Tubuh diamlah
Aku tengah menulismu
Memanjang sampai ke senja
Menembus rintang cuaca
Aku tengah melukismu :
Bebukit pada luas dadamu
Tempat Hallaj dulu ngembara
Menemu puncakNya
Menurun ke bawah :
Ngarai terjal betapa rimbun
Ke dalam agak sembunyi
Adalah liang guhamu –
Senyap sebagai sediakala
Diamlah dulu tubuh
Sebentar kurampungkan ini nyeri
Pada samar liang lukamu itu
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
11 July 2007
08 July 2007
Bukan "Tema" Masalahnya
APA pun tema yang mendominasi tulisan anda—tema sosial, tema personal, reliji—yakinlah bukan di situ ukuran sukses anda selaku penulis. Lihatlah Sapardi Djoko Damono, penyair sohor papan atas kita. Selama berpuluh tahun beliau malang-melintang di dunia puisi dengan sajak-sajaknya yang mengangkat tema-tema yang amat “sepele” dan keseharian. Sapardi ternyata bisa menjaga kesehatan kreatifnya cukup dengan menghirup aroma di seputar “pekarangan” rumahnya.Lantas ada Joko Pinurbo. Ia sukses menjadi salah satu ikon puisi kita karena “celana”, sebuah substansi “remeh” yang juga sangat sekali sehari-sehari dan tak masuk hitungan tadinya Tapi di tangan penyair ini, substansi yang “tidak puitis” ini telah diubahnya menjadi puisi-puisi kelas satu yang sebelumnya tidak pernah bisa kita bayangkan. Joko telah berhasil mengangkat “celana” menjadi substansi yang tidak lagi sekedar “celana”.
Syarat menjadi penyair sukses juga bukan tersedianya stok pengalaman nan dahsyat. Sapardi Djoko Damono mengaku suka iri kalau membaca pengalaman sastrawan lain yang serba hebat. Untunglah, sekali lagi, mempunyai pengalaman aneh atau dahsyat bukan menjadi syarat. Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo sukses karena mereka tahu “bagaimana” menyulap yang “sepele” itu menjadi “tidak sepele” lagi.
Memang, urusan kesusasteraan lebih pada masalah “bagaimana” kita menuliskannya ketimbang “apa” yang kita tuliskan. Tugas kita yang pertama adalah menemukan dulu “apa” yang menjadi tema hidup kita, atau “apa” yang paling jadi obsesi kita. Tidak usah risau—atau malu--kalau kita misalnya tidak tertarik pada tema sosial dan “besar” lainnya, tapi sebaliknya begitu kesengsem dengan hal-hal “remeh” di seputar kita. Tulislah saja “apa” yang paling ingin kita tulis. Jangan mulai menulis dengan membohongi diri sendiri.
06 July 2007
H o t e l
Katanya padamu :
“Kau ini macam sayuran
yang dimasak kemarin,
tapi masih lumayan
asal sempat dipanaskan
sebentar saja.”
Lalu ia membikin api.
Kemudian kau biarkan
kau dipanaskan.
Tidak sebentar,
sebab sayurnya meluap
membanjiri lembab sprei
ranjang kumal
di hotel kelas dua itu.
“Kau ini macam sayuran
yang dimasak kemarin,
tapi masih lumayan
asal sempat dipanaskan
sebentar saja.”
Lalu ia membikin api.
Kemudian kau biarkan
kau dipanaskan.
Tidak sebentar,
sebab sayurnya meluap
membanjiri lembab sprei
ranjang kumal
di hotel kelas dua itu.
04 July 2007
Membaca Ruang
Ada ruang
Dalam kata
Ada kata
Dalam ruang
Ada aku
Pada kata
Dalam ruang itu
Ada aku
Dalam ruang
Pada itu kata
Mungkin
Tak terbaca
Terhalang cuaca
Mungkin
Sebab
Kau tak percaya
Ada aku
Tersekap
Dalam kata
Dalam kata
Ada kata
Dalam ruang
Ada aku
Pada kata
Dalam ruang itu
Ada aku
Dalam ruang
Pada itu kata
Mungkin
Tak terbaca
Terhalang cuaca
Mungkin
Sebab
Kau tak percaya
Ada aku
Tersekap
Dalam kata
01 July 2007
Orang Ketiga
SEORANG penulis mungkin saja terkecoh oleh tulisannya sendiri. Keterkecohan itu bisa datang dalam dua model. Seorang penulis bisa saja mengira ia baru sukses melahirkan sebuah karya besar, padahal itu hanya karya biasa. Atau sebaliknya, bisa jadi ia kecewa berat dengan karya yang baru ditulisnya, menganggapnya sebagai karya gagal, padahal ia baru saja melahirkan sebuah karya bagus, bahkan mungkin sebuah masterpiece.Kadang dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyadari kekeliruan itu. Suatu ketika pernah saya mengirim sejumlah puisi ke sebuah jurnal sastra ternama. Kiriman itu dikembalikan dengan disertai alasan penolakan dari redaksinya. Tak puas dengan penolakan itu, naskah itu saya kirim balik disertai permintaan supaya redaksi memberikan alasan yang “lebih jelas” tentang alasan penolakannya. Baru bertahun-tahun kemudian saya ngeh sendiri betapa buruknya puisi-puisi yang saya kirimkan dulu itu.
Athol Fugard pernah menelantarkan naskah Tsotsi selama 20 tahun, karena menganggap itu sebuah karya yang gagal, dan tak layak terbit. Ia malah pernah mencoba memusnahkan naskah novel itu. Untunglah masih ada draft yang bisa diselamatkan, dan kemudian seorang Stephen Gray—dengan ijin ketat Athol Fugard sendiri—menyunting naskah itu, lalu menerbitkannya. Dan kisah selanjutnya adalah sejarah.
Seorang penulis ternyata juga memerlukan kehadiran “orang ketiga”—selain pembaca imajiner selaku “orang kedua” yang sudah dibayangkannya sewaktu ia menulis--yang bisa membantunya melihat dengan lebih jernih. Posisi “orang ketiga” itu itu bisa saja ditempati oleh seorang kritikus. HB Jassin pernah memainkan peran “orang ketiga” ini dalam sejarah sastra kita. Entah berapa persisnya jumlah sastrawan yang sempat dibaptisnya, dan entah berapa pula calon sastrawan yang sudah dibantainya.
Selain teman-teman karib yang bisa diandalkan dan dipercaya, sekarang ini peran “orang ketiga” itu kerap dimainkan oleh para redaktur sastra di koran-koran. Tidak semua redaktur koran bisa memainkan peran ini dengan baik. Banyak juga yang malah bikin bingung--tapi bukan tidak ada redaktur sastra koran yang bisa diandalkan. Saya ingin katakan bahwa redaktur seperti itu memang ada. Carilah dan temukan mereka, dan kesanalah sebaiknya kita kirimkan karya-karya kita. Tidak terutama untuk menguber pengakuan—atau honorarium—melainkan sebagai kesempatan mengetes seberapa jernih kita sudah menilai dengan benar tulisan-tulisan kita sendiri.
Subscribe to:
Posts (Atom)