Misalkan aku
Lahir kelewat cepat
Atau malah telat
Katakanlah
Seperempat abad
Aku hanya akan tercatat
Sebagai pemain catur
Hebat biasa saja
Tapi sebagaimana
Kalian kini sepakat
Aku terlahir
Ke dunia nyatalah
Pada musim yang tepat
Lagi pas cuacanya
Yakni pada puncak
Kulminasi perang dingin
Zaman yang buntu
Memerlukan penawar jemu
Mereka temukan itu
Pada sepak terjangku
Melawan aturan
Yang kupamerkan
Dimuat koran-koran
Dan sepertinya memanglah
Jika ditilik seksama
Agak kegila-gilaan
Sesudah mangkat aku
Mustinya mufakat kita
Banyak ihwal tak tepat
Seputar aku telah dicatat
Maka baiklah kini
Kuluruskan itu
Barang sebaris dua
Robert James Fischer
Kutandaskan di sini
Hanyalah sebiji bidak
Retak dan sunyi
Yang setindak-setindak
Menyusur kelam
Jalur takdirnya
Seraya memimpikan
Nun pada akhir baris itu
Sebuah promosi
Barangkali moksa
Yang membebaskannya
Lepas membubung dari
Ini petak sumpek konyol
Samsara
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
14 September 2010
26 July 2010
Melangkah ke Tengah
Tengah
Adalah pusat
Pergolakan
Kekal
Tapi
Ke sanalah
Kami bergerak
Menyusup
Kavaleri kuda
Membayangi
Langkah kami
Sejumlah
Mata-mata
Telah dikirim
Mendahului
Lain-lainnya
Di garis belakang
Rapat mengawal
Benteng
Apakah kami
Akan mati
Rebah
Tersambar
Jejari gelap
Barangkali
Sebaiknya kami
Simpan saja
Pertanyaan itu
Untukmu
Adalah pusat
Pergolakan
Kekal
Tapi
Ke sanalah
Kami bergerak
Menyusup
Kavaleri kuda
Membayangi
Langkah kami
Sejumlah
Mata-mata
Telah dikirim
Mendahului
Lain-lainnya
Di garis belakang
Rapat mengawal
Benteng
Apakah kami
Akan mati
Rebah
Tersambar
Jejari gelap
Barangkali
Sebaiknya kami
Simpan saja
Pertanyaan itu
Untukmu
23 June 2010
Hantu Kata, Kumpulan Sajak Ook Nugroho
Sudah terbit, Hantu Kata, kumpulan sajak Ook Nugroho, memuat sajak-sajak dari periode penulisan 1980-2008.
Yang berminat silakan menghubungi:
PT Kiblat Buku Utama
Bagian Pemasaran
Telp/Fax : 022 7330595
Surat e : penerbitkiblat@yahoo.co.id
04 June 2010
Mikhail Tal: Varian Satu
Sebab tak menemu
Kata yang pas
Mereka sebut saya
Tukang tenung dari Riga
Pada mulanya
Itu bukanlah puji
Melainkan semacam cerca
Sebab mereka percaya
Saya bermain dengan
Ajian mantra purba
Guna mengawal raja
Menyusup tak terduga
Merobohkan begitu saja
Sebelum mereka paham
Kuda-kuda terbunuh
Dekat benteng
Pal Benko misalnya
Jawara bidak
Dari negeri Yugo
Memesan kacamata gelap
Sebab percaya betul ia
Saya telah membuatnya
Pandir karena sihir
Pada laga kami
Dua kali ia terseok
Di Bled dan Zagreb
Maka ia kenakan
Itu kacamata kelam
Pada pertarungan ketiga
Belgrade, Yugaslavia, 1959
Sesudah 20 langkah tapi
Ia copot kacamatanya
Menyalami seraya tertawa
Sebab tak berdaya
Menahan serbuan saya
Tapi ia percaya kini
Mikhail Tal sepenuhnya
Bermain hanya dengan
Akal sehat ditambah
Sedikit muslihat
Kata yang pas
Mereka sebut saya
Tukang tenung dari Riga
Pada mulanya
Itu bukanlah puji
Melainkan semacam cerca
Sebab mereka percaya
Saya bermain dengan
Ajian mantra purba
Guna mengawal raja
Menyusup tak terduga
Merobohkan begitu saja
Sebelum mereka paham
Kuda-kuda terbunuh
Dekat benteng
Pal Benko misalnya
Jawara bidak
Dari negeri Yugo
Memesan kacamata gelap
Sebab percaya betul ia
Saya telah membuatnya
Pandir karena sihir
Pada laga kami
Dua kali ia terseok
Di Bled dan Zagreb
Maka ia kenakan
Itu kacamata kelam
Pada pertarungan ketiga
Belgrade, Yugaslavia, 1959
Sesudah 20 langkah tapi
Ia copot kacamatanya
Menyalami seraya tertawa
Sebab tak berdaya
Menahan serbuan saya
Tapi ia percaya kini
Mikhail Tal sepenuhnya
Bermain hanya dengan
Akal sehat ditambah
Sedikit muslihat
27 May 2010
Kisah Pulang
Mereka terus membangun
Semakin banyak rumah dan gedung
Juga gudang, lorong-lorong dan guha
Rahasia, tapi tambah tak yakin
Musti pulang ke alamat yang mana
Kalau cuaca kembali memberat
Dan malam turun di alun-alun kota
Mereka teramat mendambakan
Kehangatan, barangkali sedikit
Sopan-santun bumi, sehabis jemu
Saling bunuh di jalan-jalan raya
Tapi yang mereka temukan hanyalah
Para leluhur yang terus mengutuki
Turunan sundal telanjur lahir
Dan kalau mereka cukup mujur
Bisa dicapainya batas halaman
Mereka tak akan bisa percaya pula
Bahwa rumah yang terkuak membuka
Pintunya, bukanlah perangkap serupa
Yang menggiring takdir buruk lain
Tapi mereka tak punya pilihan
Malam akan segera jadi sempurna
Membunuh sisa matahari di pohon-pohon
Dan kota akan semakin sulit dikenali
Jadi mereka buru-buru masuk
Mengunci pintu rapat-rapat
Merapal mantra penolak bala
Pada rapuh jalinan cuaca
Mereka sungguh tak punya pilihan
Selain belajar menjadi terbiasa
Dengan segala yang ada di balik pintu itu:
Barang dan perabot yang kerap salah tempat
Para lelaki yang gemar meludah ke udara
Perempuan-perempuan dengan tetek kelabu
Atau para bocah berparu legam kelam
Dengan punuk dan taring berkilat
Agar, setidaknya mereka punya alasan
Mengapa terus bertahan di liang busuk ini
Setidaknya punya tempat sembunyi, bukan?
Barangkali ini lumayan menghibur
Barangkali mereka akan bisa juga tertidur
Melewatkan malam sekali lagi
Dengan bulan separoh di langit-langit
Dengan kilau pisau di bawah bantal
Dan tuhan cemas berjaga di pojok ingatan?
Semakin banyak rumah dan gedung
Juga gudang, lorong-lorong dan guha
Rahasia, tapi tambah tak yakin
Musti pulang ke alamat yang mana
Kalau cuaca kembali memberat
Dan malam turun di alun-alun kota
Mereka teramat mendambakan
Kehangatan, barangkali sedikit
Sopan-santun bumi, sehabis jemu
Saling bunuh di jalan-jalan raya
Tapi yang mereka temukan hanyalah
Para leluhur yang terus mengutuki
Turunan sundal telanjur lahir
Dan kalau mereka cukup mujur
Bisa dicapainya batas halaman
Mereka tak akan bisa percaya pula
Bahwa rumah yang terkuak membuka
Pintunya, bukanlah perangkap serupa
Yang menggiring takdir buruk lain
Tapi mereka tak punya pilihan
Malam akan segera jadi sempurna
Membunuh sisa matahari di pohon-pohon
Dan kota akan semakin sulit dikenali
Jadi mereka buru-buru masuk
Mengunci pintu rapat-rapat
Merapal mantra penolak bala
Pada rapuh jalinan cuaca
Mereka sungguh tak punya pilihan
Selain belajar menjadi terbiasa
Dengan segala yang ada di balik pintu itu:
Barang dan perabot yang kerap salah tempat
Para lelaki yang gemar meludah ke udara
Perempuan-perempuan dengan tetek kelabu
Atau para bocah berparu legam kelam
Dengan punuk dan taring berkilat
Agar, setidaknya mereka punya alasan
Mengapa terus bertahan di liang busuk ini
Setidaknya punya tempat sembunyi, bukan?
Barangkali ini lumayan menghibur
Barangkali mereka akan bisa juga tertidur
Melewatkan malam sekali lagi
Dengan bulan separoh di langit-langit
Dengan kilau pisau di bawah bantal
Dan tuhan cemas berjaga di pojok ingatan?
Subscribe to:
Posts (Atom)