https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

30 November 2006

G i e

SOE HOK GIE (Gie) adalah sebuah inspirasi, setidaknya bagi Riri Riza, sineas muda berbakat yang kemudian mengangkat sosok kontroversial itu ke dalam film. Gie dengan demikian adalah sebuah “model” , sebuah contoh “hero” yang lain. Kenyataan ini bagi saya sedikit membingungkan, dan “ganjil”. Mengapa gerangan di sebuah zaman yang dikomando oleh perilaku hidup konsumtif dan mental serba gengsi, perhatian bisa terarah pada sosok kurus bersahaja yang meninggal tragis di Semeru, Desember 1969 itu? Apa yang sebetulnya menarik dari Gie?

Kalau anda terlahir sebagai “cina” di negara ini, anda akan tahu bahwa pilihan hidup anda tidaklah banyak. Pilihannya paling-paling antara menjadi “juragan”, atau juara badminton. Maka kalau kemudian ada “cina” yang menjadi penyair – seperti Tan Lioe Ie, atau Oei Sien Tjwan dulu – kita pun menatap fenomena itu dengan sedikit heran dan takjub. Keheranan itu akan berubah menjadi “kebingungan” kalau si “cina” itu menjadi aktivis politik, pilihan yang dengan sadar diambil Gie. Pilihan sensitif yang bahkan oleh kelompok “non-cina” pun tidak banyak diminati.

Jadi agaknya itulah beberapa hal yang membuat sosok Gie menjadi terasa “eksotis”. Pertama, ia seorang cina, dan kedua ia memilih bidang yang “tak biasa”. Di luar itu, Gie, secara qua individu memang berada di atas rata-rata. Ia bukanlah eksemplar “biasa” yang lahir dari bokong zamannya. Almarhum Nugroho Notosusanto menggambarkannya sebagai “seorang yang selalu lurus memegang prinsipnya” dan karena itu ia menjadi sosok yang “mengerikan”. Di zaman ketika berkata “tidak” – juga “tidak” kepada tawaran hidup yang edan dan hedonistik --terasa begitu merepotkan, maka sosok “mengerikan” seperti Gie tentu saja menyodorkan sebuah “pencerahan”.

Diterimanya figur Gie sebagai sebuah “model” membuktikan juga bahwa kita ternyata masih cukup “sehat”. Masih cukup “waras” untuk tidak terkerangkeng begitu saja dalam penjara dungu bernama fanatisme etnis, golongan, atau entah bagaimana sajalah anda menyebutnya. Dan Gie, bagi saya, adalah spirit yang tak mau sudah untuk tetap berkata “tidak” kepada begitu banyak hal “tak waras” yang pada hari-hari ini terus mengepung dan mencoba menggasak kita
.

28 November 2006

Gerbang Kata

Kata-kata ini tidak kucari
Rasa yang begitu dalam
Membentuk rautnya sendiri
Dari buah-buah waktu yang masak
Dijelmakan tangan bumi

Seperti lempung pada tembikar
Demikian sajakku hanya wadag
Tak ada apa pun kau jumpa hanya kosong
Wujudku yang mula bukan rupa
Samar depan gerbang kata

26 November 2006

Tonggak dan Saya

KALAU anda kebetulan mengoleksi lengkap "Tonggak", Antologi Puisi Indonesia Modern, yang diterbitkan Gramedia (1987), silakan anda ambil Tonggak jilid 4. Lalu buka halaman 335 dari buku tebal itu, yaitu halaman yang memuat sajak-sajak Acep Zamzam Noor, itu penyair ganteng asal Tasikmalaya, yang baris-baris puisinya sanggup membuat saya seraya diayun-ayun dengan sedapnya.

Nah, di halaman 335 itu ada sebuah "kesalahan kecil" yang selama ini agaknya luput dari perhatian. Sajak "Episode" yang mengawali rangkaian sajak-sajak Acep dalam antologi itu, sesungguhnya dan sebenar-benarnya adalah sajak saya, bukan sajak Acep. Puisi itu dulu pernah dimuat rubrik puisi "Pertemuan Kecil" koran Pikiran Rakyat, tanggal 14 Januari 1986. Saya masih menyimpan baik klipingnya sampai sekarang. "Tonggak" pun dengan jelas mencantumkan sumber puisi itu, yaitu Pikiran Rakyat 14 Januari 1986.

Tentu saja, blunder ini murni kesalahan sang editor, yaitu Linus Suryadi, yang sayangnya sudah marhum, sehingga saya pun tak lagi punya kesempatan mengonfirmasi soal ini. Tapi sebetulnya sebelum Linus Suryadi meninggal (lama sebelum ia meninggal) saya pernah menyurati Garmedia menanyakan soal ini. Pihak Gramedia waktu itu menjawab akan meneruskan masalah ini ke Linus. Setelah itu saya tak mendapat kabar apa-apa lagi, sampai akhirnya diberitakan bahwa Linus "Pengakuan Pariyem" Suryadi berpulang karena sakit.

Sebetulnya saya pun tak begitu berharap akan mendapat respons memadai dari pihak Gramedia maupun Linus. Saya sadar betul bahwa proyek besar seperti "Tonggak" kecil sekali kemungkinannya akan dilanjutkan. Di sisi lain saya pun menyadari posisi saya yang cuma penulis "pinggiran", tidak penting dan tidak pula menentukan. Hanya saja saya jadi suka iseng bertanya-tanya.

Fakta bahwa "Episode" bisa hadir di "Tonggak" menjelaskan dengan gamblang bahwa sajak itu dianggap "layak" tampil oleh sang redakturnya. Jangan-jangan -- perkenankanlah saya sekadar menduga-duga -- ada banyak puisi saya yang lain yang juga dianggap "layak" olehnya, namun nama sayalah yang dianggap "belum layak" tampil. Jangan-jangan masalahnya bukan sekadar "human error" belaka. Ah, jangan-jangan saya hanyalah korban dari ... tapi sudahlah.

E p i s o d e

Tak punya tujuan pasti hari itu
Tanpa rancangan kau pun terdamparlah di tempat itu
Bagai si tokoh dalam lagu dan cerita murahan
Kau pilih perempuan dan petualangan tapi dalam angan

Pengunjung yang lumayan melimpah
Sungguh tak membikinmu terhibur
Agak gelisah jadinya kau teruskan juga melangkah
Menembus lapangan rumput dan daun gugur

Ada semak dan sungai mengalir
Jauh di bawah sana kau tahu pasti
Bunyi gemuruhnya masih murni
Agak deras dan jelas sekonyong rindumu mendebur

Ada pasangan dan bocah bermain
Dalam rindang taman mereka sibuk berjamahan
Agak tersindir kau pun menyingkirlah dari sana
Tahu hidupmu sendiri biru lengang semata

(Sajak Ook Nugroho termuat dalam antologi Tonggak 4 atas nama Acep Zamzam Noor, semata "human error" editor buku atau ada cerita lain -- tanya Kenapa?)

24 November 2006

Langgam Jakarta

Berapa abad lagi masih harus menunggu
Aku seperti Sisifus dalam dongeng tua itu
Mengais terjal waktumu, mendorong bulan ke puncak
Hanya untuk sampai pada kebosanan lain lagi

Dari keheningan bumi dan doa burung-burung
Kubangun tangga demi tangga ke langit
Tapi angin senantiasa bangkit merobohkan
Mengembalikanku pada gemuruhmu
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...