https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

30 March 2015

Sajak Penjaga Perpustakaan



Kitab sebanyak ini
Apa manfatnnya bagi saya?
Guna hidupku sendiri
Cukuplah kupilih beberapa judul:

Sebuah kitab suci
(Yang tak teramat tebal)
Sebuah kitab lain yang lebih sahaja
Memuat tafsir ayat-ayatnya pasti

Sebuah pelajaran tatabahasa
Sehimpun kata dalam sejilid kamus
Dan satu lagi rasanya
Tak eloklah jika saya lewatkan:

Sebuah panduan cermat lagi teliti
Perihal bagaimana menjaga laku tatakrama
Di antara tetangga dan handai tolan--
Sungguh mereka terlebih utama
Ketimbang selaksa kitab apak berdebu ini

Sisa waktu pastilah melimpah, baiklah
Saya haturkan sepenuhnya bagi langit dan bumi
Seraya menghayati nikmat hembus cuaca
Merasakan kesiur musim yang menjalar rahasia
Nembus molos lewat kisi-kisi bahasa
Lapang longgar sebab tiada memuat intrik

Dan kelak suatu hari, saya pun bakal pensiun
Bakal pergi meninggalkan ini semua
Ringan lelangkahku nantinya tak terhadang
Menyibak halaman-halaman tak bernomor

Pada luas maha kitab di rak semesta

14 January 2015

Kepada Bulan di Jendela

In Memoriam: Sitor Situmorang



Bulan bundar di jendela itu
Bukankah bulan bundar yang sama
Yang dulu pernah dilihat
Penyair Sitor Situmorang
Di sebuah pekuburan belanda
Di pinggiran Jakarta
                         Tahun limapuluhan
Pada sebuah Malam Lebaran?

Sewaktu tak sengaja
Ia panjat itu tembok pekuburan lama
Tersebab iseng atau tersebab lainnya
Sehabis gagal niatnya bertamu itu malam
Pada kawannya karib, Pram, namanya konon

Lantas pulang ditulisnya
Pada kertas lusuh secarik
Dipindahkannya itu bulan mahabundar
Dilukisnya
            Jadi puisi terus bersinar
Menyebrangi seribu malam lebaran lain  
Menerangi pekuburan besar bernama Jakarta ini

O, bulan bundar ajaib itu 
Melintasi juga jendela kamar saya malam ini
Mengingatkan mungkin, mungkin saja
Soal adresku penghabisan itu

08 January 2015

Sajak 2



Kadang aku menuliskannya begitu saja
Tanpa tahu apa sedang kubuat ini gerangan
Baru kemudian, pelan-pelan, seraya tak yakin benar
Mulai kususun, sesuatu yang bolehlah

Kau sebut bangunan: Ada jendela dan pintunya
Menghadap waktu, kisi-kisi yang membebaskan musim
Merdeka datang dan pergi, dan sebuah ruang tamu
Sepertinya, sehingga layaklah ia disinggahi?

Okt 2014

02 January 2015

Sajak Kecil Buat Mas Bowo



Menjadi presiden, tak pernah
Lintas dalam lamunan
Jauh lebih bahagia
Menjadi diri sendiri

Menulis sajak-sajak
Menghias musim dan cuaca
Dengan kata-kata
Turunan surga

Itu sudah cukup menyibukkan
Mencegah saya bunuh diri
Atau ikutan jadi edan
Di ini republik kapiran

Menjadi presiden, sungguh
Tak pernah lintas dalam lamunan
Jauh terlebih sehat
Adalah menjaga martabat

Okt 2014

10 October 2014

Jalan Pedang Peminum Teh

- Hari Tua Tuan Sekhisusai



Telah kutanggalkan
Pedang dan baju zirah
Telah kulupakan
Musuh-musuh terkasih

Kukenakan kini
Mantel kabut
Kasut gunung dan
Kerudung langit

Kuisi soreku
Dengan minum teh
Memandang lepas cuaca
Gambaran jiwa

Berlama-lama di kebun
Itulah hiburanku lainnya
Menyiangi bebunga
Memurnikan hari

Kadang kutulis juga
Syair mengalir
Sebab di antara kemersik
Kutangkap bisik

Setempo tandang juga bertamu
Orang-orang muda kasar
Dari kota nun di bawah
Memaksakan tarung

Dengan sopan tapi
Kutampik undangan:
Kusuguhkan lembut teh
Di luas meja pendapa

Sering kutulis belaka
Surat sepucuk di antara kembang
Jika sungguh mereka
Petarung cermat

Mereka bakal dapati
Si Tua masih sehat afiat
Liat setajam dulu hari juga
Tapi telah kutanggalkan

Pedangku berkarat
Kini nyaman berkubur
Jauh di lubuk gegunung
Di antara kabut
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...