Pelajaran Menulis Puisi (1)
Jangan kesusu begitu
Seduh kopi dulu, campurkan gula sedikit
Supaya bisa terkenang kembali
Rasa sakit yang pernah ada
Puisinya menyusul belakangan
Kadang cuma sebaris saja mengguris
Sisanya silakan cari sendiri--
Mungkin di antara ampas kopi?
Pelajaran Menulis Puisi (2)
Isi sebuah sajak
Tidak mesti hal-hal besar
Seperti impian dan harapan
Yang membongkar bumi
Sebuah sajak
Boleh saja berisikan
Hal-hal biasa dan sederhana
Seperti sajak ini
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
29 June 2007
27 June 2007
Kepada Ciliwung
Ciliwung yang lusuh
Sampaikan salamku pada ombak
Setiba nanti kau di muara
Katakan begini
Kubatalkan hasratku semula
Bergabung kembali dengan lautan
Telah kupilih
Telah kuputuskan Jakarta
Kurusetra jahanam agung ini
Sebagai muara dan ombak lautku
Pangkal dan rinduku yang sejati
Bilanglah padanya
Aku akan kerasan di sini
Tak usah cemas atau marah
Segalanya akan baik-baik saja
Sampaikan salamku pada ombak
Setiba nanti kau di muara
Katakan begini
Kubatalkan hasratku semula
Bergabung kembali dengan lautan
Telah kupilih
Telah kuputuskan Jakarta
Kurusetra jahanam agung ini
Sebagai muara dan ombak lautku
Pangkal dan rinduku yang sejati
Bilanglah padanya
Aku akan kerasan di sini
Tak usah cemas atau marah
Segalanya akan baik-baik saja
25 June 2007
Puisi yang Baik Itu "Menular"
SALAH satu ciri puisi yang baik konon adalah bahwa puisi itu “menular”—dan “kebesaran” seorang penyair mungkin bisa dilihat antara lain dari seberapa mampu ia menebar “epidemi”, wabah yang menular itu. Jadi berbahayakah bergaul rapat dengan puisi yang baik? Bisa berbahaya, bisa juga tidak. Itu sangat tergantung pada kekebalan serta fit tidaknya kondisi kreatif kita.
Kalau kondisi kreatif kita payah, gampang sakit-sakitan, bergaul dengan puisi yang baik—dan penyair yang baik-- bisa merusak dan akhirnya membunuh kita sebagai mahluk kreatif. Maksudnya, kita hanya akan jatuh menjadi sekedar peniru, reproduksi murah meriah dari puisi, dan penyair yang kita gandrungi itu.
Tapi kalau kondisi kreatif kita fit dan bagus, puisi yang baik malah akan bisa menstimulir kita untuk bisa lebih kreatif lagi. Penyair-penyair yang kemudian diakui sebagai penyair besar lahir dengan cara melakoni proses ini. Mereka bergaul “mesra” dengan sebanyak mungkin puisi yang baik, lalu menyerap dan “mencuri” sebanyak mungkin aura super dari puisi-puisi baik itu, dan kelak pada saatnya menggandakannya menjadi aura super yang lain, puisi baik yang lain lagi.
Jadi jika ingin mengambil manfaat dari puisi yang baik, buatlah dulu sehat kondisi kreatif kita. Tapi bagaimana cara menjadikan sehat kondisi kreatif kita? Nah inilah lucu dan ajaibnya. Kondisi kreatif kita justru hanya bisa ditempa dengan cara terus bergaul dengan sebanyak mungkin puisi yang baik itu. Orang bijak berujar “Saya tak bisa menari, tapi saya harus tetap menari--karena hanya dengan cara itulah saya akan bisa belajar menari”. Jadi, teruslah menulis, meskipun mungkin anda merasa betapa payahnya tulisan anda sekarang.
Kalau kondisi kreatif kita payah, gampang sakit-sakitan, bergaul dengan puisi yang baik—dan penyair yang baik-- bisa merusak dan akhirnya membunuh kita sebagai mahluk kreatif. Maksudnya, kita hanya akan jatuh menjadi sekedar peniru, reproduksi murah meriah dari puisi, dan penyair yang kita gandrungi itu.
Tapi kalau kondisi kreatif kita fit dan bagus, puisi yang baik malah akan bisa menstimulir kita untuk bisa lebih kreatif lagi. Penyair-penyair yang kemudian diakui sebagai penyair besar lahir dengan cara melakoni proses ini. Mereka bergaul “mesra” dengan sebanyak mungkin puisi yang baik, lalu menyerap dan “mencuri” sebanyak mungkin aura super dari puisi-puisi baik itu, dan kelak pada saatnya menggandakannya menjadi aura super yang lain, puisi baik yang lain lagi.
Jadi jika ingin mengambil manfaat dari puisi yang baik, buatlah dulu sehat kondisi kreatif kita. Tapi bagaimana cara menjadikan sehat kondisi kreatif kita? Nah inilah lucu dan ajaibnya. Kondisi kreatif kita justru hanya bisa ditempa dengan cara terus bergaul dengan sebanyak mungkin puisi yang baik itu. Orang bijak berujar “Saya tak bisa menari, tapi saya harus tetap menari--karena hanya dengan cara itulah saya akan bisa belajar menari”. Jadi, teruslah menulis, meskipun mungkin anda merasa betapa payahnya tulisan anda sekarang.
22 June 2007
Kabar Terakhir, Jakarta
Hidup tambah brengsek di kota ini,
tidakkah begitu? Di terminal, baru saja
sampai, kau mungkin kepergok
gerombol begal. Di mulut gang
waktu pulang larut, berandal-berandal
penganggur itu dengan santainya
mungkin mencegatmu : minta
rokok seraya dirogohnya
dompetmu yang kempes.
Kau kepingin cepat saja sampai
di rumah, tapi kemudian kau pun
paham, rumah juga tidaklah
nyaman lagi. Semuanya tak sama
lagi, bukankah begitu?
Golok tumpul dan belati
di bawah bantalmu itu, kini tak lagi
berarti apa-apa. Dulu kau
masih bisa merasa aman kalau
mengelus gagangnya, masih
bisa lega sehabis berdoa.
Sekarang semua itu jadi kelihatan
konyol, mungkin lucu. Mungkin
sudah saatnya kau butuh
mantra-mantra baru, dewa-
dewa baru, yang bisa
membujukmu berkemas
tidur, bermimpi sekadarnya,
bertahan sedapatnya sampai
pagi tiba lagi. Dewa-dewa baru
yang bisa mengajarmu bagaimana
bertarung dengan benar, supaya
kau tetap selamat dan tidak gila
di tempat ini. Tidakkah begitu?
tidakkah begitu? Di terminal, baru saja
sampai, kau mungkin kepergok
gerombol begal. Di mulut gang
waktu pulang larut, berandal-berandal
penganggur itu dengan santainya
mungkin mencegatmu : minta
rokok seraya dirogohnya
dompetmu yang kempes.
Kau kepingin cepat saja sampai
di rumah, tapi kemudian kau pun
paham, rumah juga tidaklah
nyaman lagi. Semuanya tak sama
lagi, bukankah begitu?
Golok tumpul dan belati
di bawah bantalmu itu, kini tak lagi
berarti apa-apa. Dulu kau
masih bisa merasa aman kalau
mengelus gagangnya, masih
bisa lega sehabis berdoa.
Sekarang semua itu jadi kelihatan
konyol, mungkin lucu. Mungkin
sudah saatnya kau butuh
mantra-mantra baru, dewa-
dewa baru, yang bisa
membujukmu berkemas
tidur, bermimpi sekadarnya,
bertahan sedapatnya sampai
pagi tiba lagi. Dewa-dewa baru
yang bisa mengajarmu bagaimana
bertarung dengan benar, supaya
kau tetap selamat dan tidak gila
di tempat ini. Tidakkah begitu?
21 June 2007
Mati Itu
Mati itu sunyi
Dan rahasia
Begitu ingin kukatakan
Sepatah saja
Mati itu datar
Tanpa nada
Tak ada warta
Dari seberang sana
Mati itu sunyi
Dan tak menjawab
Begitu ingin kutuliskan
Sebaris saja
Dan rahasia
Begitu ingin kukatakan
Sepatah saja
Mati itu datar
Tanpa nada
Tak ada warta
Dari seberang sana
Mati itu sunyi
Dan tak menjawab
Begitu ingin kutuliskan
Sebaris saja
Subscribe to:
Posts (Atom)
