Berapa topeng kau punya
Tak usah kau sebutkan
Cukup asal kutahu
Yang ini bukan kau yang asli
Bisa kurasakan itu
Kau terlebih paham pula
Kita saling intai, berharap
Seorang dari kita
Terjatuh tak sengaja
Sementara adegan bertukar
Dan kisah jadi melenceng
Berbelok pada kemungkinan lain
Yang sebelumnya tak sempat
Masuk dalam hitung-hitungan
Jadi kita kenakan topeng satunya
Dan rencana mesti diubah
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
10 August 2007
08 August 2007
Acep Zamzam Noor, Penyair Santri yang Romantis
ACEP ZAMZAM NOOR adalah satu dari sedikit penyair kelahiran dasawarsa 60-an yang masih bertahan. Ia mulai dikenal dan diperhitungkan pada dekade 80-an, dan sebagai penyair kehadiran awalnya ditandai dengan puisi-puisi relijius yang banyak memanfaatkan simbol-simbol alam sebagai perabot ucapnya. Ia tergolong penulis subur, sejumlah buku puisi lahir dari tangannya, dan sejumlah penghargaan sastra bergengsi juga pernah disambarnyaBelakangan ia juga tertarik menggarap tema-tema sosial, dan sepertinya ia tak menemui kesulitan berarti memindahkan riuh-rendah keributan sosial politik di negeri ini ke dalam puisi-puisinya. Beberapa sajak lepasnya yang muncul di Jurnal kebudayaan Kalam dan harian Kompas membuktikan itu. Ia cukup berhasil menjaga roh puisinya untuk tidak sampai terkubur dalam kemarahan atau protes yang ditulisnya.
Selain tema relijius dan sosial Acep Zamzam Noor juga kerap menuliskan puisi-puisi cinta yang romantis. Buku puisinya Menjadi Penyair Lagi (Penerbit : Pustaka Azan, 2007) mungkin boleh dianggap mewakili tren “puisi romantis” itu. Antologi ini dibagi dalam 2 kelompok. Kelompok 1 menampung puisi lama (1978-1989) yang kata Acep “sempat tercecer dan terlupakan” selama ini. Sebagian lagi berisi puisi-puisi barunya (1990-2006).
Menulis puisi cinta sekali-sekali bukan perkara mudah. Tak kurang dari seorang Rilke pernah memberi awas-awas dalam urusan ini. Tema ini gampang sekali menjerumuskan seorang penyair pada resiko banalitas dan klise atau visualisasi puitikal yang fisikal saja sifatnya. Apakah Acep bisa menghindar dari jebakan-jebakan itu?
Bagian pertama dari buku ini yang didominasi puisi-puisi awal Acep “remaja”, cukup banyak memperlihatkan “kecerobohan” penyair dalam memilih kata dan diksi sehingga kelihatan ia kerap kedodoran. Kelemahan itu untunglah bisa ditebusnya pada bagian 2 antologi ini. Di sini, Acep yang sudah tidak “remaja” lagi mempertontonkan kematangannya dalam mengolah kata dan rasa, sehingga kemudian terbangun suasana puitikal yang utuh.
Ada beberapa sajak yang mungkin bisa dianggap contoh puisi unggulan dari “tema romantis” Acep dari buku ini. Bacalah misalnya puisi-puisi Angin Pegunungan, Debar, Sajak Nakal, Lembah Anai, Sepak Bola, Kutitipkan, Selain Hujan, dan beberapa lagi. Secara pribadi saya kesengsem sekali pada Sajak Nakal. Puisi pendek dan padat ini memperlihatkan sebuah percobaan penyair untuk sampai pada gaya ungkap yang lain, yang “berbeda” dari banyak puisinya umumnya. Dan menurut saya ia cukup berhasil.
Sajak Nakal
Doa-doaku
Menyelinap ke dalam
Kutangmu. Seperti tangan
Tanganku
Nakal
Seperti doa
Meremas payudaramu
Di sorga
(Menjadi Penyair Lagi, hal. 74)
Jadi, buku ini tidak jelek. Kalau ada kekurangan maka menurut saya itu disebabkan hadirnya sejumlah puisi lama Acep dalam antologi ini. Keputusan penyair memasukkan puisi lamanya menurut saya sebuah “kecelakaan”. Acep sendiri dalam pengantarnya menulis bahwa ia memasukkan sajak-sajak lamanya karena”ia menemukan benang merah yang menghubungkan puisi awalnya dengan kecenderungan terakhirnya, yaitu kembalinya ia menyukai bentuk pengucapan sederhana”. Memang, seorang penyair bisa saja terkecoh oleh puisinya sendiri.
05 August 2007
Tema Nol
Tema Nol
Tubuh yang cuma pinjaman
Umur yang ternyata sekadar titipan
Pikiran yang mungkin juga tiruan
Nama yang nyatanya entah siapa
Luka yang jadinya percuma saja
Rindu yang sebetulnya tak perlu
Alamat yang mestinya juga tak ada
Pulang yang jadinya cumalah hilang
Rumahku
Kudirikan rumahku
Di dasar mimpi
Kubangun dari
Rongsokan kata
Ruang-ruangnya
Terbikin dari kenangan
Dan ingatan yang sudah
Separoh rusak
Aku tak takut
Cuaca yang buruk
Hujan deras atau topan
Yang meniup keras
Kucemaskan waktu
Membunuh ini ingatan
Merubuhkan kenangan
Rumahku di dasar mimpi
Tubuh yang cuma pinjaman
Umur yang ternyata sekadar titipan
Pikiran yang mungkin juga tiruan
Nama yang nyatanya entah siapa
Luka yang jadinya percuma saja
Rindu yang sebetulnya tak perlu
Alamat yang mestinya juga tak ada
Pulang yang jadinya cumalah hilang
Rumahku
Kudirikan rumahku
Di dasar mimpi
Kubangun dari
Rongsokan kata
Ruang-ruangnya
Terbikin dari kenangan
Dan ingatan yang sudah
Separoh rusak
Aku tak takut
Cuaca yang buruk
Hujan deras atau topan
Yang meniup keras
Kucemaskan waktu
Membunuh ini ingatan
Merubuhkan kenangan
Rumahku di dasar mimpi
03 August 2007
Gambaran Sebuah Kota
Di jalan-jalannya berdebu
Orang tak butuh lagi puisi
Kau bukan apa-apa di sini
Begitu saja namamu terhapus
Dalam kerumunan itu, betapa mudah
Andai ingin membunuhmu
Udara penuh asap dan racun
Masih ditambah serapah anjing
Di persimpangan yang riuh itu
Tak ada petunjuk apa pun
Dan yang kutulis ini
Samasekali bukan khayalan
Orang tak butuh lagi puisi
Kau bukan apa-apa di sini
Begitu saja namamu terhapus
Dalam kerumunan itu, betapa mudah
Andai ingin membunuhmu
Udara penuh asap dan racun
Masih ditambah serapah anjing
Di persimpangan yang riuh itu
Tak ada petunjuk apa pun
Dan yang kutulis ini
Samasekali bukan khayalan
01 August 2007
Hujan Pagi
Hujan pagi
Membawaku lagi padamu
Pohonan basah
Mengingatkan musim yang rapuh
Berpegang akar-akarnya
Pada bumi miring
Kesedihan tanpa kata
Disimpan dedaun
Kita hanya menanti
Kisah ini lengkap
Kuingat lagi apa katamu dulu
Bersama daun
Dalam hujan pagi
Berayun umur kita
Pada ujung tangkai
Membawaku lagi padamu
Pohonan basah
Mengingatkan musim yang rapuh
Berpegang akar-akarnya
Pada bumi miring
Kesedihan tanpa kata
Disimpan dedaun
Kita hanya menanti
Kisah ini lengkap
Kuingat lagi apa katamu dulu
Bersama daun
Dalam hujan pagi
Berayun umur kita
Pada ujung tangkai
Subscribe to:
Posts (Atom)