https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

09 February 2014

Sorga

Sedang kita mainkan
Sebuah lakon serupa percintaan:
Lebih dulu kuhapus namaku
Pada kening waktu

Pun jejak gerimis dan malam
Yang menguntit kita dalam mimpi
Mari kutanggalkan juga musim
Yang menodai kelahiranmu

Dengan semacam takdir
Yang mencegat langkahmu di hilir
Bukankah sudah lama kita percaya
Bahwa sorga memang ada?

Tersusun dari kata
Dengan baris dan langit melengkung
Seperti dalam sepenggal sajak:
Rapuh, fana, pun tak berjudul

06 February 2014

Kata Kepada Penyair, 2

Kau bernapsu mengulitiku
Selapis demi selapis
Bdermimpi menemukan di sebaliknya
Semacam inti atau saripati

Mahluk malang, kini kuberitahu
Leluhur kami dulu beramsal
Kami terlahir dari semacam perih purba
Mereka tinggal di kekosongan arti

Kalianlah para mahluk dungu
Memaksa kami hadir di batas ambigu
Kini kau ciptakan pula permainan
Semu tanganmu meraba yang tak ada

04 February 2014

Kata Kepada Penyair, 1

Sudah puluhan tahun kita bersama
Belum juga kau memahamiku sempurna
Masih juga sering kau ceroboh
Selaku lelaki kau teramat bodoh

Bukankah banyak kali sudah kukata
Memahamiku bukan soal urusan tatabahasa
Mengapa tak kau koyak ruwet jejaring tatakrama
Demi kau alami tubuhku sepenuh rasa?

30 January 2014

Kopi

Kadang aku percaya
Secangkir kopi membantuku
Menemukan baris pertama
Sebuah puisi

Maka kuseduhlah kopi
Menyeruputnya pelahan
Seraya menerka sekenanya
Ah, mungkin sesaat lagi

Kadang aku bertanya
Siapa sembunyi di balik kata
Siapa menggores samar
Menyingkap cadar bahasa

Mengapa ia menanti
Teramat lama, membiarkan
Saya terlunta meraba-raba dalam
Pekat kopi?

04 November 2013

Atlas



Sehampar atlas buta
Dengan skala yang tak terbaca
Persilangan demi persilangan buram
Alamat yang tak pasti

Mungkin aku sebuah kota di sana
Sebuah distrik yang tak jelas namanya
Yang jalan-jalannya sekadar
Berputar menyudahi senja

Mungkin pernah kau lewat di situ
Menetap buat sejumlah musim
Merancangkan dusta, merampungkan duka
Sebelum bertolak lagi ke utara

Mungkin aku hanya sebuah lorong
Dalam liku waktunya yang tak berpangkal
Dengan sehimpun kisah banal
Merekat lubang lukanya

Pada sehampar atlas buta
Dengan skala yang tak terbaca
Persilangan demi persilangan kabur
Alamat yang tak tentu
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...