"Siapa sebetulnya aku
Tak usahlah repot kalian urus"
Begitu kata penyair misterius itu
Lewat sebuah pesan rahasia
Sejak itu kami pun tak lagi
Merasa perlu menggubrisnya
Bahkan ketika kemudian ia ditemukan
Mati membusuk dalam puisinya
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
12 February 2014
09 February 2014
Sorga
Sedang kita mainkan
Sebuah lakon serupa percintaan:
Lebih dulu kuhapus namaku
Pada kening waktu
Pun jejak gerimis dan malam
Yang menguntit kita dalam mimpi
Mari kutanggalkan juga musim
Yang menodai kelahiranmu
Dengan semacam takdir
Yang mencegat langkahmu di hilir
Bukankah sudah lama kita percaya
Bahwa sorga memang ada?
Tersusun dari kata
Dengan baris dan langit melengkung
Seperti dalam sepenggal sajak:
Rapuh, fana, pun tak berjudul
Sebuah lakon serupa percintaan:
Lebih dulu kuhapus namaku
Pada kening waktu
Pun jejak gerimis dan malam
Yang menguntit kita dalam mimpi
Mari kutanggalkan juga musim
Yang menodai kelahiranmu
Dengan semacam takdir
Yang mencegat langkahmu di hilir
Bukankah sudah lama kita percaya
Bahwa sorga memang ada?
Tersusun dari kata
Dengan baris dan langit melengkung
Seperti dalam sepenggal sajak:
Rapuh, fana, pun tak berjudul
06 February 2014
Kata Kepada Penyair, 2
Kau bernapsu mengulitiku
Selapis demi selapis
Bdermimpi menemukan di sebaliknya
Semacam inti atau saripati
Mahluk malang, kini kuberitahu
Leluhur kami dulu beramsal
Kami terlahir dari semacam perih purba
Mereka tinggal di kekosongan arti
Kalianlah para mahluk dungu
Memaksa kami hadir di batas ambigu
Kini kau ciptakan pula permainan
Semu tanganmu meraba yang tak ada
Selapis demi selapis
Bdermimpi menemukan di sebaliknya
Semacam inti atau saripati
Mahluk malang, kini kuberitahu
Leluhur kami dulu beramsal
Kami terlahir dari semacam perih purba
Mereka tinggal di kekosongan arti
Kalianlah para mahluk dungu
Memaksa kami hadir di batas ambigu
Kini kau ciptakan pula permainan
Semu tanganmu meraba yang tak ada
04 February 2014
Kata Kepada Penyair, 1
Sudah puluhan tahun kita bersama
Belum juga kau memahamiku sempurna
Masih juga sering kau ceroboh
Selaku lelaki kau teramat bodoh
Bukankah banyak kali sudah kukata
Memahamiku bukan soal urusan tatabahasa
Mengapa tak kau koyak ruwet jejaring tatakrama
Demi kau alami tubuhku sepenuh rasa?
Belum juga kau memahamiku sempurna
Masih juga sering kau ceroboh
Selaku lelaki kau teramat bodoh
Bukankah banyak kali sudah kukata
Memahamiku bukan soal urusan tatabahasa
Mengapa tak kau koyak ruwet jejaring tatakrama
Demi kau alami tubuhku sepenuh rasa?
30 January 2014
Kopi
Kadang aku percaya
Secangkir kopi membantuku
Menemukan baris pertama
Sebuah puisi
Maka kuseduhlah kopi
Menyeruputnya pelahan
Seraya menerka sekenanya
Ah, mungkin sesaat lagi
Kadang aku bertanya
Siapa sembunyi di balik kata
Siapa menggores samar
Menyingkap cadar bahasa
Mengapa ia menanti
Teramat lama, membiarkan
Saya terlunta meraba-raba dalam
Pekat kopi?
Secangkir kopi membantuku
Menemukan baris pertama
Sebuah puisi
Maka kuseduhlah kopi
Menyeruputnya pelahan
Seraya menerka sekenanya
Ah, mungkin sesaat lagi
Kadang aku bertanya
Siapa sembunyi di balik kata
Siapa menggores samar
Menyingkap cadar bahasa
Mengapa ia menanti
Teramat lama, membiarkan
Saya terlunta meraba-raba dalam
Pekat kopi?
Subscribe to:
Posts (Atom)