Selalu sama
Sejumlah penumpang
(Yang tak kau kenal)
Mereka sudah ada
Sebelum kau ada
Di angkot ini
Di sepanjang jalan
Mungkin bertambah
Sejumlah penumpang lagi
(Yang pun tak kau kenal)
Apa yang mereka
Pikirkan tatkala naik?
Mungkin tak ada
Atau, mungkin seperti kau
(Dan yang lainnya)
Mereka juga berpikir
Seperti itu: Ya, selalu sama
Begitulah, tak ada beda
Sejumlah penumpang
(Yang tak kau kenal)
Sudah di sini sebelum
Aku terbawa dalam
Perjalanan ini
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
03 March 2014
24 February 2014
Kitab Kabut
Kubuka kitabmu
Halaman-halaman yang menyiksa
Sepasang mata tua ini
Huruf-huruf yang terlalu
Benderang, seakan
Menentang silau surya
Seolah kita mustilah
Bertarung lebih dahulu
Setiap kali, memperebutkan
Inti kisah yang kau sembunyikan
Di sebalik lelapis kata?
Kuhasratkan mengoyak
Bebaju zirah selubungmu itu
Meraih samar jantungmu
Ranum mengilat bebuah purba
Tapi kau tergelak gagak
Memandangku betapa tegak
Tiada kusimpan di sini katamu
Jika kau impikan serupa jejak
Tapak-tapak sepi menegas
Pada luas pesisir bahasa ini
Pulang, kutulis pada pintu
Semacam salam pada halamannya
Murni bagai debar dara
Lalu kukubur kitabmu
Kukubur di bawah kaki langit kabur
Tapak-tapak yang menyiksa
Sepasang kaki tua ini
Seakan kita sepasang seteru
Kalut bergelut di alas waktu
Halaman-halaman yang menyiksa
Sepasang mata tua ini
Huruf-huruf yang terlalu
Benderang, seakan
Menentang silau surya
Seolah kita mustilah
Bertarung lebih dahulu
Setiap kali, memperebutkan
Inti kisah yang kau sembunyikan
Di sebalik lelapis kata?
Kuhasratkan mengoyak
Bebaju zirah selubungmu itu
Meraih samar jantungmu
Ranum mengilat bebuah purba
Tapi kau tergelak gagak
Memandangku betapa tegak
Tiada kusimpan di sini katamu
Jika kau impikan serupa jejak
Tapak-tapak sepi menegas
Pada luas pesisir bahasa ini
Pulang, kutulis pada pintu
Semacam salam pada halamannya
Murni bagai debar dara
Lalu kukubur kitabmu
Kukubur di bawah kaki langit kabur
Tapak-tapak yang menyiksa
Sepasang kaki tua ini
Seakan kita sepasang seteru
Kalut bergelut di alas waktu
21 February 2014
Tubuh
Tubuhmu terbungkus
Kantung waktu
Masak oleh mimpi
Di ujung musim
Tangan cuaca
Pelan & pasti
Mengulur membuka
Mengoyak helai-helainya
Telanjang
Sempurna
Jantungmu
Merebah, lalu
Api putih berkobar
Menyulut dari sumber
Berkabar usai
Kisah tubuh
Kantung waktu
Masak oleh mimpi
Di ujung musim
Tangan cuaca
Pelan & pasti
Mengulur membuka
Mengoyak helai-helainya
Telanjang
Sempurna
Jantungmu
Merebah, lalu
Api putih berkobar
Menyulut dari sumber
Berkabar usai
Kisah tubuh
18 February 2014
Kepada Tukang Cukurku
Mari kita bertukar tempat, sebentar
Dengan begitu mungkin lebih mudah kau pahami
Perangai maut yang kasar, datang ia
Padamu berterang atau selinap, kukira sama
Sekarang duduklah, sedang aku berdiri
Kilau pisau pada tanganku yang satu
Biar kurasai gegumpal rambutmu, mengombak
Duduklah nyaman, kini coba kau rasakan
Rapat tubuhku menempel, kemejaku lembab berbau
Sebab peluh, dari bahan cita murah belaka
Mungkin gemuruh debar jantungku sekonyong
Sempat juga kau serap, sebab semacam gairah
Serupa darah mendesir, memaksaku berpikir
Hanyha diperlukan beberapa sayatan, mungkin
Satu sayatan utama pada pembuluh sentral
Kau pun terhenyak, tak teramat paham mulanya
Tidak, bahkan kau tak sempat melolong, berontak
Segalanya sudah kasip, lenganku yang satunya
Teramat kukuh bukankah, mencekikmu sungguh mudah
Sebelumnya mendorongnya rebah bersimbah
Maaf, jika uraianku barusan membuatmu mual
Kini baiklah aku kembali duduk, memejam diam
Dengan kilat pisau pada genggammu kukuh, ayolah
Rapikan anganku putih melebat kian liar menyemak ini
Dengan begitu mungkin lebih mudah kau pahami
Perangai maut yang kasar, datang ia
Padamu berterang atau selinap, kukira sama
Sekarang duduklah, sedang aku berdiri
Kilau pisau pada tanganku yang satu
Biar kurasai gegumpal rambutmu, mengombak
Duduklah nyaman, kini coba kau rasakan
Rapat tubuhku menempel, kemejaku lembab berbau
Sebab peluh, dari bahan cita murah belaka
Mungkin gemuruh debar jantungku sekonyong
Sempat juga kau serap, sebab semacam gairah
Serupa darah mendesir, memaksaku berpikir
Hanyha diperlukan beberapa sayatan, mungkin
Satu sayatan utama pada pembuluh sentral
Kau pun terhenyak, tak teramat paham mulanya
Tidak, bahkan kau tak sempat melolong, berontak
Segalanya sudah kasip, lenganku yang satunya
Teramat kukuh bukankah, mencekikmu sungguh mudah
Sebelumnya mendorongnya rebah bersimbah
Maaf, jika uraianku barusan membuatmu mual
Kini baiklah aku kembali duduk, memejam diam
Dengan kilat pisau pada genggammu kukuh, ayolah
Rapikan anganku putih melebat kian liar menyemak ini
15 February 2014
Adam dan Hawa
Di sebuah losmen
Murah di Jakarta
Adam dan Hawa mengulang
Kembali dosa
Ular yang menggoda Hawa
Terlihat memang berpunuk
Dan konon dari jenis
Paling berbisa
Sewaktu ia terkapar
Nanar di tengah kamar
Tak bisa dipastikan benar
Itu karena bisa si ular
Atau sebab ia memang kepingin?
Tak ada kepastian
Dan perempuan itu tak menyahut
Matanya sembab
Malam telah kembali
Mengarungi terjal tubuhnya
Murah di Jakarta
Adam dan Hawa mengulang
Kembali dosa
Ular yang menggoda Hawa
Terlihat memang berpunuk
Dan konon dari jenis
Paling berbisa
Sewaktu ia terkapar
Nanar di tengah kamar
Tak bisa dipastikan benar
Itu karena bisa si ular
Atau sebab ia memang kepingin?
Tak ada kepastian
Dan perempuan itu tak menyahut
Matanya sembab
Malam telah kembali
Mengarungi terjal tubuhnya
Subscribe to:
Posts (Atom)