- Menafsir Malna
Sebelum dituliskan ia masih sepenuhnya gerimis
Melayang merdeka tak beribu-bapak di udara tak bernama
Lantas lembut sempurna bisa kau rasakan mendarat ia
Di pusat kebun, atau pada pepuncak ubunmu
Sewaktu kau berkeras menuliskannya, menguncinya
Dalam kotak-kotak sempit yang kau sebut sajak, mati-matian ia
Memberontak, seakan menampik garis takdir yang begitu saja
Kau paksakan pada cair wujudnya tak bersilsilah
Sewaktu rampung dituliskan, atau begitulah kau menduganya
Terang kau pastikan tak tersisa lagi itu gerimis, tak ada juga kau
Yang riuh mencatatnya pada ini wadah sarat cacat--
Hanya ada sepi di ujung baris yang sekonyong buntu, gagu
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
05 August 2014
02 August 2014
Sastra Bawah Tanah
DALAM pidatonya pada penganugerahan Hadiah Sastra Khatulistiwa ke-13 tahun lalu penyair Afrizal Malna antara lain menghaturkan ucapan "terima kasih" kepada toko-toko buku yang menolak menjual buku puisi.
Penolakan itu, menurutnya, justru telah "menyelamatkan" puisi menjadi satu-satunya produk aktivitas kita yang tidak bisa "ditekuk" oleh pasar.
Kalau semuanya diambil olah pasar, apalagikah yang masih tersisa buat kita, begitu dia bertanya retoris.
Puisi Indonesia memang semakin menegaskan dirinya sebagai "produk bawah tanah". Buku-buku puisi pemenang KLA misalnya, dengan pengecualian pada satu-dua judul, tidak pernah bisa ditemukan di rak toko-toko buku. Ia harus belajar merasa puas (dan "tahu diri") dengan menjadi gunjingan sebentar segelintir orang yang tak jelas pula.
Statemen Afrizal Malna, bagi saya, terasa sebagai kegenitan atau "hiburan" yang miris.
(Untuk pidato Afrizal Malna itu sendiri sila menyimaknya di sini).
(Untuk pidato Afrizal Malna itu sendiri sila menyimaknya di sini).
31 July 2014
Seorang Pekerja Merenungi Meja
Dunia ternyata hanya
Sebuah meja, pikirnya: empat persegi datar
Dengan jurang-jurang terjal
Curam pada ujung-ujungnya yang tak berperasaan
Tak banyak pilihan tersedia di atasnya:
Kertas-kertas yang sudah penuh
Sebelum ditulisi, layar monitor
Dengan sudut sepi yang tak menjanjikan
Kesempatan berbagi, ada memang
Langit, tapi sepotong dan palsu terasa
Selebihnya adalah gelas minum
Yang menjaga kekal hausmu, laci
Sempit yang tak menyimpan rahasia
Apa pun, lalu pesawat telpon yang diprogram
Dari sentral. Yah, apa boleh buat, simpulnya
Dunia ternyata hanya sebuah meja datar yang hambar
Sebuah meja, pikirnya: empat persegi datar
Dengan jurang-jurang terjal
Curam pada ujung-ujungnya yang tak berperasaan
Tak banyak pilihan tersedia di atasnya:
Kertas-kertas yang sudah penuh
Sebelum ditulisi, layar monitor
Dengan sudut sepi yang tak menjanjikan
Kesempatan berbagi, ada memang
Langit, tapi sepotong dan palsu terasa
Selebihnya adalah gelas minum
Yang menjaga kekal hausmu, laci
Sempit yang tak menyimpan rahasia
Apa pun, lalu pesawat telpon yang diprogram
Dari sentral. Yah, apa boleh buat, simpulnya
Dunia ternyata hanya sebuah meja datar yang hambar
28 July 2014
Ketupat Lebaran
Ada masin peluh
Dan lembab air mata
Pada ketupat lebaran
Yang kau kirimkan barusan
"Jangan ragu menyantapnya"
Pesanmu tunggal sebelum pamitan
Tentu buru-buru saya menyanggupi
Lebaran barulah lengkap
Sehabis utuh kutangkap
Getir kisahmu sepenuh
Pada itu getas nasi rapat terpilin
Dalam jingga kuah duka mengundang
Dan lembab air mata
Pada ketupat lebaran
Yang kau kirimkan barusan
"Jangan ragu menyantapnya"
Pesanmu tunggal sebelum pamitan
Tentu buru-buru saya menyanggupi
Lebaran barulah lengkap
Sehabis utuh kutangkap
Getir kisahmu sepenuh
Pada itu getas nasi rapat terpilin
Dalam jingga kuah duka mengundang
18 July 2014
Akhir Kata
Tersisih dari rerimbun jagat kamus
Ia melayang hampa sepanjang cuaca
Ngembara sengsara macam hantu celaka--
Kadang hinggap tak sengaja di ujung kalimat buntu
Ia tak ingin kelihatan hebat sebetulnya
Ia hanya kepingin sekadar hadir belaka
Tapi penyair itu kemudian mencoretnya juga
Menyebutnya jadah atau semacam itu
Kadang ia lelah dan jemu juga
Tapi telah ia niatkan bulat terus ngembara--
Mungkin masih akan ada kalimat rancu yang lain
Siapa tahu akan betah ia terjebak di situ
Ia melayang hampa sepanjang cuaca
Ngembara sengsara macam hantu celaka--
Kadang hinggap tak sengaja di ujung kalimat buntu
Ia tak ingin kelihatan hebat sebetulnya
Ia hanya kepingin sekadar hadir belaka
Tapi penyair itu kemudian mencoretnya juga
Menyebutnya jadah atau semacam itu
Kadang ia lelah dan jemu juga
Tapi telah ia niatkan bulat terus ngembara--
Mungkin masih akan ada kalimat rancu yang lain
Siapa tahu akan betah ia terjebak di situ
Subscribe to:
Posts (Atom)
