Jika aku pergi
Sebagian diriku
Tertinggal di rumah
Tak bisa kubawa serta
Dan jika kumati
Sebagian kisahku
Tertahan padamu--
Seperti menolak
Seakan bertahan
Dari bumi yang
Mau menariknya
Pulang pada tanah
Aku bertanya
Jika kelak kau mati
Kisahku fana
Ke mana berumah?
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
17 October 2008
13 October 2008
Rumah Dijual
Rumah ini terpaksa akan kujual.
Hasil penjualannya nanti akan
kujadikan modal awal. Aku akan
mengungsi ke sebuah masa
depan. Rumah ini tak buruk
samasekali. Aku sebetulnya
malah sudah betah netap di sini.
Tapi letaknya kelewat dekat
ke masa lampau. Padahal aku
butuh akses lebih cepat ke pusat
waktu. Anak-anak sudah tambah
besar. Lagi pula bisnisku maju
pesat. Sudah tak mungkin lagi
kupertahankan masa laluku
di sini. Aku perlu lebih banyak
lagi kamar, halaman yang lebih
luas, juga jalan layang untuk
menunjang mobilitasku. Rumah
ini terpaksa kujual. Selamat
tinggal para tetangga budiman.
Salam buat abang sayur, tukang
air keliling. Daag pak Amin tukang
sampah. Aku pindah ke sebuah
masa depan yang penuh
kabel dan tombol. Kelak suatu
hari mungkin akan kuganti hatiku
dengan plastik dan mataku
dengan beling. Di balik silau
lampu-lampu masa depan yang
jauh darimu, aku mungkin bisa
pura-pura tentram dan bahagia.
Hasil penjualannya nanti akan
kujadikan modal awal. Aku akan
mengungsi ke sebuah masa
depan. Rumah ini tak buruk
samasekali. Aku sebetulnya
malah sudah betah netap di sini.
Tapi letaknya kelewat dekat
ke masa lampau. Padahal aku
butuh akses lebih cepat ke pusat
waktu. Anak-anak sudah tambah
besar. Lagi pula bisnisku maju
pesat. Sudah tak mungkin lagi
kupertahankan masa laluku
di sini. Aku perlu lebih banyak
lagi kamar, halaman yang lebih
luas, juga jalan layang untuk
menunjang mobilitasku. Rumah
ini terpaksa kujual. Selamat
tinggal para tetangga budiman.
Salam buat abang sayur, tukang
air keliling. Daag pak Amin tukang
sampah. Aku pindah ke sebuah
masa depan yang penuh
kabel dan tombol. Kelak suatu
hari mungkin akan kuganti hatiku
dengan plastik dan mataku
dengan beling. Di balik silau
lampu-lampu masa depan yang
jauh darimu, aku mungkin bisa
pura-pura tentram dan bahagia.
10 October 2008
Orang Pandai yang Bersembunyi
SALAH satu hal yang menarik perhatian saya dalam membaca cerita silat Cina adalah kehadiran mereka yang baiklah saya sebut saja “orang pandai yang bersembunyi”. Mereka bukanlah tokoh utama dalam cerita, tapi kemunculannya—yang juga tidak kerap, kadang bahkan hanya muncul sekali saja--sering menentukan, dan bagi saya sebagai pembaca, selalu terasa “mengilhami”. Sering malah kehadiran mereka lebih membetot perhatian saya ketimbang tokoh utamanya sendiri.
Dalam prolog dari Kisah Membunuh Naga (Ie Thien To Liong) versi OKT diceritakan tentang seorang rahib lugu bernama Kak Wan Taysu, yang sebetulnya sudah muncul dalam penghujung cerita Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar atawa Sin Tiau Hip Lu. Kak Wan adalah “paderi bodoh” yang bekerja di perpustakaan biara Siauw Liem. Tugasnya sehari-hari adalah menjaga keamanan dan kebersihan ribuan kitab di perpustakaan itu. Ia sendiri diceritakan tak mengerti ilmu silat, dan memang begitulah adanya.
Syahdan, suatu ketika dalam keasyikannya membersihkan kitab, secara tak sengaja ia menemukan sejilid kitab tipis yang berisi pelajaran ilmu silat dahsyat yang secara ajaib luput dari perhatian para penghuni Siauw Liem lainnya. Meskipun “tolol” ia toh mengerti kitab itu sebuah mustika yang tiada taranya sebab ditulis langsung oleh Bodidharma, tokoh yang konon adalah peletak dasar silat Siauw Liem.
Begitulah diam-diam tanpa sepengetahuan siapa pun rahib “bodoh” itu meyakinkan ilmu dalam kitab tipis itu, dan tanpa ada yang tahu ia kemudian mengalami metamorfosis dari seorang yang tak paham ilmu silat menjadi seorang sakti yang tersembunyi. Tersembunyi,karena ia, setelah jadi hebat tak tertarik untuk gembar-gembor, melainkan terus tinggal di perpustakaan merawat ribuan kitab yang jadi tanggung jawabnya.
Dalam kehidupan kita sehari-hari tokoh seperti Kak Wan ini--“orang pandai yang bersembunyi”—pasti juga ada. Mereka tak begitu hirau dengan segala ingar bingar publisitas semu. Mereka lebih memilih tinggal di sudutnya, dalam kesendirian dan kesepian, seraya terus mendalami dan meyakinkan bidang yang menjadi pilihannya. Saya membayangkan, ia mungkin saja seorang penyair jenius yang lebih memilih menyimpan saja puisi-puisinya (dan pikiran-pikirannya) dalam laci—kita pasti teringat Emily Dickinson ….
Pertanyaannya kini, salahkah pilihan “bersembunyi” yang mereka ambil? Kak Wan dalam Kisah Membunuh Naga, lantaran terpaksa sekali, akhirnya muncul ke gelanggang, mengobrak-abrik musuh dan sekaligus membuka mata banyak orang. Ia pun kemudian, menurut sang empunya cerita konon, menjadi inspirator bagi lahirnya silat Wudang dan ilmu pedang Gunung Emei.
Dalam prolog dari Kisah Membunuh Naga (Ie Thien To Liong) versi OKT diceritakan tentang seorang rahib lugu bernama Kak Wan Taysu, yang sebetulnya sudah muncul dalam penghujung cerita Rajawali Sakti dan Pasangan Pendekar atawa Sin Tiau Hip Lu. Kak Wan adalah “paderi bodoh” yang bekerja di perpustakaan biara Siauw Liem. Tugasnya sehari-hari adalah menjaga keamanan dan kebersihan ribuan kitab di perpustakaan itu. Ia sendiri diceritakan tak mengerti ilmu silat, dan memang begitulah adanya.
Syahdan, suatu ketika dalam keasyikannya membersihkan kitab, secara tak sengaja ia menemukan sejilid kitab tipis yang berisi pelajaran ilmu silat dahsyat yang secara ajaib luput dari perhatian para penghuni Siauw Liem lainnya. Meskipun “tolol” ia toh mengerti kitab itu sebuah mustika yang tiada taranya sebab ditulis langsung oleh Bodidharma, tokoh yang konon adalah peletak dasar silat Siauw Liem.
Begitulah diam-diam tanpa sepengetahuan siapa pun rahib “bodoh” itu meyakinkan ilmu dalam kitab tipis itu, dan tanpa ada yang tahu ia kemudian mengalami metamorfosis dari seorang yang tak paham ilmu silat menjadi seorang sakti yang tersembunyi. Tersembunyi,karena ia, setelah jadi hebat tak tertarik untuk gembar-gembor, melainkan terus tinggal di perpustakaan merawat ribuan kitab yang jadi tanggung jawabnya.
Dalam kehidupan kita sehari-hari tokoh seperti Kak Wan ini--“orang pandai yang bersembunyi”—pasti juga ada. Mereka tak begitu hirau dengan segala ingar bingar publisitas semu. Mereka lebih memilih tinggal di sudutnya, dalam kesendirian dan kesepian, seraya terus mendalami dan meyakinkan bidang yang menjadi pilihannya. Saya membayangkan, ia mungkin saja seorang penyair jenius yang lebih memilih menyimpan saja puisi-puisinya (dan pikiran-pikirannya) dalam laci—kita pasti teringat Emily Dickinson ….
Pertanyaannya kini, salahkah pilihan “bersembunyi” yang mereka ambil? Kak Wan dalam Kisah Membunuh Naga, lantaran terpaksa sekali, akhirnya muncul ke gelanggang, mengobrak-abrik musuh dan sekaligus membuka mata banyak orang. Ia pun kemudian, menurut sang empunya cerita konon, menjadi inspirator bagi lahirnya silat Wudang dan ilmu pedang Gunung Emei.
07 October 2008
Terima Kasih
Sajak yang baik
Tak pernah menagih pujian
Barangkali ia malah keberatan
Disebut sajak
Ia seperti jejak
Memanjang sepi di jalan setapak
Sehabis reda hujan sore
Kita melihat bekasnya
Kita mengenali tandanya
Kita rasakan kehadirannya
Sajak sebenar sajak
Sungguh semata jejak
Berjalan ia di depan
Membimbingmu ke puncak
Kita kenal baik tanda-tandanya
Kita bisa rasakan degupnya di sini
Ah, kita juga mau berterima kasih
Buat kehadirannya yang menyehatkan bumi
Tak pernah menagih pujian
Barangkali ia malah keberatan
Disebut sajak
Ia seperti jejak
Memanjang sepi di jalan setapak
Sehabis reda hujan sore
Kita melihat bekasnya
Kita mengenali tandanya
Kita rasakan kehadirannya
Sajak sebenar sajak
Sungguh semata jejak
Berjalan ia di depan
Membimbingmu ke puncak
Kita kenal baik tanda-tandanya
Kita bisa rasakan degupnya di sini
Ah, kita juga mau berterima kasih
Buat kehadirannya yang menyehatkan bumi
06 October 2008
Kemenangan yang Merepotkan?
MEMPERCAYAKAN penilaian atas puisi kepada para “juri anonim”—seperti dilakukan Pena Kencana —sungguh mengandung resiko. Belum mapannya kehidupan sastra di sini menjadi alasan kuat untuk skeptis. Saya pernah menyebut manuver Pena Kencana ini sebagai sebuah “eksperimen yang berani” (atau kepagian?), yang biarpun hasilnya bisa saja konyol, tapi tetap saja menarik ditunggu.
Seraya mengingat bahwa siapa pun yang kemudian muncul sebagai pemenang dalam kontes seperti itu bolehlah dipandang sebagai seorang yang “benar sedang mujur”. Kemenangannya bukan kemenangan artistik, sebab sesungguhnya tak ada peristiwa literer di sana. Yang terjadi adalah sebuah kegiatan yang berlangsung “untung-untungan”, yang melibatkan sejumlah orang yang tak jelas siapa saja, serta tak jelas juga mereka sudah memilih puisi siapa.
Maka bagaimana kemudian sang pemenang musti bersikap menghadapi hal ini? Saya tanyakan itu kepada Jimmy Maruli Alfian, yang memenangkan kontes ini untuk kategori puisi. Saya tanyakan juga apakah ia mempunyai usulan untuk perbaikan supaya award ini tidak lalu berkembang menjadi sekadar sasaran sinisme belaka. Saya pikir menarik sekali menguping apa komentarnya. Kebetulan kemudian memang ada sedikit “ribut-ribut” di blognya Hasan Aspahani tentang hasil kontes ini, maka saya pikir ini adalah kesempatan bagus bagi Jimmy untuk bicara.
Sayang sekali, Jimmy Maruli Alfian, penyair muda potensial--yang saya sukai puisinya, antara lain karena bahasa sajaknya yang lugas dan tidak bertele-tele--itu agaknya tak tertarik merespons pertanyaan saya, pun mengurusi “ribut-ribut” itu. Mungkinkah karena kemenangan ini sudah membikinnya menjadi “serba salah” dan “repot”? Tapi mengapa harus jadi merasa "bersalah" dan "repot"? Jimmy yang berhak menjawabnya.
Seraya mengingat bahwa siapa pun yang kemudian muncul sebagai pemenang dalam kontes seperti itu bolehlah dipandang sebagai seorang yang “benar sedang mujur”. Kemenangannya bukan kemenangan artistik, sebab sesungguhnya tak ada peristiwa literer di sana. Yang terjadi adalah sebuah kegiatan yang berlangsung “untung-untungan”, yang melibatkan sejumlah orang yang tak jelas siapa saja, serta tak jelas juga mereka sudah memilih puisi siapa.
Maka bagaimana kemudian sang pemenang musti bersikap menghadapi hal ini? Saya tanyakan itu kepada Jimmy Maruli Alfian, yang memenangkan kontes ini untuk kategori puisi. Saya tanyakan juga apakah ia mempunyai usulan untuk perbaikan supaya award ini tidak lalu berkembang menjadi sekadar sasaran sinisme belaka. Saya pikir menarik sekali menguping apa komentarnya. Kebetulan kemudian memang ada sedikit “ribut-ribut” di blognya Hasan Aspahani tentang hasil kontes ini, maka saya pikir ini adalah kesempatan bagus bagi Jimmy untuk bicara.
Sayang sekali, Jimmy Maruli Alfian, penyair muda potensial--yang saya sukai puisinya, antara lain karena bahasa sajaknya yang lugas dan tidak bertele-tele--itu agaknya tak tertarik merespons pertanyaan saya, pun mengurusi “ribut-ribut” itu. Mungkinkah karena kemenangan ini sudah membikinnya menjadi “serba salah” dan “repot”? Tapi mengapa harus jadi merasa "bersalah" dan "repot"? Jimmy yang berhak menjawabnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)