https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

14 January 2015

Kepada Bulan di Jendela

In Memoriam: Sitor Situmorang



Bulan bundar di jendela itu
Bukankah bulan bundar yang sama
Yang dulu pernah dilihat
Penyair Sitor Situmorang
Di sebuah pekuburan belanda
Di pinggiran Jakarta
                         Tahun limapuluhan
Pada sebuah Malam Lebaran?

Sewaktu tak sengaja
Ia panjat itu tembok pekuburan lama
Tersebab iseng atau tersebab lainnya
Sehabis gagal niatnya bertamu itu malam
Pada kawannya karib, Pram, namanya konon

Lantas pulang ditulisnya
Pada kertas lusuh secarik
Dipindahkannya itu bulan mahabundar
Dilukisnya
            Jadi puisi terus bersinar
Menyebrangi seribu malam lebaran lain  
Menerangi pekuburan besar bernama Jakarta ini

O, bulan bundar ajaib itu 
Melintasi juga jendela kamar saya malam ini
Mengingatkan mungkin, mungkin saja
Soal adresku penghabisan itu

08 January 2015

Sajak 2



Kadang aku menuliskannya begitu saja
Tanpa tahu apa sedang kubuat ini gerangan
Baru kemudian, pelan-pelan, seraya tak yakin benar
Mulai kususun, sesuatu yang bolehlah

Kau sebut bangunan: Ada jendela dan pintunya
Menghadap waktu, kisi-kisi yang membebaskan musim
Merdeka datang dan pergi, dan sebuah ruang tamu
Sepertinya, sehingga layaklah ia disinggahi?

Okt 2014

02 January 2015

Sajak Kecil Buat Mas Bowo



Menjadi presiden, tak pernah
Lintas dalam lamunan
Jauh lebih bahagia
Menjadi diri sendiri

Menulis sajak-sajak
Menghias musim dan cuaca
Dengan kata-kata
Turunan surga

Itu sudah cukup menyibukkan
Mencegah saya bunuh diri
Atau ikutan jadi edan
Di ini republik kapiran

Menjadi presiden, sungguh
Tak pernah lintas dalam lamunan
Jauh terlebih sehat
Adalah menjaga martabat

Okt 2014

10 October 2014

Jalan Pedang Peminum Teh

- Hari Tua Tuan Sekhisusai



Telah kutanggalkan
Pedang dan baju zirah
Telah kulupakan
Musuh-musuh terkasih

Kukenakan kini
Mantel kabut
Kasut gunung dan
Kerudung langit

Kuisi soreku
Dengan minum teh
Memandang lepas cuaca
Gambaran jiwa

Berlama-lama di kebun
Itulah hiburanku lainnya
Menyiangi bebunga
Memurnikan hari

Kadang kutulis juga
Syair mengalir
Sebab di antara kemersik
Kutangkap bisik

Setempo tandang juga bertamu
Orang-orang muda kasar
Dari kota nun di bawah
Memaksakan tarung

Dengan sopan tapi
Kutampik undangan:
Kusuguhkan lembut teh
Di luas meja pendapa

Sering kutulis belaka
Surat sepucuk di antara kembang
Jika sungguh mereka
Petarung cermat

Mereka bakal dapati
Si Tua masih sehat afiat
Liat setajam dulu hari juga
Tapi telah kutanggalkan

Pedangku berkarat
Kini nyaman berkubur
Jauh di lubuk gegunung
Di antara kabut
 

06 October 2014

Jalan Pedang Bumi, Jalan Pedang Langit

- Musashi kontra Kojiro



Jika dua seteru unggu bertemu
Di mana saja mereka berjanji
Di pantai
              Funashima utara jam 8 pagi
Atau pantai mana pun juga

Kita hanya akan menampak
Sedikit saja gerak, percayalah
Tak peduli jam berapa mereka tarung akhirnya
Terang atau berangin cuacanya

Jika dua seteru unggul bertemu
Seorang dari mereka sekonyong saja rebah
Dan selagi tumbang
                            Tubuhnya pelahan
Kita saksikan mengapa seringainya jadi aneh

Buat sedetik yang baka ia mengira
Telah menangkan itu duel adu jiwa
Tapi sebab alpa dikenalnya lurus jalan langit
Leliku jalan bumi membawanya rubuh melintang

Penonton awam mana paham urusan begini
Pembaca biasa gagal
                 Mengurai inti pesan purba
Jika langit dan bumi luput berpaut
Jurusmu tuan
                       Jadi majal memagut tak lagi
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...