https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

28 December 2007

Pada Sajakmu

S a t u

(Perjalanan buat apa
Kalau bukan untuk menyatu)

Bukankah asal dan tuju
Mulanya adalah satu
Mengapa dalam kangen
Membelah jadi kau dan aku

(Pencarian buat apa
Kalau tidak untuk kembali)


Pada Sajakmu

Masuk aku dalam sajakmu
Di kelok bait kupergok jerit sakit
Di ujung baris entah gerimis
Entah sesiapa mengisak tangis?

Mungkin kita, terjebak rima mulanya
Lantas menemu yang tak disangka
Luka, pada setiap katanya
Buntu, berkabar lewat judul

26 December 2007

Perjalanan

Melewati beribu peperangan
Dan beratus perzinahan
Sampai akhirnya aku di sini
Tak pernah kuduga sebelumnya
Perjalanan akan begini sukar
Menembus rimbun belukar
Yang menyemak dalam debar
Pada setiap pergumulan
Di ranjang lembab waktu
Harus kulucuti dulu topengku
Pakaian yang menodai
Kemurnian tulang belulangku
Kuremukkan dalam sangsi
Kini aku tiba di sini
Apa lagikah kiranya
Masih harus kubuktikan
Musuh yang pernah kubantai
Dan tubuh yang dulu
Kujamah dalam serapah
Tidakkah itu cukup bagimu
Telah kugadai terangmu
Kutukar dengan kepayang lain
Demi mencapai inti bebayang
Yang tak berhenti menggoda
Di batas samar dan bimbang
Hingga kita pun lalu terpecah
Jadi jutaan nama di bumi

23 December 2007

R o n i n

Seperti ronin
Ngembara di jalan pedang
Penyair bertarung
Sengit di rimba kata

Tiada kupunya
Majikan musti disembah
Hanyalah langit
Batas pandangku

Dan bumi bersimbah
Kepada siapa
Sajak-sajak yang kutulis
Darahnya menitis

Seperti ronin
Rebah di ujung tikaman
Hanyalah kesia-siaan
Musuhku yang utama

19 December 2007

S u b u h

Rumah masih berbau malam
Ruang tamu dihuni para hantu
Kakiku tampak tak terburu-buru
Mengais alamat dalam kotak kenangan

Kuhaturkan salam tulus
Kepada sahabat pintu dan jendela
Kujanjikan juga perjalanan baru
Meski masih lama lagi agaknya

Bulan belum sepenuhnya padam
Dari atas atap gubuk ronda
Beberapa butir bintang dan lelampu
Berebut memasuki saku bajuku

Seakan mereka tengah memohon
Sekadar lubang tempat sembunyi
Dari ancaman buruk mengerikan
Pagi yang belum diberi nama

Dua puluh jemari anganku
Liar melanglang merambah jagat
Menembus ufuk membongkar inti kisah
Lama terperam di ceruk subuh?

18 December 2007

S e m u s i m

Semusim lamanya
Kami merawat rindu
Melindunginya dari angin
Dan cuaca buruk
Yang suka datang
Menggodanya kalut
Ke belantara kabut

Semusim lamanya
Kami tampik kepayang
Hitam cumbuan bayang-bayang
Yang mau menarik kami
Kembali ke jurang

Semusim sudah
Kami lakoni mati raga ini
Hidup menahan lapar
Bertahan di gua-gua kata
Sebagai sesembahan
Murni para dewa

Semata supaya
Jiwa kami yang retak
Kiranya dipandang layak
Meniti jejakmu nan rancak
Terus merayap sampai ke puncak

16 December 2007

Penyair Besar dan Penyair Kecil

APAKAH beda penyair kecil dan penyair besar? Simpel dan sederhana. Penyair kecil itu sama dengan pencuri kecil, sedang penyair besar tentu saja juga seorang pencuri besar. Penyair kecil melakukan pencurian kecil-kecilan, jumlahnya sedikit dan tidak berarti. Teknik mencurinya juga mungkin kasar dan seadanya.

Adapun penyair besar melakukan pencurian besar-besaran. Jumlahnya tidak kepalang tanggung, tapi yang paling penting barangkali adalah trik mencurinya itu. Penyair besar memiliki cara-cara canggih dan halus, sehingga pada akhirnya hampir tidak ketahuan lagi bahwa hakikatnya ia hanya mencuri harta orang lain juga.

Seorang penyair kecil, seperti saya ini, segera ketahuan kalau habis mencuri. Soalnya cara-cara saya cenderung kasar dan sembarangan. Lagi pula penyair kecil cenderung melakukan pencurian dengan sasaran yang sama. Misalnya, kalau sudah pernah sukses mencuri celana di jemuran tetangga, ia suka ketagihan ingin melakukannya lagi di jemuran yang sama.

Ia tak punya cukup nyali dan bakat untuk melakukan eksperimen yang nyerempet-nyerempet bahaya. Ia cenderung mencari aman, dan cepat puas. Tentu saja triknya yang miskin ini hanya makin membuatnya dikenal sebagai pencuri kelas teri.

Penyair besar tidak begitu. Kalau sudah pernah sukses nyolong celana di jemuran tetangga, lain kali mungkin ia akan mencoba melakukannya di pasar, meningkat lagi di mal, dan begitu seterusnya. Mungkin juga ia tidak puas hanya mencuri celana saja. Yang lain-lain—kalau memang ada kesempatan--juga ikut diembatnya : kaos singlet, kaos oblong, kemeja, sepatu, termasuk sandal yang lagi bengong di masjid

Penyair besar mungkin juga tidak langsung puas dengan hasil curiannya. Celana yang berhasil dibawanya kabur, misalnya, dipermak dulu sebelum dipakainya. Kadang-kadang sesudah dipermak celana curian itu malah jadi lebih keren dari aslinya. Nah, baru sesudah itu ia berani petantang-petenteng dengan celana curiannya. Maka, kecuali pemilik asli celana itu, ditanggung orang lain bakal susah sekali mengenali jatidiri sang celana.

14 December 2007

Pada Setiap Kata

S e s a a t

Keindahan tidak membuka
Sekaligus. Hanya bagi hati yang
Penyabar rahasia dibagikan
Sedikit demi sedikit. Sehari
Demi sehari. Kelopak
Demi kelopak terkuak
Sempurna. Sebagai bunga
Mekar di ujung kata. Memijar
Biar hanyalah sesaat terasa
Begitu sarat. Meluap tak termuat
Dalam beribu ayat

(2007)


Pada Setiap Kata

Pada setiap kata
Menjulur lorong
Masuk dan temukan
Jalanan sederhana
Mungkin menuntunmu
Pada keluasan
Pantai dan benua
Jika mujur arahmu
Gerbang salam membuka
Laut surut menyerah
Gunung mendekam
Langit pun merendah
Seakan bisa kau jamah
Sanubari semesta
Hatimu yang pemurah
Sekonyong meluap
Tak tertampung lagi
Sungguh sudah masak
Agaknya bebiji pohon rindu
Yang semusim lamanya
Susah payah kau tabur

(2007)

12 December 2007

Dua Larik Desember

Dua Larik Desember

/1/
Desember adalah bulan yang sedih.
Ada yang menatap cemas pada lembar almanak
Yang hampir tamat. Tahu, musim
Senantiasa tanggal, dan tahun mengelupas
Oleh hujan yang tempias pada parasnya kelabu.

/2/
Di ruang yang jauh seorang yang lama
Menunggu, akhirnya percaya bahwa sorga memang
Tak pernah ada. Hanya ada sejumlah nama, beberapa baris
Alamat, di mana ia pernah mampir suatu kali, dulu
Mencoba menyapa. Sebelum akhirnya terusir.

(2007)


Di Ruang Ini

Di ruang ini lelaki itu pernah duduk
Mungkin pernah ditulisnya surat sepucuk
Pada sebuah petang yang agak tak biasa
Mungkin ada disebutnya juga namamu
Tanpa setahumu, pada ujung paragrap
Dibisikkannya yang urung tertulis
Yang lantas dijemput angin yang lewat
Yang sehabis menyapa jendela
Membawanya pada kemungkinan lain
Pada alamat lain yang tak pernah
Dipikirkan lelaki itu sebelumnya
Lelaki itu mungkin saja aku adanya
Barangkali saja kaulah lelaki itu
Di ruang ini kau duduk suatu kali
Takzim kautuliskan surat sepucuk
Pada sebuah petang sedikit suram
Kau sebut namaku berulang kali tapi
Pada ujung baris itu entah kenapa
Kau ragu-ragu dan batal kautuliskan
Jejak gerimis yang sampai di halaman
Padahal begitu lama sudah aku bersabar
Di ruang ini duduk menantikan
Rahasia hujan genap tersampaikan

(2007)

10 December 2007

Gambar Biru

Kau mau gaya apa
Terserah, bilang saja
Buatku sendiri sama belaka
Tak ada hakku bicara
Perihal kesantunan
Sedikit merih pada
Liang sukma ini
Adalah harga murah
Yang tersaji bagimu
Resapkan masin kecutnya
Yang merembes dari
Merah lembab langitnya
Itu bukan darah honey
Sebab tak ada lagi darah
Tak ada lagi amarah
Hanyalah pasrah
Nasib yang guyah
Pada tubuh lungkrah
Di kebun basah
Sisihkan rerimbunnya
Jelajah sudutnya
Temukan gaya yang
Memang kau suka
Tak apa, omong saja
Akan kuturut apa maumu
Tapi tolong tutup
Pintu kamarnya
Tak bisa kubiarkan
Dunia mengintip kita
Mereka harus bayar dulu
Begitulah aturannya masih
Lima dolar atau sepuluh
Untuk paket komplit

(2007)

07 December 2007

Kepada Sajakku

Sajak-sajakku
Kini kautahu orang-orang
Ternyata tak menganggap
Penting kehadiranmu

Tapi jangan kau
Jadi gusar karenanya
Barangkali mereka juga
Sibuk dengan sajaknya sendiri

Tabahlah, sajakku
Terus kau bertahanlah
Meski di dunia sendirian
Belajarlah apa artinya setia

Inilah kutuk
Barangkali takdir
Yang jadi bagian kita
Terlunta di jalan ke Golgota

(Des-2007)

04 December 2007

Keturunan Laut

Kalau bisa diumpamakan
Saya ini mungkin cuma selokan kecil
Bukan sungai besar menggelora
Yang dengan pongahnya membelah kota
Mengangkut kotoran dan tinja
Menyerbu muara dan samodra hampa

Saya ini cuma selokan kecil
Yang mengalir di depan rumah-rumah
Menyusuri kampung dan komplek borjuis
Diam-diam saja tanpa setahumu
Lebih-lebih di musim kering panjang
Karena cuaca yang tak ramah
Perasaan saya jadi ikut kering
Tak berarti apa-apa lagi bagimu

Tapi kalau boleh dibandingkan
Saya juga masih keturunan laut
Masih memendam unsur-unsurnya
Itu sebabnya kalau hujan turun agak lama
Perasaan saya suka meluap kembali
Membanjiri jalan-jalan di kota
Membasahi kembali kenanganmu

(1992)

30 November 2007

Penyair Terbaik?

MENULIS puisi sangatlah beda dengan menulis esai, atau bentuk artikel umum lainnya. Menulis puisi menuntut kesiapan teknis dan mental yang jauh lebih berat—sangat spesifik, sebutlah begitu. Ia sungguh menyaratkan suasana batin yang hening, suasana hati yang barangkali tak kelewat salah kalau disebut mirip dengan “trance”.

Suatu suasana batin yang membuat kita seolah—untuk beberapa jenak--berjarak dan terselamatkan dari keriuhan di seputar dan keseharian kita. Sebuah kondisi yang menyebabkan kita seolah “mabuk kata”, atau hanyut dalam arus bandang imaji yang tak berkeputusan. Puisi lahir seperti sebuah “kecelakaan”, atau, kalau anda suka mendramatisasinya, seperti “takdir” itu sendiri.

Karena itu kelahiran puisi tak bisa direncanakan, dan tak mungkin diulangi lagi. Kalau kita memaksakannya juga, kita hanya akan mendapatkan tiruan yang sudah kehilangan spirit aslinya Karena itu tak ada jaminan seorang penyair yang hari ini menulis puisi bagus, besok atau lusa, akan menulis sama bagusnya. Bahkan tak ada jaminan samasekali ia masih akan bisa terus menulis.Puisi yang hari ini ditulisnya bisa saja puisi terakhirnya.

Karena itu sebetulnya keliru menggelari si anu atau si itu misalnya sebagai penyair “terbaik”. Sebab tak pernah ada penyair terbaik. Yang ada, mungkin, puisi yang baik.

28 November 2007

Dongeng dari Jakarta

Kau berharap menemukan kembali
bagian yang dulu hilang (tulang rusukmu
itu). Dan kau pun ngembara, dari pub
ke pub, nyelinap ke dalam
ribuan kamar, menggedor jutaan
pintu. Siapa tahu di antara lipatan
sprei, di antara ceceran mani
sebuah tanda menggores dalam
kenangan. Barangkali dia tidur
di salah satu ranjang hotel-hotel itu
menunggu kau menjemputnya. Atau
di jalan, di antara kekosongan, lampu-
lampu dan malam hari. Barangkali
tak pernah bisa kau menemukannya
kembali. Barangkali kau sudah
menemukannya, tapi kau tak yakin—
tak pernah bisa percaya semudah
itu. Dan kau pun terus saja ngembara
dari diskotik ke diskotik, dari hotel
ke hotel, mengetuk jutaan alamat
dalam sajak. Siapa tahu seorang germo
menyembunyikannya di antara pelacurnya.
Barangkali seorang pelacur akan
menempeleng kesadaranmu. Membenammu
lebih dalam lagi, menyuruk di antara
ranjang dan ceceran kuman. Sampai kau
tak menemukan lagi alasan buat
apa segala omong kosong ini
diteruskan. Sampai kau percaya
semua ini percuma. Lantas memutuskan
pulang, membunuh semua impian.
Pergi tidur, dan tak pernah bangun
lagi, sampai kiamat yang lama
diributkan itu, akhirnya tiba juga.

(Nov-1990)

26 November 2007

M i m b a r

Sajak Pulang Kerja

Pulang kembali ke rumah
Engkau pun berhenti menjadi kertas
Berhenti menjadi angka-angka
Sekadar kolom-kolom penjumlahan
Keranjang sampah para majikan
Dengan nomor dan kartu absensi
Seragam dan aturan-aturan

Di luar jam kantor resmi
Engkau kembali menjadi engkau
Seorang warga di antara jutaan lainnya
Seorang laki-laki biasa di kota ini
Dengan impian dan luka-luka
Dengan kemarahan yang dipendam
Memandang tak berdaya pada dunia


M i m b a r

Terlalu banyak orang
Naik ke atas mimbar ini
Terlalu banyak janji
Diumbar di atas mimbar ini

Terlalu banyak petuah
Untuk soal yang begitu jelas
Terlalu banyak seminar
Terlalu banyak sesumbar

23 November 2007

Trend "Sapardian" dan Nama-Nama Baru

MARILAH kita ulangi lagi statemen ini : puisi bisa jatuh dari langit, tapi penyair tidak. Proses penciptaan kadang seolah terjadi sekonyong-konyong, meskipun sebetulnya tidak demikian. Apa yang kemudian menetas menjadi puisi sesungguhnya hanya sebuah titik dari sebuah garis panjang, yang disebut proses penciptaan itu sendiri. Ia hanya sebuah perhentian sejenak, atau kesimpulan sebentar, dari pergulatan kreatif yang belum lagi tamat.

Jika puisi bisa sekonyong jatuh dari awan gemawan, maka seorang penyair selamanya lahir lewat serangkaian proses belajar. Dan salah satu cara paling gampang dalam belajar adalah dengan meniru dari para pendahulu. Pada tahap ini wajar kalau kemudian pengaruh dari yang ditiru merembes, bahkan lalu membuat kita sampai basah kuyup. Celakanya, tidak semua kita punya kemampuan (atau kemauan) untuk berhenti menjadi “pak tiru”.

Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad adalah dua nama besar yang agaknya paling banyak mendapatkan “siswa” di sekolah-sekolah puisi kita. Saya sendiri heran mengapa gerangan pilihan jatuh pada dua beliau ini—mengapa tidak Amir Hamzah, Chairil, Sitor, Toto Sudarto, Subagio, Rendra, Taufiq, atau Tarji, misalnya. Apa kurang hebatnya Rendra, umpamanya, atau Tarji, dibanding Goenawan dan Sapardi?

Saya tak punya jawab pasti atas pertanyaan itu, meskipun kata beberapa teman, sajak-sajak saya juga sangat sekali “sapardian”. Paling saya hanya bisa bilang, gaya Sapardi itu kayaknya klop dan “nyambung” dengan mekanisme kerja perabot puitik saya. Hanya itu? Ya, mungkin juga lantaran referensi puitikal saya teramat miskinnya, jadi tahunya cuma jurus “estetika gerimis jatuh” punyanya Sapardi itu.

Tapi kini tren “sapardian” sepertinya sudah mulai bisa diterabas. Bukan oleh saya—saya sih masih harus terus berkelahi sengit mengenyahkan “hantu” Sapardi dalam kerja puisi saya. Tapi oleh nama-nama “baru” seperti Afrizal Malna, Zen Hae, Gus tf, Binhad Nurohmad, Nirwan Dewanto, Jimmy Maruli Alfian, dan mungkin masih ada sejumlah nama lagi yang luput dari amatan.

Sungguh, saya sangat berharap masih akan bisa menikmati kehadiran puisi-puisi mereka lebih kerap dan lebih lama lagi.

22 November 2007

Ode buat Kamarku

Engkau tahu belaka semua rahasia
yang kupendam. Kau kenali segala serapahku,
pikiran cabulku. Dan di malam hari kau pergoki
mimpi-mimpiku. Memasuki pintumu, adalah seperti
memasuki hidupku lebih dalam lagi jadinya.
Sebab di sini bakal kujumpai kembali
segala yang terlepas dalam pergulatan
sehari-hari. Di ranjangmu teduh, kadang
aku berbaring dan hanya diam. Mengendapkan
suara-suara perih dari dunia nun di luar.
Dan lewat jendelamu yang sabar terbuka
seantiasa, kubiarkan semesta menjulurkan
rahasianya, menjamahku. Engkau adalah puisi
yang tak kunjung selesai kutulis. Sudut-
sudutmu merekam yang tak tercatat. Baris-
baris yang kucoret, padahal di sanalah
kau menunggu dan mengintipku.

19 November 2007

Dari Jakarta

Kau minta aku bersabar
Seperti kau sendiri masih bertahan
Dalam goncangan seribu bis kota
Neraka dari halte ke halte

Kau bujuk aku tertawa
Melewati tahun-tahun celaka
Ribuan peperangan dan sejumlah kematian
Orang-orang tersayang

Kau paksa aku tegak
Menantang Monasmu yang hambar
Melepas pandang ke luas cakrawala
Melangkahi gedung-gedung itu

Kau ajar aku berkenalan
Dengan kebimbangan, bahkan maut sekalipun
Membukakan waktunya perlahan-lahan
Berbagi salam dalam sajak

16 November 2007

Surat Ananda Sukarlan

Dear mas Ook Nugroho,

Perbolehkan saya memperkenalkan diri. Saya Ananda Sukarlan, tinggal di Spanyol dan saya pianis serta komponis. Manager dan teman saya Chendra Panatan selalu mengirim saya puisi2 Indonesia biar saya tidak "ketinggalan jaman" dengan dunia seni Indonesia (ini saya kirim cc nya ke dia), dan beberapa bulan memberi tahu saya tentang blog anda. Sejak itu saya sering visit blog anda dan banyak menikmati dan mengagumi karya-karya puisi anda.

Saya ingin minta izin, apakah satu atau beberapa puisi anda boleh saya bikin musik ? Saya banyak membuat karya-karya pendek dari puisi2. Kalau anda ingin mengetahui jenis musik yang saya buat, silakan mengunjungi http://www.youtube.com/ dan mencari nama saya di sana, ada beberapa lagu, antara lain berdasarkan puisi pak Sapardi Djoko Damono .

Itu saja. Boleh saya panggil Mas Ook ya ?

Very much looking forward jawaban anda, dan terima kasih sebelumnya.

Salam,
Ananda.

(Note : Informasi lebih jauh seputar pianis & komponis Ananda Sukarlan ini bisa didapat di sini, di sini, dan juga di sini).

14 November 2007

K a u

Dalam kerumunan
Aku kehilangan kau

Dengan rasa
Kau tak kunjung teraba

Dalam bahasa
Kau pun luput kubaca

Dengan sajak
Masih juga jejak

Lalu kupilih diam
Dan semakin karam

Dengan apa
Sampai padamu?

12 November 2007

L a g u

Kugerus batu
Kuperam rindu
Di akhir waktu
Lahirlah lagu

Kureguk hujan
Kuserap bumi
Di akhir musim
Jadilah kembang

Kembang kata
Kembang sajak
Mekar dari batuan
Disepuh waktu

Begitulah kau aku
Bermula rindu itu
Lalu meriap di bumi
Dalam sapuan hujan

07 November 2007

Panggung

BANYAK penyair dan “calon penyair” memandang penting keberadaan sebuah panggung baca puisi. Mereka menganggap kesempatan membaca puisi di sebuah panggung yang “bergengsi” sebagai bagian dari “ritual wajib” untuk bisa dibaptis menjadi sastrawan. Kalau tak kunjung dapat undangan, sebagian dari mereka ada yang lalu membikin panggung baca puisi sendiri. Tujuannya jelas. Forum “tak resmi” itu diharapkan bisa membantu “lebih menghadirkan” keberadaan penyairnya.

Karena persepsi seperti itulah lantas sering terjadi hal-hal lucu. Begitulah pada zaman dahulu kala berkembang anggapan “keramat” bahwa seorang penyair belum sah disebut penyair kalau belum pernah diundang Dewan Kesenian Jakarta, untuk membaca puisi di TIM. Sekarang agaknya berkembang penilaian yang mirip itu terhadap
Teater Utan Kayu (TUK).

Yang lucu, dari masa ke masa selalu saja muncul “barisan sakit hati” yang merasa diperlakukan “tidak adil”--tidak kunjung mendapat undangan padahal sudah merasa menjadi penyair yang “hebat”. Dari ketidakpuasan seperti itulah lalu lahir “genre” sastra gosip dan sastra caci-maki. Tapi, betul “maha pentingkah” keberadaan sebuah panggung baca puisi bagi seorang penyair?

Bulan ini (9 November 2007) TUK sebetulnya mengundang saya untuk membaca puisi, bersama sejumlah nama lain. Sungguh saya sangat menaruh respek pada undangan itu, tapi karena sebuah alasan yang sangat sekali pribadi, terpaksa saya menolak undangan yang mungkin banyak dinanti penyair lain itu. Pihak TUK, yang diwakili Sitok Srengenge, untunglah bisa menerima penolakan saya, sehingga di antara kami tidak mesti terjadi “pertumpahan kata”. Tempat
saya rupanya lalu digantikan oleh S Yoga, seorang penyair potensial dari Nganjuk.

Yang ingin saya garis bawahi di sini adalah, bahwa ketika memutuskan menolak undangan baca puisi itu, perasaan saya biasa saja. Artinya, saya tidak merasa sudah membuang sebuah peluang emas yang karenanya bakal merongrong keberadaan saya selaku penulis.

Kesempatan membaca puisi di TUK—jika kesempatan itu saya terima—pastilah akan membantu lebih mengenalkan karya saya ke publik yang (mungkin) lebih luas. Barangkali juga lewat forum itu bakal muncul celah atau peluang menerbitkan buku. Dilihat dari sini, mungkin memang ada sejumlah kesempatan yang sudah saya “sia-siakan”. Tapi saya kira, segalanya akhirnya terpulang pada saya juga.

Artinya, awet atau tidaknya kepenyairan saya itu, akhirnya sangat tergantung pada talenta dan kegigihan saya memperjuangkannya. Saya harus bertarung sendirian di sana, di batas angan dan pengalaman itu. Di sana, anda semua pun paham, tak ada yang bakal bisa membantu saya, atau sebaliknya menjegal saya. Tidak TUK. Tidak juga Saut Situmorang.

05 November 2007

Pertanyaan yang Mengganggu

Sungguh, bagi seorang pengarang, tak ada pertanyaan paling relevan kecuali : masih perlukah dirinya mencipta bila semua telah ada dan kebenaran sudah dirumuskan? (Gus tf Sakai, Pengarang dan Keberbagaian, Kompas 2 November 2007, rubrik Humaniora – Teroka)

Untunglah tidak ada jawaban tunggal atas pertanyaan ini. Kalau tak keliru, Goenawan Mohamad pernah ada menulis statemen berikut, “… tentu saja dalam demokratisasi itu yang penting bukanlah munculnya beberapa orang jenius, tetapi ramainya orang bergembira dalam proses penciptaan” (saya kutip luar kepala, mungkin tak persis, tapi esensi pesannya mudah-mudahan tak meleset).

01 November 2007

Lukisan Rumah

Rumah tak selamanya ramah,
akhirnya kau tahu itu. Ada di dalamnya
selusin aturan main, dan entah apa
lagi, yang suatu saat bisa kelihatan

konyol dan tak masuk akal samasekali.
Tapi gilanya, kau tak mungkin
bisa begitu saja membatalkannya,
atau menganggapnya saja tak pernah

ada, meskipun semua yang serba
muskil itu berlangsung dalam rumahmu
sendiri. Rumah juga tak selalu
nyaman, kau tahu juga itu akhirnya.

Ada boneka lucu yang tiap sebentar
merengek, ingin merebut sebagian
kecemasanmu. Belum lagi perempuan
bengis yang dahulu menawarimu

buah terkutuk itu. Keduanya adalah
perangkap manis yang kau pasangkan
sendiri pada sepasang tangan nasibmu.
Rumah, ternyata juga mirip penjara,

apa boleh buat. Semuanya lengkap di sini :
aturan-aturan ganjil, sipir kejam yang diam-
diam mencintaimu, lalu tawanan malang,
yang nahas terjebak dalam sel rindunya

29 October 2007

Di Depan Sebuah Lukisan

Gunung-gunung dan langit tak berubah
Mereka tetap seperti dahulu kala : menunggu setia
Kitalah yang tak pernah bisa menepati janji
Berputar-putar, akhirnya lenyap dalam bahasa

25 October 2007

Setiap Kata

Setiap huruf
Punya harga
Setiap bunyi
Punya arti

Setiap kata
Adalah taruhan


Setiap baris
Bahkan desis
Adalah seru
Lambai padamu

Setiap judul
Adalah jejak
Selangkah
Lebih dekat

Setiap sajak
Adalah teriak


Sekarat
Kerapuhan
Yang menolak
Tumbang

21 October 2007

Bab Perpiahan

Setelah kau pergi
Hidup jadi remeh dan tak berarti
Musim hanya lewat, angin melengos bisu
Kota tak menyapa, dan aku kembali
Jadi robot yang tak berpikir

Setelah kau pergi
Aku mengerti sakitnya ditinggal
Berdiri sunyi di persimpangan ini
Kulihat waktu melindasku
Dan cuaca bagai mengejekku

Setelah kau betul pergi
Dunia kembali jadi ancaman
Sedang aku tak punya lagi apa pun :
Sekadar nama buat kubanggakan
Atau alamat tempat singgah

17 October 2007

Tiada Lawan Selain Waktu

TAHUKAH Anda bahwa lawan yang terutama harus dihadapi seorang penulis bukanlah para kritikus yang suka asal bantai, atau para redaktur kolom sastra di koran yang sering diganyang dari belakang, dan dituduh telah “memacetkan” perkembangan kesusasteraan. Bukan juga para editor penerbitan yang diam-diam bertindak sebagai “tuhan” atas karya-karya yang ditawarkan pada mereka. Bukan. Bukan. Bukan. Lawan terberat seorang penulis adalah waktu.

Pernah ada “sindiran” bahwa umur kreatif sastrawan Indonesia mencapai puncaknya pada saat sastrawannya berumur 20 atau 30-an, dan sesudahnya mulai meredup, lalu pada usia 40 semakin suram, untuk akhirnya “mati” pada umur 50. Tapi sinyalemen itu ternyatalah tidak sepenuhnya benar. Sitor Situmorang, umpamanya, masih menulis sampai saat ini. Dan jangan dilupakan Goenawan Mohamad, yang tambah tua tampaknya makin menjadi.

Tapi di sisi lain memang ada cukup contoh yang membuktikan kebenaran omongan itu. Eka Budianta, seorang penyair cukup ternama, sepertinya cocok sekali dengan gambaran pendeknya umur kreatif itu. Eka Budianta—bersama sejumlah nama “besar” lain, sebutlah si kembar Yudhis dan Noorca—berguguran, atau setidaknya menunjukkan penurunan kualitas karya sewaktu memasuki umur pertengahan.

Pertanyaan besarnya adalah mengapa Sitor dan Goenawan bisa awet, sedang Yudhis cs begitu cepat kehabisan bensin? Kita mungkin akan menyebut hal-hal seperti kesibukan kerja, dan perubahan kondisi hidup ke arah kemapanan finansial sebagai faktor penyebab kendurnya spirit kreatif itu. Marilah kita lihat sejauh mana pendapat itu benar, atau salah.

Sitor mungkin betul bukan figur “sibuk”, sehingga ia beruntung bisa memanfaatkan situasi “nganggur”nya untuk tetap menulis. Tapi Goenawan Mohamad kita tahu adalah seorang yang super sibuk, tapi tetap bisa menjaga “iman” puisinya. Dan kalau bicara kemapanan finansial, kurang mapan dan makmur bagaimana lagi beliau? Toh semua itu tak mengguyahkan gairahnya untuk terus menulis.

Ada istilah “passionate blogger’, untuk menyebut para blogger yang terus dengan bergairah ngeblog tanpa peduli apakah ada orang yang membaca atau mengomentari tulisannya. Mereka terus ngeblog, karena dasarnya memang mencintai kerja ngeblog itu. Cinta jugalah agaknya yang terus memompa Sitor, Goenawan (juga Sapardi) untuk terus menulis puisi. Dan, cinta jugalah agaknya yang sanggup menaklukkan waktu.

11 October 2007

Jalan Kembali

Aku sekedar pengulangan
dari yang pernah ada, dan akan kembali
ada. Bukankah begitu? Hidupku
tak lebih jelek jadinya
dibanding lainnya. Sekian luka
menusuk tahun-tahun kosong umurku.
Sekian mimpi melambai perih
di ruang-ruang sunyi. Kecewa dan putus asa ini
pasti juga menjerat yang lain. Hidupku
tak jadi lebih beruntung. Semua
hanya pengulangan. Sekian kehilangan
merampokku, sekian tanda kehormatan
menodai tujuan dan makna hidupku
yang di balik bayang-bayang
tumbuh mengembang. Merentang
serupa maut menghadang
di jalan rembang. Bukankah betul –
aku sekedar mengulangi lagi yang dulu
pernah juga menderamu?

08 October 2007

Tak Ada Cerita

Tak ada teori
Bagaimana menulis puisi

Tapi begini saja
Menulis puisi barangkali
Sama dengan kencing
Atau mirip berak

Artinya
Kapan saja
Di mana saja
Kalau sudah saatnya
Kau pun terbirit mencari jamban

Dalam jongkok nikmat
Rasakan itu kelegaan
Saat kata-kata bagai tahi
Meluberi jambanmu

Jika penjelasan ini
Jauh dari memadai
Malah terkesan asal
Haraplah bersabar
Dan mohon dimaafkan

Sebab memang
Tak pernah ada cerita
Bagaimana keindahan tercipta

03 October 2007

Sastra Gosip

GOSIP memang bukan monopoli kelompok seleb tertentu saja. Kelompok yang menyebut dirinya sastrawan pun ternyata meminatinya. Bedanya, kalau gosip di kalangan seleb biasanya muncul dalam beragam gaya dan tema, maka gosip di kubu sastrawan, tema dan gayanya dari dulu itu ke itu saja. Polanya selalu berulang. Ini agak menyedihkan tentu, karena untuk sekedar bergosip pun sastrawan kita sepertinya miskin kreasi.

Kalau hari-hari ini Komunitas Utan Kayu (selanjutnya KUK) atau Teater Utan Kayu (seterusnya TUK) kebanjiran caci-maki dari sekelompok sastrawan yang terang-terangan menyebut diri sebagai“Anti KUK”, maka ingatlah bahwa itu semua hanya pengulangan dari cerita lama.

Kalau sekarang yang jadi sasaran tembak adalah KUK, maka dulu kelompok yang kebagian hujat an itu bernama Majalah Sastra Horison, dan TIM dengan Dewan Kesenian Jakartanya. Inti ceritanya pun masih sama. Ada sejumlah nama yang merasa “tidak puas” pada kelompok sastrawan lain yang mereka tuduh sudah berlaku “tidak adil” karena hanya mengakomodir karya-karya penulis yang dianggap senafas ideologinya.

Dasar keberatan seperti ini sungguh mengherankan—dan terasa kekanakan. Sebab bukankah wajar dan sah saja apabila seorang redaktur, atau sebuah tim redaksi, atau sebuah kelompok seni, menetapkan sebuah standar nilai baginya dan dengan konsisten lalu membentenginya dari segala “rongrongan” nilai lain yang tidak sepaham—sebagaimana kelompok “Anti KUK” pun dengan ngotot melakoninya? Artinya wajar dan sah saja kalau Jurnal Kalam, umpamanya, menerapkan aturan yang berbeda dengan Majalah Horison, sebagaimana Majalah Bobo pun berbeda hembus auranya dengan majalah Mombi, dan seterusnya.

Dengan logika seterang benderang begini maka “sastra gosip” sebetulnya tak perlu ada. Kecuali bagi mereka yang merasa betul-betul sudah mentok berkarya, lantas mereka yakin bahwa sejumlah manuver “aneh” karenanya perlu dilakukan guna memaksa orang banyak berpaling padanya. Adakah kelompok “Anti KUK” termasuk kategori sastrawan seperti ini?

Mohon dicatat, sejumlah nama yang dulu pernah terlibat dalam Pengadilan Puisi 1977—sebuah manuver “aneh” yang dilakukan untuk menggoyang Majalah Horison—akhirnya dikenal bukan karena peristiwa Pengadilan Puisinya sendiri, tapi karena karya-karya mereka memang terbukti layak dikenang. Mereka itu antara lain Sutarji Calzoum Bachri, Abdul hadi WM, Darmanto Yatman, Sides Sudyarto DS, dan sejumlah nama beken lainnya.

Kini baiklah kita menunggu, adakah kelompok sastrawan “Anti KUK” akan bisa meninggalkan juga jejak-jejak karya yang memang layak dikenang—di luar aksi-aksi non literer mereka yang memang musti dikatakan jauh dari kaidah estetika—dan etika--itu.

30 September 2007

Kejadian Puisi

Waktu Senggang Penyair

Kalau sedang tak ada puisi mampir bertamu
Saya suka duduk santai di serambi menontoni cuaca
Menyerahkan rindu kembali kepada waktu
Membebaskannya dari beban kata-kata dan bahasa
Bersama musim, kami pun kembali ke haribaan semesta


Kejadian Puisi (3)

Kalau sudah asyik menulis puisi
Ia pun lupa umurnya bukan 25 lagi
Ia juga tak ingat anak sudah dua
Kontrakan rumah habis minggu depan
Dan rapelan gaji belum juga dibayarkan

Cuma puisi bisa membuatnya begini
Mengantarnya pada kelegaan surgawi
Jadi, siapa bilang puisi tak bikin mabok?
Inilah minuman sejati dari kahyangan
Netes dari racikan tangan dewa sendiri

23 September 2007

Kwatrin Senggang

Mengeja Sitor
Mengaji Sapardi
Oleh Goenawan
Saya tertawan

Sebab ajaib
Lentur sirkus imajinya
Saling salip
Pun begitu tertib

Menorehkan bekas
Begitu lekas tapi
Serupa unggas
Berkisar ke lain batas

Selaku penyair
Saya pun tersihir
Menimangnya gundah
Tak mau sudah

19 September 2007

Kado Ulang Tahun yang "Manis"

PERSIS pada ulang tahunnya yang pertama, situs ini mendapat kado yang sungguh “manis”. Entah kena gempa apa, mendadak saja tampilan blog ini jadi berantakan seperti anda lihat sekarang. Saya sungguh tak tahu apa yang sebetulnya terjadi—tapi barangkali inilah resiko punya situs yang gratisan.

Seorang teman, Saeful Badri, yang memakai template sama ternyata mengalami nasib serupa : tampilan templatenya jungkir balik. Yah, setidaknya saya tidak sendirian dalam musibah ini. Tapi Saeful kayaknya sudah lebih cepat pulih. Saya, karena dogol dan tak punya waktu, baru bisa bikin press release ini.

Mohon maaf kepada para pengunjung yang jadi merasa terganggu dengan hal ini. Terima kasih kepada anda yang mau juga tetap mempir ke sini. Saya akan berusaha sedapatnya memperbaiki tampilan blog ini. Jika tidak mungkin, terpaksa saya akan ganti kulit. Apa boleh buat.

17 September 2007

Aku Terus Belajar

aku belajar sabar
dari segala yang kasar
yang ditimpakan pada badan
dan melukai pikiran

meski tak berdaya dan sakitan
berhadapan dengan kenyataan
yang serba tak masuk akal
aku terus belajar tawakal

seraya berkeringat darah
aku belajar dengan tabah
jejakku perih terus melangkah
menempuh satu-satunya arah

begitulah, aku terus belajar
pada segala yang barbar
yang anehnya dianggap semakin wajar
di ini zaman serba kurang ajar

13 September 2007

Wars Within or Tempo Undercover

JIKA anda seorang pembaca fanatik majalah Tempo, yang dengan setia mengikuti perjalanan pasang surut majalah berita ini selama beberapa puluh tahun keberadaannya, maka buku Wars Within (penerbit Dian Rakyat, Agustus 2007) yang ditulis Janet Steele, Asscociate Profesor pada The School of Media and Public Universitas George Washington ini, “haram” untuk dilewatkan.

Diterjemahkan dengan bagus oleh Arif Zulkifli, Janet Steele menulis dengan gaya naratif yang menjadikan bukunya selain “perlu”, juga “enak” dibaca. Ia mendasarkan bukunya pada hasil observasi yang sangat intens, melalui setidaknya 100 wawancara dengan para pendiri dan penulis Tempo, dan memanfaatkan pula timbunan arsip berita yang belum pernah disiarkan.

Ia pun melibatkan diri dalam keseharian majalah itu : hadir pada rapat-rapat intern, ikut bergadang pada malam-malam tenggat, bahkan juga nimbrung dalam acara-acara non formal yang diadakan keluarga besar majalah berita yang pernah dianggap “paling penting” ini.

Tempo memang sebuah media yang unik. Lahir dari rahim Orde Baru—bahkan sampai batas tertentu sering dituduh atau dianggap memainkan peran sebagai “corong” Orde Baru—tapi pada perjalanannya kemudian harus berbenturan, bahkan kemudian “dibunuh” oleh rejim yang pernah merahiminya. Buku ini berhasil memaparkan dan menganalisis dengan hampir senpurna perjalanan panjang itu.

Mulai dari periode semasih berkantor di Proyek Senen--sebuah kawasan padat dan keras di Jakarta, yang lantainya “sering bergoyang”--masa ketika “jumlah orang sedikit, kerja siang malam, lepas baju, merokok, teriak-teriak, joke, segala macam” (hal 206) menuju periode yang “efisien” dan “terorganisir” di kawasan bisnis modern, Kuningan, Jakarta., tapi yang kemudian malah berbuntut pada pecah dan hengkangnya sebagian dari mereka ke media lain.

Tentu saja bicara tentang Tempo tidak mungkin kalau tidak ngobrolin juga Goenawan Mohamad (GM), seorang yang perannya, kata Nono Anwar Makarim, “tak tergantikan”. Justru salah satu daya tarik lain Wars Within adalah karena keberhasilan Janet Steele memotret sosok penyair yang memang sudah sejak awalnya menjadi “ruh” dari Tempo ini.

Oleh rekan-rekan dekatnya GM sering digambarkan sebagai sosok yang “pemalu dan tertutup”, yang gerak-geriknya, kata Nono Anwar Makarim, seperti orang yang belum makan selama 2 hari. Ketika Tempo bertambah makmur GM sering disindir sebagai orang yang “berhasil” membawa Tempo menjadi begitu “kompromistis pada penguasa”. Salah satu hasilnya adalah sewaktu dibredel pada 1982, dengan tidak kelewat susah payah majalah itu akhirnya bisa terbit kembali. Ada juga yang mengejeknya sebagai “kapitalis malu-malu kucing”.

Tapi gelombang prahara yang menerpa Tempo kemudian mengubahnya menjadi “orang nomor satu yang paling berbahaya di Indonesia”, setidaknya begitulah penilaian dinas intelijen negara saat itu. Ia terlibat dalam serangkaian manuver politik bawah tanah yang berbahaya untuk memperjuangkan terbit kembalinya Tempo. 21 Mei 1998 Soeharto lengser—kejatuhan yang terlalu cepat, kata GM, karena infrakstuktur yang diperlukan untuk kehidupan yang demokratis belum lagi siap—dan Tempo pun “bangkit” kembali dari kuburannya di tengah situasi euforia yang kebablasan.

Jika dihitung seksama, dengan memasukkan juga masa 3 tahun pembungkaman (1994-1998) ke dalamnya—karena pada kenyataannya Tempo memang tidak pernah sepenuhnya bisa dimatikan (Prolog, hal.x)—umur majalah ini sekarang sudah 35 tahun. Lebih panjang dari usia rejim yang pernah mencoba membekapnya.

10 September 2007

Dua Puisi Tamu

ELINOR WYLIE :

R a m a l a n

Aku akan dibaringkan tersembunyi
Di sebuah bilik di antara pohon-pohon alder,
Belakangku : kekosongan dan pintu terkunci,
Depanku : keberuntungan bukan lagi bagianku.

Aku akan berbaring sebagai layaknya orang-orang kudus,
Di antara harum hamparan kain-kain lunak,
Di atas ranjang bergaris dengan warna biru terang,
Sempit, dingin, dan tertata bersih.

Malam kemudian datang bagai gumpalan kaca
Di belakang jendela, dengan angin
Yang bergerak demikian pasti, berhembus garang
Memadamkan apiku penghabisan.


SARA TEASDALE :

S e n d i r i

Tahun-tahun yang lewat mengajarku semakin bijak,
Kubuang sudah banyak dari ketamakan masa mudaku dulu
Berbagi kesan dan pengalaman dengan setiap yang datang,
Atau ke dalam kata-kata, kubentuk pikiranku.

Satu hal tetap milikku, apakah mereka datang atau berniat enyah
Asal saja kukenal diriku dan kukuasai kehendakku,
Penuh gairah kudaki malam-malam musim panas,
Kusaksikan bintang berlayar antara terjal perbukitan.

Biar saja mereka mengira aku dengan cintaku begitu tulus,
Biar saja semua itu, padahal aku begitu sunyi dan sendiri,
Sebab kalau sekaliannya itu dipandang cukup, apa masih penting,
Apa aku ini bunga atau hanya bongkahan batu?

(Terjemahan bebas oleh Ook Nugroho)

06 September 2007

Antologi Puisi Blogger?

Penyair Nanang Suryadi lewat shoutbox situs ini menawarkan ide yang buat saya menarik, yaitu membuat sebuah antologi puisi bersama khusus para blogger. Saya tak tahu apakah Nanang sekedar mengeluarkan celutukan iseng saja, atau sungguh serius dengan tawarannya itu. Kalau itu serius tentu akan memerlukan ikhtiar yang tidak mudah—sebagaimana galibnya usaha penerbitan buku puisi di negeri ini, umumnya.

Di luar masalah biaya produksi yang pastilah menjadi soal nomor satu yang mest dibereskan, ada soal lain yang juga tidak mudah diselesaikan. Para rekan blogger saya rasa akan menyambut tawaran penerbitan antologi ini dengan bersemangat. Jadi tidaklah sulit mencari dan mengunpulkan bahan untuk antologi itu—jika misalnya kelak ide itu jadi direalisir.

Tapi justru di situlah juga masalahnya. Sudah lama ada anggapan tak sedap ke alamat sastra blog karena kualitas muatannya dianggap “rendah”—kalah, atau dianggap “kalah” dengan sastra koran. Itu bisa saja terjadi karena blog adalah media pribadi. Jadi bermutu atau tidaknya sebuah blog sepenuhnya terpulang kepada kontrol dan kejelian pemilik blognya sendiri.

Subyektivitas—yang kebablasan--menjadi “musuh” terberat yang harus dikalahkan seorang pemilik blog, juga para pengelola milis-milis sastra. Pandangan miring ke alamat sastra blog agaknya juga diamini oleh para bloggernya sendiri. Itu, misalnya, bisa kelihatan dari kebiasaan mereka yang suka memberi ucapan selamat apabila ada rekan blogger yang puisinya “berhasil” menembus blokade sastra koran.

Ucapan selamat itu secara gamblang mengindikasikan pengakuan mereka bahwa sastra koran dianggap lebih punya pamor, lebih terhormat, dan karenanya juga “lebih bermutu” ketimbang sastra yang ditemukan di banyak blog. Banyak miilis sastra juga dipandang enteng karena isinya dianggap “kalah” dengan sastra koran. Konon para penjaga milis lebih suka mendahulukan faktor “perkawanan” sehingga kualitas terabaikan.

Maka jika ide yang ditawarkan Nanang Suryadi jadi direalisir, hal-hal ini hemat saya harus menjadi PR pertama yang dibereskan. Ini adalah soal yang gampang diomongkan, tapi bakal susah dilakukan, karena mungkin akan ada teman baik yang terpaksa dikorbankan untuk itu. Tapi itulah harga yang antara lain harus dibayar apabila kita menginginkan antologi itu—jika betul-betul terbit—tidak sekadar hadir, tapi juga menjadi penting kehadirannya.

04 September 2007

Dari Puisi Ini

Aku tak berharap banyak
Dari puisi ini

Kata-katanya yang aus
Tak bakal menghapus
Mimpimu telanjur hangus

Tapi barangkali
Ada sebuah ruang
Di antara lengang baris

Secercah celah
Di mana sedih
Dan yang agaknya mustahil
Masih terasa berarti
Dan punya harga

Hingga musim
Kembali berdenyut
Dan kisahmu berlanjut

Tapi selebihnya
Aku tak berharap banyak
Dari puisi ini

02 September 2007

Hujan

Hujan melukis kesunyianmu.
Genangan di jalan
memantulkannya kembali
dan lampu-lampu
dan malam hari
membuatnya sempurna
seperti adegan
dalam sebuah film
yang pernah kautonton
entah kapan.

Tapi ini bukan
dalam sebuah film
pun tak ada tokoh utama
atau kisah dramatis
sebagaimana layaknya
kita sangka.

Hanya ada hujan
jalanan basah
dan lampu-lampu
dan malam hari
yang membuatnya menjadi
sedikit lebih berarti.

26 August 2007

Nirwan Dewanto, 20 Tahun Kemudian

NIRWAN DEWANTO adalah sebuah fenomena. Ia membuat banyak orang terlongong-longong pada Kongres Kebudayaan 1991 dengan perfoma intelektualnya yang begitu prima saat itu. Dalam usia begitu muda ia tak kelihatan jadi kagok atau minder duduk berendeng dengan sejumlah nama besar dalam jagat “persilatan” intelektual di negeri ini..

Namun sebetulnya beberapa tahun sebelumnya ia sudah “hadir”, tapi boleh jadi banyak orang belum begitu memperhitungkannya. Sajak-sajaknya yang memikat membombardir Dialog, ruang budaya koran Berita Buana yang pada masa itu menjadi salah satu forum sastra yang paling diperhitungkan—di luar majalah sastra Horison.


Pada 19 Juni 1987 bersama Acep Zamzam Noor dan Soni Farid Maulana ia tampil di TIM dalam sebuah acara baca puisi yang diberi label “Tiga Penyair Bandung”. Bagi saya pribadi forum ini menjadi sebuah penanda awal yang cukup meyakinkan bahwa betul seorang penyair (dan pemikir) baru sudah lahir di tengah kita.

Dalam diskusi yang diadakan sesudah pembacaan puisi itu ada beberapa hal menarik yang terlontar. Nirwan bertutur perihal sajak-sajak yang barusan dibacakannya, yang dicomotnya dari Buku Cacing, kumpulan sajak pertamanya yang entah mengapa hingga kini urung terbit.

Sajak-sajak dalam buku itu adalah hasil pengembaraan teknisnya. Di sana persoalan “bentuk” lebih mendapatkan perhatiannya. Bentuk di situ digarapnya habis-habisan. Hasilnya memang sajak-sajak yang secara teknis "sempurna”. Tapi bukan tanpa resiko. Irawan Sandya menyebut sajak-sajaknya sebagai “gelap dan sukar didekati”. Sajak berikut ini mungkin bisa dijadikan contohnya :


Improvisasi 4

Bulan telah pecah
Oleh ombak :
Dan kini ia mengeras kembali
Di antara rerumputan

Bagai sekuntum bunga

Dengan sisa wewangian
Aku menyusun malam
Yakni ketika lautan
Memantulkan wajah kita

Mataku penuh pasir
Dari kuntum ke kuntum pastilah
Kau tengah bergulir

Biarkanlah embun berkilat
Memimpikan ombak
Langit tak bakal mengenali kita
Tapi ingin bernyanyi di jalanan :
Tak ada rahasia di lautan
Tak ada luka di taman

Jika bulan mencurimu
Memabukkanmu dalam ayunan
Aku akan terbaring beku
Menampung cahayanya dengan mulutku

Atas penilaian itu Nirwan menjawab bahwa dia sudah beranjak pada tren lain. Bentuk tidak lagi menjadi tujuan utama. Buku Cacing adalah sebagian dari masa silamnya, yang tak bakal kembali, katanya menegaskan. Ia pun menunjuk beberapa sajak untuk lebih menjelaskan maksudnya, seperti misalnya penggalan dua sajaknya di bawah ini :

Jika cinta bertanya, manakah yang lebih indah
Memiliki seorang perempuan atau seekor anjing?
Tundalah jawabanmu sampai akhirnya kau mati
Dan cinta akan akan tahu
Bahwa kau masih terikat di bumi

(Dari sajak Cinta adalah Teror)

Dan jika aku tak bisa membedakan lagi
Satu musim lewat dan satu musim lain datang
Aku akan membuang semua pakaian dan sepatuku
Berlari telanjang di jalanan memandang arah neraka
Biarlah gedung-gedung itu tersipu malu melihatku
Sampai seorang anak datang mengerat kelaminku
Dan dari lapangan rumput kering yang masih tersisa
Kutulis surat kepada ikan-ikan di laut dengan darahku
Agar mereka selalu bersabar menunggu hari kematianku

(Dari sajak Masa Kanak-Kanakku Mengambang di Laut)

Terasa memang ada perbedaan “suasana” dalam baris-baris di atas. Dalam istilahnya sendiri Nirwan berkata bahwa ia tengah beranjak dari model sajak-sajak yang “tertutup” ke bentuk sajak yang lebih “terbuka”, lebih longgar dalam struktur pengucapannya. "Saya ingin bahasa puisi saya menjadi bahasa sehari-hari, dan bahasa sehari-hari saya menjadi puisi", ujarnya..

Tentulah menarik untuk melihat seperti apa sajak-sajaknya 20 tahun sesudah statemen retorisnya itu. Kalau mengambil sajak-sajaknya di Kompas sebagai contoh, maka menurut saya Nirwan saat ini justru "kembali" pada periode awalnya, periode tatkala “bentuk” menjadi target artistiknya. Sajak-sajaknya kembali pada bentuk yang “tertutup”, dan bagi saya masih saja terasa “pekat serta susah” didekati. Kita lihat saja kutipan berikut :


Perenang Buta

Sepuluh atau seribu depa
ke depan sana, terang semata.
Dan arus yang membimbingnya
seperti sobekan pada jubah
tanjung yang dicurinya.
Tak beda ubur-ubur atau dara
mendekat ke punggungnya
yang tumbuh sekaligus memar
oleh kuas gerimis akhir Mei.
Ia seperti hendak kembali
ke arah teluk, di mana putih layar
pastilah iri pada bola matanya.
Tapi ia hanya berhenti, berhenti
di tengah, di mana rambutnya
bubar seperti ganggang biru
atau gelap seperti akar benalu
sehingga betapa mercusuar itu
ragu-ragu memandangnya.

(Dikutip dari Kompas, 5 Agustus 2007)

Kecenderungan untuk beranjak pada model sajak yang lebih “terbuka” ternyata tidak berlanjut.Tapi secara kualitatif tak ada keberatan yang bisa diajukan pada puisi-puisi terbarunya itu. Sajak-sajaknya masihlah sangat sedap dinikmati. Saya pribadi teramat menantikan kelahiran atau terbitnya buku puisinya. Tapi Nirwan Dewanto agaknya bukanlah jenis penulis yang suka terburu-buru menerbitkan buku, meskipun kesempatan baginya begitu terbuka.

23 August 2007

Minggu Petang Seorang Pegawai

Berilah Kata

Berilah aku kata secukupnya
Dan baris yang tak berlebih
Sekadar menjaga akal warasku
Supaya tidak kulampaui batas

Seraya merawat luka bumi
Pada sejudul yang kiranya pantas
Dalam seayat yang semogalah sarat
Utuh kurangkum sekarat musim


Minggu Petang Seorang Pegawai

Semua sudah disiapkan
Kaus kaki bolong dan sepatunya

Semua sudah dipasrahkan
Seragam luntur lusuh tergantung

Semua sudah berakhir
Libur yang adalah tidur ngelindur

Adapun tuhan, adapun tuhan
Sayup kabar pada rusuh ingatan

21 August 2007

Madah Kelam

Sajak Tak Selesai

Baris awalnya
Menggoda larut malam

Mendusin esoknya
Kutambahlah sebanyak variasi

Tapi seharian itu
Gagal kurumuskan

Sepatah dua kata
Guna menutup baris akhirnya


Madah Kelam

Mungkin kuperlukan sosok
Geliat ngeri pada puncak salib
Supaya bisa kugenapkan nyeri
Mengucap padaku gaib lagi rahasia

Mungkin kubutuh juga sepi
Serupa petang turun di taman kota
Dan bebangku kayu yang sepertinya meratapi
Para sekutu yang raib dihalau bayang

Mugkin, bakal kurindukan malam
Kelam yang merangkum kisah
Pada jari-jemariku sebentar berdarah
Sedang aku sekadar terdiam

19 August 2007

Lagu Gelandangan

Lagu Gelandangn

Jika lapar aku makan
Jika lelah aku pun rebahlah
Bintang-bintang berebut memasukiku
Membuatku subur dengan impian

Dilihat begini apa susahnya hidup
Tak risau dengan jadwal dan menu
Dunia adalah meja perjamuan yang luas
Angin dan debu tak habis kuhirup

Hidup hanyalah suatu hari
Serupa rongga antara langit dan bumi
Berjubahkan mantel kemiskinan
Hatiku tak bersepatu melangkah melewatinya


Serupa Kitab Terbuka

Aku bertanya-tanya
Apa yang membikinku masih tahan
Melewati segala kegilaan ini

Kau menjawab kalem
Masukkan aku sebagai jawab
Penutup atas tanyamu

Sungguh tak ada yang rahasia
Serupa kitab terbeber di meja
Kecuali tak mahir kau membaca


Mesin Telah Dimatikan

Mesin-mesin telah dimatikan
Seluruh sistem kembali pada alam
Di antara kelengangan ruang-ruang pabrik
Gelisah langkah sepatuku jadi nyata

15 August 2007

Franz Magnis Suseno against The Bakrie Family

PENGHARGAAN Achmad Bakrie Award tahun ini salah satunya diberikan kepada Franz Magnis Suseno. Pastor Jesuit ini disebut berjasa sebagai ilmuwan Indonesia yang gigih membahas masalah-masalah bangsa dari sudut etika selama 4 dekade terakhir ini. Dan sebagaimana kita tahu, Frans Magnis Suseno menampik penghargaan itu.

Penolakan itu adalah bentuk protesnya kepada keluarga Bakrie yang dinilainya belum melakukan tindakan yang jelas untuk mengatasi bencana lumpur di Sidoarjo yang sudah memakan bukan hanya banyak korban materiil tapi juga terutama kerugian non-materiil.

Barangkali ada juga yang tidak setuju dengan putusan Franz Magnis menolak hadiah itu. Sebagai pastor saleh ia memang tidak memerlukan duit hadiah itu, tapi bukankah ia bisa menyumbangkan kembali uang itu kepada pihak lain yang memerlukan. Kepada sebagian korban lumpur Lapindo itu sendiri, umpamanya.

Tapi hitung-hitungan matematis itu rupanya tidak ada dalam kamus sang romo. Menerima hadiah itu—dengan dalih moral atau sopan santun apapun—sama saja dengan “berkompromi” pada ketidakseriusan keluarga Bakrie menuntaskan masalah lumpur itu.

Penolakan tegas yang dilakukan romo Magnis mestinya mejadi “tamparan” yang menyakitkan bagi keluarga Bakrie. Adalah sebuah ironi yang menyedihkan bahwa mereka begitu royal membagi-bagikan banyak uang kepada beberapa person, sementara ribuan orang lain yang.sudah jelas sangat butuh pertolongan, malah diabaikan.

Tradisi Achmad Bakrie Award yang tujuannya mulia itu janganlah kemudian melenceng menjadi sarana penipuan atau pembohongan publik. Apa yang sudah yang dilakukan Franz Magnis Suseno barangkali boleh juga dianggap sebagai kado untuk bangsa ini yang besok lusa bakal merayakan ulang tahunnya.

Catatan Malam

Akhir kisah

Jalan-jalan ini
Berujung pada senja

Aku tak suka
Membicarakan soal ini
Tapi begitulah memang
Aturan mainnya

Tak peduli
Memutar lewat mana
Jalan-jalan ini
Hanya membawa kita
Pada malam

Aku benci
Mesti mengatakan ini
Padamu


Catatan malam

Lampu-lampu jalan
Seperti harapan
Seperti kita, lelah
Tapi tak mau sudah

14 August 2007

Di Terminal

Sejumlah tujuan terus ditawar-tawarkan
Sejumlah keberangkatan terus juga dipaksakan
Ssst, sekian kehilangan ada juga mengintai

Nyelinap diam-diam dalam kusut jadwal
Mendompleng berdesakkan pada keberangkatan
Siap mengantar kita sampai tujuan

12 August 2007

Sungai

Kuciptakan sejalur sungai
Pada lekuk liku tubuhmu
Sementara kau siapkan sampan
Cukup memuat kisah kita berdua

Kita biarkan sampan meluncur
Lantas kita pura-pura tak tahu
Arus kali yang tadinya pelan
Menderas menyeret kisahnya ke muara

10 August 2007

Topeng

Berapa topeng kau punya
Tak usah kau sebutkan
Cukup asal kutahu
Yang ini bukan kau yang asli
Bisa kurasakan itu
Kau terlebih paham pula
Kita saling intai, berharap
Seorang dari kita
Terjatuh tak sengaja
Sementara adegan bertukar
Dan kisah jadi melenceng
Berbelok pada kemungkinan lain
Yang sebelumnya tak sempat
Masuk dalam hitung-hitungan
Jadi kita kenakan topeng satunya
Dan rencana mesti diubah

08 August 2007

Acep Zamzam Noor, Penyair Santri yang Romantis

ACEP ZAMZAM NOOR adalah satu dari sedikit penyair kelahiran dasawarsa 60-an yang masih bertahan. Ia mulai dikenal dan diperhitungkan pada dekade 80-an, dan sebagai penyair kehadiran awalnya ditandai dengan puisi-puisi relijius yang banyak memanfaatkan simbol-simbol alam sebagai perabot ucapnya. Ia tergolong penulis subur, sejumlah buku puisi lahir dari tangannya, dan sejumlah penghargaan sastra bergengsi juga pernah disambarnya

Belakangan ia juga tertarik menggarap tema-tema sosial, dan sepertinya ia tak menemui kesulitan berarti memindahkan riuh-rendah keributan sosial politik di negeri ini ke dalam puisi-puisinya. Beberapa sajak lepasnya yang muncul di Jurnal kebudayaan Kalam dan harian Kompas membuktikan itu. Ia cukup berhasil menjaga roh puisinya untuk tidak sampai terkubur dalam kemarahan atau protes yang ditulisnya.

Selain tema relijius dan sosial Acep Zamzam Noor juga kerap menuliskan puisi-puisi cinta yang romantis. Buku puisinya Menjadi Penyair Lagi (Penerbit : Pustaka Azan, 2007) mungkin boleh dianggap mewakili tren “puisi romantis” itu. Antologi ini dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok 1 menampung puisi lama (1978-1989) yang kata Acep “sempat tercecer dan terlupakan” selama ini. Sebagian lagi berisi puisi-puisi barunya (1990-2006).

Menulis puisi cinta sekali-sekali bukan perkara mudah. Tak kurang dari seorang Rilke pernah memberi awas-awas dalam urusan ini. Tema ini gampang sekali menjerumuskan seorang penyair pada resiko banalitas dan klise atau visualisasi puitikal yang fisikal saja sifatnya. Apakah Acep bisa menghindar dari jebakan-jebakan itu?


Bagian pertama dari buku ini yang didominasi puisi-puisi awal Acep “remaja”, cukup banyak memperlihatkan “kecerobohan” penyair dalam memilih kata dan diksi sehingga kelihatan ia kerap kedodoran. Kelemahan itu untunglah bisa ditebusnya pada bagian 2 antologi ini. Di sini, Acep yang sudah tidak “remaja” lagi mempertontonkan kematangannya dalam mengolah kata dan rasa, sehingga kemudian terbangun suasana puitikal yang utuh.

Ada beberapa sajak yang mungkin bisa dianggap contoh puisi unggulan dari “tema romantis” Acep dari buku ini. Bacalah misalnya puisi-puisi Angin Pegunungan, Debar, Sajak Nakal, Lembah Anai, Sepak Bola, Kutitipkan, Selain Hujan, dan beberapa lagi. Secara pribadi saya kesengsem sekali pada Sajak Nakal. Puisi pendek dan padat ini memperlihatkan sebuah percobaan penyair untuk sampai pada gaya ungkap yang lain, yang “berbeda” dari banyak puisinya umumnya. Dan menurut saya ia cukup berhasil
.

Sajak Nakal

Doa-doaku
Menyelinap ke dalam
Kutangmu. Seperti tangan

Tanganku
Nakal
Seperti doa

Meremas payudaramu
Di sorga

(Menjadi Penyair Lagi, hal. 74)

Jadi, buku ini tidak jelek. Kalau ada kekurangan maka menurut saya itu disebabkan hadirnya sejumlah puisi lama Acep dalam antologi ini. Keputusan penyair memasukkan puisi lamanya menurut saya sebuah “kecelakaan”. Acep sendiri dalam pengantarnya menulis bahwa ia memasukkan sajak-sajak lamanya karena”ia menemukan benang merah yang menghubungkan puisi awalnya dengan kecenderungan terakhirnya, yaitu kembalinya ia menyukai bentuk pengucapan sederhana”. Memang, seorang penyair bisa saja terkecoh oleh puisinya sendiri.

05 August 2007

Tema Nol

Tema Nol

Tubuh yang cuma pinjaman
Umur yang ternyata sekadar titipan
Pikiran yang mungkin juga tiruan
Nama yang nyatanya entah siapa

Luka yang jadinya percuma saja
Rindu yang sebetulnya tak perlu
Alamat yang mestinya juga tak ada
Pulang yang jadinya cumalah hilang



Rumahku

Kudirikan rumahku
Di dasar mimpi
Kubangun dari
Rongsokan kata

Ruang-ruangnya
Terbikin dari kenangan
Dan ingatan yang sudah
Separoh rusak

Aku tak takut
Cuaca yang buruk
Hujan deras atau topan
Yang meniup keras

Kucemaskan waktu
Membunuh ini ingatan
Merubuhkan kenangan
Rumahku di dasar mimpi

03 August 2007

Gambaran Sebuah Kota

Di jalan-jalannya berdebu
Orang tak butuh lagi puisi

Kau bukan apa-apa di sini
Begitu saja namamu terhapus

Dalam kerumunan itu, betapa mudah
Andai ingin membunuhmu

Udara penuh asap dan racun
Masih ditambah serapah anjing

Di persimpangan yang riuh itu
Tak ada petunjuk apa pun

Dan yang kutulis ini
Samasekali bukan khayalan

01 August 2007

Hujan Pagi

Hujan pagi
Membawaku lagi padamu

Pohonan basah
Mengingatkan musim yang rapuh
Berpegang akar-akarnya
Pada bumi miring

Kesedihan tanpa kata
Disimpan dedaun

Kita hanya menanti
Kisah ini lengkap
Kuingat lagi apa katamu dulu

Bersama daun
Dalam hujan pagi
Berayun umur kita

Pada ujung tangkai

29 July 2007

Penggagas, Pencipta, Peraga

PADA mulanya adalah gagasan. Lalu pada saatnya gagasan itu bersalin rupa menjadi ciptaan. Dan untuk menjadi “nyata” atau diakui keberadaannya, ciptaan itu perlu diperagakan, dipublikasikan. Gagasan, ciptaan, peragaan ada dalam sebuah kesatuan. Gagasan tanpa ciptaan hanyalah omong kosong. Dan ciptaan yang hanya disimpan—tidak diperagakan—menjadi tidak utuh.

Mutu sebuah ciptaan sedikit banyak tergantung pada kualitas gagasan, meskipun ini bukan patokan mati. Sebab gagasan yang besar belum tentu berujung pada ciptaan yang besar juga. Buku-buku Sutan Takdir Alisyahbana yang rata-rata setebal bantal itu boleh jadi menyimpan banyak gagasan “besar” di dalamnya, tapi sebagai ciptaan banyak orang menyangsikan keberhasilannya.

Sebaliknya puisi-puisi Sapardi Djoko Damono meskipun banyak memuat gagasan yang “remeh dan sepele”, tapi sebagai ciptaan agaknya kita sepakat menyebutnya berhasil. Jadi, agaknya tak ada hal atau gagasan yang kelewat “kecil” atau “remeh” untuk digarap. Gagasan atau tema hanya bahan baku yang baru nanti ketahuan seberapa nilainya setelah proses penciptaan selesai.

Seorang seniman (dengan “S”) adalah seorang penggagas, pencipta, dan sekaligus peraga yang berhasil dari gagasan dan ciptaannya. Sebuah ciptaan yang berhasil tak membutuhkan pembelaan apa pun. Sebuah karya yang berhasil akan cukup tangguh menghadapi berbagai serangan dari manapun datangnya serangan itu. Satu-satunya ujian yang harus dikalahkannya adalah waktu.

27 July 2007

Menunggu Kata

Menunggu Kata

Kata-kata adalah cahaya
Cahaya cuma datang dari sorga
Itu sebabnya aku betah saja
Duduk di sini berlama-lama

Kau mengerti yang kumaksud?
Aku tengah menantikan cahaya
Tengah kunantikan kata jatuh
Dari sorga membebaskanku


Sepuluh Tahun

Mestinya ini sudah kutulis
Sepuluh tahun yang lalu
Tapi aku tak menemukan
Barangkali sekadar kata pembuka

Sepuluh tahun yang lalu itu
Ini mestinya sudah rampung ditulis
Tapi tak kutemukan agaknya
Alasan untuk memulainya

25 July 2007

Sajak Seminggu

Jiwaku terjepit antara hari Senin dan Sabtu
Akulah hari Minggu, merdeka tapi juga tak merdeka
Karena mimpi yang tak pernah sepenuhnya jadi milikku
Karena Selasa dan Jum’at yang mesti pula kubagi

Hari Rabu merampokku habis-habisan, Kamis menampik
Dan nyaris membunuhku, sedang hari Sabtuku diperkosanya
Tapi aku terus saja hidup, lakonku berlanjut pekan demi pekan
Menyebrangi Senin dan Sabtu, menjemput Minggu tersisa

22 July 2007

Meja Bertutur

Dari hutan mana
Gerangan dulu asalku
Sudah tak bisa kuingat lagi
Yang kutahu di sini aku
Sebuah ruang lumayan suram
Dan seorang lelaki
Sabar membungkuk di atasku
Menuliskan entah apa
Bimbang jari-jemarinya kadang
Tapi begitu takzim dia
Sebentar merenung dipandangnya
Baris-baris pilihan itu
Kata-kata dan rasa
Yang juga tak dipahaminya
Dari belantara khazanah mana
Dulu gerangan bermula
Kini di ini kamar bersahaja
Meja, puisi, dan penyair
Bertemu barangkali menyatu
Dalam ini sajak biasa
25 barisnya kebawah memanjang
Sembarang tak beraturan gayanya
Tak satu pun di antara kami anehnya
Menyadari ini keajaiban
Tak satu pun agaknya

20 July 2007

S k e t s a

/1/

Kurindukan kota
Lampu-lampu sehabis senja
Jalanan yang masih membara
Dan seorang lelaki
Yang barangkali saya
Menyusuri itu kaki lima
Mencari-cari tanda
Barangkali sebuah alamat
Mungkin sekadar isyarat
Musim yang sekarat

/2/

Kurindukan lagi
Gang demi gang suram
Yang sabar mengajariku
Bahasa bayang-bayang
Kamar-kamar redup samar
Yang pernah disinggah
Dalam kembara sangsai
Para kekasih alpa
Yang menawarkan lupa
Sesaat di kelok waktu

/3/

Kurindukan kota
Dan langitnya yang dulu
Jalanan basah sehabis hujan
Dan seorang lelaki
Yang barangkali saya
Kikuk melangkah
Melewati itu bebayang
Yang agaknya betul kamu
Mengusik di antara kenang
Jauh di dasar genang
Jalanan sehabis hujan

19 July 2007

Life without Handphone

SAYA yakin anda yang membaca artikel ini tidak tahu—dan boleh jadi juga sulit percaya--bahwa sampai saat ini saya tak memiliki handphone, bahkan saya belum merasa memerlukannya. Ada orang iseng--yang merasa pinter—pernah ngomong bahwa sekarang ini keluar rumah tanpa bawa handphone itu sama dengan keluar rumah nggak pakai baju dalam.

Agak geli juga mendengar omongan itu—dan rada tersinggung juga sih. Tapi lebih dari itu nyatanya sejauh ini saya baik-baik saja. Jadi apakah ada yang salah sebetulnya kalau hari geneh saya belum punya HP? Saya rasa handphone—seperti juga banyak pernik-pernik kehidupan “modern” lainnya, laptop umpamanya—sering kemudian jatuh menjadi sekedar kelatahan dan kekenesan dari gaya hidup sejumlah orang.

Pastilah ada orang yang perlu handphone, laptop dan sejumlah pernik lainnya lagi, untuk menunjang mobilitas dan kelancaran aktivitas hariannya. Seorang salesman yang mobilitas kerjanya tinggi pasti perlu benda yang disebut handphone itu dan mungkin juga laptop sekalian. Tapi seorang tukang sapu jalan? Seorang ibu penjual sayur keliling? Oh, saya pernah melihat seorang penyapu jalan sedang asyik berhalo-halo dengan handphonenya—dan memang itu bukan hal aneh.

Saya bukan tukang sapu jalan, atau penjaja sayur keliling. Mobilitas saya terhitung rendah, aktivitas harian saya pun cenderung rutin. Sepanjang pagi sampai sore saya pasti ada di kantor. Hanya beberapa jam saja saya berada di jalan, berdesakkan dengan copet dalam bis yang sumpek. Sisa waktu lainnya saya habiskan di rumah, bersama anak-anak dan istri tercinta.

Jadi tidak aneh kalau sampai saat ini saya belum merasa perlu punya handphone. Hanya memang soalnya jadi sedikit absurd, apabila diingat saya tidak punya HP tapi sempat-sempatnya punya blog—dua lagi—dan email—juga dua biji. Ini baru fenomena yang rada tidak biasa, dan barangkali ganjil. Atau ini juga biasa saja?

18 July 2007

Sejudul

Pinjami aku sejudul
Jika tak rela, sebait
Jika tak boleh, sepatah
Jika tak mungkin juga, sehuruf

Tambahkan sehuruf itu
Pada sejudul tak rampung
Sajakku ke puncak membubung
Rekaman sakitku panjang melulung

15 July 2007

Tarji, Chairil : Siapa Lebih Besar?

SIAPA lebih “besar” : Tarji atau Chairil? Anda punya jawabannya? Saya sih tidak, tapi menurut Maman Mahayana, kritikus dan pengajar pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Tarji “lebih besar” dari Chairil (Koran Tempo, 10 Juli 2007). Sayang sekali tak banyak penjelasan untuk penilaian yang “berani” itu. Hanya sang kritikus ada berkata bahwa “ini wacana, jadi terserah boleh setuju atau tidak”.

Bagi saya sendiri pertanyaan di atas sulit dicarikan jawabannya. Lagi pula apa ukuran yang mau dipakaikan untuk penilaian itu? Tarji dan chairil adalah sesama “pendobrak” dalam khazanah puisi kita. Chairil berjasa besar karena menyadarkan kita bahwa bahasa Indonesia ternyata bisa menghasilkan bentuk ekspresi sastra yang sebelumnya tak pernah sanggup dibayangkan.

Seperti Chairil, Tarji pun muncul pada saat yang tepat. Ia datang ke panggung puisi kita tatkala atmosfir puisi kita “dikuasai” oleh trio Goenawan-Sapardi-Abdul Hadi. Seperti Chairil, Tarji pun berjasa besar karena sudah mengingatkan kita bahwa di luar pola puisi yang ditawarkan tiga nama besar itu, masih ada celah dan peluang penciptaan yang lain. Kreativitas selalu menemukan jalannya sendiri.

Seperti kritikus Dami N Toda (alm), Maman Mahayana mengibaratkan Chairil dan Tarji sebagai “mata kiri” dan “mata kanan” dalam khazanah sastra kita. Jadi, kalau mereka adalah “mata kiri” dan “mata kanan” mengapa harus ada pertanyaan “siapa lebih besar” di antara keduanya? Bisakah salah satu mata dianggap “lebih penting” dari mata yang satunya? Sungguh pertanyaan yang “kurang kerjaan”. Maunya polemis, tapi kelewat kempis mutu soalnya.

11 July 2007

Tubuh Diamlah

Tubuh diamlah
Aku tengah menulismu
Memanjang sampai ke senja
Menembus rintang cuaca

Aku tengah melukismu :
Bebukit pada luas dadamu
Tempat Hallaj dulu ngembara
Menemu puncakNya

Menurun ke bawah :
Ngarai terjal betapa rimbun
Ke dalam agak sembunyi
Adalah liang guhamu –

Senyap sebagai sediakala
Diamlah dulu tubuh
Sebentar kurampungkan ini nyeri
Pada samar liang lukamu itu

08 July 2007

Bukan "Tema" Masalahnya

APA pun tema yang mendominasi tulisan anda—tema sosial, tema personal, reliji—yakinlah bukan di situ ukuran sukses anda selaku penulis. Lihatlah Sapardi Djoko Damono, penyair sohor papan atas kita. Selama berpuluh tahun beliau malang-melintang di dunia puisi dengan sajak-sajaknya yang mengangkat tema-tema yang amat “sepele” dan keseharian. Sapardi ternyata bisa menjaga kesehatan kreatifnya cukup dengan menghirup aroma di seputar “pekarangan” rumahnya.

Lantas ada Joko Pinurbo. Ia sukses menjadi salah satu ikon puisi kita karena “celana”, sebuah substansi “remeh” yang juga sangat sekali sehari-sehari dan tak masuk hitungan tadinya Tapi di tangan penyair ini, substansi yang “tidak puitis” ini telah diubahnya menjadi puisi-puisi kelas satu yang sebelumnya tidak pernah bisa kita bayangkan. Joko telah berhasil mengangkat “celana” menjadi substansi yang tidak lagi sekedar “celana”.

Syarat menjadi penyair sukses juga bukan tersedianya stok pengalaman nan dahsyat. Sapardi Djoko Damono mengaku suka iri kalau membaca pengalaman sastrawan lain yang serba hebat. Untunglah, sekali lagi, mempunyai pengalaman aneh atau dahsyat bukan menjadi syarat. Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo sukses karena mereka tahu “bagaimana” menyulap yang “sepele” itu menjadi “tidak sepele” lagi.

Memang, urusan kesusasteraan lebih pada masalah “bagaimana” kita menuliskannya ketimbang “apa” yang kita tuliskan. Tugas kita yang pertama adalah menemukan dulu “apa” yang menjadi tema hidup kita, atau “apa” yang paling jadi obsesi kita. Tidak usah risau—atau malu--kalau kita misalnya tidak tertarik pada tema sosial dan “besar” lainnya, tapi sebaliknya begitu kesengsem dengan hal-hal “remeh” di seputar kita. Tulislah saja “apa” yang paling ingin kita tulis. Jangan mulai menulis dengan membohongi diri sendiri.

06 July 2007

H o t e l

Katanya padamu :

“Kau ini macam sayuran
yang dimasak kemarin,
tapi masih lumayan
asal sempat dipanaskan
sebentar saja.”

Lalu ia membikin api.

Kemudian kau biarkan
kau dipanaskan.

Tidak sebentar,
sebab sayurnya meluap
membanjiri lembab sprei

ranjang kumal
di hotel kelas dua itu.

04 July 2007

Membaca Ruang

Ada ruang
Dalam kata
Ada kata
Dalam ruang

Ada aku
Pada kata
Dalam ruang itu

Ada aku
Dalam ruang
Pada itu kata

Mungkin
Tak terbaca
Terhalang cuaca

Mungkin
Sebab
Kau tak percaya

Ada aku
Tersekap
Dalam kata

01 July 2007

Orang Ketiga

SEORANG penulis mungkin saja terkecoh oleh tulisannya sendiri. Keterkecohan itu bisa datang dalam dua model. Seorang penulis bisa saja mengira ia baru sukses melahirkan sebuah karya besar, padahal itu hanya karya biasa. Atau sebaliknya, bisa jadi ia kecewa berat dengan karya yang baru ditulisnya, menganggapnya sebagai karya gagal, padahal ia baru saja melahirkan sebuah karya bagus, bahkan mungkin sebuah masterpiece.

Kadang dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyadari kekeliruan itu. Suatu ketika pernah saya mengirim sejumlah puisi ke sebuah jurnal sastra ternama. Kiriman itu dikembalikan dengan disertai alasan penolakan dari redaksinya. Tak puas dengan penolakan itu, naskah itu saya kirim balik disertai permintaan supaya redaksi memberikan alasan yang “lebih jelas” tentang alasan penolakannya. Baru bertahun-tahun kemudian saya ngeh sendiri betapa buruknya puisi-puisi yang saya kirimkan dulu itu.

Athol Fugard pernah menelantarkan naskah Tsotsi selama 20 tahun, karena menganggap itu sebuah karya yang gagal, dan tak layak terbit. Ia malah pernah mencoba memusnahkan naskah novel itu. Untunglah masih ada draft yang bisa diselamatkan, dan kemudian seorang Stephen Gray—dengan ijin ketat Athol Fugard sendiri—menyunting naskah itu, lalu menerbitkannya. Dan kisah selanjutnya adalah sejarah.

Seorang penulis ternyata juga memerlukan kehadiran “orang ketiga”—selain pembaca imajiner selaku “orang kedua” yang sudah dibayangkannya sewaktu ia menulis--yang bisa membantunya melihat dengan lebih jernih. Posisi “orang ketiga” itu itu bisa saja ditempati oleh seorang kritikus. HB Jassin pernah memainkan peran “orang ketiga” ini dalam sejarah sastra kita. Entah berapa persisnya jumlah sastrawan yang sempat dibaptisnya, dan entah berapa pula calon sastrawan yang sudah dibantainya.

Selain teman-teman karib yang bisa diandalkan dan dipercaya, sekarang ini peran “orang ketiga” itu kerap dimainkan oleh para redaktur sastra di koran-koran. Tidak semua redaktur koran bisa memainkan peran ini dengan baik. Banyak juga yang malah bikin bingung--tapi bukan tidak ada redaktur sastra koran yang bisa diandalkan. Saya ingin katakan bahwa redaktur seperti itu memang ada. Carilah dan temukan mereka, dan kesanalah sebaiknya kita kirimkan karya-karya kita. Tidak terutama untuk menguber pengakuan—atau honorarium—melainkan sebagai kesempatan mengetes seberapa jernih kita sudah menilai dengan benar tulisan-tulisan kita sendiri.

29 June 2007

Pelajaran Puisi

Pelajaran Menulis Puisi (1)

Jangan kesusu begitu
Seduh kopi dulu, campurkan gula sedikit
Supaya bisa terkenang kembali
Rasa sakit yang pernah ada

Puisinya menyusul belakangan
Kadang cuma sebaris saja mengguris
Sisanya silakan cari sendiri--
Mungkin di antara ampas kopi?


Pelajaran Menulis Puisi (2)

Isi sebuah sajak
Tidak mesti hal-hal besar
Seperti impian dan harapan
Yang membongkar bumi

Sebuah sajak
Boleh saja berisikan
Hal-hal biasa dan sederhana
Seperti sajak ini

27 June 2007

Kepada Ciliwung

Ciliwung yang lusuh
Sampaikan salamku pada ombak
Setiba nanti kau di muara

Katakan begini
Kubatalkan hasratku semula
Bergabung kembali dengan lautan

Telah kupilih
Telah kuputuskan Jakarta
Kurusetra jahanam agung ini
Sebagai muara dan ombak lautku
Pangkal dan rinduku yang sejati

Bilanglah padanya
Aku akan kerasan di sini
Tak usah cemas atau marah
Segalanya akan baik-baik saja

25 June 2007

Puisi yang Baik Itu "Menular"

SALAH satu ciri puisi yang baik konon adalah bahwa puisi itu “menular”—dan “kebesaran” seorang penyair mungkin bisa dilihat antara lain dari seberapa mampu ia menebar “epidemi”, wabah yang menular itu. Jadi berbahayakah bergaul rapat dengan puisi yang baik? Bisa berbahaya, bisa juga tidak. Itu sangat tergantung pada kekebalan serta fit tidaknya kondisi kreatif kita.

Kalau kondisi kreatif kita payah, gampang sakit-sakitan, bergaul dengan puisi yang baik—dan penyair yang baik-- bisa merusak dan akhirnya membunuh kita sebagai mahluk kreatif. Maksudnya, kita hanya akan jatuh menjadi sekedar peniru, reproduksi murah meriah dari puisi, dan penyair yang kita gandrungi itu.

Tapi kalau kondisi kreatif kita fit dan bagus, puisi yang baik malah akan bisa menstimulir kita untuk bisa lebih kreatif lagi. Penyair-penyair yang kemudian diakui sebagai penyair besar lahir dengan cara melakoni proses ini. Mereka bergaul “mesra” dengan sebanyak mungkin puisi yang baik, lalu menyerap dan “mencuri” sebanyak mungkin aura super dari puisi-puisi baik itu, dan kelak pada saatnya menggandakannya menjadi aura super yang lain, puisi baik yang lain lagi.

Jadi jika ingin mengambil manfaat dari puisi yang baik, buatlah dulu sehat kondisi kreatif kita. Tapi bagaimana cara menjadikan sehat kondisi kreatif kita? Nah inilah lucu dan ajaibnya. Kondisi kreatif kita justru hanya bisa ditempa dengan cara terus bergaul dengan sebanyak mungkin puisi yang baik itu. Orang bijak berujar “Saya tak bisa menari, tapi saya harus tetap menari--karena hanya dengan cara itulah saya akan bisa belajar menari”. Jadi, teruslah menulis, meskipun mungkin anda merasa betapa payahnya tulisan anda sekarang.

22 June 2007

Kabar Terakhir, Jakarta

Hidup tambah brengsek di kota ini,
tidakkah begitu? Di terminal, baru saja
sampai, kau mungkin kepergok
gerombol begal. Di mulut gang
waktu pulang larut, berandal-berandal
penganggur itu dengan santainya
mungkin mencegatmu : minta
rokok seraya dirogohnya
dompetmu yang kempes.
Kau kepingin cepat saja sampai
di rumah, tapi kemudian kau pun
paham, rumah juga tidaklah
nyaman lagi. Semuanya tak sama
lagi, bukankah begitu?
Golok tumpul dan belati
di bawah bantalmu itu, kini tak lagi
berarti apa-apa. Dulu kau
masih bisa merasa aman kalau
mengelus gagangnya, masih
bisa lega sehabis berdoa.
Sekarang semua itu jadi kelihatan
konyol, mungkin lucu. Mungkin
sudah saatnya kau butuh
mantra-mantra baru, dewa-
dewa baru, yang bisa
membujukmu berkemas
tidur, bermimpi sekadarnya,
bertahan sedapatnya sampai
pagi tiba lagi. Dewa-dewa baru
yang bisa mengajarmu bagaimana
bertarung dengan benar, supaya
kau tetap selamat dan tidak gila
di tempat ini. Tidakkah begitu?

21 June 2007

Mati Itu

Mati itu sunyi
Dan rahasia
Begitu ingin kukatakan
Sepatah saja

Mati itu datar
Tanpa nada
Tak ada warta
Dari seberang sana

Mati itu sunyi
Dan tak menjawab
Begitu ingin kutuliskan
Sebaris saja

20 June 2007

Epigraf

Maut tak lebih rahasia
Dari sajak. Lama kupahami hal itu
Tapi luput kusadari. Hidup hanya sebaris
Gema yang akan memulangkan kita
Kembali pada diam. Dan seperti
Dalam sebaris sajak, aku pun tegak
Di ambang waktu. Menggigil dalam kabut
Kata-kata yang melepasku ke batas.

17 June 2007

Tema Sosial dalam Puisi Kita

SELAMA bertahun-tahun berkiprah dalam kerja puisi—meskipun akhirnya hanya tercatat sebagai figuran—saya mempunyai sebuah pertanyaan “kecil” yang belum saya temukan jawabannya. Pertanyaan itu juga sering saya ajukan kepada diri sendiri, dan hingga saat ini saya pun belum bisa menjawabnya dengan memuaskan. Pertanyaan itu adalah mengapa tema sosial dalam puisi kita terasa seperti “terpinggirkan”? Mengapa pula tema sosial sepertinya “kurang diminati” banyak penyair kita?

Khazanah puisi kita begitu kaya dengan ragam puisi bertema alam dan reliji, tapi kalau mencari puisi sosial rasanya dari dulu stok kita masih nama yang itu-itu juga : Rendra, lalu Taufiq Ismail, dan dari masa-masa agak kemudian boleh disebut nama-nama semisal Yudhistira ANM Masardi, F Rahardi, dan tentu saja Wiji Thukul. Mungkin masih ada lagi beberapa nama, tapi kalaupun dijumlahkan tetap kecil sekali dibandingkan dengan jumlah “koleksi” penyair alam dan reliji yang kita miliki.

Padahal lembaran sejarah sosial politik kita tidak pernah kekurangan bahan bermutu untuk bisa dijadikan puisi-puisi sosial unggulan. Saya ingat suatu kali pelukis Hardi bilang bahwa keterlibatan sosial sastrawan kita “kecil sekali”. Buktinya majalah sastra Horison tidak pernah dibredel, katanya berseloroh. Guyonan Hardi itu menarik dicermati. Kita, misalnya, bisa bertanya mengapa halaman-halaman majalah sastra Horison—yang dianggap sebagai barometer pencapaian sastra kita—nyatanya memang lebih dominan diisi, dalam istilah Hardi lagi, “sajak-sajak gundah gulana” ketimbang puisi-puisi sosial?

Jika alasannya karena soal mutu, maka pertanyaan susulannya adalah mengapa begitu sedikit stok puisi sosial bagus yang kita punya? Mengapa kita begitu piawai menulis puisi “gundah-gulana” dan sebaliknya terkesan tergagap-gagap ketika mengolah tema-tema sosial ke dalam puisi kita? Aih, jangan-jangan gurauan Hardi perihal “kecil”nya rasa keterlibatan sosial penyair kita, ternyata benar adanya.

15 June 2007

Memandang Sungai

/1/
kalau melihatmu
di gunung
asalmu bermula
mengalir alon-alon
sabar merayap
di sela bebatuan
siapa mengira
suatu ketika
setibanya di kota
kau meluap membanjiri
kami dengan
bencana
/2/
kalau mengenang lagi
masa orokmu dulu
kencing di celana
merengek kau paksa
ibumu bangun
jam 3 pagi
siapa bakal percaya
kelak suatu hari
kau memasang bom
meledakkan cafe itu
berantakan

13 June 2007

J a n j i

Jam tiga pagi
Aku masih di sini
Menunggu kata
Datang menemuiku

Kami telah berjanji
Ketemu di sini
Pada jam seperti ini
Tidak untuk apa

Melainkan sekadar
Merampungkan sakit
Yang lama tertahan
Di ujung baris

10 June 2007

Saat Vakum Sebagai "Berkah"

SETIAP penulis, bahkan yang “juara nobel” sekalipun, pasti pernah mengalami saat-saat vakum dan buntu berkarya. Waktunya tak menentu, bisa hanya beberapa minggu, tapi mungkin saja berbulan-bulan. Itulah kiranya masa-masa paling “bete” dan mencemaskan bagi sebagian penulis. Maka ada yang kemudian menjadi tidak sabaran lalu memakai cara-cara “tidak biasa”—mengonsumsi ganja atau ramuan aneh lain--untuk memaksa sang ilham buru-buru datang menemuinya.

Ada pula yang lebih suka menempuh jalan “relijius”. Remy Sylado berkisah tentang seorang penyair Yogya yang punya kebiasaan mandi kumkum di Parangtritis sebagai upaya memanggil ilham. Ada juga yang merasa perlu melakukan “puasa” dulu, melakoni hidup bermati-raga selama beberapa waktu, karena kondisi batin yang “bersih” konon katanya berkorelasi erat dengan suasana kondusif dalam proses penciptaan.

Tapi mengalami saat-saat “vakum”, saat-saat mandul sewaktu tidak sebaris pun puisi bisa ditulis sebetulnya ada berkahnya juga. Karena seorang penyair hakikatnya adalah manusia biasa maka ia pun memerlukan jeda dari kekhusukannya menulis. Tanpa jeda itu ia akan menjadi mahluk asing—dan mungkin “aneh--di tengah masyarakatnya. Pada saat jeda itulah ia kembali berkesempatan menjadi manusia “normal”, turun dari “awan gemawan” dan mendarat di bumi sebagai orang kebanyakan pada umumnya, yang tidak terbebas dari segala tetek bengek keseharian.

Saat-saat “vakum” itu sebetulnya juga bisa disulapnya menjadi waktu yang tidak mubazir. Sebab pada saat-saat seperti itulah ia mendapat peluang untuk melihat banyak hal dari sudut pandang yang lain. Bukankah ini juga sebuah kesempatan untuk “ngeluyur” guna mendapatkan lanskap baru dan segar? Kelak setelah waktu jeda itu lewat ia pun akan kembali ke puncak “menara kata”, tempatnya khusuk mengolah hidup, sebagai seorang penulis yang sudah jauh lebih diperkaya.

08 June 2007

Masih Ada Kata

Asal masih ada kata
Tak apa kita bertahan di sini
Sebentar menyaksikan
Pelan cahaya tenggelam
Di belakang gedung-gedung itu

Kau pernah bilang
Kita bisa saja dihancurkan
Tapi asal masih ada kata
Tersisa di antara kita
Kematian akan jadi lebih berharga
Untuk dicatat

Kita akan bertahan
Menunggu lengkap kisahnya
Seraya pura-pura tak peduli
Ruang berangkat senyap
Karena masih ada kata-kata
Bangkit dari balik gelap

07 June 2007

Seperti Perjalanan

Menulis sajak
Seperti memulai perjalanan
Tapi tanpa kepastian
Alamat mana saja
Bakal jadi singgahan

Kadang hanya kabut
Menghadang di jalan
Angin dan debu menghambur
Pada jalanan berkelok
Di ujung sebuah kata

Barangkali hujan
Menderas dalam ingatan
Sewaktu kau buka peta
Lusuh dalam genggaman
Hanya musim yang dulu juga

Kenangan dan luka
Seperti pohon berbaris
Menjatuhkan daun-daunnya
Di antara gerimis dan senja
Waktu kau tiba

Menulis sajak
Seperti memulai perjalanan
Tapi tanpa kepastian
Alamat mana kelak
Menanti di akhir baris

06 June 2007

Tema Insomnia

Aku punya mimpi
Tapi tak punya tidur
Jadi tak bisa kuulur
Kisahnya sampai ke tepi

Mungkin ada sorga
Barangkali ada kau juga
Dalam mimpi itu
Tapi tak kupunya tidur

Meski kupunya ranjang
Tak bisa hadirkan dengkur
Supaya bisa terjulur
Mimpiku sampai ke bintang

03 June 2007

Jurus "Penasaran" Putu Wijaya

SEPERTI Arswendo Atmowiloto, sastrawan sohor Putu Wijaya juga melakoni ritual “menggondrongkan rambut” sebagai salah satu resep menjaga kelangsungan kerja menulisnya—hanya saja bentuknya berbeda. Putu Wijaya mengaku punya kebiasaan menanamkan perasaan “penasaran” ke dalam dirinya. Maksudnya, ia kerap menstimulir dirinya untuk membalikkan keadaan “kalah” yang menderanya menjadi sebaliknya.

Ia mencontohkan kelahiran novel Telegram. Putu bercerita saat itu ia diajak main film Kabut di Kintamani, tapi kemudian tidak tercapai kesepakatan honorarium. Lalu karena itu posisinya digantikan orang lain, tapi ia ia sendiri tidak dikasih tahu ihwal pencoretan namanya.Tahu-tahu ia ditinggalkan seluruh kru film itu, padahal ia sudah sempat ikut selametannya segala. Saya malu sekali, kenangnya dalam sebuah tulisan, saya ingin menebus malu itu dengan menghasilkan sesuatu. Dan ‘sesuatu’ itu ternyata Telegram, salah satu novel penting dalam khazanah sastra kita.

Ia pun senang “ngeluyur” untuk mendapatkan bahan-bahan baru dan segar dalam tulisannya. Ia pernah bergabung dengan komunitas Ittoen di Kyoto, Jepang, untuk keperluan itu. Tapi ada juga bentuk “ngeluyur” lain yang tidak kalah menariknya yang pernah ia lakukan. Suatu ketika, terinspirasi seorang pelukis, ia berhenti membaca buku dan hanya menulis. Sebagai ganti buku, ia pun lari ke musik. Ternyata menarik hasilnya. Katanya, kalau saya mendapatkan lagu yang bagus, saya seperti mendapatkan stamina untuk menulis terus.

Pelajaran menarik lain yang bisa dipetik dari sastrawan asal Bali ini—juga dari Arswendo Atmowiloto—adalah bahwa kemiskinan ternyata tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menulis. Arswendo dulu sering meminjam mesin tik kantor kelurahan yang pitanya sudah somplak untuk menulis, karena memang tidak punya mesin tik. Putu Wijaya pun mengaku sering nebeng mengetik di rumah seorang sobatnya.

Mungkin, dibanding “kemiskinan”, rutinitas dan kemapanan, yang biasanya berkorelasi dengan suasana nyaman yang melenakan, lebih berbahaya dan “membunuh” seorang penulis. Situasi “terdesak” atau “kepepet” justru biasanya menjadi pemicu lahirnya karya-karya besar. Bukankah Pramoedya Ananta Toer menuliskan Bumi Manusia sewaktu ia dibuang jauh di sebuah pulau terpencil, dan Chairil Anwar melahirkan puisi-puisinya pada masa hidupnya yang singkat, sakit-sakitan dan bokek pula?

31 May 2007

Naik Angkot

Meski angkot kita sama jurusan
Belum pasti kita satu tujuan
Nyatanya aku transit di Slipi
Kau duluan hilang di Batusari

Meski angkot kita satu jurusan
Nasib jadi tanggungan sendiri
Kita boleh saja tak usah perduli
Bikin jarak menjaga perasaan

Tak perlu ada janji disiapkan
Tak usah ada yang perlu diberati
Kau turun di Batusari, aku di Slipi
Sedikit ingatan terbang di pertigaan

29 May 2007

Paradise Lost

Siapa mengajarkan kesabaran
kalau bukan bumi yang menanam pohon
di kaki bukit. Bumi itu kasih. Kasih
itu memberi. Tapi setiap kali
hujan menggugurkan kembali
kepercayaan. Sebagai debu
keyakinan diterbangkan angin.
Terhapus dari ingatan. Sia-sia.
Tak kau temukan berkas-berkasnya.
Bahkan langit yang merendah
tak membuatmu tentram.

Kau terus saja ngembara, gelisah
tak berumah. Cakrawala hanya
makin menggodamu. Semakin dahaga
memburu yang tak ada. Karena
kau tak sanggup lagi percaya
yang di balik nama-nama. Kata
menyerumu di hutan purba, tapi tak
kau tangkap isyarat angin. Karena
rindu semakin jauh juga tambah
gemuruh. Menutup jalan kembali.

28 May 2007

Sajak Perjalanan

Sebetulnya aku tak pernah tahu harus ke mana
Peta dalam batinku hanya mencatat
Kehilangan serta sejumlah kenangan tak berarti
Dan esok yang tak pernah pasti itu
Menyeru-nyeru namamu penuh sangsi

Sebetulnya aku cukup senang di sini saja
Di antara daun-daun menikmati guguran waktu
Tapi sepi yang melahirkanku ke dunia
Dan rindu di pohon-pohon cuaca
Menciptakan juga jarak yang mesti selalu kusebrangi

25 May 2007

Rambut Gondrong Arswendo Atmowiloto

SEORANG penulis harus menjaga stamina menulisnya kalau dia kepingin umur kreatifnya awet--itulah “aksioma” yang sudah pasti kita amini. Masalahnya bagaimana cara menjaga stamina itu supaya tidak kendor, bukan? Suplemen apa yang sebaiknya dikonsumsi, sesajen atau ritual apa pula yang sebaiknya dilakoni supaya segala urusan berjalan lancar? Arswendo Atmowiloto sepertinya punya jawabannya.

Di awal-awal karir menulisnya dulu ia gemar menggondrongkan rambutnya—sekarang masih gondrong juga sih--dan memakai baju kembang-kembang. Ia juga suka keluyuran ke banyak tempat dan kota untuk menjaring ide dan bahan tulisan, sampai suatu kali gara-gara itu pernah ia kehabisan duit dan kagak bisa pulang. Kebiasaan favoritnya yang lain adalah datang sowan ke nama-nama pengarang yang sudah dianggap “eksis”.

Menggondrongkan rambut dan memakai baju kembang-kembang itu mungkin luapan ekspresi rasa bangganya pada statusnya sebagai penulis. Memang tanpa rasa “bangga”, tanpa merasa “beda” dengan yang lain, bagaimana seorang penulis bisa bersaing dengan seorang direktur atau juragan kain umpamanya? Seorang penulis harus menanamkan ke dalam dirinya keyakinan bahwa apa yang dihasilkannya—walaupun hanya sepotong cerpen atau puisi, katakanlah—sekali-kali tidak mesti kalah pamor dengan produk yang berasal dari profesi terhormat lainnya.

Sedang ritual “keluyuran” itu diperlukan karena seorang penulis butuh kondisi dan suasana yang fresh agar ia selalu memperoleh amunisi yang segar untuk bahan tulisannya. Rutinitas atau suasana hidup yang monoton adalah “kanker” ganas yang bisa diam-diam “membunuh” seorang penulis. Jadi supaya tidak tergerus virus bernama “rutinitas” itu sering-seringlah “ngeluyur”, keluar dari zona aman untuk mencari suasana dan lanskap yang baru.

Lalu.rajin sowan ke pengarang yang sudah “jadi” jelas memang diperlukan untuk menyerap “bahan” lebih banyak lagi. Berkesempatan ngobrol dengan seorang penulis kenamaan niscaya merupakan momen yang sangat inspiratif. Meskipun pada akhirnya karyalah yang menjadi tolok ukur kebesaran seorang pengarang, tidak ada ruginya samasekali datang sowan pada seorang penulis besar, meskipun kita hanya berkesempatan menungguinya tidur atau mengetik, seperti pernah dilakoni Arswendo dulu pada sastrawan Motinggo Busye.

23 May 2007

Jalan Air

Jalan air senantiasa menurun
Jalan air panjang dan berliku
Menempuh dataran dan rentang cuaca
Lalu menurun kembali ke bumi

Jalan air sunyi dan jauh
Jalan air sunyi lalu melebar
Mengubah sungai jadi samodra
Melepas samodra ke cakrawala

Jalan air sunyi dan jauh
Jalan air panjang dan berliku
Dari sumber ke pangkalan
Turun menggenapi muara

21 May 2007

Pelajaran Malam

Datang pada kesenyapan lampu-lampu jalan
Kuingin belajar bagaimana bisa demikian tabah
Mengarungi kekosongan dan hitam mimpi langit
Menembus belantara bayang-bayang

Rahasia apa dikandung bumi yang pendiam
Kebijaksanaan putih apa ditawarkan malam hari
Kuingin belajar sepenuhnya tenggelam menghayati
Datang pada kesenyapan lampu-lampu jalan

18 May 2007

Puisi Tidak Jatuh dari Langit

SEORANG kawan suatu kali berujar bahwa “puisi bisa jatuh dari langit”, tapi penyair, “tidak”. Maksud si teman itu kiranya cukup jelas : menjadi penyair itu bukan pekerjaan instan, ia butuh waktu, kerja keras, dan konon juga “bakat”, atau barangkali lebih tepat “kenekatan”. Baiklah, soal itu mungkin bisa agak mudah kita sepakati.

Tapi, betulkah kalau dikatakan puisi bisa sekonyong tercipta, begitu saja “jatuh dari langit”, seakan tidak ada ancang-ancang yang perlu mendahuluinya? Subagio Sastrowardoyo pernah menggambarkan seorang penyair seperti seorang pencuri yang tersesat masuk ke dalam gua penuh harta yang harus berburu dengan waktu sebelum sang penjaga gua itu keburu datang memergokinya

Meskipun penggambaran itu mengandaikan kerja menulis puisi sebuah kerja yang harus diselesaikan “secepat kilat” dan dalam ketergesaan, rasanya bukan maksud Subagio mau mengatakan bahwa sebuah puisi bisa sekonyong-konyong tercipta. Mesti ada sebuah proses yang mendahuluinya. Ada embrio—berupa mungkin sebuah pengalaman di masa lampau, misalnya--yang bersiap menanti saatnya menetas menjadi puisi.

Tidak karena melihat “apel jatuh” lantas tuan Newton mendadak menemukan teori gravitasi, bukan? Momen “apel jatuh” itu “hanya” berfungsi sebagai pemantik yang menggolkan teori itu. Sebelum sampai pada “point of no return” itu ada serangkaian proses panjang--yang keras, sunyi, melelahkan--yang mendahuluinya.

Dan begitulah juga sebuah puisi kiranya tercipta. Puisi yang kemudian berhasil ditulis itu hakikatnya hanya sebuah “titik” dari sebuah garis panjang tak terukur. Nah, tugas mahluk yang menyebut diri penyair adalah menjaga agar “garis panjang” itu jangan sampai terputus, seraya terus mencoba menciptakan momen-momen “apel jatuh” pada garis panjang itu.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...