03 March 2014

Dalam Angkot Ini

Selalu sama
Sejumlah penumpang
(Yang tak kau kenal)
Mereka sudah ada
Sebelum kau ada
Di angkot ini

Di sepanjang jalan
Mungkin bertambah
Sejumlah penumpang lagi
(Yang pun tak kau kenal)
Apa yang mereka
Pikirkan tatkala naik?
Mungkin tak ada


Atau, mungkin seperti kau
(Dan yang lainnya)
Mereka juga berpikir
Seperti itu: Ya, selalu sama
Begitulah, tak ada beda

Sejumlah penumpang
(Yang tak kau kenal)
Sudah di sini sebelum
Aku terbawa dalam
Perjalanan ini

24 February 2014

Kitab Kabut

Kubuka kitabmu
Halaman-halaman yang menyiksa
Sepasang mata tua ini
Huruf-huruf yang terlalu
Benderang, seakan
Menentang silau surya
Seolah kita mustilah
Bertarung lebih dahulu
Setiap kali, memperebutkan
Inti kisah yang kau sembunyikan
Di sebalik lelapis kata?

Kuhasratkan mengoyak
Bebaju zirah selubungmu itu
Meraih samar jantungmu
Ranum mengilat bebuah purba
Tapi kau tergelak gagak
Memandangku betapa tegak
Tiada kusimpan di sini katamu
Jika kau impikan serupa jejak
Tapak-tapak sepi menegas
Pada luas pesisir bahasa ini

Pulang, kutulis pada pintu
Semacam salam pada halamannya
Murni bagai debar dara
Lalu kukubur kitabmu
Kukubur di bawah kaki langit kabur
Tapak-tapak yang menyiksa
Sepasang kaki tua ini
Seakan kita sepasang seteru
Kalut bergelut di alas waktu

21 February 2014

Tubuh

Tubuhmu terbungkus
Kantung waktu
Masak oleh mimpi
Di ujung musim
Tangan cuaca
Pelan & pasti
Mengulur membuka
Mengoyak helai-helainya
Telanjang
             Sempurna
       Jantungmu
Merebah, lalu
Api putih berkobar
Menyulut dari sumber
Berkabar usai
Kisah tubuh

18 February 2014

Kepada Tukang Cukurku

Mari kita bertukar tempat, sebentar
Dengan begitu mungkin lebih mudah kau pahami
Perangai maut yang kasar, datang ia
Padamu berterang atau selinap, kukira sama

Sekarang duduklah, sedang aku berdiri
Kilau pisau pada tanganku yang satu
Biar kurasai gegumpal rambutmu, mengombak
Duduklah nyaman, kini coba kau rasakan

Rapat tubuhku menempel, kemejaku lembab berbau
Sebab peluh, dari bahan cita murah belaka
Mungkin gemuruh debar jantungku sekonyong
Sempat juga kau serap, sebab semacam gairah

Serupa darah mendesir, memaksaku berpikir
Hanyha diperlukan beberapa sayatan, mungkin
Satu sayatan utama pada pembuluh sentral
Kau pun terhenyak, tak teramat paham mulanya

Tidak, bahkan kau tak sempat melolong, berontak
Segalanya sudah kasip, lenganku yang satunya
Teramat kukuh bukankah, mencekikmu sungguh mudah
Sebelumnya mendorongnya rebah bersimbah

Maaf, jika uraianku barusan membuatmu mual
Kini baiklah aku kembali duduk, memejam diam
Dengan kilat pisau pada genggammu kukuh, ayolah
Rapikan anganku putih melebat kian liar menyemak ini

15 February 2014

Adam dan Hawa

Di sebuah losmen
Murah di Jakarta
Adam dan Hawa mengulang
Kembali dosa

Ular yang menggoda Hawa
Terlihat memang berpunuk
Dan konon dari jenis
Paling berbisa

Sewaktu ia terkapar
Nanar di tengah kamar
Tak bisa dipastikan benar
Itu karena bisa si ular
Atau sebab ia memang kepingin?

Tak ada kepastian
Dan perempuan itu tak menyahut
Matanya sembab
Malam telah kembali
Mengarungi terjal tubuhnya

12 February 2014

Matinya Seorang Penyair

"Siapa sebetulnya aku
Tak usahlah repot kalian urus"
Begitu kata penyair misterius itu
Lewat sebuah pesan rahasia

Sejak itu kami pun tak lagi
Merasa perlu menggubrisnya
Bahkan ketika kemudian ia ditemukan
Mati membusuk dalam puisinya

09 February 2014

Sorga

Sedang kita mainkan
Sebuah lakon serupa percintaan:
Lebih dulu kuhapus namaku
Pada kening waktu

Pun jejak gerimis dan malam
Yang menguntit kita dalam mimpi
Mari kutanggalkan juga musim
Yang menodai kelahiranmu

Dengan semacam takdir
Yang mencegat langkahmu di hilir
Bukankah sudah lama kita percaya
Bahwa sorga memang ada?

Tersusun dari kata
Dengan baris dan langit melengkung
Seperti dalam sepenggal sajak:
Rapuh, fana, pun tak berjudul
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...