https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

22 December 2008

Puisi untuk Ibu

Puisi untuk ibu
Tak kunjung rampung
Dituliskan

Selalu saja
Ada kata yang
Belum pas
Kalimat yang
Melesat dari siasat

Atau rasa yang
Sepertinya berlebihan
Sewaktu akhirnya
Diucapkan

Ibu adalah kewajaran
Sekaligus kepenuhan

Bagaimana
Menuang ibu
Ke dalam sajak
Mengaduknya
Dengan selaras

Sebelum
Mereguknya
Tandas

Serasa bakal tiada
Selesai kugagas

19 December 2008

Berhentilah Mengetuk

Sudah,
berhentilah mengetuk--

kamar ini
tak pernah berkunci.
Kau bebas

masuk & keluar
kapan waktu.

Hanya saja
apa gerangan
kau cari?

Tiada apa
pun sesiapa
di dalam sini

sejak mula.
Bukankah kita

paham belaka :
hanyalah hampa
beberapa potong nama

dan lelakon
yang disisakan
musim dan cuaca

pada kita.

15 December 2008

Kondangan

Kami pergi kondangan :
Bulan dan matahari
Kawin dan dikawinkan

Di pusat jagat yang riang
Di ranjang putih semesta
Dipandu bapak langit
Ditunjang ibunda bumi

Bersama bebintang
Kami jadi saksinya
Dalam kenduri sorga

Betapa cinta
Tiada bernama
Pada awal mulanya

10 December 2008

Kenangan Kantor Pos

SAMPAI waktu yang belum terlalu lama lewat, saya masih suka mondar-mandir ke kantor pos. Itu saya lakukan dalam kaitan dengan “kerepotan” saya selaku (konon) penulis : dari kantor poslah karya-karya “besar” saya (ehm) memulai peruntungan nasibnya. Kadang saya tiba di tempat itu dengan amplop naskah yang belum sempat dilem. Kadang saya malah mengeluarkan sekali lagi naskah itu, membacainya, sebelum melipatnya kembali dan menempelkan perangko di pojok kanan atasnya. Pada halaman muka amplop itu biasanya saya cantumkan kata “KILAT”, walaupun nilai perangko yang dibubuhkan sudah cukup menerangkan. Saya hanya ingin memastikan naskah itu selamat sampai di tujuan.

Ritual pelepasan naskah adalah momen yang diruapi suasana hati penuh harap sekaligus keraguan juga. Saya suka merasa menjadi seorang “ibu” yang sedang mengantar keberangkatan “anak-anak”nya ke rantau. Begitulah, kantor pos adalah stasiun atau terminal tempat sejumlah harapan diberangkatkan. Sebagai “ibu”, tugas saya adalah menyiapkan bekal perjalanan yang cukup untuk “anak-anak” saya, supaya mereka tidak keleleran di jalan. Tapi sesudah mereka tiba di “kota tujuan” nanti, saya tak berdaya lagi berbuat apa jua guna menolong mereka. Mereka harus berjuang sendirian menghadapi tatapan dingin dan angkuh dari yang “maha kuasa” para redakur itu. Saya pun pulang dan menanti-nanti warta siapa tahu ada “anak” saya yang bisa juga sukses di rantau. Kadang, layaknya ibu yang baik, suka juga saya mengirim doa untuk mereka.

Alhamdulillah, meskipun tidak semua, biasanya ada saja kabar dari satu dua “anak” saya di rantau yang mewarta bahwa mereka sudah berhasil “diterima” di kota tujuan. Mereka sungguh “anak-anak” yang berbakti. Sebagai bukti tak pernah lupa jasa “ibu”nya, yang sudah susah payah selama 9 bulan merahimi dan melahirkan mereka dengan taruhan luka, mereka pun mengirimi saya sejumlah uang lewat wesel pos, yang suka saya pandangi dengan tatapan berbinar dan saya genggam dengan tangan gementar penuh rasa syukur—meskipun jumlah duitnya terus-terang saja tidaklah seberapa.

Maka saya pun bergegas kembali ke kantor pos guna menguangkan kiriman wesel “anak” saya itu. Biasanya saya suka membawa juga lembaran koran yang mewartakan ihwal “anak” saya di kota. Untuk jaga-jaga saja, soalnya petugas di kantor pos biasanya bekerja ekstra teliti. Mereka misalnya akan bertanya kenapa nama yang tercantum di wesel tidak sama dengan nama saya yang dicetak di KTP. Maka, dengan agak malu-malu, saya akan menjelaskan bahwa yang di wesel itu “nama samaran” saya (saya tak menyebut “nama pena”, kuatir nanti ia tambah puyeng). Biasanya petugas pos itu diam saja. Tapi pernah ada juga yang “nekat” menasehati. Katanya : “Lain kali kalau menulis nggak usah pakai nama samaran ya”. Saya ingat waktu itu saya menjawab “iya pak”, seraya masih kemalu-maluan.

07 December 2008

Tema Mutilasi

Sengaja kutinggalkan
Tangan dan kakiku dalam bis berjalan

Kini carilah olehmu
Di mana kuperam jantungku

Susuri kota ini
Sungai terus ke muara di utara

Meski menyimpan aroma surga
Riwayatku dekat pada luka

Darah dan mimpi tercerai, memencar
Temukan, satukan lagi kisahku yang dulu

05 December 2008

Kisah Tidur

Mungkin ada pesan
Yang dibisikkan ranjang
Kepada tubuh
Sewaktu ia putuskan
Merebah

Mungkin tubuh
Sempat menyahut juga
Entah apa kepada ranjang
Sebelum telanjur
Lelap

Kini kamar sunyi
Gelap menyimpan
Pekat pesan-pesan itu
Pada yang rebah dan lelap
Waktu menitipkan kisahnya

02 December 2008

Lukisan Anak

Pemandangan telah berubah
Gunung biru masih ada
Juga matahari yang tertawa
Jalanan berkelok ke cakrawala

Tapi sawah di kanan-kiri itu
Telah bertukar alamat
Dengan real estate mewah
Di situ mukim orang kaya kota

Ke mana sawah pergi?
Di mana para petani mati?
Gunung tak menyahut
Matahari hanya tertawa

30 November 2008

Pemulung Sore

Sengaja kususuri sore
Di trotoar kutemukan
Sayup sisa makian siang
Kata-kata berceceran
Lepas dari sumber kisahnya
Ada yang tak utuh lagi
Huruf-hurufnya koyak
Seperti habis terinjak-injak

Ayuh kalian semua
Yang sungsang nasib
Kataku merayu
Mungkin meracau
Ikutlah saya pulang

Malam hari
Sesudah seluruh rumah
Mengungsi ke dalam mimpi
Kata-kata itu kukumpulkan
Kuserakkan di atas meja, kupilah

Yang memar-memar dan lecet
Kuobati dan kusembuhkan sakitnya
Yang patah semangat tak berarti
Kubangunkan lagi nyalinya
Kuyakinkan sebisa-bisa
Bahwa sekarat masih jauh

Akhirnya, dengan susah payah
Di bawah kerlip tatapan semesta
Lihat, mereka berbaris padu
Bernyanyi dan menari ritmis
Kepayang ikut irama magis
Kisah-kisah baru mereka

27 November 2008

Film "Lewat Djam Malam" ...

“Lewat Djam Malam” bagi saya sungguh sebuah film hebat. Film itu berkisah tentang kekecewaan “para pejuang” revolusi ketika mereka kembali ke dalam kehidupan “damai” di kota. Tokoh utamanya diceritakan “gagal” berdaptasi dengan situasi kehidupan yang “normal” dan terlibat dalam sejumlah konflik, bahkan juga dengan bekas teman-temannya sesama “pejuang”.

Tulisan selengkapnya baca di sini

26 November 2008

Kadang-kadang Malam

Kadang-kadang malam
Terbikin dari gerimis
Dari hujan yang melukis
Bumi dengan genangan

Dan dalam setiap genangan
Seperti ada kesedihan
Seperti ada yang melambai
Mungkin semacam rasa kehilangan

Yang menegas
Dalam bayangan lelampu
Di atas dasar kelam
Di mana malam tersusun

Kadang-kadang kau tahu
Kadang-kadang sekali
Aku ingin lenyap begitu saja
Ke dalam genangan

23 November 2008

Wawancara dengan Sindu Putra

Pengantar

SINDU PUTRA, yang lahir 31 Juli 1968, bukanlah nama baru dalam panggung puisi kita. Ia telah menulis lama berselang (1982) khususnya di koran Bali Post. Bahwa kiprahnya ternyata relatif “kurang bergema” mungkin itu disebabkan ia selama ini ia kurang bersemangat “mengkampanyekan” karya-karyanya di media pusat. Ia sendiri mengaku memang “telat” masuk “timnas” puisi.

Namun buku puisi pertamanya, “Dongeng Anjing Api” (Arti Foundation, Juli 2008), yang kelahirannya diwadahi oleh program Widya Pataka (semacam proyek subsidi dari Pemda Bali kepada seniman setempat yang dipandang berhasil) seakan menebus semua kelpaan penyairnya. “Dongeng Anjing Api” bagi saya adalah satu dari sedikit saja buku puisi unggulan yang sempat terbit belakangan ini.

Lewat “perbincangan” tertulis kurang dari sepekan yang lalu, saya menyodorkan kepada Sindu Putra sejumlah pertanyaan yang bersangkutan dengan pernik-pernik proses kreatifnya. Saya ucapkan terima kasih kepada Bung Sindu yang telah merespons dengan baik tawaran wawancara ini. Dan semoga “obrolan” kami juga bermanfaat untuk yang lain. Selamat membaca
.

Anda telah menulis puisi setidaknya selama seperempat abad, dan dengan hasil yang relatif terjaga baik. Apa sebetulnya "resep" anda untuk merawat stamina kreatif anda hingga terus bugar seperti itu?

Saya merasa sebagai penulis tidak cukup produktif. Saya pernah mengalami "puasa" panjang menulis puisi. Saya termasuk beruntung, Bagian dari generasi yang tumbuh bersama penyair-penyair Bali, angkatan Warih dan generasi generasi berikutnya, seperti Sunartha, dll. Sebenarnya bukan resep, hanya cara berkelit dari kejenuhan. Seperti pemulung, saya suka dengan kata-kata, yang saya anggap lumrah, tetapi unik, punya rasa dan nilai. Saya kumpulkan seperti membuat catatan harian. Kata itulah yang menemukan kawanannya sehingga menjadi bait larik dstnya. Menulis ya teman dan lawan tandingnya membaca. Membaca apa saja. Terutama, saya, karena basis pendidikan saya eksak, suka memburu kata ke dunia itu. Menulis puisi memang tidak bisa dipaksa. Saya hanya mencoba menikmati alirannya, seperti menikmati hidup ini dengan rasa syukur.

Anda tinggal jauh di pedalaman, tetapi keterpencilan geografis rupanya bukan masalah bagi anda untuk terus menulis dengan hasil baik. Saya "curiga" jangan-jangan kondisi "sepi" dan "terpencil" itu justru menjadi atmosfer ideal untuk anda menulis. Salahkah terkaan saya?

Saya tumbuh dalam atmosfir kreatifitas penyair-penyair bali. Baru tahun 2001 saya tinggal di Lombok. dalam kondisi sudah "jadi". Pergaulan gaya Bali era 80an-90an, membentuk kepenulisan saya. Dalam pergaulan itu saya membaca dan mempelajari puisi kawan-kawan segenerasi saya. Juga puisi yang masuk "sejarah sastra" Indonesia, dari situ timbul niat ingin mencoba mencari cara lain, baik bahasa ungkap, simbul, metaphora, yang sekiranya belum digarap kawan-kawan atau generasi sebelumnya. Di sini bagi saya menariknya, Berada didalam proses tetapi mencoba menjaga jarak sehingga dapat menjadi "beda"

Sejumlah pengamat menyebut puisi anda menyempal dari arus besar puisi kita. Saya menduga-duga, apakah itu juga hasil yang didapat dari "keterpencilan" geografis anda? Maksud saya, berada jauh dari "pusat" justru memberi anda ruang gerak leluasa untuk berkreasi dengan lebih merdeka? Atau bisakah disebutkan bahwa puisi anda memang lahir dari semacam "perlawanan" yang sadar kepada "arus utama"?

Saya berpikir, seseorang harus tampil beda, sehingga bisa sedikitnya diliriklah sama orang. Jika kita hanya menjadi copy, kapan akan diperhatikan. Saya termasuk paling lambat masuk tim nasional atau bisa diterima dan dimuat media-media selain Bali Post. Saya sudah disalip oleh generasi yang lebih muda. Namun saya harus akui, mereka memang potensial dan bagus. Dan dalam masa tidak mendapat tempat itu, saya tetapkan terus menulis dengan cara saya. Masa seperti itu butuh stamina juga. Jika tidak tahan, tidak diperhatikan, maka akan habis dan hilang kita dari peredaran. Ya ada kesadaran memang untuk melawan yang "trend". Itu karena kita hanya ingin dimuat saja. Jika memberi karya yang beda dan lain, harus ada tambahan kekuatan untuk selalu siap ditolak.

Selalu menarik memata-matai bagaimana seorang penyair bekerja. Bisakah anda ceritakan bagaimana proses penciptaan sajak anda sendiri selama ini? Adakah misalnya "ritual" tertentu yang khas Sindu? Mohon sudilah kiranya berbagi.

Saya rasa tidak ada yang beda dengan cara penulisan penyair lain. Hanya saja sajak yang sudah ditulis itu, lebih sering masih harus diproses lagi. Editing, bongkar pasang, diendapkan. Dibaca lagi beberapa hari kemudian atau bahkan bulan depan, kata diganti, seperti kita bermain-main, membentuk sesuatu. Dicoba terus. sampai saya merasa pas. Terkadang “hasil” dengan “ide awalnya” tidak ketemu. Namun proses yang sekali jadi juga sering. Biasa-biasa sajalah, tidak ada ritual yang gawat-gawat.

Sajak "Sudah Aku Pilih Kata" dalam antologi "Dongeng Anjing Api" sepertinya dipersembahkan kepada Umbu Landu Paranggi, penyair yang "misterius" itu. Omong-omong apa gerangan arti seorang Umbu bagi anda?

Ya memang untuk Bung Umbu. Saya beruntung, termasuk generasi yang mendapat gemblengan seperti gaya Mallioboro 70 an itu. Dari tingkat dasar/pawai, lalu kompetisi sampai puisi kita masuk ruang budaya. Ketika awalnya puisi saya dimuat Bali Post, saya berpikir itulah puisi yang baik, karena dimuat redakturnya. Tetapi kadang Umbu nakal juga, puisi kita yang paling jeleklah yang dimuat, tetapi yang baik malah disimpannya. Bagi saya Umbu seorang pencari bakat yang pembacaan terhadap bakat seseorang ia sampaikan dengan caranya sendiri. Ia guru yang seperti puisi Gibran. Ia membimbing dengan caranya berbagai jalan puisi, tetapi kita harus menemukan jalan puisi kita sendiri.

Adakah penyair yang begitu anda kagumi (selain Umbu) dan menjadi, katakanlah, panutan atau model anda dalam berkarya?

Saya bukan mengagumi figurnya, tetapi lebih pada apa yang dikerjakan dan hasil karyanya. Gaya penyair Chairil, khan tidak bisa kita copy untuk generasi yang tumbuh tahun 2000an ini. Tetapi karyanya masih memberi inspirasi. masih mengundang pembicaraan. Saya kira tiap generasi mesti membaca zamannya. Di sanalah kekayaan dan pencapaian kita. Gaya Umbu memberi lahan dan menumbuhkan minat menulis bagi penulis-penulis muda di Bali juga berbeda, dari jaman saya ke generasi sekarang ini.

Terakhir, bagaimana menurut anda "kondisi kesehatan" sastra Indonesia (khususnya puisi) belakangani ini?

Saya merasa ruang bagi puisi sudah sangat luas. Saya melihat pertengkaran lebih hanya pada bukan soal karya, yang kemudian menjadi relatif. Koran, umpamanya, tiap minggu membuka halaman untuk puisi. Bahwa kemudian di dalamnya ada seleksi redakturnya bagi saya itu biasa saja. Jika soal itu yang dipermasalahkan, bukankah tiap orang bisa punya blog dan dapat dibaca di seluruh dunia. Bikin blog aja biar bebas.

Banyak yang menulis puisi, dan sangat banyak yang ingin menjadi penyair. Tetapi lebih baik penyair mengkonsentrasikan energinya untuk menulis. Publikasi itu hanya sampiran sajalah. Waktu dan sejarah akan mengujinya. Banyak puisi-puisi bagus tetapi tidak mendapat tempat untuk diterbitkan. Buku seharusnya menjadi salah satu barometer perkembangan. Kondisi ini yang belum bagus atau sehat di indonesia. Kalau puisinya sehat wal afiat. Apalagi penyairnya.

21 November 2008

Penyair Ganjil

: AM

Penyair yang ganjil
Jangan pernah berhenti
Menggali lubang di kepala

Menggoreng telur dadar
Merebus kaus kaki
Seperti memasak kesedihan

Kau membikinku
Kepingin bunuh diri
Dalam ember itu

Orang-orang nanti ribut
Menggotong mayatku
Dengan gerobak

Penyair ganjil
Penyair ganjil
Jangan berhenti memanggil

Langit yang malam
Malam yang lapar
Lapar yang mentega

Di halaman belakang sajakmu
Penyair yang ganjil
Biarkan aku merembes

Bersama obat gosok
Bersama soda susu
Bersama kuah soto

Dalam black box
Dalam black box
4 meter kurang 10 menit

Dari kuburku
Yang laut yang laut

20 November 2008

Bedah Buku Afrizal Malna

Diskusi Sastra Membedah Buku Puisi Afrizal Malna
“Teman-temanku dari Atap Bahasa”

Pembicara :
Iwan Pirous (antropolog)
Nirwan Ahmad Arsuka (pengamat sastra)
Wicaksono Adi (pemerhati seni)
Moderator : Damhuri Muhammad

Waktu & Tempat :
Jumat 21 November 2008
Pukul 15.00 – 18.00 Wib
Cemara 6 Galeri
Jl. HOS. Cokroaminoto No. 9-11
Menteng Jakarta

Info Phone: 08561286005
Email: geger255@gmail.com

19 November 2008

Adam yang "Sexi" ...

Seperti anak saya yang kelas 3 SD itu, ada banyak sekali orang yang sungguh percaya bahwa kisah Adam dan Hawa di Firdaus adalah sebuah kejadian nyata. Para fundamentalis dan barisan panjang pengikutnya terlalu takut (atau malas) untuk membaca dan mencari yang “tersirat” di belakang yang tersurat. Mereka membaca kitab suci bak memelototi kitab sejarah, dan meyakininya mentah-mentah sebagaimana tertulis di sana. Setiap huruf dan noktah dalam buku itu haram untuk dipersoalkan.

Selengkapnya baca di sini

16 November 2008

KLA 2008 dan dominasi "Sastrawan TUK"

HASIL Khatulistiwa Award (KLA) 2008 akhirnya mengerucut pada “Jantung Lebah Ratu” kumpulan puisi Nirwan Dewanto dan “Bilangan Fu” novel Ayu Utami sebagai pemenangnya. Dua karya yang menang itu disebut oleh Hamsad Rangkuti, salah satu juri pada kontes tahun ini, sebagai karya yang “mewakili spirit sastra yang serius dan matang”. Dua karya itu, katanya pula, menunjukkan bahwa yang terpenting dalam sastra tetaplah gagasan yang bernas, selain juga sublimasi bahasa (Kompas, 15 November 2008).

Ada hal yang mengusik saya, yakni tiadanya blog atau situs yang menyiarkan warta akhir KLA ini—setidaknya sampai siang tadi. Lucunya bahkan situs resmi KLA juga ikut-ikutan mogok. Jika pengumuman akhir KLA ini bukan hal yang dianggap penting, mengapa pula sejumlah blog mewartakan kontes ini dengan begitu bersemangat pada saat kontes baru masuk pada tahap awal? Jika awalnya diberitakan (dengan bersemangat) mengapa ujungnya tidak diumumkan?

Mungkinkah ini semua gara-gara pemenang tahun ini adalah “sastrawan TUK”, sehingga tentu saja ini merupakan “kabar menggembirakan” bagi yang selama ini “anti TUK”? Dan aksi cuek yang dipertontonkan komunitas blog dengan demikian adalah semacam “aksi boikot”? Hmm, alangkah lucu, aneh, dan absurdnya jika benar itulah hal yang terjadi.

14 November 2008

Di Meja Makan

Terima kasih
Kepada setiap butir nasi

Juga cabikan daging
Yang nyelinap antara
Runcing taring

Terima kasih
Kepada butir nasi
Karena layaknya puisi
Kau mengisi penuh mulutku

Memberi daya
Pada adaku yang sejenak

Sedang daging
Itulah kejadian
Tanpa rancangan
Insiden tak tersangka

Menambahkan rasa
Memberi kelengkapan
Pada upacara di meja makan

Seraya mengusik
& menunda, buat sesaat

Rasa kenyangku
Atas kasih sayangMu

12 November 2008

Halaman Kosong

Jika halaman kosong ini betul semesta
Jika baris-baris tak berarti ini aku adanya
Mengais sunyi antara hampa musim-musimnya
Lantas siapa tangan yang menggerakkannya

09 November 2008

Dongeng Amrozi

Kakek buyutmu dulu
Seorang yang soleh, anakku
Taat shalatnya
Mengalir dzikirnya

Tapi ia memang suka berfikir
Tentang bagaimana
Berjuang membasmi
Kaum kafir
Dari muka bumi

Ia tak pernah lelah
Menyusun ikhtiar

Begitulah suatu malam
Malam yang selalu kukenang
Dengan rasa gemilang

Kakek buyutmu
Berhasil juga
Mendirikan pahala
Maha pahala, anakku

Di malam yang gemilang itu
Yang penuh gelimang darah

Kakek buyutmu
Bersama dua karibnya
Telah menyudahi
Hidup tak senonoh
Sekawan jahanam

Mereka tengah kepayang
Dalam pesta jalang

Tentu saja
Para penguasa kafir
Dengan undang-undang kafir
Berpihak pada yang dzalim

Kakek buyutmu
Mereka nistakan

Begitulah, anakku
Malam ini marilah
Kita kenangkan kembali

Malam kala kakek buyutmu
Bersama dua karib solehnya itu
Menyudahi hidupnya

Menyerahkani umurnya
Selaku syuhada
Kepada barisan algojo
Penguasa durhaka

Jadi, anakku
Jelek-jelek begini
Kita ini turunan syuhada
Kaum pilihan suarga

Tapi para penulis kisah
Telah memuntir sejarah
Seraya menyebut kita
Juga kakek buyutmu, nak

Kaum angkara
Orang-orang dursila

07 November 2008

Tema Amrozi

Regu tembaknya
Boleh kamu yang pilih

Senapan tak soal
Kamu yang siapkan

Waktu & tempat
Silakan kamu putuskan

Mayat kaku membujur
Bereskan ikut prosedur

Hanya pelurunya
Biarlah saya jadi pelurunya

04 November 2008

Bolak-Balik Menimbang "Orgasmaya"

SAYA menerima kiriman buku kumpulan puisi “Orgasmaya” baru-baru ini saja. Penulisnya, penyair Hasan Aspahani (seterusnya HAH), adalah salah satu penyair yang cukup berhasil membetot perhatian kita beberapa tahun belakangan ini. Ada sejumlah hal yang selama ini memang “mengusik” saya pada sajak-sajaknya, maka ketika “Orgasmaya”, kitab puisi sulungnya, sampai di haribaan, saya tergoda untuk menuliskan semacam komentar kecil atasnya. Tapi saya agak bingung musti memulai dari mana. Pun saya ragu, adakah saya pengulas yang pantas untuk buku itu?

HAH memberi pengantar yang, bagi saya, terasa “menyegarkan” untuk buku puisinya : sebuah obrolan imajiner dengan Pablo Neruda, penyair besar dunia yang sangat dikaguminya. Lalu terpikir untuk memberi judul ulasan saya nanti “Pablo Neruda dari Batam”, tapi saya kuatir nanti dikira malah mengolok-olok HAH. Maklum, spesies ajaib yang disebut penyair itu bukankah tergolong jenis yang sangat sensitif? Kudu ekstra hati-hati untuk mendekatinya. Maka saya pikir pilihan judul itu baiklah saya batalkan.

Lalu saya membaca komentar yang dimuat di kulit belakang buku. Nah, saya pikir apa yang ditulis Joko Pinurbo di sana sudah mewakili sebagian besar hal yang mau saya katakan. Dan seperti Joko, saya pun diam-diam suka “iri” dengan energi intelektual Hasan, yang meluap seperti tiada habisnya itu. Kalau melihat betapa energiknya ia menulis (di blognya) saya suka ingat pada dahsyatnya semburan lumpur di Porong. Kebetulan ia juga ada menulis perihal lumpur. Begitulah sajak-sajaknya itu, macam lumpur. terus saja menyembur, membanjir dan “mendengus” tak henti-hentinya, “seperti ribuan jemaah haus” (Sajak “Kisah Kota Lumpur”).

HAH juga seorang penjelajah yang rajin dan cermat. Mungkin kiprahnya di jurnalisme—yang memaksanya hidup berdempetan dengan banyak ihwal dalam tempo yang bergesa--ikut menempa semangat jelajahnya itu. Maka ia sering kedapatan asyik menyelinap di antara beragam celah peristiwa dan kabar sehari-hari, yang heboh maupun yang remeh kecil-kecilan, berindap-indap memilih sudut pandangnya sendiri (yang biasanya unik), sebelum lantas keluar dari sana dengan segenggam sajak tak terduga. Ia sungguh seorang “pencuri” dan pengecoh yang handal..

Tentulah butuh kearifan khusus bagaimana menggabungkan dua jenis dunia yang bergerak bertolak belakang itu—jurnalisme yang mensyaratkan “kesegeraan” dan dunia puisi yang meminta kedalaman, dan itu tentunya antara lain berarti adanya “perlambatan” tempo—menjadi sebuah sintesa yang padu. Penjelajahan ke banyak ihwal itu membawa HAH ke banyak eksperimen bentuk dan gaya pengucapan sajak, yang tidak selamanya bisa ia menangkan.

Hal yang paling mengganggu kenikmatan saya ketika membaca sajak-sajaknya adalah menemukan pengaruh Jokpin yang sangat sekali terasa pada sebagian karyanya. Periksalah sajak-sajak berikut ini misalnya : Dongeng Penyair Pemburu Kaos Oblong, Dongeng Tukang Jahit Selimut, Dongeng Tukang Foto Keliling, Dongeng Pemimpi dan Peti Mimpinya—sajak-sajak itu adalah contoh karya HAH yang sebetulnya bagus, hanya sayang sajak-sajak (seperti) itu sudah “duluan” ditulis Jokpin. Maka sebagus apa pun ia menggarapnya, nilainya jadi berkurang di mata saya.

HAH mungkin baru mulai sungguh mencuri perhatian ketika beberapa tahun yang lalu melempar seri sajak-sajak “Kamus”nya di Kompas. Sajak-sajak tematis itu memberitahu saya kekuatan HAH yang lain lagi. Ia rupanya sungguh melakoni “kredo” yang ditulisnya bahwa “syair itu cuma permainan iseng-iseng mengasyikkan” (Sajak “Dongeng Penyair dan Kehidupan”). Maka baginya menulis sajak rupanya bisa dimulai (dan berakhir) dari mana saja dan di mana saja, dan dengan cara apa saja. Lewat sajak-sajak tematisnya, saya merasa mendapat “garansi” bahwa ia sungguh bukan penyair as usual saja.

Maka saya membayangkan, “Orgasmaya” akan menjadi sebuah kumpulan puisi yang sungguh kuat, padu, dan khas jika saja HAH bersedia menuang seluruh puisi tematis yang sudah pernah ditulisnya selama ini ke dalamnya, seraya dengan besar hati melepaskan puisi-puisi hasil “magangnya” kepada Jokpin. Tapi HAH rupanya punya hitung-hitungan sendiri tentang hal ini--mana tahu kalkulasinya lebih akurat pula ketimbang saya?

Hmm, jadi seperti inilah kira-kira saya akan mengulas “Orgasmaya”. Soal judul ulasan, nanti saja diputuskan saat saya akan mempostingnya. Toh, untuk banyak alasan, judul sering tak teramat penting juga. Meskipun sebetulnya saya sudah cukup sreg dengan judul “Pablo Neruda dari Batam” itu.

31 October 2008

Sajak Penghabisan

Bertahun-tahun ia mencari
Kata pertama, untuk mulai menyajak
Tapi yang ia temukan hanya separoh kata
Sering juga ia tertipu dengan
Bukan kata yang mengaku kata

Akhirnya ia menyajak juga
Dengan separoh kata yang dipunya
Membiasakan diri dengan bukan kata
Yang suka mengaku sebagai kata
Seraya terus berharap kelak suatu hari

Bakal dijumpainya juga kata pertama
Kata sejati yang lama dirindunya
Untuk mulai menuliskan sajaknya
Sajaknya yang pertama, dan mungkin
Juga sajaknya yang penghabisan

27 October 2008

Doa Untuk Bapak Kami

Bapak kami yang ada di sawah
Di pabrik, di simpang-simpang jalan
Di kantor, di mana saja bapak kami berada
Dimuliakanlah kiranya harkatmu

Jadilah kiranya kehendak majikan
Seperti bapak kami tiap malam impikan

Berilah gaji dan tunjangan manusiawi
Uang lauk pauk dan ganti rugi transport
Secukupnya, sekadar mencegah bapak kami
Tergoda bunuh diri

Ampunilah dosa, sumpah serapah
Kebohongan bapak kami, seperti sudah lama
Bapak kami selalu memaklumi kekurangajaran
Dan kebohongan yang sengaja ditimpakan padanya

Janganlah kiranya membuat bapak kami
Lupa diri, gelap mata, terbujuk godaan setan
Sehingga membikin kekacauan macam-macam

Melainkan bebaskanlah bapak kami dari segala
Tipu muslihat majikan yang keji

Amin

24 October 2008

Kidung Mandi

: JP

Penyair itu mandi
Mandi seperti kita semua mandi
Di ambang pintu tubuhnya
Membayang peluh bumi

Dicopotnya baju
Yang sekadar tipu
Dihempasnya kucel tubuh
Yang lama ngangkangi ruh

Ia loloskan juga
Tulang-tulangnya miskin
Menggantungnya sembarang
Pada cantelan kenang

Lantas khusuk ia sabuni
Mimpi yang dipenuhi daki
Cinta yang tambah meluntur
Umur yang sebentar tergusur

Penyair itu mandi
Mandi seperti saya mandi
Keluar dari pintu tubuhnya
Mewangi aroma malam

21 October 2008

Hantu Kata

Lewat tengah malam
Habis sudah waktu kalian!

Kini para hantu
Mengambil alih ruang tamu
Mendudukkan sundel bolong
Dan jerangkong gondrong
Di kursi utama

Aku pun di sana
Sebab aku serupa mereka

Tak punya wajah
Pun tanpa silsilah
Lihat kakiku melayang

Tak membekaskan bayang
Pada waktu
Dan lelampu

Akulah hantu kata
Terlunta dari cuaca ke cuaca

Hanya jika
Bisa kutemu dekap
Dalam rengkuhan sajak

Hadirku yang sejenak
Bakal berjejak pada bumi

Maka, lewat tengah malam
Kutunggu kau di ruang tamu!

20 October 2008

Peminum Kopi

Untuk setiap puisi
Aku perlukan secangkir kopi

Campurkan gula secukupnya :
Puisi juga butuh semacam pemanis
Barangkali sebaiknya pada penghujung baris?

Menuangkan rasa :
Tuanglah selagi panas masih
Nanti meruap sangit aroma langit

Mengaduknya pelan saja :
Cermat lagi hati-hati
Sebelum mereguknya sedap

Aku selalu percaya
Dari balik pekat ampas waktunya
Bakal terbaca isyarat

Tapi, untuk setiap pertanda
Aku perlukan sesayat luka

17 October 2008

Rumah

Jika aku pergi
Sebagian diriku
Tertinggal di rumah
Tak bisa kubawa serta

Dan jika kumati
Sebagian kisahku
Tertahan padamu--
Seperti menolak

Seakan bertahan
Dari bumi yang
Mau menariknya
Pulang pada tanah

Aku bertanya
Jika kelak kau mati
Kisahku fana
Ke mana berumah?

13 October 2008

Rumah Dijual

Rumah ini terpaksa akan kujual.
Hasil penjualannya nanti akan
kujadikan modal awal. Aku akan
mengungsi ke sebuah masa
depan. Rumah ini tak buruk
samasekali. Aku sebetulnya
malah sudah betah netap di sini.
Tapi letaknya kelewat dekat
ke masa lampau. Padahal aku
butuh akses lebih cepat ke pusat
waktu. Anak-anak sudah tambah
besar. Lagi pula bisnisku maju
pesat. Sudah tak mungkin lagi
kupertahankan masa laluku
di sini. Aku perlu lebih banyak
lagi kamar, halaman yang lebih
luas, juga jalan layang untuk
menunjang mobilitasku. Rumah
ini terpaksa kujual. Selamat
tinggal para tetangga budiman.
Salam buat abang sayur, tukang
air keliling. Daag pak Amin tukang
sampah. Aku pindah ke sebuah
masa depan yang penuh
kabel dan tombol. Kelak suatu
hari mungkin akan kuganti hatiku
dengan plastik dan mataku
dengan beling. Di balik silau
lampu-lampu masa depan yang
jauh darimu, aku mungkin bisa
pura-pura tentram dan bahagia.

10 October 2008

Orang Pandai yang Bersembunyi

SALAH satu hal yang menarik perhatian saya dalam membaca cerita silat Cina adalah kehadiran mereka yang baiklah saya sebut saja “orang pandai yang bersembunyi”. Mereka bukanlah tokoh utama dalam cerita, tapi kemunculannya—yang juga tidak kerap, kadang bahkan hanya muncul sekali saja--sering menentukan, dan bagi saya sebagai pembaca, selalu terasa “mengilhami”. Sering malah kehadiran mereka lebih membetot perhatian saya ketimbang tokoh utamanya sendiri.

Dalam prolog dari Kisah Membunuh Naga (Ie Thien To Liong) versi OKT diceritakan tentang seorang rahib lugu bernama Kak Wan Taysu, yang sebetulnya sudah muncul dalam penghujung cerita Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar atawa Sin Tiau Hip Lu. Kak Wan adalah “paderi bodoh” yang bekerja di perpustakaan biara Siauw Liem. Tugasnya sehari-hari adalah menjaga keamanan dan kebersihan ribuan kitab di perpustakaan itu. Ia sendiri diceritakan tak mengerti ilmu silat, dan memang begitulah adanya.

Syahdan, suatu ketika dalam keasyikannya membersihkan kitab, secara tak sengaja ia menemukan sejilid kitab tipis yang berisi pelajaran ilmu silat dahsyat yang secara ajaib luput dari perhatian para penghuni Siauw Liem lainnya. Meskipun “tolol” ia toh mengerti kitab itu sebuah mustika yang tiada taranya sebab ditulis langsung oleh Bodidharma, tokoh yang konon adalah peletak dasar silat Siauw Liem.

Begitulah diam-diam tanpa sepengetahuan siapa pun rahib “bodoh” itu meyakinkan ilmu dalam kitab tipis itu, dan tanpa ada yang tahu ia kemudian mengalami metamorfosis dari seorang yang tak paham ilmu silat menjadi seorang sakti yang tersembunyi. Tersembunyi,karena ia, setelah jadi hebat tak tertarik untuk gembar-gembor, melainkan terus tinggal di perpustakaan merawat ribuan kitab yang jadi tanggung jawabnya.

Dalam kehidupan kita sehari-hari tokoh seperti Kak Wan ini--“orang pandai yang bersembunyi”—pasti juga ada. Mereka tak begitu hirau dengan segala ingar bingar publisitas semu. Mereka lebih memilih tinggal di sudutnya, dalam kesendirian dan kesepian, seraya terus mendalami dan meyakinkan bidang yang menjadi pilihannya. Saya membayangkan, ia mungkin saja seorang penyair jenius yang lebih memilih menyimpan saja puisi-puisinya (dan pikiran-pikirannya) dalam laci—kita pasti teringat Emily Dickinson ….

Pertanyaannya kini, salahkah pilihan “bersembunyi” yang mereka ambil? Kak Wan dalam Kisah Membunuh Naga, lantaran terpaksa sekali, akhirnya muncul ke gelanggang, mengobrak-abrik musuh dan sekaligus membuka mata banyak orang. Ia pun kemudian, menurut sang empunya cerita konon, menjadi inspirator bagi lahirnya silat Wudang dan ilmu pedang Gunung Emei.

07 October 2008

Terima Kasih

Sajak yang baik
Tak pernah menagih pujian
Barangkali ia malah keberatan
Disebut sajak

Ia seperti jejak
Memanjang sepi di jalan setapak
Sehabis reda hujan sore

Kita melihat bekasnya
Kita mengenali tandanya
Kita rasakan kehadirannya

Sajak sebenar sajak
Sungguh semata jejak
Berjalan ia di depan
Membimbingmu ke puncak

Kita kenal baik tanda-tandanya
Kita bisa rasakan degupnya di sini
Ah, kita juga mau berterima kasih
Buat kehadirannya yang menyehatkan bumi

06 October 2008

Kemenangan yang Merepotkan?

MEMPERCAYAKAN penilaian atas puisi kepada para “juri anonim”—seperti dilakukan Pena Kencana —sungguh mengandung resiko. Belum mapannya kehidupan sastra di sini menjadi alasan kuat untuk skeptis. Saya pernah menyebut manuver Pena Kencana ini sebagai sebuah “eksperimen yang berani” (atau kepagian?), yang biarpun hasilnya bisa saja konyol, tapi tetap saja menarik ditunggu.

Seraya mengingat bahwa siapa pun yang kemudian muncul sebagai pemenang dalam kontes seperti itu bolehlah dipandang sebagai seorang yang “benar sedang mujur”. Kemenangannya bukan kemenangan artistik, sebab sesungguhnya tak ada peristiwa literer di sana. Yang terjadi adalah sebuah kegiatan yang berlangsung “untung-untungan”, yang melibatkan sejumlah orang yang tak jelas siapa saja, serta tak jelas juga mereka sudah memilih puisi siapa.

Maka bagaimana kemudian sang pemenang musti bersikap menghadapi hal ini? Saya tanyakan itu kepada Jimmy Maruli Alfian, yang memenangkan kontes ini untuk kategori puisi. Saya tanyakan juga apakah ia mempunyai usulan untuk perbaikan supaya award ini tidak lalu berkembang menjadi sekadar sasaran sinisme belaka. Saya pikir menarik sekali menguping apa komentarnya. Kebetulan kemudian memang ada sedikit “ribut-ribut” di blognya Hasan Aspahani tentang hasil kontes ini, maka saya pikir ini adalah kesempatan bagus bagi Jimmy untuk bicara.

Sayang sekali, Jimmy Maruli Alfian, penyair muda potensial--yang saya sukai puisinya, antara lain karena bahasa sajaknya yang lugas dan tidak bertele-tele--itu agaknya tak tertarik merespons pertanyaan saya, pun mengurusi “ribut-ribut” itu. Mungkinkah karena kemenangan ini sudah membikinnya menjadi “serba salah” dan “repot”? Tapi mengapa harus jadi merasa "bersalah" dan "repot"? Jimmy yang berhak menjawabnya.

23 September 2008

Hasil Pena Kencana Award 2008

Pemenang lima besar Puisi dan Cerpen Pena Kencana Award 2008 :

Puisi:
1. P044 - Jimmy Maruli Alfian, "Kidung Pohon" - total suara: 30.38%
2. P099 - Zaim Rofiqi, "Ibu" - total suara: 13.35%
3. P038 - Inggit Putria Marga, "Di Pintu Gerbang" - total suara: 3.45%
4. P017 - Dahta Gautama, "Khimaci di Showa Kinen" - total suara: 5.31%
5. P004 - Acep Zamzam Noor, "Lembah Anai" - total suara: 1.22%

Cerpen:
1. C019 - Seno Gumira Ajidarma, "Cinta di Atas Perahu Cadik" - total
suara: 11.86%
2. C017 - Puthut EA, "Di Sini Dingin sekali" - total suara: 5.31%
3. C001 - Agus Noor, "Tentang seorang Perempuang yang Mati Tadi Pagi"
- total suara: 3.18%
4. C018 - Ratih Kumala, "Sepotong Tangan" - total suara: 2.13%
5. C009 - Gus tf Sakai, "Kami Lepas Anak Kami" - total suara: 2.10%

Saya ucapkan selamat berbahagia kepada para pemenang. Bravo sastra Indonesia!

22 September 2008

Zatako, Titanic, Kegilaan

DI TAHUN 1980-an dulu saya kerap menemukan puisinya dimuat secara rutin sebuah koran ibukota. Setahu saya ia lebih seorang wartawan ketimbang penyair. Tapi sebagai wartawan ataupun penyair sepertinya namanya memang “kurang bergema”. Saya pun tak begitu ingat adakah ia sempat punya kumpulan puisi. Baiklah. Ia adalah Zainudin Tamir Koto, dan sering menyingkat namanya itu dengan akronim Zatako.

Puisi-puisi Zatako tidak istimewa, malah banyak yang musti saya bilang jelek. Saya menduga sajak-sajaknya (yang tidak istimewa) itu bisa muncul di koran ibukota lebih karena alasan pertemanan—begitulah saya meyakininya—yang ada antara dia dengan redaktur sastra koran termaksud.

Puisi-puisi Zatako pendek-pendek, berisi umumnya kesan-kesan yang didapatnya dalam pengembaraannya sewaktu bertugas selaku wartawan, saya kira. Kadang, ada juga saya temukan satu dua puisinya yang bagus. Maka saya menduga mungkin puisi-puisinya menjadi kurang bertenaga karena ia—selaku wartawan--tak punya cukup waktu untuk mengolah lebih masak bahan-bahan puisinya tersebut.

Tapi hal yang saat ini paling mengesan pada saya adalah bahwa ia sepertinya tidak ambil mumat dengan apa pendapat orang tentang sajaknya. Ia terus saja menulis, dan memang ia tergolong penyair “subur”, seraya dengan rajin mengirimkannya ke koran Jakarta itu. Adakah yang membacanya? Pastilah ada, minimal saya terus mengikuti puisinya setiap kali muncul.

Sikap “tidak ambil peduli” itu mendadak jadi terasa penting buat saya. Sikap keras kepala itu bisa saja lahir dari semacam rasa cinta, bukan? Zatako, dalam keserba-sempitan waktunya, mungkin begitu mencintai puisi, maka ia terus menulis, seraya belajar tak hirau dengan komentar miring orang lain. Dengan caranya sendiri ia merayakan komitmennya pada puisi.

Saya teringat pada sebuah adegan dalam film Titanic. Sewaktu kapal pesiar mewah itu pelan tapi pasti karam, dan para penumpamgnya dilanda panik berlarian ke sana ke mari, sejumlah pemusik yang biasa bertugas menghibur di kapal keren itu malah terlihat terus asyik berdendang. Dan ketika salah seorang dari mereka mengingatkan konco-konconya bahwa tak ada (lagi) yang menonton aksi mereka, sang kawan dengan kalem bilang “ah, biasa juga mereka tak menyimak kita bermain, kenapa sekarang kau meributkannya--terus saja mainkan musikmu”. Dan mereka melanjutkan aksi mereka.

Sudah gilakah para pemusik itu? Mungkin ya, tapi soalnya bukan itu barangkali. Soalnya adalah, jika dunia kita hari ini ternyata semakin mirip dengan Titanic yang dengan pasti tengah berangkat karam di mana harapan untuk selamat serasa mustahil—karena jumlah sekoci penyelamat sungguh tidak memadai, tetapi terutama karena ketiadaan kepemimpinan dengan wibawa yang cukup—tidakkah apa yang diperbuat para pemusik itu bukan malahan sebuah pilihan sikap yang “heroik”?

Ah, dari para pemusik “gila” itu (juga dari penyair Zatako) saya merasa telah mendapatkan sebuah pelajaran penting dan berharga.

17 September 2008

Meja Diam

Meski meja diam
Kursi membisu
Tembok membatu
Di kamar ini

Meski kau tak paham
(Mungkin tak sepakat)
Tapi jam, jam
Tak tinggal diam

Umur mengalir
Kisah bergulir
Menjangkau akhirnya
Barangkali di kamar ini

15 September 2008

Di Toko Sepatu

Saya perlu sepasang sepatu
Model dan merek tak begitu penting
Yang utama ia harus tahan lama
Cukup tabah mengarungi
Jarak dan sepi, penat dan rindu
Sebab perjalanan saya
Sepertinya bakal panjang
Lama mungkin membosankan
Tak terbilang dengan musim
Tak terukur dengan cuaca
Jika tuan sungguh ada menjual
Sepatu yang macam begitu
Saya sedia membelinya
Tak soal berapa harga tuan minta
Sudah lama saya mencarinya
Kelewat gandrung saya merindunya
Sudah lelah saya jelajah
Toko-toko sepatu di kota ini
Pelayannya sama menggeleng
Sepatu model begitu katanya
Sudah tak dibuat lagi
Bahan-bahannya langka
Susah dicari dan ditemukan
Barangkali malah sudah musnah
Dari planet kecil sial ini
Adakah betul toko tuan juga
Tak menjual sepatu macam itu?

09 September 2008

Paceklik Puisi

TERJEBAK dalam “musim paceklik puisi” adalah kejadian yang cukup sering saya alami. Meskipun pengalaman selama ini mengajarkan bahwa “musim kering puisi” itu hanya sebuah siklus biasa dalam perjalanan saya selaku penulis, entah mengapa rasa gelisah (dan cemas itu) terus saja (kembali) hadir. Saya cemas, misalnya, jangan-jangan kali ini saya memang segera “tamat” sebagai penyair. (Kalau tak ada sajak lagi yang bisa kita tulis, masihkah kita penyair?)

Nah, sudah dua bulan lebih ini saya mengalani kembali musim kering itu. Saya coba runut kembali kejadiannya. Oh, ternyata sebelum itu terjadi memang sudah ada rasa jenuh dan “lelah” kepada puisi .Itu pun bukan kejadian luar biasa menurut saya--manusiawi dan wajar saja bahwa seorang penyair pun sesekali merasa “capek” kepada puisinya. Mungkin sama wajar dan manusiawinya seperti kalau kita sesekali juga suka merasa “lelah” dengan pasangan kita?

Lalu yang saya lakukan untuk mengisi saat vakum itu biasanya adalah “jajan”, mencari selingan, karena ada petuah bagus yang bilang bahwa kalau kita suatu saat tidak bisa “kreatif”, setidaknya kita musti bisa tetap “produktif”. Dan “jajanan” saya kali ini (supaya bisa tetap produktif) adalah kitab-kitab cerita silat wuxia, jenis bacaan yang sering dilecehkan sebagai “klangenan” tidak bermutu oleh sebagian orang yang merasa punya selera seni “adiluhung”.

Mungkin saking “seru dan dahsyat”nya novel-novel itu saya pun jadi mendadak rajin berolah-tubuh (yang sudah sekian lama saya abaikan) setiap hari, seraya dengan lahap menyantap halaman-halaman literatur seputar martial art. Dalam kungkungan atmosfer seperti itulah antara lain sajak “Pesilat”, yang dimuat di halaman ini beberapa waktu yang lalu, tercipta.

Syahdan, sesudah luntang-lantung mengembara di dunia “sungai telaga” sekian lama, berjumpa dan “bertarung” dengan sekian tokoh aneh dan sakti dari berbagai golongan, saya pun mulai menjadi letih dan kini berbalik merasa “kangen” kembali untuk “berolah-rasa”, untuk pulang kepada kata, kepada puisi.

Masalahnya kemudian ternyata yang saya kangeni ini seperti jual mahal. Saya sudah mencoba memanggilnya, membelainya, merayunya, belum ada hasilnya juga. Meski saya termasuk yang meyakini bahwa puisilah yang sering “mendatangi” penyair, tapi dari pihak penyair rupanya dituntut semacam syarat. Ia harus sungguh dalam kondisi “mabuk kepayang” kepada puisi, berada dalam tangkapan atmosfer puitik seintens mungkin. Ia harus dalam kondisi sungguh “on” ketika puisi sesewaktu datang memergokiya.

Barangkali syarat inilah yang belum sepenuhnya saya penuhi. Sebagian dari diri saya mungkin masih tertinggal di puncak permai berkabut gunung Wudang, terumbang-ambing bersama Zhang San Feng (atawa Thio Sam Hong), konon peletak dasar Tai Chi, merenungi keindahan sekaligus kedahsyatan tersembunyi dedahan pinus. Atau tenggelam dalam khusuk samadi bersama para rahib sepuh, di ruang sunyi angker Tat Mo Tong, di kuil Siauwlim, di gunung Siong San sana …

04 September 2008

Seno Gumira Ajidarma : "Mediocre" tapi Juara

SENO GUMIRA AJIDARMA adalah sebuah kontradiksi, mungkin juga sebuah ironi, tapi akhirnya adalah sebuah surprise. Coba saja kita periksa figur sosok yang satu ini. Waktu sekolah ia mengaku suka memilih duduk di barisan tengah. Tidak di belakang, sebab barisan belakang milik murid-murid yang “pintar”, sedang barisan depan adalah jatahnya murid-murid “bodoh”. Kata Seno, “aku menerima diriku sebagai mediocre saja”, maka ia memilih duduk di barisan tengah.

Kini dengan setumpuk kitab hasil karyanya, plus seabrek penghargaan sastra bergengsi yang sudah disabetnya, tidak mungkinlah untuk menganggapnya hanya penulis mediocre, meskipun ia sendiri mengaku “tidak pernah punya obsesi menjadi nomor satu”. Lucunya juga ia malah pernah mengeluarkan pernyataan bahwa ia tak pernah bercita-cita menjadi penulis—meskipun nyatanya kini hidup dari menulis. Ia mengaku “terpaksa” menulis, karena suka membaca. Atau dalam kata-katanya sendiri, “Aku mewajibkan diriku menulis karena aku suka membaca”.

Dulu pun ia mengaku hanya kepingin jadi seniman “biasa” saja. Targetnya menjadi “seniman biasa” itu menurutnya sudah dicapainya pada saat umurnya baru 17. Saat itu puisinya sudah berhasil menembus majalah sastra Horison, yang ketika itu masih disembah-sembah. Pada saat yang sama puisinya juga muncul di Aktuil, majalah pop yang secara “ideologis” bertabrakan dengan Horison. Ia pun gulang-gulung dengan Teater Alam yang dikomandani Aswar AN.

Tak cukup sampai di situ. Saat umurnya 19 ia menjadi wartawan, lantas kawin, lantas punya anak—yang kini sudah fotografer, lulusan IKJ, almamater tempatnya sekarang mengajar. Gebrakan serba kilat itu dilakoninya lengkap ketika umurnya baru 20—periode ketika sebagian anak-anak Indonesia masih pada repot dengan tawuran di jalan atau khusuk menyetubuhi kitab-kitab stensilan. Maka tak salah kalau ia berani bilang, bahwa “upacara dalam hidup sudah kutuntaskan pada usia 20 tahun. Aku tak punya target lagi setelah itu”.

Kini ia mengisi hari-harinya dengan mengajar, membaca, menulis—terus menempa diri menjadi “tukang”. Menjadi tukang itu tidak mudah, katanya meyakinkan—berbeda dengan menjadi robot. Karena untuk menjadi tukang, teknik saja tak cukup, ujarnya. Ada pergulatan intens di sana. Tukang kayu, ia mencontohkan, harus kenal kayu secara personal, seperti petani juga wajib mengenal cuaca, tanah,air, dan benih tanamannya secara personal.

Maka seorang penulis yang baik wajib hukumnya mengenal secara personal tabiat kata-kata yang digaulinya setiap hari itu. Pengenalan itu akan membawanya ke bentuk hubungan yang lebih serius, lebih intens. Dari intensitas itulah kelak boleh diharapkan lahir karya-karya unggulan yang adalah hasil persetubuhan suntuk, buah dari perselingkuhan segitiga yang rumit, antara penulis di satu pihak, pengalamannya di pihak lain, dan kata-kata yang sebagai ranjang dan wadag, menerima pasrah kisah kasih kasmaran itu.

(Sebagian bahan artikel ini dipinjam dari blog Sukab.Wordpress.com)

28 August 2008

Pertapa

Ijinkanlah
Aku sembunyi
Dalam sakumu itu

Jangan biarkan
Dunia mengambilku
Dengan alasan
Apa pun

Lindungi
Dan bantulah
Niat luhurku ini

Tunggulah

Sampai
Sempurna
Bau apak sakumu itu

Kuserap

20 August 2008

Nirwan Dewanto Mulai Ngeblog

Ia tidak datang ke upacara itu. Ia tidak ingin. Ia memang tidak pernah lagi datang ke upacara semacam itu. Terakhir kali ia ikut upacara bendera adalah 17 Agustus 1991, di lapangan parkir Gedung Pertamina di Gambir, ketika ia masih geolog (semua karyawan perusahaan minyak, juga perusahaan asing, harus ikut upacara supaya mereka ber-Pancasila). Sudah lama sekali. Waktu itu wajahnya masih sangat licin dan kampungan, seperti dilukis Rudolf Bonnet. Sekarang wajahnya kasar dan terpiuh, seperti potret diri Oskar Kokoschka.(Penggalan “Hadiah Tujuh Belasan”, dipinjam dari blog Nirwan Dewanto).

Seperti pernah di”janjikan”nya dalam obrolan tertulis di halaman blog ini beberapa bulan lewat, Nirwan Dewanto akhirnya memenuhi janjinya : blognya, yang ia beri nama unik, “Kualakuali”, kini sudah hadir. Ia mencanangkan antara lain “Dalam blog ini saya tampilkan petikan catatan, ulasan pendek, aforisme, cerita, dan (semacam) berita, juga jawaban terhadap sejumlah soal yang, secara langsung atau tak, dialamatkan ke saya”.

Sementara ini sudah terpajang 5 artikel di laman blog itu. Meski masih dalam “edisi percobaan”, sudah bisa terendus blog ini sepertinya akan memberi tawaran pilihan yang menarik di rimbun sesaknya rimba belantara blog saat ini.

Nirwan, selamat datang di blogosphere! Semoga kerasan …

15 August 2008

Kepada Wiji Thukul

Selalu kutahankan
Niatku yang naif
Menulis tentangmu
Karena setiap hal
Seputar nasibmu
Ternyata kelewat besar
Ruwet dan kurasa
Juga absurd
Untuk bisa
Kuringkas utuh
Dalam sajak
Karena itu
Terimalah saja
Hormatku yang dalam
Salamku yang diam
Dari dalam sebuah
Gedung jangkung Jakarta
Yang jauh dari debu
Dan aman dari peluru
Seorang yang tak pernah
Sempat kaukenal
Bahkan apalagi
Kau bayangkan
Menuliskan ini semua
Dengan mata kelam
Dan hati gerimis

13 August 2008

Obituari Soe

Musuh-musuhnya sengit menuduhnya komunis
Tapi para sahabat sepakat, menjulukinya humanis
Cewek-cewek penggemarnya bilang ia “anak manis”
Sedang koran-koran berkabar hidupnya tragis

Aku tak paham, sungguhkah kisahnya begitu dramatis
Yang kutahu, ia memang pergi pada suatu Kamis manis
Di sebuah ceruk Mahameru, terhisap olehnya racun, amis
Dan lama sesudahnya, masih ada saja yang terkenang menangis

08 August 2008

Syair Kelam

Aku tak kenal
Siapa kau yang kubunuh
Hanya nama dan alamat
Membayang samar
Saat kutetak roboh
Di pojok waktu yang kelam
Aku tak paham mengapa
Mendadak sepi jadi beringas
Menyudahimu menjadi
Permainan yang mudah
Membereskan bekas darah
Lantas kubenam tubuh matimu
Kupulangkan pada bumi
Tapi geliat sekaratmu
Kini abadi sebab telah menyatu
Dalam baris syairku

05 August 2008

Pesilat

Macam pesilat
Sabar saya menanti
Kapan saatnya
Angan bergebrak

Menanti itu
Memandang jauh
Ke dalam inti

Sampai sunyi
Melepas bunyi
Menukarnya dengan kata

Macam pesilat
Maklum saya
Sajak yang perkasa
Tumbuh dari derita

Buah samsara
Dari laga ke laga
Sewaktu sesaat

Tersesat di dunia

29 July 2008

Halo, Saya Ryan ...

HALO, perkenalkan saya Ryan. Sebetulnya tak perlu saya memperkenalkan diri, sebab sesungguhnya sudah lama sekali saya berada di antara anda. Karena itu saya heran, mengapa orang baru meributkan saya sekarang? Mengapa mereka begitu cepat lupa, bukankah di tahun 2002 saya telah dengan terang benderang menyatakan kehadiran saya. Dua ratus nyawa lebih saya habisi hanya dalam hitungan menit, mungkin malah detik. Ya di Bali saya melakukannya, anda ingat sekarang, bukan?

Bukan hanya di Bali itu saja saya mengumumkan kehadiran saya. Masih ingat 27 Juli 1996? Ketika itu saya memimpin “orang-orang saya“ menduduki sebuah kantor parpol di jalan Diponegoro. Tentu saja, banyak korban yang berjatuhan akibat keganasan saya. Bohong, kalau dibilang yang mati sedikit. Tapi sebagai orang “kuat”, tak bisa seorang pun menuntut saya. Lihat saja, buktinya karir politik saya malah tambah maju. Tahun depan, insyallah, saya akan maju sebagai calon presiden.

Apa yang tak bisa saya lakukan? Di bulan Mei 1998, sesudah menembak mati sejumlah mahasiswa, saya memimpin “orang-orang saya” membakar ludes Jakarta. Sekalian, saya perintahkan mereka memperkosa amoy-amoy Cina nan molek-molek itu. Mengapa saya lakukan perbuatan biadab itu? Sederhana saja. Saya tahu keberadaan kelompok Cina di negeri ini selalu menjadi “duri dalam daging” bagi kelompok mayoritas. Dengan berbuat ini, saya hanya “membantu” menyalurkan dendam kolektif bawah sadar mereka. Ya, kalau bukan waktu itu, kapan-kapan dendam itu juga pasti meledak. Jadi, apa bedanya?

Saya Ryan, memang dikaruniai bakat yang hebat untuk bersikap luwes dalam situasi apa pun. Sewaktu seluruh bangsa ini terjerat eforia reformasi yang kepagian itu, diam-diam saya pun menyiapkan diri. Saya lalu rajin muncul dalam berbagai kesempatan, sebagai sosok pembawa kabar baik. Dengan bersemangat saya berkoar dari seminar ke seminar, memesona para pendengar dengan wacana separuh jadi. Oh, mereka sungguh teramat lapar, sesudah tahun-tahun yang membisukan itu. Kini dalam tempo yang begitu singkat mereka sudah menjadi kekenyangan, gendut, dan malas bernalar. Ini memudahkan saya membantai dan mencincangnya nanti.

Saya pun berhasil menyelundup ke dalam gedung parlemen, lalu duduk di sana dengan santainya. Boleh dibilang tak ada kerja berarti yang saya buat. Tapi supaya tak kelewat kentara, sesekali saya pun bikin heboh, supaya terkesan betapa saya sungguh concern dengan nasib orang banyak. Luar biasa asyiknya permainan itu. Saya pun sukses sebagai juragan, karena dengan kelihayan saya, saya juga bisa nangkring di kursi empuk kabinet. Dari sini saya bisa leluasa sekali mengatur bisnis saya. Tak ada yang bisa mengotak-atik saya, karena musuh-musuh saya tahu belaka duit sayalah yang bikin mereka bertahan.

Jadi, apa yang tak bisa saya lakukan. Ya, saya, yang hari-hari ini membuat anda terlongong-longong itu, sebetulnya sudah lama ada, dan akan senantiasa ada, memenuhi seluruh pojok negeri. Bukan, saya bukan gay, yang benar adalah saya bisa tampil leluasa sebagai apa saja, atau siapa saja, seturut situasi yang ada. Betul, nama saya memang Ryan, dan sebaiknya jangan pernah melupakan saya, atau anda akan jadi korban saya yang berikut …

25 July 2008

Peristiwa 27 Juli : Tentang 2 Sajak

KIRA-KIRA sepekan (saya tak ingat pasti) setelah “Peristiwa 27 Juli 1996”, saya menulis sebuah sajak yang embrionya bersumber dari horor politik itu. Karena sajak itu saya anggap “gagal” saya pun hanya menyimpannya, dan pelan-pelan belajar melupakannya. Tapi saya tak membuangnya.

Pada Maret 2000 penerbit Pustaka Firdaus menerbitkan kumpulan sajak Sapardi Djoko Damono, “Ayat-Ayat Api”. Sewaktu membolak-balik buku itu saya menemukan sebuah sajak Sapardi berjudul “Jakarta Juli 1996”. Sewaktu kali pertama membacanya saya tercengang, dan sempat membatin “mengapa puisi saya bisa ada dalam buku Sapardi?”

Ketercengangan itu terjadi karena puisi Sapardi itu bagi saya begitu mirip dengan puisi saya : keduanya berseting “Peristiwa 27 Juli”, keduanya juga menggunakan gaya prosa yang mirip sekali. Belakangan saya sadar bahwa yang semacam ini adalah soal biasa dan lumrah saja dalam urusan cipta mencipta.

Hanya saja, karena Sapardi adalah sebuah nama besar dalam panggung puisi Indonesia (dan sudah “mentas” lebi dulu), sedang saya hanyalah “penyair gurem” belaka, orang pasti akan dengan gampang bilang, misalnya, “wah, sajak Ook yang ini sangat Sapardi sekali ya.” Berikut ini adalah dua sajak yang saya maksud. Yang pertama puisi saya, yang kedua punya Sapardi.


Malam Sehabis Huru-Hara

Malam sehabis huru-hara itu
jalanan jadi lebih sepi
dari biasa. Kabar-kabar palsu menguasai
seluruh kota. Mengetuk setiap pintu
seraya menggertakkan ancaman. Tak ada lagi
yang sedia bicara. Tak seorang pun kini
siap jadi saksi. Malam sehabis huru-hara
itu, sepi jadi terasa aneh. Di bawah
tiang-tiang listrik dan kesenyapan
gang-gang kota, seperti ada yang ingin terus
berkisah padaku. Tentang berapa jumlah korban
yang luka-luka, hilang, dan mati dalam
kerusuhan siang tadi itu.


Jakarta Juli 1996

Katamu kemarin telah terjadi
ribut-ribut di sini.
Sisa-sisa pidato, yel, teriakan.
umpatan, rintihan, derum truk,
semprotan air, dan tembakan
masih terekam lirih sekali di got
dan selokan yang mampet.
Aku seperti mengenali suaramu
di sela-sela ribut-ribut yang lirih itu,
tapi sungguh mati aku tak tahu
kau ini sebenarnya sang pemburu
atau hewan yang luka itu.

22 July 2008

Nasehat Mandi Pinurbo

Mandi dan sembahyang itu ada miripnya
Yang pertama mencuci bersih badan
Satunya mengawal rapuh jiwa

Kalau mandimu bukan asal mandi
Dan sembahyangmu tak asal meradang
Insyallah, sehat afiat sekujur hidupmu itu

18 July 2008

Gerbang

/1/
Jika semua orang memilih berdagang
Siapa gerangan menjaga ini pintu gerbang
Jadi pergilah kalian berniaga ke kota
Aku di sini saja tinggal merawat kata

/2/
Berpuisi itu laku orang masih punya nurani
Menjadi puisi kukira puncak pencapaian insani
Tapi aku cumalah penjaga di pintu gerbang ini
Bahagia menampak sesaat jejaknya melintas di hati

16 July 2008

Buku yang Tak Dibaca

Ia sebuah buku
Yang tak dibaca lagi
Terselip kesepian
Dalam rak kenangan

Kulit sampul meluntur
Saru dimangsa waktu
Judulnya gagap
Kikuk menatap zaman

Tema dan gaya
Sama kadaluwarsa
Halaman yang pernah perkasa
Nelangsa tak berdaya

Ia sebuah buku
Yang tak dibaca lagi
Bahkan saya lupa
Dulu pernah membelinya

11 July 2008

Surat dari Penerbit

Saudara Ook yang terhotmat,

Singkat dan langsung saja ya bung. Kami sudah menerima kiriman naskah puisi anda, kami juga sudah mempelajarinya, dan kami pun telah mengambil keputusan untuk “tidak menerbitkannya”. Seperti anda pun pasti sudah paham, proyek penerbitan buku puisi adalah proyek “tumbal”, proyek “makan hati”, alias proyek pasti rugi melulu.

Anda juga tahu harga bensin belum lama ini naik, dan itu menyebabkan lonjakan yang tinggi pada biaya produksi buku. Sementara sebelumnya harga kertas juga sudah duluan naik. Cobalah anda hitung berapa tinggi resiko yang harus kami tanggung jika kami menerbitkan naskah puisi anda. Apalagi, maaf sekali, anda hanya penyair gurem yang “tidak menjual”.

Kami lebih mendahulukan penulis-penulis yang “menjual”, yang sudah punya merk. Bahkan bukan penulis pun apabila mereka berpotensi “laku” pasti akan kami pertimbangkan serius. Misalnya, kami akan mempertimbangkan jika ia misalnya mantan aktivis politik yang pernah masuk penjara, atau minimal pernah ikut rame-rame turun ke jalan dan digebuki tentara. Tokoh selebriti yang kontroversial pun akan kami prioritaskan.

Soal mutu karya, bagi kami nomor dua. Kami punya tim hebat yang sanggup menyulap karya yang hanya “sampah” sekalipun menjadi “maha karya” yang berpotensi “best seller”. Akan halnya karya anda, mohon maaf, kami tak melihat peluang sama sekali untuk bisa disulap menjadi “laku”. Jadi ini kami kembalikan naskah anda, cobalah ke yang lain, siapa tahu ada juga penerbit “sinting” yang mau menerimanya.

Salam dan semoga anda tidak jadi putus asa, atau murka, karena surat kami yang terlalu berterus-terang. Ini.memang sudah menjadi kebijakan dan gaya kami selaku penerbit besar dan terkenal yang mengusung motto “mencerdaskan bangsa seraya menggendutkan dompet sendiri”.

09 July 2008

Kisah Dua Kepala

Kepala yang satu
Kelewat repot berpikir
Merenung-renung sok filosofis

Soal mudah
Dibuatnya jadi susah
Soal sudah susah
Ditambahnya parah

Jadilah ia beruban
Dan akhirnya membotak
Sebelum mati

Kepala satunya
Justru paling malas
Diajak berpikir

Maunya berontak melulu
Hajar dulu urusan belakang

Jadilah ia gelisah
Menggeliat tak henti
Dalam gerah sarangnya

07 July 2008

Dongeng Jakarta

Dari Jakarta
Sorga tak jauh lagi

Begitu petuah
Si tua dalam kitab tak bernama

Tapi sebelum
Tiba kau di sana
Ada sebuah simpangan

Yang mirip nirwana
Menggodamu dengan bayangan
Hiburan dan nujuman
Hari akhir

Itulah puisi
Maha puisi, ujar
Si tua itu lagi mengingatkan

Di sana banyak sudah
Rebah para penziarah
Rubuh atau sekadar terbunuh

Habis umur dimakan sajak

Tapi dari Jakarta
Dari Jakarta, sungguh
Sorga tak berapa jauh lagi

04 July 2008

Misalkan, Saya Ini Buku

Misalkan, saya ini buku
Sejauh mana sudah kau jelajah
Halaman-halamannya?

Di luar urusan salah cetak
Yang mengganggu ada-ada saja

Apa komentarmu
Perihal tema dan isinya :

Cukup dalam atau banalkah?

Bagaimana pula
Struktur narasinya digarap?

Antara kadar literasi
Dan kemestian gramatikanya
Sudahkah terjalin serasi
Sebagai darah dan lukanya?

Adakah menjemukan
Pilihan sampul depanku?

Misalkan, misalkan
Saya ini benar sebuah buku
Di rak perpustakaan mana gerangan
Kelak ia bakal disimpan?

02 July 2008

Sajak Tamu : Eka Budianta

Eka Budianta, yang lahir di Ngimbang, 1 Februari 1956, adalah salah seorang penyair kita yang cukup penting. Ia dikenal melalui sajak-sajaknya yang bergaya-ucap jernih dan sederhana. Sajak “Teringat pada Daun” adalah contoh tipikal puisinya. Ia pun kerap menyisipkan idiom-idiom kontemporer ke dalam puisinya. Ini adalah kecendrungan dominan lain padanya, selain kesukaannya bermain dengan imaji-imaji alam. Sajak “Tembang Biasa” mewakili tren itu.

Dua sajak yang dimuat di sini dipetik dari kumpulan puisi “Sejuta Milyar Satu” (penerbit Arcan, 1984). Kumpulan ini mendapat penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta. Sayang, kiprah kepenyairannya menyurut kemudian. Sajak-sajaknya tak pernah muncul lagi kepada kita. Sungguh sudah “habiskah” Eka Budianta sebagai penyair?


Teringat pada Daun

Bagaimana aku bisa lupa padamu, daun
Setelah kauajar selama bertahun-tahun
Menghadapi berbagai musim dan kekecewaan
Di laut, sekarang aku jadi biduk
Tak berdaya, kosong dan sakit-sakitan
Jauh dari hutan, jauh dari kalian
Tapi lupakah aku padamu begitu saja?

Nasib membuatku jadi sepotong gabus
Kapal tanpa kompas, perahu tanpa layar
Tapi jangan bilang aku lupakan kalian
Hutang rindu, hutang kasih sayang
Tak tertebus dengan sejuta bait gurindam
Hidup bukan sekedar iuran perkataan
Sejak dulu telah kauajar aku membuktikan

Sekarang, di tengah lautan kata-kata
Aku memanggilimu, daun-daun
Yang telah menghijaukan perasaan
Dengan usapan dan tamparan di masa kecil
Ombak kini menggantikanmu
Dengan ayunan dan hempasan
Mendekatkan aku ke akhir perjalanan


Tembang Biasa

Pemenang Nobel perdamaian
Bukanlah ayahku
Meskipun setetes spermanya
Bersama ovum bintang film itu
Tumbuh menjadi aku
Seperti engkau
Di dunia ini aku sendiri
Normal dan terasing

Akulah mereka
Penanam modal di planit Yupiter
Pendatang baru di galaksi tanpa nama
Aku membuat semilyar komputer
Reaktor-reaktor atom dan mesin sinar laser
Untuk membunuh orang-orang Kamboja
Membantai sisa-sisa Palestina
Menghabisi Indian Amerika, Yahudi di Eropa
Aku perintis teknologi metafisika
Sekaligus pelacur, tukang sepatu
Algojo, muazin dan perawat yang rajin

Aku lari meninggalkan firdaus
Menyumpahi Tuhan sepuas-puasku
Dan menyembah-nyembahnya lagi
Aku membangun piramida dan tembok Cina
Dan tidak menangis
Ketika Hiroshima berantakan
Tidak marah melihat rakyat dibantai di Gullac
Aku tersenyum bersama cahaya
Menyusup ke segala rongga, seperti biasa

30 June 2008

Liburan

Sesekali
Kata-kata juga
Perlu berlibur

Menjenguk sunyi
Yang bertapa di gunung

Melupakan
Rindu dan luka
Yang bikin hidup ngilu

Kembali ke pantai
Melambai ibu lautan

Memulangkan
Ombak ke cakrawala

Sesekali
Kata-kata juga
Perlu refreshing

Ikut tour
Keliling kota-kota jawa
Merambah pulau nusantara

Yang membujur
Dari barat ke timur

Yang merekat
Sekarat dan umur
Jadi bagian

Kisah &
Takdir kita?

27 June 2008

Bunda Puisi

Anak Sajak

Sebelum tumbuh kau dewasa
Wajib aku menjagamu
Mengawalmu dengan rima
Mengantarmu ke pangkal rindu

Kelak tiba masanya
Kata-kata telah matang dewasa
Selesai juga sudah tugas bunda
Mengenalkannya pada luka


Sajak Dewasa

Kini kata-kata sudah dewasa
Tak berhak lagi kucegah mereka
Ngembara pergi ke mana suka
Jauh menyebrang tapal bahasa

26 June 2008

Nyanyian Preman

Karena aku preman
Barangkali aku mati di jalan
Tanpa kuburan namaku
Terhapus angin dan debu

Kalau besok pagi
Atau malam nanti kumati
Yang lain menggantikan
Mengangkangi ini pertigaan

Di dunia kami yang kasar
Semua berlangsung sebentar
Kejadian silih berganti
Bajingan datang dan pergi

Nasib bergulir di jalan
Tak pernah kutahu persisnya
Ajalku di sana barangkali saja
Karena aku tulen preman

25 June 2008

Duel

Aku menantimu
Di puncak baris
Dengan sepi terhunus

Datanglah padaku
Jika kau bernyali
Jika sungguh kau pencinta

Kita putuskan
Sengketa purba ini
Dengan kilau kelebat kata

Mungkin kau
Barangkali saya
Rebah bersimbah

Dengan rindu tertebus
Manis pisau puisi

23 June 2008

Sepatu

Sepatu 1

Seingatku
Tak pernah aku bertanya

Misalnya
Menanyakan padanya
Sopan dan baik-baik

Apakah ia mungkin
Sedang malas keluar
Ini kali

Dan lebih suka
Tinggal aman di rumah?


Sepatu 2

Sewaktu berangkat
Kupaham, betapa kami
Sama tak bisa menduga
Apa menanti kami

Di luar rumah
Nun di jalan sana.

Sewaktu berangkat
Kusadar, sungguh kami
Sama tak berdaya

Piatu menyusur usia

20 June 2008

Binhad Nurrohmat, Sang Demonstran Sexi

Kami buang tahi
sambil menulis puisi.

Kami benci puisi
bertampang politisi
.

(Sajak "Penyair Murni")

BINHAD NURROHMAT adalah sebuah perlawanan. Begitulah saya menafsirkan segala sepak-terjang sastranya selama ini. Perlawanan itu sudah mulai bahkan dari hal-hal yang “sepele”, misalnya pada kebiasaannya menuliskan puisinya dengan tipografi “rata kanan”. Terlihat sepele, tapi setahu saya hanya dialah penyair kita yang secara konsisten-permanen menulis puisi dengan tata-letak demikian. Dan itu membuat kehadirannya menjadi segera gampang dikenali.

Perlawanan lainnya, yang lebih substansial, adalah ketika ia secara secara sadar dan konsisten menjadikan “tubuh” dengan segala konsekuensi estetis-biologis yang mengikutinya sebagai lahan garapan puisinya. Para pembaca yang sok moralis berlomba-lomba meneriakinya sebagai “penyair perusak ahlak” dan makian lain semacamnya. Tapi begitulah, dengan pilihan puitikanya itu Binhad telah menjadikan dirinya sebuah ikon unik dalam peta perpuisian nasional.

Kitab “Demonstran Sexi”, kumpulan sajaknya yang paling gres (penerbit Koekoesan, Mei 2008) masih meneruskan “perlawanan” itu. Bedanya perlawanan itu dilakukan dengan semangat berolok-olok dan seloroh yang kental. Puisi-puisi Binhad dalam kumpulan ini dengan segera mengingatkan saya pada model sajak yang ditawarkan gerakan puisi mbeling beberapa puluh tahun lalu. Bukankah semangat “perlawanan” juga yang dulu menjadi pemantik awal lahirnya “mazhab” itu?

Binhad Nurohmat kini “memanfaatkan” gaya mbeling itu untuk merespons berbagai hal yang mengusik dan mengganggunya. Ia misalnya meledek dengan satiris gejala “post power syndrome” yang menjangkiti sejumlah penyair “tua” kita (hal. 6 & 7), menyindir kesukaan “bergerombol” pada sejumlah sastrawan (hal. 18), yang buntutnya hanya melahirkan polarisasi tak sehat dalam kehidupan sastra di sini (hal. 17, 20, 41).

Dan kepada mereka yang gemar menjulukinya “seniman perusak ahlak” dengan santai ia menitipkan pesan dalam puisi “Penyair Pidato Kebudayaan 2006” (hal. 11). Ia juga menulis puisi “Monkey Literary Award” (hal. 45) yang menyindir sebuah ajang sastra berhadiah besar di sini, yang maunya menjadi proyek prestisius, tapi karena kelemahan dalam sistem penjuriannya, kini sering malah menjadi bahan sinisme di kalangan sastrawan sendiri. Dan masih banyak hal lain lagi yang ditulis Binhad.

Kumpulan puisi “Demonstran Sexi” memang bukan kitab sastra istimewa, kita mungkin boleh menganggapnya saja sebagai “selingan” dari kiprah sastra penulisnya. Tapi bagi saya sendiri buku ini terasa cukup menyegarkan dan “membebaskan”. Maka jika anda telanjur sudah menjadi penggemar berat Binhad, atau sebaliknya anda adalah “musuh besarnya”, kitab puisi ini, tak bisa tidak, wajib anda miliki.

19 June 2008

Perjalanan Sajak

Dari seratus sajak yang susah payah kau tulis
Sepuluh saja mungkin yang sungguh sajak

Kau kirim lantas yang sepuluh itu
Ke koran lokal suka memuat sajak-sajak majal

Tuan redaktur nan gemar bermain teka-teki
Berkenan mengijinkan dua nampang di pojok

Nun di mana, seorang entah sesiapa, mengutuk:
"Redaktur tolol, penyair goblok, sajak taik!”

18 June 2008

Penyair Pemalu

Sewaktu datang panitia mengundangnya baca puisi,
dengan tersipu seraya berkeringat menjawab ia :

“Panggung membikin saya canggung, sangar mata
hadirin akan menyihirku gementar dingin.”

Lantas ia pun nyelinap pergi kembali ke belakang sajak,
bahagia mendekap bagian kata yang jadi miliknya

16 June 2008

Nonton Bola, Nonton Puisi

PUISI yang baik barangkali boleh diumpamakan dengan sebuah permainan sepak bola yang baik. Puisi yang baik, seperti halnya permainan sepak bola yang baik, mengisyaratkan adanya penguasaan skill yang tinggi, stamina yang prima, plus kreativitas yang luar biasa. Puisi yang baik adalah kompilasi dari ketiga faktor itu, ditambah satu lagi, yaitu “nasib baik”.

Pembaca yang cermat akan melihat seorang penyair menyusun puisinya seperti sebuah kesebelasan menyusun serangannya. Kata-kata dialirkan dari baris ke baris lewat operan-operan pendek yang efisien, through pass, wall pass yang menyayat emosi, atau umpan-umpan lambung dan silang yang memanfaatkan lebar dan luas lapangan imajinasi dengan akurasi yang terukur.

Tapi skill tinggi saja tidak memadai. Puisi yang baik ternyata adalah puisi yang juga sukses menjaga tempo dan ritmenya. Konsistensi, adalah persyaratan berikutnya.

Kotak penalti adalah area yang paling krusial dan sensitif. Di sinilah sebuah permainan diuji dan dinilai. Di kotak penalti inilah nyawa sebuah puisi dipertaruhkan. Skill tinggi, stamina bagus, kreativitas yang super menjadi mubazir saja, kalau tidak ada gol yang tercipta, bukan? Seorang penyair akan berdaya sekeras bisa demi menyarangkan gol untuk puisinya.

Begitu krusial dan sensitifnya kotak penalti, sehingga seorang penyair kerap melakukan banyak blunder dan kesalahan yang tidak perlu. Ia mungkin bertindak kesusu, menjadi gugup, sehingga sontekan kaki atau sundulannya melenceng, atau membentur tiang gawang, atau malah nyasar ke pelukan sang kiper lawan.

Seorang penyair mungkin juga tergoda untuk bermain “nakal” di kotak penalti. Ia mungkin terjebak dalam permainan kasar, atau curang, berpura-pura jatuh untuk mengecoh wasit, dengan maksud mendapatkan hadiah penalti, yang akhirnya membuka peluang besar ke arah terciptanya gol. Tujuan menghalalkan cara juga terjadi di lapangan puisi.

Karena itu, tidak pernah ada sajak yang sempurna, seperti juga tak pernah ada permainan sepak bola yang sepenuhnya “fair” dan “sportif: Puisi yang akhirnya “lulus” dianggap baik juga tidak bisa lepas dari cacat-cacat manusiawi sang penyairnya. Konsep luhur “fair play” memang hanya akan jadi slogan dan utopia belaka.

Tapi mungkin justru di situlah letak “kebesaran” dan “keagungan” sebuah karya. Cacat manusiawi yang terbawa padanya dengan demikian menjadi gambaran yang paling sempurna dan representatif dari kondisi kemanusiaan yang hakikatnya memang “retak”, alias tidak paripurna.

Jadi, kalau anda sungguh pencinta puisi, jangan lewatkan perhelatan akbar Euro 2008. Banyak pelajaran penting dan berharga yang bisa dipelajari seorang penyair di sana. Nggak percaya? Makanya nongton donk …

13 June 2008

Sepak Bola

Main bola
Dan menulis sajak
Nyata banyak miripnya
Ini hanya soal
Menjinakkan situasi
Kau giring bola
Itu seperti penyair
Mengawal kata-kata
Menjaganya cermat
Dengan taruhan luka
Dari sergapan lawan
Yang dalam hal penyair
Ialah waktu si pencuri
Pada akhirnya tak soal
Gaya apa kau pakai
Yang penting ternyata
Kejelian menangkap
Kejadian tak disangka
Sebab kata bagai bola
Liar bergulir menantikan
Siapa kiranya kaki sejati
Menyepaknya mantap
Mendorongnya pasti
Pada wujud takdirnya
Yang sebagai gawang
Nganga terbuka

12 June 2008

Kutuk Porong

Di sini dulu kalau tak salah letak rumah
Kami, ada halaman kecil, pepohon jambu
Dekat pagarnya dari bambu kuning terpilih
Serambi dan ruang tetamunya teduh menatap
Jauh ke utara, di ruang tengah agak sedikit
Menyudut televisi kami empat belas inci
Berkumpul kami anak beranak saban malamnya
Nonton hiburan murah-meriah melupakan
Keluh kesah ratap sehari-hari sudahlah biasa
Bila malam pelan beranjak semakin jauh
Anak-anak kami tidurkan, memeluk bebintang
Istriku menyusul tak lama sesudahnya sedang
Aku kembali ke ruang tengah di sudut itu
Kuambil koran pagi lusuh belum semua terbaca
Atau kunyalakan lagi televisi kami empat belas
Inci, suara-suara tetangga masih belum terlelap
Nyaring kadang menembus udara kampung kami
Hening bening sungguh tak pernah seingatku
Terendus tanda-tanda mendadak segalanya
Lalu jadi genting dan nasib pun pecah berkeping
Begitu saja, ya, ya sekarang rasanya kupasti di sini
Betul letaknya rumah kami dulu itu, dekat surau
Ada wartel dan puskesmas di ujung jalan sana
Lapangan olah raga dan sekolah anak-anak kami
Tak kupaham bagaimana caranya musti kutebus
Mimpi mereka kini jauh terkubur di bawah
Hitam gegumpal kutukmu Porong

Menu Siang Porong

Sepiring getir
Kuah bening sayur geram
Segelas tangis yang
Tak juga habis

Dijamin semuanya
Asli asal Porong
Tiada sama sekali
Campur tangan pihak ketiga

Dan selaku
Hidangan penutup
Jika sungguh kau
Asli biadab

Ini kami siapkan
Sedikit jerit putus asa
Anak-anak kami

Semoga lengkap
Dan tambah sedap
Santap siangnya

11 June 2008

Di Porong

Di Porong, di Porong
Daerahku yang akan datang

Bahkan puisi
Tak bisa tumbuh lagi

Peta Porong

Di Porong
Ditebar janji
Kosong

Dari Porong
Kami berkabar
Gosong

Antara kosong
Dan gosong
Batas hanyalah
Panas selat lumpur

Itulah Porong
Tanah kami ternista

Tolong Porong

Presiden
Wakil presiden
Menteri
Gubernur
Walikota
Jaksa
Polisi
Tentara
Ulama
Ilmuwan
Seniman
Dan seterusnya

Sekaliannya sehati
Selaras kompak seirama
Sepikir untuk tak ambil peduli

Porong! Porong! Porong!
Maafkan, saya pun tak berdaya

Stop lumpur itu!

09 June 2008

Kura-kura

Aku tak terbiasa
Dengan lompatan besar
Karena akulah
Si kura-kura

Aku merayap amat pelannya
Sabar lagi cermat
Kurampungkan lakonku
Sebaris sebaris

Aku tak mau
Nanti ada terlewat
Barangkali seujar ayat
Kalam purba

Langkahku tak kentara
Pun tiada suara
Sebab aku
Si kura-kura

Tak kusuka
Tema-tema besar
Tapi kupilih takdirku
Hadir mengalir

05 June 2008

Jokpin's Poems in Concert


ITB Choir in Concert 2008
Conducted by Indra Listiyanto

Sabtu, 7 Juni 2008
Aula Barat ITB
Jl. Ganesa 10 Bandung
Pukul 19:30 WIB
PSM-ITB akan menyanyikan karya Ananda Sukarlan Jokpiniana No. 1 yang liriknya diambil dari puisi-puisi Joko Pinurbo
Reservasi : Daniel 022 9246 6483
Lebih Jauh tentang Musik Kunjungi Blog Ananda Sukarlan : http://andystarblogger.blogspot.com/

03 June 2008

Film Sapardi Djoko Damono

Undangan

Pemutaran film dokumenter 'Aku Ingin' karya Tonny Trimarsanto dan diskusi pada:
Sabtu, 7 Juni 2008, pk 19.30 wib
di Dusun Manahan, Jl. Menteri Supeno 20 (barat kolam renang tirtomoyo manahan), Solo

Sinopsis:

Aku Ingin
Sebuah film dokumenter yang mengupas dunia kreatif penyair Sapardi Djoko Damono. Puisi puisi Sapardi seakan tidak lelah untuk menginspirasi proses penciptaan bentuk bentuk kesenian yang lain. Puisi Sapardi juga begitu akrab dengan dunia keseharian masyarakat kita, karya karyanya menjadi populer dari anak anak SD hingga ibu-ibu rumah tangga. Lantas, seperti apakah proses kreatif yang dijalani Sapardi sebelum menuangkan puisi?

Program ini diselenggarakan oleh:
Rumah Dokumenter, Mataya arts&heritage, dan Dusun Manahan

Tentang Tonny Trimarsanto:

Tonny Trimarsanto, Klaten 1970
winner Best Film, for " Gerabah Plastik",at Indonesian Doc Film Festival 2002,
winner Excellent Prize, for " The Dream Land ", at 12th Earth Vision, Global Enviroment Documentary Film Festival 2004 Tokyo
Winner BEST ASIA SHORT FILM at 9th CINEMANILA International Film Festival Philipina 2007, dari film "RENITA RENITA"

Film dokumenter panjangnya "SERAMBI" di putar In Competition Selection UN CERTAIN REGARD, 59th CANNES FILM FESTIVAL , In Competition Selection Ibero World Cinema , 24th Miami International Film Festival , Florida US, In Asia Program , Tokyo International Film Festival, In Competition Selection, Vancouver International Film Festival, San Fransisco International Film Festival 2008

Film dokumenter "Renita Renita", diputar masuk kompetisi film Singapore International Film Festival 2007, DOCNZ New Zaeland , CON CAN Tokyo Film Festival 2007, Amnesty International Film Festival Amsterdam 2008, di Turino Gay Lesbian Transexual Film Festival Italia 2008, dan Roma GLBT Film Festival 2008.

Contact:

Heru Mataya 0816675 808, Tonny Trimarsanto 08159 256 503
Email: tonnytrimarsanto@ yahoo.com, infomataya@yahoo. com, udandawet@gmail. com

02 June 2008

"Matinya" Seorang Penyair

DULU ia adalah salah seorang penyair favorit saya. Namanya sempat cukup menjulang, disebut-sebut sebagai salah satu calon penyair penting di sini--ia berada dalam satu barisan dengan penyair fenomenal Afrizal Malna. Dan memang buku puisi mereka pernah ketiban penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta di tahun yang sama.

Sebagai penyair ia menandai kehadirannya dengan sajak-sajak yang sederhana dan jernih dalam ungkapan.Tema-tema relijius, alam, dan sosial dengan balutan nuansa kontemporer bergantian muncul dalam puisi-puisinya. Memang ia bukanlah jenis penyair yang sekonyong-konyong datang dengan “kejutan”. Tapi seperti banyak penyair lain di masa itu ia mulai dengan merangkak dari kolom-kolom puisi remaja di koran-koran minggu, sebelum akhirnya menaklukkan halaman-halaman “keramat” majalah sastra yang dianggap standar.

Ia berada dalam gerbong besar mainstream puisi Indonesia. Ia tak tampil menyentak, melainkan dengan berindap-indap, sampai suatu saat orang pun menyadari (seraya mengakui) kehadirannya. Ia tak menawarkan “kebaruan”, jika yang dimaksud dengan “kebaruan” adalah hal-hal yang bikin geger. Ia memanfaatkan saja khazanah yang sudah ada. Tapi ia punya style, gaya sendiri, yang membedakannya dari penyair lain—dan bagi seorang penyair bukankah itu yang terpenting?

Suatu kali sebuah radio swasta di Jakarta mewawancarainya. Ada beberapa celutukannya dari obrolan radio itu yang terus saja teringat dan mengiang. Misalnya saya tak akan lupa ketika ia berujar bahwa “… musuh terbesar saya adalah Shakespeare”. Lalu ini, “Saya menulis sajak karena saya penyair, bukan saya menulis sajak supaya disebut penyair”. Yang terakhir itu adalah jawaban ketika kepadanya ditanyakan soal perlu tidaknya “pengakuan” dari orang lain atas kerja menyairnya.

Saya tak pernah sempat berkenalan dengannya, meskipun momen untuk itu bukannya tidak ada. Misalnya, saya pernah melihatnya di kantor majalah Horison yang lama. Di ruang sempit yang selalu acak-acakan itu, ia tampak sedang “pasang omong” dengan Hamsad Rangkuti. Tapi saya merasa kelewat kecil dan tak berarti untuk sekadar menyapanya. Lain ketika, secara mendadak saya berpapasan dengannya di toko buku Gunung Agung. Ketika itu sore, berhujan, saya pas turun di tangga, dan ia sedang naik, dengan payung basah yang belum sempat dilipatnya sempurna. Aih, lagi-lagi saya merasa begitu gugupnya bahkan untuk sekadar menyapanya.

Tahun-tahun berlalu dengan cepat. Saya makin jarang menemukan puisi-puisinya, dan akhirnya betul seperti kehilangan jejaknya sebagai penyair. Sampai belum lama ini saya memergoki buku barunya, tapi bukan buku sastra, apalagi puisi. Ia sudah bertukar habitat, atau mazhab agaknya? Kabarnya sekarang ia memang sudah orang mapan, dan punya jabatan bagus di perusahaan besar.

Jadi mungkinkah karena itu ia lalu menjadi kelewat sibuk dan “tak sempat” (atau tak merasa perlu) lagi menulis puisi? Sayang sekali kalau betul begitu. Padahal Shakespeare masih terus setia menunggunya …

29 May 2008

Hasan Melucuti Nirwan

HASAN Aspahani adalah penyair blog yang menjadi panutan saya sewaktu pertama kali terjun ke ranah blog lebih dua tahun yang lalu. Blognya bagi saya memang sangat inspiring, “enak dan perlu di-blogging”. Saya terutama menyukai terjemahan puisi-puisi luarnya. Karena penguasaan bahasa Inggeris saya yang begitu miskin, saya jadi merasa sangat terbantu dengan terjemahan itu. Sampai kini pun saya masih kerap berkunjung ke sana, mencari-cari (dan sesekali “mencuri”) sesuatu untuk bahan tulisan saya sendiri.

Tapi beberapa hari ini saya merasa blognya menjadi agak kurang nyaman dikunjungi. Itulah sebab tulisan serialnya yang menyoal buku puisi Nirwan Dewanto, Jantung Lebah Ratu (JLR). Bahwa Hasan tertarik mengulas JLR silakan saja. Yang mengganggu saya adalah mengapa tulisannya lalu bergeser menjadi, katakanlah, sekadar gosip yang begitu repot memasalahkan penyairnya, dan bukan puisinya.

Saya merasa—mudah-mudahan saya keliru—tulisan-tulisan itu sarat dipenuhi aura “dendam” kepada sang penyair JLR, sosok yang selama ini memang selalu berada dalam tegangan antara “puji” dan “benci”. Jika Hasan berniat “membuktikan” kelemahan puisi Nirwan, alangkah eloknya jika ia membatasi diri dengan hanya mengulas puisinya, dan bukan malah sibuk mengolok-olok penyairnya. Zen Hae dengan bagus melakukan ini dalam telaahnya (Ruang Baca, suplemen Koran Tempo, 25 Mei 2008).

Agar tidak disalahpahami, saya perlu buru-buru menambahkan, bahwa tulisan ini sama sekali tak bermaksud “membela” Nirwan. Nirwan terlalu kokoh untuk dijatuhkan hanya dengan serangan-serangan remeh seperti ini. Saya dan dia pun tak punya perhubungan khusus, melainkan sekadar hubungan pertemanan yang jauh dan longgar. Sudah lebih 20 tahun kami tak pernah bertemu, bahkan saya tak hadir dalam acara peluncuran JLR-nya tempo hari.

Sebetulnya saya hanya heran dengan cara Hasan “mengulas” JLR. Saya pun menyayangkan mengapa gerangan penulis dengan nama “seharum” Hasan Aspahani bisa dengan mudah tergelincir (atau menggelincirkan diri?) ke dalam apa yang selama ini lazim dikenal sebagai “sastra gosip”.

26 May 2008

Pintu Sajak

Kau terus saja
Menguntitku, seperti
Pencuri coba kau masuki
Samar pintu sajakku
Kau jamah judul
Berharap menemu
Secercah celah, tapi
Tanganmu menjangkau
Buntu, sebab tak kutinggalkan
Rahasia pada kata
Pada baris mendaki
Lereng-lereng terjal bebait
Yang kububuhkan
Pada dinding waktu
Samaran semata
Sebab sesungguhnya
Aku tak punya wajah
Pun tak berjudul
Tapi kuserakkan
Sedikit tanda di bumi
Agar kau percaya
Aku sungguh ada
Hadir dan mengalir
Dengan pukau sihir
Yang menghalaumu
Jauh ke pesisir, menembus
Batas baris dan rima
Hanya jika cintamu
Sabar selebar lautan
Rahasia ombak
Inti sajak, semogalah
Bisa terdekap

23 May 2008

Daging Jamban

Dengan sabar kutahankan
Lonjoran demi lonjoran najis
Tahi dan cucuran deras urina
Yang kau tumpahkan buatku
Dengan sempurna kutelan
(Kadang ceceran getah mani)
Kuserap hingga tertinggal samar
Bebayang liangmu pada wajahku
Liang yang teramat pemurah
Teruslah kau di atas sana
Puas mengangkangi nasibku
Seraya muntah tak henti-henti
Menumpahkan endapan mimpi
Dari ampas melimpah busuk ini
Setamat kulumat barulah kupilah
Sebagian kukirim ke lambung bumi
Selaku sesembahan murni bagimu
Sisanya biarlah tinggal mengendap
Kelak jika musim mengandung kata
Kuracik jadi sedap daging sajak

19 May 2008

Pulang

Pulang adalah rumah
Rumah adalah pintu
Pintu adalah jalan
Jalan adalah rindu
Rindu adalah kamu
Kamu adalah tuju
Tuju adalah satu
Satu adalah kita
Kita adalah luka
Luka adalah asal
Asal adalah dia
Dia adalah sumber
Sumber adalah rahim
Rahim adalah bunda
Bunda adalah sorga
Sorga adalah moksa
Moksa adalah pulang

16 May 2008

Menyoal yang "Panjang", yang "Kuat"

YANG penting bukan “panjang” atau “pendek” ukuran—tapi seberapa “kuat” daya cengkeramnya. Sebaiknya saya buru-buru menambahkan bahwa saya tak sedang bermaksud bicara urusan “obat kuat” atau semacamnya. Mohon diingat, bahwa urusan “panjang” dan “pendek” serta kekuatan “daya cengkeram” adalah hal-hal yang juga sangat relevan dan signifikan dalam pembicaraan puisi.

Maksudnya jelas dan sederhana. Bagus tidaknya sebuah puisi tidak tergantung pada “panjang” atau “pendek” puisi itu.. Seperti juga bermutu tidaknya omongan kita bukan tergantung pada makin panjangnya tutur-kata kita. Yang penting adalah seberapa “berisi” atau “berguna” omongannya. Dengan kata lain, seberapa kuat pembicaraan itu mampu “mencekeram” pendengarnya.

Puisi pun setali tiga kepeng. Sajak-sajak “pendek” tidak bisa begitu saja dianggap kalah perkasa dari sajak “panjang”. Khazanah sastra penuh dengan contoh yang bisa dicomot untuk membuktikan hal itu. Bagi seorang penyair pilihannya juga jelas. Jika dengan empat baris bisa dirangkum 10.000 hal, untuk apa berlelah-lelah mencipta berpuluh atau beratus larik yang ternyata tak cukup berbicara?

Tapi memang menulis sajak panjang, atau sajak yang “sedikit agak panjang”, menjadi tantangan tersendiri bagi seorang penyair. Dan tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjaga agar “ereksi-puitik” bisa bertahan cukup lama, tidak keburu lunglai saat sedang seru-serunya terjadi penetrasi, supaya “permainan” yang disebut proses penciptaan itu bisa diselesaikan dengan tuntas, dan masing-masing pihak pun merasa “terpuaskan”.

Terus terang saya sering “iri” kalau melihat puisi dari sejumlah penyair yang selain ukurannya “panjang” juga kelihatan “kuat”, dengan urat-urat kata yang bertonjolan samar pada sekujur barisnya. Apa ya gerangan resep mereka sehingga mereka bisa memiliki kebugaran puitik seperti itu? Adakah mereka secara rutin menyantap “suplemen” tertentu, mungkin reramuan tradisional apa begitu. Atau ada trik-trik latihan khusus—selain rajin “ber-aerobik” puisi dan khusuk mengangkat-angkat barbel kata setiap harinya?

14 May 2008

Bahasa Gunung

Bahasa Gunung 1

Ke gunung kami pergi
Hendak melukis angin pagi
Sebab kota teramat sarat
Bercinta kami tiada sempat

Kami rindu bahasa angin
Berkasih antara sela pepohon
Menjaga di ujung dedaun
Mimpi betapa rimbun

Cinta kami teramat nyaring
Sabar menggapai terjal tebing
Terus meninggi arah ke puncak
Jejak beriring dalam sajak

Lembah curam dan dalam
Bahasa lain kidung asmaradhana
Maka terjun kami dan karam
Lebur ke dasar jurang kata


Bahasa Gunung 2

Pulang dari gunung
Hijau dedaun
Tumbuh melebat pada
Rimbun sapaku

Langkahku jadi sabar
Menapak lambat
Sebab akarku
Tertambat masih
Di lerengnya
Jauh di selatan
Bersama kepak senja
Menggoda kawanan burung

Pulang dari gunung
Rimbun belukar
Melebat menutup
Pintuku berselimut kabut

Tanganku masih
Berbalur embun
Pelan mengetuknya
Adakah kau di dalam
Atau sepi di lubuk jeram
Nyaring menyeru namaku
Menarikku ke curam jurang

12 May 2008

Dongeng Mei

Mei yang berduka
Maaf, jika tak kupunya lagi
Cukup ingatan

Guna mengenang
Kisah itu

Tinggal hanya
Asap
Reruntuk
Kata-kata

Yang tak cukup mendidih
Tak cukup perih, Mei

Aku ingin
Menyalakan lagi
Kobaran itu, Mei
Agar sempurna dongengmu

Tapi tak kupunya
Minyak dan korek apinya

09 May 2008

Sajak

Yang menanti
Sebelum kata

Yang kotoreh
Dalam leleh

Yang kureka
Dengan taruhan luka

Jauh kuburu
Ke penghujung baris

Aih, tapi sembunyi ia
Di balik judul

08 May 2008

M u s e u m

Rak-rak kaca
Menyimpan rerupa senjata
Beribu nian di lubuknya kisah
Memuara hanya di arus darah

Ini katapel nabi Daud
Yang itu keris jahat penebar maut
Satu itu atas nama sorga
Lainnya pahala dunia

Reruncing tombak dan parang
Tajam berkilau di remang ruang
Nyawa yang tertebas melayang
Terus menagih alamat pulang

Di sudut agak sembunyi
Teronggok bebatu purba
Dulu sekali pernah kupakai
Menghabisi adikku di pinggir desa

Rak-rak kaca
Menyimpan rerupa cerita
Sejarah dan peradaban
Sarat hawa pembunuhan

06 May 2008

Selepas Senja

Selepas senja
Aku tak lagi di sini

Lampu-lampu
Dan gelap halaman
Melahirkanku kembali

Sebagai bayang tapi
Murni masih belum bernama

Layaknya turunan kelam
Aku menempel rapuh
Merapat pada malam

Bergantung pada
Lubang hitam
Dan terjal bebintang--

Di mana mungkin aku hilang
Ke mana jejakku terbang

Selepas senja
Turun di halaman ini

05 May 2008

Pawang Kata

Jangan sekali-kali main kasar
Pada kata. Kau tahu, mereka juga
Punya perasaan, paham sungguh bahasa
Kasih sayang. Terus belajarlah saja
Memaklumi sifat-sifatnya yang sering
Tak terduga itu. Agar tak lacur kau
Dalam ucapan. Jika sudah masak
Kau putuskan, jangan sangsi
Tinggallah bersamanya. Sebaiknya
Tapi sebelum telanjur ia tumbuh perkasa
Menjelma buas mengaum beringas penuh
Ancaman. Jadilah ibu sejati bagi rapuh
Tangisnya. Pun tebusan sepadan bagi
Rindu dendamnya yang purba itu.Agar
Jika nanti ia tumbuh matang dewasa
Darahmu juga mengalir dalam setiap tutur
Sapanya. Kata-kata tapi juga tak abadi
Seperti benda-benda dan hewan jinak
Peliharaan di rumah. Kelak renta, sakit-
Sakitan dan kapan-kapan mungkin
Mati. Kalau itu terjadi, jangan ia lalu
Di jalan kau tinggalkan sendiri. Melainkan
Kuburlah jejaknya rahasia dalam kekal
Liang puisi yang kau gali sendiri

02 May 2008

Pisang Sutarji Calzoum Bachri

SUATU ketika dalam sebuah perhelatan sastra yang diadakan para pengarang perempuan dari sebuah majalah perempuan terkemuka di Jakarta, penyair Sutarji Calzoum Bachri ditanya gerangan apa bedanya sastra pop, sastra mainstream, dan sastra garda depan. Dan dengan tangkas (seraya tetap santai) “sang presiden penyair” itu bilang begini. Itu seperti kita makan pisang, katanya. Pisang? Ya, pisang, tidak salah.

Sastra pop itu seperti kita makan pisang yang sudah disiapkan dalam sebuah piring. Pisangnya juga sudah dikupas, jadi tinggal kita comot dan kunyah. Sastra mainstream, katanya, mirip dengan itu, tapi ada bedanya sedikit. Bedanya pisang di atas piring itu belum dikupas, jadi untuk memakannya perlu ada “sedikit perjuangan”. Kita musti mengupas dulu kulitnya, sebelum bisa merasakan gurihnya daging sang pisang.

Sastra garda depan lain lagi. Itu seperti kita disuruh makan pisang di atas piring, tapi pisangnya tidak ada di piring itu. Jadi di mana pisangnya, dan bagaimana kita bisa menyantapnya? Lho itulah “hebat”nya sastra garda depan : pisangnya silakan cari sendiri-- pengarang tak menyediakannya. Terserah, mau mencarinya di pasar buah, atau mencurinya di kebun tetangga.

Malahan, kalau pisang yang dicari tidak ketemu juga, tidak ditabukan kalau anda lalu berusaha menciptakan “pisang” sendiri. Soal “ukuran” dan “rasa” pisangnya, juga tidak ada patokan resmi. Pengarangnya membebaskan. Jadi, suka-suka andalah.

30 April 2008

Kertas Kosong

Untukmu aku sedia berjaga
Sampai pagi. Kubukakan selapangnya
Ruang bagimu : putih, kosong, tak bernama
Agar leluasa kau memasukiku. Agar
Nyatalah di sebalik yang serba putih ini
Sesungguhnya ruangku tak kosong
Tak pernah kosong. Sudut-sudutku yang
Terjauh penuh memuat kisah yang
Semula memang tak bernama. Tapi
Untukmu, hanya untukmu, kubukakan
Pepintu purba mencapai rahasia itu
Agar kisah berlanjut lagi, luka-lukanya
Berdenyut kembali, merembes darahnya
Di antara jari-jemarimu. Membanjiri
Empat sudut semesta pada putih kosong
Tak bernama bidang lengangku
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...