https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

07 September 2014

Simpang Waktu

Kadang terjadi yang seperti ini:
Sebuah sajak macet ketika dituliskan
Kata-kata terhenti di persimpangan sepi
Yang tanpa rambu apa pun juga

Tak ada petugas tergopoh datang menolongi
Pun malaikat bersayap kembar menebar sulapan
Hanya ada kau, sendirian, mondar-mandir sinting
Resah di antara baris yang batal nembus takdirnya sendiri

Kadang memang terjadi yang demikian
Lantas sekonyong saja kau putuskan: Pulang!
Atau kau pilih tetap di sana, bersabar menunggu--
Seperti di kota, kemacetan bisa saja berlangsung lama

Mungkin perlu beberapa musim lagi
Sebuah kisah terlepas mengurai, menemukan mulut
Kata-kata yang menyampaikannya pada dunia
Tapi saat ini, sepi menahannya di simpang waktu

02 September 2014

Tak Berjudul

Serigala punya liang,
Burung ada sarangnya,
Tapi kata-kata ini
Bahkan tak berjudul--

Tempatnya berpaut
Jika malam tambah larut.
Saya bahkan tak paham,
Dari stasiun mana gerangan

Pengembaraan dimulai:
Bukankah ia tumbuh seiring musim,
Mengembang bersama cuaca?
Kekal dalam peralihan--

Seraya dilintasinya batas-batas rawan
Kegembiraan dan kedukaan.
Tak ada kiranya ling yang cukup
Bagi kisahnya yang degup,

Malahan kini saya percaya,
Ia menampik perhentian,
Pelabuhan-pelabuhan singgahan.
Dalam sengit kecamuk penciptaan,

Keluasan tema hanya menyerenya
Pada kemungkinan yang paling jauh,
Kelam lurung-lurung bahasa,
Sanubari manusia.

24 August 2014

Pada Sebuah Sore

Sehirup teh, sejudul sajak
Dan sepotong sore yang belum bernama
Tapi katamu, kita tak memerlukannya samasekali
Nama-nama hanya membuat segalanya pecah, terbagi

Kemudian kita bersusah-payah menyatukannya kembali
Seraya tak percaya kebahagiaan adalah ihwal yang sederhana
Seperti menghirup teh, seperti membaca sajak
Pada sepotong sore yang alpa diberi nama

21 August 2014

Ingatan Pada Sebuah Sajak

Kata-kata dalam sajak itu, kuingat
Seperti curah hujan pada sebuah petang suram
Sewaktu pertama kali membacanya dulu
Terlihat juga kilat guruh dan isyarat badai di kejauhan
Aku nyaris tak kuasa melangkah lagi
Sebab kenangan demi kenangan sekonyong juga turun
Menutup baris-barisnya dengan semacam kebutaan
Terang-benderang yang yang menggiringku ke pinggir jurang

Aku mengira sajak itu bakal berujung
Pada keruntuhan atau semacam putus asa banal
Tapi hujan kemudian reda, angin pun surut
Petang yang membiru kemudian menjadi malam
Penuh cahaya listrik, gerimis yang masih saja turun
Di sana-sini membuat pemandangan jadi mitis mengiris
Kini bisa kulanjutkan lagi perjalanan yang tertunda
Sebuah kota yang kukenal, lanskap yang seimbang

Musim memang tak menjadi mudah, cuaca terus
Tumbuh dan kuyup, dan topan mengirimkan sinyalnya
Tak henti lewat mimpi yang tak utuh lagi perangainya
Tapi setidaknya ada sebuah kota yang kita kenal akrab
Pagi yang sediakala, langit yang seperti langit adanya, pintu
Yang membuka sewaktu segalanya jadi begitu memberat:
Mungkin sebuah sarang, barangkali sebuah sudut tersembunyi
Di mana seorang dari kita bisa duduk bersendiri
Menuliskan baris-baris remeh tak berarti ini

17 August 2014

Belajar Fotografi, Belajar Puisi

 


ANAK kami yang pertama, Frida Nathania (14), memilih fotografi sebagai pelajaran ekstra kurikulernya. Dalam hati saya bangga juga karena ia memilih sesuatu yang "tidak begitu biasa", seperti misalnya Voli atau sebangsanya, meskipun itu berarti kami harus rela merogoh kocek lagi untuk membelikannya kamera standar yang dipersyaratkan.

  Kemudian, karena saya kepingin menjadi orang tua yang "baek" dan barangkali juga terdorong oleh semacam "kesombongan tersembunyi", saya pun jadi terdorong menasehatinya meskipun saya bukan fotografer samasekali. Pertama sekali saya katakan padanya bahwa ada kesamaan esensi antara belajar fotografi dan belajar menyajak.

Baik penyair maupun pemotret, kata saya, berjuang mencuri kesempatan, mencoba mengekalkan momen yang sebentar, lalu menyimpannya agar menjadi lebih awet. Keduanya dihantui obsesi yang sama: bagaimana menghadirkan ruh yang disebut puisi ke dalam wadah masing-masing.

Kedua pekerjaan itu menuntut kejelian, kesabaran, dan tentu ketajaman sekaligus kejernihan intuisi. Obyek apa pun sah untuk digarap. Dalam fotografi, seperti juga dalam sastra, kata saya penuh keyakinan, soalnya bukan "apa", melainkan "bagaimana".


Saya melanjutkan, penyair dan pemotret membutuhkan juga teknik bahkan teori--intuisi saja pada akhirnya tak memadai. Kematangan teknik dan kedewasaan intuisi, kata saya, adalah "formula universal" yang nantinya bisa menghadirkan ruh puisi itu.

Tak ada batasan waktu dan tempat. Kesenian adalah kerja tak putus bagaimana menghadirkan puisi itu seutuhnya. Kesenian adalah ikhtiar tak kunjung henti bagaimana "membebaskan puisi" dari segala anasir yang tidak diperlukannya. Ketahuilah Nak, itu mungkin sebuah kerja yang seperti "sia-sia". Begitulah saya akhiri "pidato" saya disertai keyakinan pastilah dia agak kebingungan.

Di atas ini adalah hasil jepretanya. Ah, ia baru saja mulai belajar menyelaraskan "teknik" dan "intuisi"nya. Jalannya tentu masih teramat panjang.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...