https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

04 September 2007

Dari Puisi Ini

Aku tak berharap banyak
Dari puisi ini

Kata-katanya yang aus
Tak bakal menghapus
Mimpimu telanjur hangus

Tapi barangkali
Ada sebuah ruang
Di antara lengang baris

Secercah celah
Di mana sedih
Dan yang agaknya mustahil
Masih terasa berarti
Dan punya harga

Hingga musim
Kembali berdenyut
Dan kisahmu berlanjut

Tapi selebihnya
Aku tak berharap banyak
Dari puisi ini

02 September 2007

Hujan

Hujan melukis kesunyianmu.
Genangan di jalan
memantulkannya kembali
dan lampu-lampu
dan malam hari
membuatnya sempurna
seperti adegan
dalam sebuah film
yang pernah kautonton
entah kapan.

Tapi ini bukan
dalam sebuah film
pun tak ada tokoh utama
atau kisah dramatis
sebagaimana layaknya
kita sangka.

Hanya ada hujan
jalanan basah
dan lampu-lampu
dan malam hari
yang membuatnya menjadi
sedikit lebih berarti.

26 August 2007

Nirwan Dewanto, 20 Tahun Kemudian

NIRWAN DEWANTO adalah sebuah fenomena. Ia membuat banyak orang terlongong-longong pada Kongres Kebudayaan 1991 dengan perfoma intelektualnya yang begitu prima saat itu. Dalam usia begitu muda ia tak kelihatan jadi kagok atau minder duduk berendeng dengan sejumlah nama besar dalam jagat “persilatan” intelektual di negeri ini..

Namun sebetulnya beberapa tahun sebelumnya ia sudah “hadir”, tapi boleh jadi banyak orang belum begitu memperhitungkannya. Sajak-sajaknya yang memikat membombardir Dialog, ruang budaya koran Berita Buana yang pada masa itu menjadi salah satu forum sastra yang paling diperhitungkan—di luar majalah sastra Horison.


Pada 19 Juni 1987 bersama Acep Zamzam Noor dan Soni Farid Maulana ia tampil di TIM dalam sebuah acara baca puisi yang diberi label “Tiga Penyair Bandung”. Bagi saya pribadi forum ini menjadi sebuah penanda awal yang cukup meyakinkan bahwa betul seorang penyair (dan pemikir) baru sudah lahir di tengah kita.

Dalam diskusi yang diadakan sesudah pembacaan puisi itu ada beberapa hal menarik yang terlontar. Nirwan bertutur perihal sajak-sajak yang barusan dibacakannya, yang dicomotnya dari Buku Cacing, kumpulan sajak pertamanya yang entah mengapa hingga kini urung terbit.

Sajak-sajak dalam buku itu adalah hasil pengembaraan teknisnya. Di sana persoalan “bentuk” lebih mendapatkan perhatiannya. Bentuk di situ digarapnya habis-habisan. Hasilnya memang sajak-sajak yang secara teknis "sempurna”. Tapi bukan tanpa resiko. Irawan Sandya menyebut sajak-sajaknya sebagai “gelap dan sukar didekati”. Sajak berikut ini mungkin bisa dijadikan contohnya :


Improvisasi 4

Bulan telah pecah
Oleh ombak :
Dan kini ia mengeras kembali
Di antara rerumputan

Bagai sekuntum bunga

Dengan sisa wewangian
Aku menyusun malam
Yakni ketika lautan
Memantulkan wajah kita

Mataku penuh pasir
Dari kuntum ke kuntum pastilah
Kau tengah bergulir

Biarkanlah embun berkilat
Memimpikan ombak
Langit tak bakal mengenali kita
Tapi ingin bernyanyi di jalanan :
Tak ada rahasia di lautan
Tak ada luka di taman

Jika bulan mencurimu
Memabukkanmu dalam ayunan
Aku akan terbaring beku
Menampung cahayanya dengan mulutku

Atas penilaian itu Nirwan menjawab bahwa dia sudah beranjak pada tren lain. Bentuk tidak lagi menjadi tujuan utama. Buku Cacing adalah sebagian dari masa silamnya, yang tak bakal kembali, katanya menegaskan. Ia pun menunjuk beberapa sajak untuk lebih menjelaskan maksudnya, seperti misalnya penggalan dua sajaknya di bawah ini :

Jika cinta bertanya, manakah yang lebih indah
Memiliki seorang perempuan atau seekor anjing?
Tundalah jawabanmu sampai akhirnya kau mati
Dan cinta akan akan tahu
Bahwa kau masih terikat di bumi

(Dari sajak Cinta adalah Teror)

Dan jika aku tak bisa membedakan lagi
Satu musim lewat dan satu musim lain datang
Aku akan membuang semua pakaian dan sepatuku
Berlari telanjang di jalanan memandang arah neraka
Biarlah gedung-gedung itu tersipu malu melihatku
Sampai seorang anak datang mengerat kelaminku
Dan dari lapangan rumput kering yang masih tersisa
Kutulis surat kepada ikan-ikan di laut dengan darahku
Agar mereka selalu bersabar menunggu hari kematianku

(Dari sajak Masa Kanak-Kanakku Mengambang di Laut)

Terasa memang ada perbedaan “suasana” dalam baris-baris di atas. Dalam istilahnya sendiri Nirwan berkata bahwa ia tengah beranjak dari model sajak-sajak yang “tertutup” ke bentuk sajak yang lebih “terbuka”, lebih longgar dalam struktur pengucapannya. "Saya ingin bahasa puisi saya menjadi bahasa sehari-hari, dan bahasa sehari-hari saya menjadi puisi", ujarnya..

Tentulah menarik untuk melihat seperti apa sajak-sajaknya 20 tahun sesudah statemen retorisnya itu. Kalau mengambil sajak-sajaknya di Kompas sebagai contoh, maka menurut saya Nirwan saat ini justru "kembali" pada periode awalnya, periode tatkala “bentuk” menjadi target artistiknya. Sajak-sajaknya kembali pada bentuk yang “tertutup”, dan bagi saya masih saja terasa “pekat serta susah” didekati. Kita lihat saja kutipan berikut :


Perenang Buta

Sepuluh atau seribu depa
ke depan sana, terang semata.
Dan arus yang membimbingnya
seperti sobekan pada jubah
tanjung yang dicurinya.
Tak beda ubur-ubur atau dara
mendekat ke punggungnya
yang tumbuh sekaligus memar
oleh kuas gerimis akhir Mei.
Ia seperti hendak kembali
ke arah teluk, di mana putih layar
pastilah iri pada bola matanya.
Tapi ia hanya berhenti, berhenti
di tengah, di mana rambutnya
bubar seperti ganggang biru
atau gelap seperti akar benalu
sehingga betapa mercusuar itu
ragu-ragu memandangnya.

(Dikutip dari Kompas, 5 Agustus 2007)

Kecenderungan untuk beranjak pada model sajak yang lebih “terbuka” ternyata tidak berlanjut.Tapi secara kualitatif tak ada keberatan yang bisa diajukan pada puisi-puisi terbarunya itu. Sajak-sajaknya masihlah sangat sedap dinikmati. Saya pribadi teramat menantikan kelahiran atau terbitnya buku puisinya. Tapi Nirwan Dewanto agaknya bukanlah jenis penulis yang suka terburu-buru menerbitkan buku, meskipun kesempatan baginya begitu terbuka.

23 August 2007

Minggu Petang Seorang Pegawai

Berilah Kata

Berilah aku kata secukupnya
Dan baris yang tak berlebih
Sekadar menjaga akal warasku
Supaya tidak kulampaui batas

Seraya merawat luka bumi
Pada sejudul yang kiranya pantas
Dalam seayat yang semogalah sarat
Utuh kurangkum sekarat musim


Minggu Petang Seorang Pegawai

Semua sudah disiapkan
Kaus kaki bolong dan sepatunya

Semua sudah dipasrahkan
Seragam luntur lusuh tergantung

Semua sudah berakhir
Libur yang adalah tidur ngelindur

Adapun tuhan, adapun tuhan
Sayup kabar pada rusuh ingatan

21 August 2007

Madah Kelam

Sajak Tak Selesai

Baris awalnya
Menggoda larut malam

Mendusin esoknya
Kutambahlah sebanyak variasi

Tapi seharian itu
Gagal kurumuskan

Sepatah dua kata
Guna menutup baris akhirnya


Madah Kelam

Mungkin kuperlukan sosok
Geliat ngeri pada puncak salib
Supaya bisa kugenapkan nyeri
Mengucap padaku gaib lagi rahasia

Mungkin kubutuh juga sepi
Serupa petang turun di taman kota
Dan bebangku kayu yang sepertinya meratapi
Para sekutu yang raib dihalau bayang

Mugkin, bakal kurindukan malam
Kelam yang merangkum kisah
Pada jari-jemariku sebentar berdarah
Sedang aku sekadar terdiam
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...