https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

23 November 2008

Wawancara dengan Sindu Putra

Pengantar

SINDU PUTRA, yang lahir 31 Juli 1968, bukanlah nama baru dalam panggung puisi kita. Ia telah menulis lama berselang (1982) khususnya di koran Bali Post. Bahwa kiprahnya ternyata relatif “kurang bergema” mungkin itu disebabkan ia selama ini ia kurang bersemangat “mengkampanyekan” karya-karyanya di media pusat. Ia sendiri mengaku memang “telat” masuk “timnas” puisi.

Namun buku puisi pertamanya, “Dongeng Anjing Api” (Arti Foundation, Juli 2008), yang kelahirannya diwadahi oleh program Widya Pataka (semacam proyek subsidi dari Pemda Bali kepada seniman setempat yang dipandang berhasil) seakan menebus semua kelpaan penyairnya. “Dongeng Anjing Api” bagi saya adalah satu dari sedikit saja buku puisi unggulan yang sempat terbit belakangan ini.

Lewat “perbincangan” tertulis kurang dari sepekan yang lalu, saya menyodorkan kepada Sindu Putra sejumlah pertanyaan yang bersangkutan dengan pernik-pernik proses kreatifnya. Saya ucapkan terima kasih kepada Bung Sindu yang telah merespons dengan baik tawaran wawancara ini. Dan semoga “obrolan” kami juga bermanfaat untuk yang lain. Selamat membaca
.

Anda telah menulis puisi setidaknya selama seperempat abad, dan dengan hasil yang relatif terjaga baik. Apa sebetulnya "resep" anda untuk merawat stamina kreatif anda hingga terus bugar seperti itu?

Saya merasa sebagai penulis tidak cukup produktif. Saya pernah mengalami "puasa" panjang menulis puisi. Saya termasuk beruntung, Bagian dari generasi yang tumbuh bersama penyair-penyair Bali, angkatan Warih dan generasi generasi berikutnya, seperti Sunartha, dll. Sebenarnya bukan resep, hanya cara berkelit dari kejenuhan. Seperti pemulung, saya suka dengan kata-kata, yang saya anggap lumrah, tetapi unik, punya rasa dan nilai. Saya kumpulkan seperti membuat catatan harian. Kata itulah yang menemukan kawanannya sehingga menjadi bait larik dstnya. Menulis ya teman dan lawan tandingnya membaca. Membaca apa saja. Terutama, saya, karena basis pendidikan saya eksak, suka memburu kata ke dunia itu. Menulis puisi memang tidak bisa dipaksa. Saya hanya mencoba menikmati alirannya, seperti menikmati hidup ini dengan rasa syukur.

Anda tinggal jauh di pedalaman, tetapi keterpencilan geografis rupanya bukan masalah bagi anda untuk terus menulis dengan hasil baik. Saya "curiga" jangan-jangan kondisi "sepi" dan "terpencil" itu justru menjadi atmosfer ideal untuk anda menulis. Salahkah terkaan saya?

Saya tumbuh dalam atmosfir kreatifitas penyair-penyair bali. Baru tahun 2001 saya tinggal di Lombok. dalam kondisi sudah "jadi". Pergaulan gaya Bali era 80an-90an, membentuk kepenulisan saya. Dalam pergaulan itu saya membaca dan mempelajari puisi kawan-kawan segenerasi saya. Juga puisi yang masuk "sejarah sastra" Indonesia, dari situ timbul niat ingin mencoba mencari cara lain, baik bahasa ungkap, simbul, metaphora, yang sekiranya belum digarap kawan-kawan atau generasi sebelumnya. Di sini bagi saya menariknya, Berada didalam proses tetapi mencoba menjaga jarak sehingga dapat menjadi "beda"

Sejumlah pengamat menyebut puisi anda menyempal dari arus besar puisi kita. Saya menduga-duga, apakah itu juga hasil yang didapat dari "keterpencilan" geografis anda? Maksud saya, berada jauh dari "pusat" justru memberi anda ruang gerak leluasa untuk berkreasi dengan lebih merdeka? Atau bisakah disebutkan bahwa puisi anda memang lahir dari semacam "perlawanan" yang sadar kepada "arus utama"?

Saya berpikir, seseorang harus tampil beda, sehingga bisa sedikitnya diliriklah sama orang. Jika kita hanya menjadi copy, kapan akan diperhatikan. Saya termasuk paling lambat masuk tim nasional atau bisa diterima dan dimuat media-media selain Bali Post. Saya sudah disalip oleh generasi yang lebih muda. Namun saya harus akui, mereka memang potensial dan bagus. Dan dalam masa tidak mendapat tempat itu, saya tetapkan terus menulis dengan cara saya. Masa seperti itu butuh stamina juga. Jika tidak tahan, tidak diperhatikan, maka akan habis dan hilang kita dari peredaran. Ya ada kesadaran memang untuk melawan yang "trend". Itu karena kita hanya ingin dimuat saja. Jika memberi karya yang beda dan lain, harus ada tambahan kekuatan untuk selalu siap ditolak.

Selalu menarik memata-matai bagaimana seorang penyair bekerja. Bisakah anda ceritakan bagaimana proses penciptaan sajak anda sendiri selama ini? Adakah misalnya "ritual" tertentu yang khas Sindu? Mohon sudilah kiranya berbagi.

Saya rasa tidak ada yang beda dengan cara penulisan penyair lain. Hanya saja sajak yang sudah ditulis itu, lebih sering masih harus diproses lagi. Editing, bongkar pasang, diendapkan. Dibaca lagi beberapa hari kemudian atau bahkan bulan depan, kata diganti, seperti kita bermain-main, membentuk sesuatu. Dicoba terus. sampai saya merasa pas. Terkadang “hasil” dengan “ide awalnya” tidak ketemu. Namun proses yang sekali jadi juga sering. Biasa-biasa sajalah, tidak ada ritual yang gawat-gawat.

Sajak "Sudah Aku Pilih Kata" dalam antologi "Dongeng Anjing Api" sepertinya dipersembahkan kepada Umbu Landu Paranggi, penyair yang "misterius" itu. Omong-omong apa gerangan arti seorang Umbu bagi anda?

Ya memang untuk Bung Umbu. Saya beruntung, termasuk generasi yang mendapat gemblengan seperti gaya Mallioboro 70 an itu. Dari tingkat dasar/pawai, lalu kompetisi sampai puisi kita masuk ruang budaya. Ketika awalnya puisi saya dimuat Bali Post, saya berpikir itulah puisi yang baik, karena dimuat redakturnya. Tetapi kadang Umbu nakal juga, puisi kita yang paling jeleklah yang dimuat, tetapi yang baik malah disimpannya. Bagi saya Umbu seorang pencari bakat yang pembacaan terhadap bakat seseorang ia sampaikan dengan caranya sendiri. Ia guru yang seperti puisi Gibran. Ia membimbing dengan caranya berbagai jalan puisi, tetapi kita harus menemukan jalan puisi kita sendiri.

Adakah penyair yang begitu anda kagumi (selain Umbu) dan menjadi, katakanlah, panutan atau model anda dalam berkarya?

Saya bukan mengagumi figurnya, tetapi lebih pada apa yang dikerjakan dan hasil karyanya. Gaya penyair Chairil, khan tidak bisa kita copy untuk generasi yang tumbuh tahun 2000an ini. Tetapi karyanya masih memberi inspirasi. masih mengundang pembicaraan. Saya kira tiap generasi mesti membaca zamannya. Di sanalah kekayaan dan pencapaian kita. Gaya Umbu memberi lahan dan menumbuhkan minat menulis bagi penulis-penulis muda di Bali juga berbeda, dari jaman saya ke generasi sekarang ini.

Terakhir, bagaimana menurut anda "kondisi kesehatan" sastra Indonesia (khususnya puisi) belakangani ini?

Saya merasa ruang bagi puisi sudah sangat luas. Saya melihat pertengkaran lebih hanya pada bukan soal karya, yang kemudian menjadi relatif. Koran, umpamanya, tiap minggu membuka halaman untuk puisi. Bahwa kemudian di dalamnya ada seleksi redakturnya bagi saya itu biasa saja. Jika soal itu yang dipermasalahkan, bukankah tiap orang bisa punya blog dan dapat dibaca di seluruh dunia. Bikin blog aja biar bebas.

Banyak yang menulis puisi, dan sangat banyak yang ingin menjadi penyair. Tetapi lebih baik penyair mengkonsentrasikan energinya untuk menulis. Publikasi itu hanya sampiran sajalah. Waktu dan sejarah akan mengujinya. Banyak puisi-puisi bagus tetapi tidak mendapat tempat untuk diterbitkan. Buku seharusnya menjadi salah satu barometer perkembangan. Kondisi ini yang belum bagus atau sehat di indonesia. Kalau puisinya sehat wal afiat. Apalagi penyairnya.

2 comments:

m aan mansyur said...

terima kasih, pak ook, atas wawancara ini! saya menikmati membaca dan belajar darinya.

bangkit prayogo said...

stock untuk buku dongeng anjing apai apa ada? saya butuh buku tersebut, sebagai bahan tesis saya. terimakasih

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...