https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

19 August 2007

Lagu Gelandangan

Lagu Gelandangn

Jika lapar aku makan
Jika lelah aku pun rebahlah
Bintang-bintang berebut memasukiku
Membuatku subur dengan impian

Dilihat begini apa susahnya hidup
Tak risau dengan jadwal dan menu
Dunia adalah meja perjamuan yang luas
Angin dan debu tak habis kuhirup

Hidup hanyalah suatu hari
Serupa rongga antara langit dan bumi
Berjubahkan mantel kemiskinan
Hatiku tak bersepatu melangkah melewatinya


Serupa Kitab Terbuka

Aku bertanya-tanya
Apa yang membikinku masih tahan
Melewati segala kegilaan ini

Kau menjawab kalem
Masukkan aku sebagai jawab
Penutup atas tanyamu

Sungguh tak ada yang rahasia
Serupa kitab terbeber di meja
Kecuali tak mahir kau membaca


Mesin Telah Dimatikan

Mesin-mesin telah dimatikan
Seluruh sistem kembali pada alam
Di antara kelengangan ruang-ruang pabrik
Gelisah langkah sepatuku jadi nyata

15 August 2007

Franz Magnis Suseno against The Bakrie Family

PENGHARGAAN Achmad Bakrie Award tahun ini salah satunya diberikan kepada Franz Magnis Suseno. Pastor Jesuit ini disebut berjasa sebagai ilmuwan Indonesia yang gigih membahas masalah-masalah bangsa dari sudut etika selama 4 dekade terakhir ini. Dan sebagaimana kita tahu, Frans Magnis Suseno menampik penghargaan itu.

Penolakan itu adalah bentuk protesnya kepada keluarga Bakrie yang dinilainya belum melakukan tindakan yang jelas untuk mengatasi bencana lumpur di Sidoarjo yang sudah memakan bukan hanya banyak korban materiil tapi juga terutama kerugian non-materiil.

Barangkali ada juga yang tidak setuju dengan putusan Franz Magnis menolak hadiah itu. Sebagai pastor saleh ia memang tidak memerlukan duit hadiah itu, tapi bukankah ia bisa menyumbangkan kembali uang itu kepada pihak lain yang memerlukan. Kepada sebagian korban lumpur Lapindo itu sendiri, umpamanya.

Tapi hitung-hitungan matematis itu rupanya tidak ada dalam kamus sang romo. Menerima hadiah itu—dengan dalih moral atau sopan santun apapun—sama saja dengan “berkompromi” pada ketidakseriusan keluarga Bakrie menuntaskan masalah lumpur itu.

Penolakan tegas yang dilakukan romo Magnis mestinya mejadi “tamparan” yang menyakitkan bagi keluarga Bakrie. Adalah sebuah ironi yang menyedihkan bahwa mereka begitu royal membagi-bagikan banyak uang kepada beberapa person, sementara ribuan orang lain yang.sudah jelas sangat butuh pertolongan, malah diabaikan.

Tradisi Achmad Bakrie Award yang tujuannya mulia itu janganlah kemudian melenceng menjadi sarana penipuan atau pembohongan publik. Apa yang sudah yang dilakukan Franz Magnis Suseno barangkali boleh juga dianggap sebagai kado untuk bangsa ini yang besok lusa bakal merayakan ulang tahunnya.

Catatan Malam

Akhir kisah

Jalan-jalan ini
Berujung pada senja

Aku tak suka
Membicarakan soal ini
Tapi begitulah memang
Aturan mainnya

Tak peduli
Memutar lewat mana
Jalan-jalan ini
Hanya membawa kita
Pada malam

Aku benci
Mesti mengatakan ini
Padamu


Catatan malam

Lampu-lampu jalan
Seperti harapan
Seperti kita, lelah
Tapi tak mau sudah

14 August 2007

Di Terminal

Sejumlah tujuan terus ditawar-tawarkan
Sejumlah keberangkatan terus juga dipaksakan
Ssst, sekian kehilangan ada juga mengintai

Nyelinap diam-diam dalam kusut jadwal
Mendompleng berdesakkan pada keberangkatan
Siap mengantar kita sampai tujuan

12 August 2007

Sungai

Kuciptakan sejalur sungai
Pada lekuk liku tubuhmu
Sementara kau siapkan sampan
Cukup memuat kisah kita berdua

Kita biarkan sampan meluncur
Lantas kita pura-pura tak tahu
Arus kali yang tadinya pelan
Menderas menyeret kisahnya ke muara
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...