28 July 2014

Ketupat Lebaran

Ada masin peluh
Dan lembab air mata
Pada ketupat lebaran
Yang kau kirimkan barusan

"Jangan ragu menyantapnya"
Pesanmu tunggal sebelum pamitan
Tentu buru-buru saya menyanggupi
Lebaran barulah lengkap

Sehabis utuh kutangkap
Getir kisahmu sepenuh
Pada itu getas nasi rapat terpilin
Dalam jingga kuah duka mengundang

18 July 2014

Akhir Kata

Tersisih dari rerimbun jagat kamus
Ia melayang hampa sepanjang cuaca
Ngembara sengsara macam hantu celaka--
Kadang hinggap tak sengaja di ujung kalimat buntu

Ia tak ingin kelihatan hebat sebetulnya
Ia hanya kepingin sekadar hadir belaka
Tapi penyair itu kemudian mencoretnya juga
Menyebutnya jadah atau semacam itu

Kadang ia lelah dan jemu juga
Tapi telah ia niatkan bulat terus ngembara--
Mungkin masih akan ada kalimat rancu yang lain
Siapa tahu akan betah ia terjebak di situ

27 June 2014

Patung

Aku hanya akan memandangmu
Menjangkaumu lenganku tak sampai
Kau datang dari khazanah yang lain
Yang jauh, bahasamu luput kupahami
Jadi aku hanya akan memandangmu
Diam-diam, patung porselenku, mungkin dengan
Semacam kekaguman yang gagal kututupi
Setiap kali, tapi tak ada kata-kata yang perlu
kuumbar, tak ada yang musti kubuktikan padamu
Kepada sebuah patung

20 June 2014

Tinju

Kujotoskan kata-kataku
Kuarahkan ke liat tubuh sepi
Yang terus mengurung
Merongrongku dengan kekosongan

Dari cuaca ke cuaca. Ketahuilah
Pertarungan kami tak mengenal
Batas musim, tiada dentang
Lonceng yang menjaga aturan main

Seringainya yang hujan
Sosoknya yang malam
Kadang begitu saja lenyapdari pandangan
Luput dari tangkapan makna

Yang terus kujotoskan
Kulayangkan sepenuh keyakinan
Sungguh, ia sehampa bayangan
Tak terangkum dalam cengkram angan

10 June 2014

Lukisan Rumah



/1/
Akhirnya, kita sepakat membangun rumah
Sesudah penat
                       Mengimpikannya dalam sajak
Dalam benak berlumut
                            Rumah dengan dua pintu
Ke dalam dan ke luar, rumah dengan dua kamar
Dan sepasang liang kunci
                                           Kau dan aku

Kemudian kita jadi terlebih memahami rumah
Rumah ternyata menyimpan begitu banyak lubang
Begitu banyak kamar
                            Kita pun tak paham kapan
Kita bisa sampai di sana
                       Untuk sekadar rebah mati, atau
Lewat lorong dan pintu yang mana
                                     Sebaiknya masuk
Sebab rumah adalah labirin, laut, dan pada setiap kelok
Pojoknya menganga
               Palung-palung kelam bahasa 
/2/
Kita heran, siapa gerangan telah menaruh pisau
Dalam percakapan kita
                         Mengapa begitu banyak darah
Menetes di sela lunak kalimat-kalimat hijau
Yang dengan susah payah kita pahatkan
                      Pada dinding angin dan waktunya?
Kita percaya, kita datang dari debar yang sama:
Semenjak mula bumi hanya mengajar kita
           Bahasa santun pohonan
                                      Sedang akar-akar yang pendiam
Mewariskan kesabaran pada lengan kita malam
Itu sebabnya kita tak gampang tergoda

Tapi anak-anak yang dulu kita kandung
                             Dan terlahir dari rahim gosong musim
Menyadarkan kita 
               Bahwa cuaca telah berubah
Jadi kita pun kemudian belajar berhikmat
                       Pada lolong anjing dalam urat darah kita
Kita juga belajar menaruh sangsi
Pada kilau pagi dan nyanyian burung-burung
                 Yang terlantun dari mulut anak-anak itu
Sebab jika mereka berdendang
                              Kita dapati gemuruh
Topan pada wajah mereka cemas membiru
/3/
Akhirnya, kita pun memilih sunyi
                          Warisan bumi yang masih tinggal
Itulah cara kita
                Menyelamatkan yang masih bisa
Bayang-bayang kita
                        Yang bimbang kepayang
Akan saling menimbang
                   Dalam remang nilai

Tak usah ucapkan apa-apa lagi
Tak perlu juga menulis surat pada waktu
Lihat
          Gelap dan diam menuntun kita karam
     Pada bahasa dan amsal suci yang lain
Dulu konon tersurat dalam kitab
Tapi seorang yang mengaku ibu bapak kita
                             Diam-diam tanpa restu langit
Telah memotongnya pupus dari kenangan
Ketika cuaca memburuk
                            Dan hujan turun
Kita pun hanyut tersaruk tanpa alamat
Dalam benak yang hanya onak

Kini pelahan
                     Kita belajar percaya lagi
Hidup masih akan terus
               Tapi mari sisihkan dulu
Huruf-huruf yang telah menodai bumi
Lalu kita bangun lagi rumah baru
Silsilah dan nama-nama baru
                        Di sebilik miring tersisa ini
Di sebait sempit masih berdenyut ini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...