Mobil-mobil ini
Mungkin serupa
Dengan majikannya
Mengilap dan kenes
Serta suka menatap kita
Dengan pandang meremehkan
Lihat coba bagaimana
Mereka bergaya
Di atas empat kakinya
Bangga pada statusnya
Pada merek dan pabrikan
Yang mencuci bersih otaknya
Jadi mesin upahan semata?
Mobil-mobil ini
Mungkin betul
Mirip majikannya
Gemar main bentak
Dengan klakson dan gas
Yang dibunyikan semaunya
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
12 August 2009
10 August 2009
Melukis Laut
Bagaimana melukis laut
Dengan benar
Berapa banyak
(Kau tanyakan)
Ombak kata-kata
Kuperlukan
Guna menangkap
Memerangkap
Itu sunyi
Maha luas
Pada kanvas
Diamlah
Hati yang selalu meminta
Sepi tak bisa
Kau perangkap
Ke dalam lanskap
Pergi ke pantai
Berdiri dan saksikan
Bagaimana laut
Melukismu
Mengikismu
Jadi tinggal
Serpih buih
Memercik
Tak berdaya
Di pinggir tema
Yang kau goreskan
(Penyair
Yang mahir
Paham sungguh
Di mana berakhir
Kata kata)
Dengan benar
Berapa banyak
(Kau tanyakan)
Ombak kata-kata
Kuperlukan
Guna menangkap
Memerangkap
Itu sunyi
Maha luas
Pada kanvas
Diamlah
Hati yang selalu meminta
Sepi tak bisa
Kau perangkap
Ke dalam lanskap
Pergi ke pantai
Berdiri dan saksikan
Bagaimana laut
Melukismu
Mengikismu
Jadi tinggal
Serpih buih
Memercik
Tak berdaya
Di pinggir tema
Yang kau goreskan
(Penyair
Yang mahir
Paham sungguh
Di mana berakhir
Kata kata)
07 August 2009
Rendra dalam Kenangan (1935-2009)

Kebun Belakang Rumah Tuan Suryo
Di tempat yang lama
aku teringat lagi
akan segala kesedihanku
yang telah lalu.
Di kebun rumah tetangga ini
di mana aku biasa bersembunyi
aku terkenang lagi
Willy yang kecil
menangis tersedu.
Pohon-pohon di sini masih seperti dulu
cuma lebih tua, lebih akrab, dan tahu.
Pohon mangga, pohon nangka, dan pohon randu.
Di pokok menempel lumutan dan di dahan benalu.
Pagarnya bunga merak, bunga sepatu dan rumput perdu.
Semuanya masih ada di sini
dan sekarang dengan akrab
Kami berpandangan lagi.
Kepada pohonan di sini aku biasa berlari
dan dengan aman aku uraikan
segala duka yang aku rahasiakan
segala tangis yang kusembunyikan
dan bahkan kasmaran yang pertama.
Mereka tahu memegang rahasia
dan selalu sabar
memandang kelemahan.
Melihat tanah di sini yang kelabu
dan mendengar daun berisik di dahan-dahan
aku terkenang lagi
Willy yang kecil
menangis tersedu.
Tapi menyenangkan juga dikenangkan
bahwa akhirnya satu demi satu
berpuluh kesedihan
telah terkalahkan.
(Dari Kumpulan Puisi “Sajak-Sajak Sepatu Tua”, penerbit Pustaka Jaya, 1978)
05 August 2009
Suara Anak-anak
Suara anak-anak di halaman
Murni seperti hujan
Seperti hujan tercurah
Di tanah kering berbatu
Di dalamnya kita dengar
Janji baik kehidupan
Dunia sebelum dilukai
Sengketa musim dan cuaca
Kini hidup adalah siasat
Kita pun main muslihat
Dengan topeng dan tipu
Terpasang pada muka
Dunia tinggal terbagi
Petak-petak sempit sajak
Tempat kawanan katak
Menguak memanggil hujan
Bisakah kita kembali
Menjelma hujan tercurah
Di tanah kering berbatu
Suara anak-anak di halaman
Murni seperti hujan
Seperti hujan tercurah
Di tanah kering berbatu
Di dalamnya kita dengar
Janji baik kehidupan
Dunia sebelum dilukai
Sengketa musim dan cuaca
Kini hidup adalah siasat
Kita pun main muslihat
Dengan topeng dan tipu
Terpasang pada muka
Dunia tinggal terbagi
Petak-petak sempit sajak
Tempat kawanan katak
Menguak memanggil hujan
Bisakah kita kembali
Menjelma hujan tercurah
Di tanah kering berbatu
Suara anak-anak di halaman
03 August 2009
Remang
Wajahku yang rata
Adalah samaran belaka
Warnaku yang abu-abu
Memang bisa menipu
Apa yang paling inti
Katakanlah, jantungku
Tinggal tersimpan, jauh
Di balik remang waktu
Yang datang padamu
Adalah lambang-lambang
Tanda-tanda yang bimbang
Yang sebentar menghilang
Adalah samaran belaka
Warnaku yang abu-abu
Memang bisa menipu
Apa yang paling inti
Katakanlah, jantungku
Tinggal tersimpan, jauh
Di balik remang waktu
Yang datang padamu
Adalah lambang-lambang
Tanda-tanda yang bimbang
Yang sebentar menghilang
Subscribe to:
Posts (Atom)