https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

01 March 2010

Dalam Setiap Sajak

Dalam setiap sajak
Selalu ada bayangan
Seorang lelaki yang gemar berlagak
Dan mengaku saya

Seteru pun sekutuku berseru
Sungguh betapa ia mirip
Lihat saja caranya berjalan
Yang limbung di antara awan-gemawan

Wajahnya memang samar
Sebab derai hujan dan kelebat topan
Menutup arah pandangnya
Yang ditumbuhi ilalang petang

Ia juga gemar
Memainkan waktu di tangannya
Mengubah warna-warni musim
Menukarnya dengan raut malam yang pejam

Aku tak pernah tahu
Ia sebetulnya siapa
Setiap kali kutanya ia tertawa
Seraya lindap nyelinap ke dalam kata

25 February 2010

Sajak yang Menampik

Aku belum juga berhasil
Menuliskannya meski hanya sedesah
Setiap kali kucoba mereka-reka
Mentah ditampiknya salam kataku

Mungkin ia mau bilang
Menyindirku, belum cukup
Pengalamanku di labirin bahasa
Jika kerinduanku belum lagi darah

22 February 2010

Batuk

Jauh di bawah rongga
Ada suara bertalu-talu
Seorang yang lama menunggu
Terus menggedor mencari pintu keluar

Kalau saja aku bisa menolongnya--
Tapi hanya kupunya sedikit kata
Itu pun terhalang dahak waktu
Mengental jadi jarak yang kekal

Seorang yang lama mencari
Gemanya tertahan di bawah rongga
Seperti tak asing bagiku ia siapa
Seperti padaku parau ia memanggil

22 January 2010

"Goro-Goro" Pansus

 Pansus atau “panggung desas-desus”, tentu saja sangat mengedepankan “desas-desus” dalam modus kerjanya.

 Koalisi artinya “kalau ada kesempatan dia bisa kita habisi, kenapa tidak dicoba dihabisi?”.

 Mereka mengundang banyak ahli untuk mengisi ‘frame’ yang sudah telanjur diciptakan. Tapi hanya butuh seorang Marsilam untuk membuktikan bahwa ternyata mereka memang tidak begitu pintar.

 Rumus Pansus = halusinasi + fantasi + maki-maki = politik fiksi.

 Menguasai jurus plintir, syarat utama masuk jadi anggota Pansus.

 Tanya : Dulu kan sudah diaudit dan tak ada masalah, mengapa sekarang koq diributkan? Jawab : Karena order “bikin ribut”nya baru masuk sekarang.

 JK bilang nggak pernah dilapori Menkeu soal bailout itu. Kata Arbi Sanit, lha nggak terima laporan koq diem aja? (Tanya : kenapa nggak ada inisiatif minta. Jawab : Lho saya kan bos, gengsi dong minta-minta).

 Di forum ini silakan saudara berikan klarifikasi. Tapi supaya tak membingungkan (kami), maka kami yang atur kapan saudara boleh mulai menjawab, kapan berhenti menjawab, atau dari mana memulainya, kanan, kiri, atas atau bawah. Jangan macam-macam. Jangan membantah. Kecuali kalau saudara mau dianggap melakukan tindakan “contempt of parlement”.

 Miranda Gultom : Terus terang saya sering tak mengerti apa sebetulnya yang ditanyakan (Jadi pertanyaan Pansus juga membingungkan tuh, mas Bambang).

 Pansus dinilai tidak mencari kebenaran, melainkan sibuk dengan urusan copot-mencopot pejabat, kata Teten Masduki (Oh, mas Teten baru mendusin dari mimpi indah ya, kasihan).

 Omong-omong, kapan ya Marsilam Simanjuntak dipanggil lagi? Saya sangat menunggu terusan “The Great Marsilam Show”. Sungguh tontonan langka.

17 December 2009

Sajak Bagi yang Tak Suka Sajak

Aku tahu
Kau tak baca puisi
Maka aku tulis ini
Puisi untuk kau
Yang tak baca puisi
Jika kau ijinkan aku
Sekali ini saja
Memberimu petuah
Maka inilah nasehatku
Boleh saja tak kau gubris
Boleh saja kau musuhi
Mahluk ganjil tengil
Yang kau sebut penyair
(Atau penyihir, apa bedanya)
Yang artinya ia yang terusir
Jauh ke pesisir waktu

Tapi kenalilah puisi
Sebab bukankah
Sembilan bulan kalian
Genapi kata
Dalam senyap relung
Bulatan semesta
Pun sesudahnya
Di dunia antah barantah
Sarat hawa busuk
Tempat buruk
Di mana turunanmu
Tumbuh dan mati
Hanya saja ternyata
Puisi tapi tak mati-mati

Sebab bukankah
Ia saudara kembar
Bersamamu terdampar
Dalam kesamaran
Sekat-sekat bahasa
Maka kenalilah
Pecahkanlah olehmu
Dinding tak nampak ini
Yang mengurungmu konyol
Dalam ini wujud kasar

Aku tahu
Kau tak suka puisi
Maka aku tulis ini
Puisi untuk kau
Yang tak suka puisi
Sudah kubuatkan
Kususun kata-katanya
Seakan baru saja aku
Belajar mengurai
Tanda-tanda baca
Alifbata mula pertama
Semogalah manfaat
Jika kau temukan
Di sana-sini terasa
Dibuat-buat terlalu
Dengan sekalian hormat
Di sini kumintakan
Setulus maaf

Sebab penyihir
(Atau penyair, apa bedanya)
Hanyalah mahkluk
Malang tapadaksa
Bisanya ia bertutur
Lebih seringnya melantur
Tak lagi keruan
Kiblat dan sujudnya
Memanglah hanya
Menghadap seluruh pada
Yang maha puisi
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...