10 June 2014

Lukisan Rumah



/1/
Akhirnya, kita sepakat membangun rumah
Sesudah penat
                       Mengimpikannya dalam sajak
Dalam benak berlumut
                            Rumah dengan dua pintu
Ke dalam dan ke luar, rumah dengan dua kamar
Dan sepasang liang kunci
                                           Kau dan aku

Kemudian kita jadi terlebih memahami rumah
Rumah ternyata menyimpan begitu banyak lubang
Begitu banyak kamar
                            Kita pun tak paham kapan
Kita bisa sampai di sana
                       Untuk sekadar rebah mati, atau
Lewat lorong dan pintu yang mana
                                     Sebaiknya masuk
Sebab rumah adalah labirin, laut, dan pada setiap kelok
Pojoknya menganga
               Palung-palung kelam bahasa 
/2/
Kita heran, siapa gerangan telah menaruh pisau
Dalam percakapan kita
                         Mengapa begitu banyak darah
Menetes di sela lunak kalimat-kalimat hijau
Yang dengan susah payah kita pahatkan
                      Pada dinding angin dan waktunya?
Kita percaya, kita datang dari debar yang sama:
Semenjak mula bumi hanya mengajar kita
           Bahasa santun pohonan
                                      Sedang akar-akar yang pendiam
Mewariskan kesabaran pada lengan kita malam
Itu sebabnya kita tak gampang tergoda

Tapi anak-anak yang dulu kita kandung
                             Dan terlahir dari rahim gosong musim
Menyadarkan kita 
               Bahwa cuaca telah berubah
Jadi kita pun kemudian belajar berhikmat
                       Pada lolong anjing dalam urat darah kita
Kita juga belajar menaruh sangsi
Pada kilau pagi dan nyanyian burung-burung
                 Yang terlantun dari mulut anak-anak itu
Sebab jika mereka berdendang
                              Kita dapati gemuruh
Topan pada wajah mereka cemas membiru
/3/
Akhirnya, kita pun memilih sunyi
                          Warisan bumi yang masih tinggal
Itulah cara kita
                Menyelamatkan yang masih bisa
Bayang-bayang kita
                        Yang bimbang kepayang
Akan saling menimbang
                   Dalam remang nilai

Tak usah ucapkan apa-apa lagi
Tak perlu juga menulis surat pada waktu
Lihat
          Gelap dan diam menuntun kita karam
     Pada bahasa dan amsal suci yang lain
Dulu konon tersurat dalam kitab
Tapi seorang yang mengaku ibu bapak kita
                             Diam-diam tanpa restu langit
Telah memotongnya pupus dari kenangan
Ketika cuaca memburuk
                            Dan hujan turun
Kita pun hanyut tersaruk tanpa alamat
Dalam benak yang hanya onak

Kini pelahan
                     Kita belajar percaya lagi
Hidup masih akan terus
               Tapi mari sisihkan dulu
Huruf-huruf yang telah menodai bumi
Lalu kita bangun lagi rumah baru
Silsilah dan nama-nama baru
                        Di sebilik miring tersisa ini
Di sebait sempit masih berdenyut ini

03 March 2014

Dalam Angkot Ini

Selalu sama
Sejumlah penumpang
(Yang tak kau kenal)
Mereka sudah ada
Sebelum kau ada
Di angkot ini

Di sepanjang jalan
Mungkin bertambah
Sejumlah penumpang lagi
(Yang pun tak kau kenal)
Apa yang mereka
Pikirkan tatkala naik?
Mungkin tak ada


Atau, mungkin seperti kau
(Dan yang lainnya)
Mereka juga berpikir
Seperti itu: Ya, selalu sama
Begitulah, tak ada beda

Sejumlah penumpang
(Yang tak kau kenal)
Sudah di sini sebelum
Aku terbawa dalam
Perjalanan ini

24 February 2014

Kitab Kabut

Kubuka kitabmu
Halaman-halaman yang menyiksa
Sepasang mata tua ini
Huruf-huruf yang terlalu
Benderang, seakan
Menentang silau surya
Seolah kita mustilah
Bertarung lebih dahulu
Setiap kali, memperebutkan
Inti kisah yang kau sembunyikan
Di sebalik lelapis kata?

Kuhasratkan mengoyak
Bebaju zirah selubungmu itu
Meraih samar jantungmu
Ranum mengilat bebuah purba
Tapi kau tergelak gagak
Memandangku betapa tegak
Tiada kusimpan di sini katamu
Jika kau impikan serupa jejak
Tapak-tapak sepi menegas
Pada luas pesisir bahasa ini

Pulang, kutulis pada pintu
Semacam salam pada halamannya
Murni bagai debar dara
Lalu kukubur kitabmu
Kukubur di bawah kaki langit kabur
Tapak-tapak yang menyiksa
Sepasang kaki tua ini
Seakan kita sepasang seteru
Kalut bergelut di alas waktu

21 February 2014

Tubuh

Tubuhmu terbungkus
Kantung waktu
Masak oleh mimpi
Di ujung musim
Tangan cuaca
Pelan & pasti
Mengulur membuka
Mengoyak helai-helainya
Telanjang
             Sempurna
       Jantungmu
Merebah, lalu
Api putih berkobar
Menyulut dari sumber
Berkabar usai
Kisah tubuh

18 February 2014

Kepada Tukang Cukurku

Mari kita bertukar tempat, sebentar
Dengan begitu mungkin lebih mudah kau pahami
Perangai maut yang kasar, datang ia
Padamu berterang atau selinap, kukira sama

Sekarang duduklah, sedang aku berdiri
Kilau pisau pada tanganku yang satu
Biar kurasai gegumpal rambutmu, mengombak
Duduklah nyaman, kini coba kau rasakan

Rapat tubuhku menempel, kemejaku lembab berbau
Sebab peluh, dari bahan cita murah belaka
Mungkin gemuruh debar jantungku sekonyong
Sempat juga kau serap, sebab semacam gairah

Serupa darah mendesir, memaksaku berpikir
Hanyha diperlukan beberapa sayatan, mungkin
Satu sayatan utama pada pembuluh sentral
Kau pun terhenyak, tak teramat paham mulanya

Tidak, bahkan kau tak sempat melolong, berontak
Segalanya sudah kasip, lenganku yang satunya
Teramat kukuh bukankah, mencekikmu sungguh mudah
Sebelumnya mendorongnya rebah bersimbah

Maaf, jika uraianku barusan membuatmu mual
Kini baiklah aku kembali duduk, memejam diam
Dengan kilat pisau pada genggammu kukuh, ayolah
Rapikan anganku putih melebat kian liar menyemak ini

15 February 2014

Adam dan Hawa

Di sebuah losmen
Murah di Jakarta
Adam dan Hawa mengulang
Kembali dosa

Ular yang menggoda Hawa
Terlihat memang berpunuk
Dan konon dari jenis
Paling berbisa

Sewaktu ia terkapar
Nanar di tengah kamar
Tak bisa dipastikan benar
Itu karena bisa si ular
Atau sebab ia memang kepingin?

Tak ada kepastian
Dan perempuan itu tak menyahut
Matanya sembab
Malam telah kembali
Mengarungi terjal tubuhnya

12 February 2014

Matinya Seorang Penyair

"Siapa sebetulnya aku
Tak usahlah repot kalian urus"
Begitu kata penyair misterius itu
Lewat sebuah pesan rahasia

Sejak itu kami pun tak lagi
Merasa perlu menggubrisnya
Bahkan ketika kemudian ia ditemukan
Mati membusuk dalam puisinya
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...