Bertahun-tahun ia mencari
Kata pertama, untuk mulai menyajak
Tapi yang ia temukan hanya separoh kata
Sering juga ia tertipu dengan
Bukan kata yang mengaku kata
Akhirnya ia menyajak juga
Dengan separoh kata yang dipunya
Membiasakan diri dengan bukan kata
Yang suka mengaku sebagai kata
Seraya terus berharap kelak suatu hari
Bakal dijumpainya juga kata pertama
Kata sejati yang lama dirindunya
Untuk mulai menuliskan sajaknya
Sajaknya yang pertama, dan mungkin
Juga sajaknya yang penghabisan
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
31 October 2008
27 October 2008
Doa Untuk Bapak Kami
Bapak kami yang ada di sawah
Di pabrik, di simpang-simpang jalan
Di kantor, di mana saja bapak kami berada
Dimuliakanlah kiranya harkatmu
Jadilah kiranya kehendak majikan
Seperti bapak kami tiap malam impikan
Berilah gaji dan tunjangan manusiawi
Uang lauk pauk dan ganti rugi transport
Secukupnya, sekadar mencegah bapak kami
Tergoda bunuh diri
Ampunilah dosa, sumpah serapah
Kebohongan bapak kami, seperti sudah lama
Bapak kami selalu memaklumi kekurangajaran
Dan kebohongan yang sengaja ditimpakan padanya
Janganlah kiranya membuat bapak kami
Lupa diri, gelap mata, terbujuk godaan setan
Sehingga membikin kekacauan macam-macam
Melainkan bebaskanlah bapak kami dari segala
Tipu muslihat majikan yang keji
Amin
Di pabrik, di simpang-simpang jalan
Di kantor, di mana saja bapak kami berada
Dimuliakanlah kiranya harkatmu
Jadilah kiranya kehendak majikan
Seperti bapak kami tiap malam impikan
Berilah gaji dan tunjangan manusiawi
Uang lauk pauk dan ganti rugi transport
Secukupnya, sekadar mencegah bapak kami
Tergoda bunuh diri
Ampunilah dosa, sumpah serapah
Kebohongan bapak kami, seperti sudah lama
Bapak kami selalu memaklumi kekurangajaran
Dan kebohongan yang sengaja ditimpakan padanya
Janganlah kiranya membuat bapak kami
Lupa diri, gelap mata, terbujuk godaan setan
Sehingga membikin kekacauan macam-macam
Melainkan bebaskanlah bapak kami dari segala
Tipu muslihat majikan yang keji
Amin
24 October 2008
Kidung Mandi
: JP
Penyair itu mandi
Mandi seperti kita semua mandi
Di ambang pintu tubuhnya
Membayang peluh bumi
Dicopotnya baju
Yang sekadar tipu
Dihempasnya kucel tubuh
Yang lama ngangkangi ruh
Ia loloskan juga
Tulang-tulangnya miskin
Menggantungnya sembarang
Pada cantelan kenang
Lantas khusuk ia sabuni
Mimpi yang dipenuhi daki
Cinta yang tambah meluntur
Umur yang sebentar tergusur
Penyair itu mandi
Mandi seperti saya mandi
Keluar dari pintu tubuhnya
Mewangi aroma malam
Penyair itu mandi
Mandi seperti kita semua mandi
Di ambang pintu tubuhnya
Membayang peluh bumi
Dicopotnya baju
Yang sekadar tipu
Dihempasnya kucel tubuh
Yang lama ngangkangi ruh
Ia loloskan juga
Tulang-tulangnya miskin
Menggantungnya sembarang
Pada cantelan kenang
Lantas khusuk ia sabuni
Mimpi yang dipenuhi daki
Cinta yang tambah meluntur
Umur yang sebentar tergusur
Penyair itu mandi
Mandi seperti saya mandi
Keluar dari pintu tubuhnya
Mewangi aroma malam
21 October 2008
Hantu Kata
Lewat tengah malam
Habis sudah waktu kalian!
Kini para hantu
Mengambil alih ruang tamu
Mendudukkan sundel bolong
Dan jerangkong gondrong
Di kursi utama
Aku pun di sana
Sebab aku serupa mereka
Tak punya wajah
Pun tanpa silsilah
Lihat kakiku melayang
Tak membekaskan bayang
Pada waktu
Dan lelampu
Akulah hantu kata
Terlunta dari cuaca ke cuaca
Hanya jika
Bisa kutemu dekap
Dalam rengkuhan sajak
Hadirku yang sejenak
Bakal berjejak pada bumi
Maka, lewat tengah malam
Kutunggu kau di ruang tamu!
Habis sudah waktu kalian!
Kini para hantu
Mengambil alih ruang tamu
Mendudukkan sundel bolong
Dan jerangkong gondrong
Di kursi utama
Aku pun di sana
Sebab aku serupa mereka
Tak punya wajah
Pun tanpa silsilah
Lihat kakiku melayang
Tak membekaskan bayang
Pada waktu
Dan lelampu
Akulah hantu kata
Terlunta dari cuaca ke cuaca
Hanya jika
Bisa kutemu dekap
Dalam rengkuhan sajak
Hadirku yang sejenak
Bakal berjejak pada bumi
Maka, lewat tengah malam
Kutunggu kau di ruang tamu!
20 October 2008
Peminum Kopi
Untuk setiap puisi
Aku perlukan secangkir kopi
Campurkan gula secukupnya :
Puisi juga butuh semacam pemanis
Barangkali sebaiknya pada penghujung baris?
Menuangkan rasa :
Tuanglah selagi panas masih
Nanti meruap sangit aroma langit
Mengaduknya pelan saja :
Cermat lagi hati-hati
Sebelum mereguknya sedap
Aku selalu percaya
Dari balik pekat ampas waktunya
Bakal terbaca isyarat
Tapi, untuk setiap pertanda
Aku perlukan sesayat luka
Aku perlukan secangkir kopi
Campurkan gula secukupnya :
Puisi juga butuh semacam pemanis
Barangkali sebaiknya pada penghujung baris?
Menuangkan rasa :
Tuanglah selagi panas masih
Nanti meruap sangit aroma langit
Mengaduknya pelan saja :
Cermat lagi hati-hati
Sebelum mereguknya sedap
Aku selalu percaya
Dari balik pekat ampas waktunya
Bakal terbaca isyarat
Tapi, untuk setiap pertanda
Aku perlukan sesayat luka
Subscribe to:
Posts (Atom)