https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

14 January 2007

Ruang Dalam Sajak

Kusisakan sehampar ruang kosong
di sini. Masuklah dan pilih saja sendiri
pojok yang kausuka. Barangkali,

sebaiknya dekat tanda koma, ceruk
samar sebelum titik dinoktahkan. Boleh juga,
kalau kau memang suka, main-main dengan sejumlah

tanda tanya. Terserah saja, tapi
tak kusarankan meringkuk dekat judul --
itu semata tipuan. Kau paham yang kumaksud?

12 January 2007

Sastra Koran

DI MATA seorang Katrin Bandel kaberadaan “sastra koran” lebih banyak mudarat ketimbang manfaatnya.(periksa bukunya “Sastra, Perempuan, Sex, Jalasutra 2006). Ia misalnya menyebut sastra koran hanya menjadi ajang elitis tempat kangen-kangenan sejumlah nama yang terlibat di dalamnya.

Sastra koran menjadi tempat para penulisnya saling melempar pujian, seraya menggoblok-goblokan pihak lain yang dianggap lawan. Sastra koran menjadi rawan disalahgunakan untuk kepentingan lain yang di luar sastra, karena posisi redakturnya yang boleh dikata “maha kuasa”.

Dari segi mutunya, sastra koran juga layak dikasihani. Kadang-kadang memang ada tulisan bagus, katanya, tapi jauh lebih banyak yang payah. Banyak esai yang dibuat serampangan, asal kelihatan keren dan gagah dengan banyak mengutip statemen heboh tokoh terkenal tanpa jelas konteksnya dengan esainya sendiri.

Genre sastra lainnya seperti cerpen juga setali tiga uang. Karena sempitnya kuota halaman yang disediakan, cerpen-cerpen di koran akhirnya sering terjebak menjadi cerpen yang betul-betul “pendek” – pendek ceritanya, pendek juga bobot sastranya. Kiranya klausul minimnya kuota halaman ini harus disebut juga sebagai salah satu penyebab banyaknya esai yang dibuat serba tanggung di koran.

Tapi di mata saya, keberadaan “sastra koran” masih lebih banyak manfaatnya. Memang ada kelemahan di sana-sini, seperti disebut Katrin Bandel di atas. Tapi mungkin sebaiknya kita bersikap lebih rileks menghadapinya. Bagi saya halaman-halaman sastra koran – dengan segala plus minusnya – menjadi alternatif yang layak disyukuri di tengah langkanya media sastra – yang dianggap layak dan “standar” – sekarang ini.

Sedikit tambahan, mungkin ada baiknya juga kita pintar-pintar memilih koran yang akan kira kirimi tulisan. Sebab, seperti kata Katrin Bandel. yang disebut “redaktur tolol” dan “sok kuasa” itu memang sungguh ada. Nah, redaktur-redaktur yang kerjanya senang bikin bingung ini, hemat saya sebaiknya, maaf, dijauhi saja.

10 January 2007

Tanpa Judul

Kalau nanti menulis lagi
Coba sisakan beberapa baris
Kosong, supaya lebih leluasa
Saya melongok ke sana

Tak usah pakai judul
Sebagai tipuan, apalagi titik
Berhenti saja pada koma
Pada luka masih menganga

08 January 2007

Puisi Akan Mengubahmu

Puisi akan mengubahmu
Mungkin lebih buruk akhirnya
Sebab sekonyong kau pun sadar
Betapa kau sendirian di jalan

Akan kau lalui sejalur kelam
Lebih malam dari biasanya
Rumah-rumah mengatup rapat
Pun tak ada alamat dalam saku

Perjalanan akan lebih berat
Tapi puisi akan mengangkatmu
Sedikit lebih tinggi dari cuaca
Hampir menyentuh sayap malaikat

Hingga pandangmu menembus
Batas-batas terjauh dari kata
Di mana puisi lalu mengubahmu
Mengubahmu dari sekadar bayang

07 January 2007

Mazhab Mbeling

PUISI MBELING sebagai “gerakan” kini tinggal sejarah. Tokoh-tokohnya pun sudah pada beranjak tua, dan tidak “badung” lagi. Sebagaimana diketahui gerakan ini “mewabah” sekitar 1971-1972 sebagai bentuk ketidakpuasan sejumlah penulis puisi terhadap apa yang mereka sebut “kemapanan” (baca : “kemacetan”) sekelompok sastrawan senior yang berkerumun di sekitar majalah sastra Horison, yang saat itu – suka tidak suka -- menjadi satu-satunya barometer pencapaian sastra kita.

Pemimpin “gerakan” ini, Remy Silado, kepada para “pengikutnya” menawarkan “resep” menulis puisi yang berbeda dengan “resep” yang dijajakan Horison saat itu. Dalam wawancara dengan sebuah radio swasta di Jakarta (sekitar 1978), ia menandaskan bahwa tempat puisi bukan di kepala, melainkan di kaki. Maksudnya mungkin, kerja menulis puisi, dan puisi itu sendiri, tidak usahlah sampai disembah-sembah atau dikeramat-keramatkan layaknya berhala.

Implementasinya dalam praksis penciptaan , para penyair mbeling hadir dengan satu ciri utama yang menonjol, yaitu kuatnya semangat bermain-main dalam puisi mereka. Maka kelakar, olok-olok, dan cemooh menjadi hal yang biasa bahkan mungkin “wajib” dalam puisi mbeling. Untuk sekadar menyegarkan ingatan berikut dikutipkan dua contoh puisi mbeling. Yang pertama ditulis Mahawan, sedang puisi kedua ditulis Remy Silado sendiri.


Teka-Teki

Saya ada dalam puisi
Saya ada dalam cerpen
Saya ada dalam novel
Saya ada dalam roman
Saya ada dalam kritik
Saya ada dalam esei
Saya ada dalam wc

Siapakah saya?
Jawab: HB Jassin


Teks atas Descartes

Orang Perancis berpikir
maka
mereka ada.

Orang Indonesia
tidak berpikir
namun terus ada.

Sekali lagi. puisi mbeling sebagai “gerakan”memang sudah “tinggal” sejarah, tapi spirit yang pernah mereka tularkan dulu kiranya belum lagi mati. Atau, sebaiknya janganlah sampai mati. Kita hendaknya, seperti para mbeling dulu, harus tidak bosan-bosannya bermain-main, berkelakar, mengolok-olok segala bentuk “kemapanan” (sekali lagi, baca : “kemacetan”) yang dipaksakan dari luar, ataupun yang dengan sengaja atau bukan, sadar atau tidak, kita kalungkan sendiri sebagai jerat – yang “nikmat” – di leher kita.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...