Mereka menyukai
Suasana gelap
Dan remang-remang
Pun hawa yang lembab
Ke sanalah mereka
Terbang mengitari
Mencucukkan rasa gatal
Mungkin juga sesal itu
Pada sukma gelisah
Yang rentan diburu tanya
Dan gamang dibalur
Warna abu-abu
Mereka paham betapa
Nilai-nilai alangkah semu
Menempel rapuh pada kulit waktu
Mungkin serupa daki
Mereka menyukai
Suasana yang gelap
Dan samar-samar
Pun hawa yang lembab
20 November 2009
11 November 2009
Sindu Putra Raih Khatulistiwa Literary Award 2009

PENYAIR Sindu Putra (lahir 31 Juli 1968) meraih Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2009 untuk kategori puisi lewat kumpulan sajaknya “Dongeng Anjing Api” (penerbit Arti Foundation, Juli 2008). Sindu bukanlah nama baru dalam panggung puisi kita. Ia sudah menulis sejak 1980-an, hanya sepertinya selama ini “luput” dari perhatian. Ia mengaku “telat” masuk ke dalam “tim nasional”, mungkin karena selama ini “kurang bersemangat berkampanye” di media pusat.
Tapi “keterlambatan” itu barangkali malah menjadi berkah baginya, karena waktu “penantian” yang lama ini pada akhirnya memberinya kesempatan untuk terus berbenah sembari mematangkan diri. Hasilnya kemudian, seperti secara sepintas saya singgung dalam pengantar “obrolan” kami di halaman ini, adalah “satu dari sedikit saja buku puisi unggulan yang sempat terbit belakangan ini”. Kini, mungkin adalah waktu yang paling tepat untuk menengok kembali wawancara dengan Sindu Putra itu.
06 November 2009
Aku Hanya Mencatat
Aku hanya mencatat
Kabar-kabar pucat
Yang dari dulu sudah ada
Hal ihwal biasa
Yang sedari mula
Melekat pada kita erat
Serupa tanah
Lembab cokelat
Yang kupijak ini
Musim yang melaju
Di bawah langit
Yang suwung
Yang biru
Dan sepinya
Melengkung di hati
Yang bisunya
Meringkas waktu
Jadi hanya rindu
Yang padamu
Sampai sebagai luka
Warisan purba
Yang serupa
Ibunda bumi
Mesra mendekap
Kabar-kabar pucat
Yang dari dulu sudah ada
Hal ihwal biasa
Yang sedari mula
Melekat pada kita erat
Serupa tanah
Lembab cokelat
Yang kupijak ini
Musim yang melaju
Di bawah langit
Yang suwung
Yang biru
Dan sepinya
Melengkung di hati
Yang bisunya
Meringkas waktu
Jadi hanya rindu
Yang padamu
Sampai sebagai luka
Warisan purba
Yang serupa
Ibunda bumi
Mesra mendekap
02 November 2009
Membaca Batu
Membacamu, seperti
membaca batu : tak kutahu
di mana pintu masuknya, yang mana
celah perihnya?
Membacamu, mungkin
kuperlu kapak, biar kutetak
untuk tahu mana yang sungguh batu
mana yang hanya ambigu
(Yang mengurungmu
menawan kita
dalam kelu
waktu)
membaca batu : tak kutahu
di mana pintu masuknya, yang mana
celah perihnya?
Membacamu, mungkin
kuperlu kapak, biar kutetak
untuk tahu mana yang sungguh batu
mana yang hanya ambigu
(Yang mengurungmu
menawan kita
dalam kelu
waktu)
28 October 2009
Pelajaran Menulis Puisi
Pelajaran Menulis Puisi
: fn
Puisi adalah
Keheningan dan secangkir kopi
Maksudku, kau harus
Mengaduk kisahmu, mengaduknya
Sabar lalu melebar, aduklah
Sampai merata serbuk sepinya
Kemudian reguklah tandas
Maksudku, kau harus menemukan
Liang luka pada ampas katanya
Pada dasar cangkir itu, pada
Dasar waktu, maksudku, pada
Pekat malam yang lembab mengendap
Wujud
Tak berwajah
Sebab ia bukan milik sesiapa
Bersayap ganda
Karena jauhlah kembaranya
Dan seperti kau
Ada luka berdarah
Bekas tikaman
Waktu pada lambungnya
: fn
Puisi adalah
Keheningan dan secangkir kopi
Maksudku, kau harus
Mengaduk kisahmu, mengaduknya
Sabar lalu melebar, aduklah
Sampai merata serbuk sepinya
Kemudian reguklah tandas
Maksudku, kau harus menemukan
Liang luka pada ampas katanya
Pada dasar cangkir itu, pada
Dasar waktu, maksudku, pada
Pekat malam yang lembab mengendap
Wujud
Tak berwajah
Sebab ia bukan milik sesiapa
Bersayap ganda
Karena jauhlah kembaranya
Dan seperti kau
Ada luka berdarah
Bekas tikaman
Waktu pada lambungnya
21 October 2009
Buah, Sebagai Umpama
Akhirnya, sampai ia di ujung musim
Sesudah ditempuhnya jalanan cuaca
Yang tak selalu aman dan rata
Dari penyamun dan putus asa yang mendera
Peperangan licik, yang tak
Selamanya dimenangkan
Pun percintaan yang isinya
Banyak juga serong dan tipu busuknya
Bahwa bebuah masak
Yang dalam nampan kau jamah
Yang dalam mulut kini kau kunyah
Lasak tubuhnya manis kau sedot jeroannya
Tak cukup kau pahami sepertinya
Berliku sangat jalannya sampai padamu
Tak terbaca pada topeng judulnya
Jalinan cerita yang tak pernah rata itu
Sebab bijak tangan waktu
Menyisakan hanya yang hakikat
Menyorongkan padamu wujud yang lezat
Bebuah kata-kata bersahaja ini
Sesudah ditempuhnya jalanan cuaca
Yang tak selalu aman dan rata
Dari penyamun dan putus asa yang mendera
Peperangan licik, yang tak
Selamanya dimenangkan
Pun percintaan yang isinya
Banyak juga serong dan tipu busuknya
Bahwa bebuah masak
Yang dalam nampan kau jamah
Yang dalam mulut kini kau kunyah
Lasak tubuhnya manis kau sedot jeroannya
Tak cukup kau pahami sepertinya
Berliku sangat jalannya sampai padamu
Tak terbaca pada topeng judulnya
Jalinan cerita yang tak pernah rata itu
Sebab bijak tangan waktu
Menyisakan hanya yang hakikat
Menyorongkan padamu wujud yang lezat
Bebuah kata-kata bersahaja ini
19 October 2009
Dunia Jam 2 Pagi
Di kerajaan sunyi jam 2 pagi
Aku hanya sepenggal baris
Terlontar dari halaman waktu
Tanpa kutahu judul dan tema kisahku
Tak ada pintu masih membuka
Tapi mungkin masih ada seliang luka
Menganga dan belum diberi nama
Di kerajaan sunyi jam 2 pagi
Aku hanya sepenggal baris
Terlontar dari halaman waktu
Tanpa kutahu judul dan tema kisahku
Tak ada pintu masih membuka
Tapi mungkin masih ada seliang luka
Menganga dan belum diberi nama
Di kerajaan sunyi jam 2 pagi
Subscribe to:
Posts (Atom)

