertanyakan implikasi negatif dari menjamurnya apa yang dengan mudah kini disebut “sastra koran” itu. Dalam analisisnya sastra koran lebih banyak “merugikan” ketimbang “menguntungkan” kehidupan sastra itu sendiri. Lembaran sastra di koran itu sempit kata Katrin, karena itu mustahil mengharapkan lahirnya karya-karya yang dalam dan bermutu dari kondisi itu.

Karena itu ia berharap majalah sastra sekaliber Horison ke depan bisa mengisi kelemahan sastra koran. Hanya saja Horison agaknya tidak (?) tertarik melangkah ke sana. Dalam kata-kata Katrin Bandel : Sayang sekali sampai saat ini Horison tampaknya tidak terlalu berminat memanfaatkan peluang tersebut. Dari tahun ke tahun Horison “begitu-begitu saja”, kalau tidak mau dikatakan “jalan di tempat”, dengan desgin dan format yang ketinggalan zaman dan pilihan tulisan yang sering tidak begitu menarik. Mungkin redaksinya terlalu sibuk mengurus kegiatan lain seperti bertandang ke sana ke mari untuk berinteraksi dengan pelajar di berbagai daerah, atau menyusun keempat “kitab sakti” sastra Indonesia, sehingga tidak sempat memperhatikan kondisi kesehatan majalahnya sendiri (Katrin Bandel dalam :”Majalah Sastra : Sebuah Utopia” – Majalah Horison November 2006).

03 December 2006

Surat Petang

Karena kau tak ada
Aku akan bicara pada kekosongan
Mungkin petang yang tua
Masih sedia mendengarkan
Mungkin akan kutulis
Surat di daun gugur
Atau titip salam
Kepada topan lewat

Dan kalau sebentar
Malam pun turun
Aku mungkin hilang
Atau menjelma ribuan lampu
Atau sekadar bayang-bayang
Malam tak dikenal
Malam-malam biasa
Yang kau lewati
Tanpa menoleh

Karena tak pernah tahu
Kau berada di mana
Aku akan berdamai
Dengan jarak dan kelam
Yang telah mengoyak kita
Jadi jutaan nama
Dan ribuan jurang

Mungkin masih sempat
Kutulis sebaris ke alamat
Langit yang jauh
Tapi untukmu sendiri
Agaknya tak pernah bisa
Selesai kurumuskan

01 December 2006

SmackDown ?

SMACKDOWN sebagai pola pikir dan pola laku sebetulnya sudah lama kita pelihara dan lestarikan. Dalam skala kecil-kecilan kita kerap mempraktikkannya kepada seorang pencuri sandal yang kepergok di masjid, atau seorang maling jemuran yang kebetulan lagi sial. Dalam skala massal dan kolosal kita telah “sukses” menggelar “smackdwon” di Poso, sesudah sebelumnya di Ambon, dan tentu saja di Jakarta saat kerusuhan Mei 1998.

Petugas tramtib di Jakarta juga mahir ber-smackdown. Yang menjadi lawan mereka biasanya para pedagang kakilima atau joki-joki three in one yang kalau pagi pada berdiri berjajar di kawasan elite Jakarta. Belum lama ini ada seorang ibu yang ketangkap, lalu dibotakin kepalanya -- itulah rupanya cara sang petugas tramtib “membanting jatuh” lawannya. Kelompok berjubah putih yang menyebut diri “pembela” salah satu agama mayoritas di sini juga kerap bersmackdown ria ke tempat-tempat yang mereka tuduh sebagai sarang “maksiat”. Di pentas politik? Oh, kita tak pernah kekurangan suguhan “smackdown”.

Maka kalau tayangan “smackdown” diberangus dari layar kaca itu bukan berarti lantas kita bakal kehilangan tontonan itu. Itu juga bukan berarti lalu anak-anak kita menjadi “aman” dari segala ekses pola pikir dan pola laku keras yang tampaknya makin jadi “biasa” itu. Suguhan berita kriminal di koran dan tetelvsi akan tetap dan terus ada, karena memang sebagian dari kita menyukainya. Dan sebagai komoditas ia tak kenal musim. Statistik juga membuktikan bahwa suguhan tontonan keras digemari banyak orang. Ini lalu artinya apa?

Penjelasan “bodoh”nya barangkali, karena di dalam diri setiap kita ternyata mengendon naluri “binatang” yang sesewaktu butuh dpuaskan.Tontonan “smackdown” menjadi kanal bagi sang hewan untuk sebentar memuaskan naluri purbanya itu. Jadi, percuma sajakah kita ribut-ribut melarang tayangan “smackdown” beberapa pekan ini? Tidak juga sih, hanya saja janganlah kelewat berharap bahwa urusan akan begitu gampang selesai dengan cara main larang ini atau itu, seperti kebiasaan kita selama ini.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...