https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

07 October 2011

Cangkir Penyair

Cangkir itu sebetulnya biasa saja, seperti cangkir-cangkir pada umumnya. Hanya ukurannya memang agak lebih besar dari cangkir biasa. Aku tak begitu paham mengapa ayah selalu menggunakan cangkir itu kalau mau menyeduh kopi, padahal ada beberapa cangkir lain. Ia melarang kami, anak-anaknya dan yang lainnya, menggunakan cangkir itu. Ini cangkir penyair, katanya beberapa kali mengulang pengumumannya. Yang bukan penyair tak minum dari cangkir ini, katanya pula, dengan nada bicara yang dibuat terdengar takzim.

Aku suka memperhatikan kalau ia sedang menyeduh kopi. Seingatku caranya juga biasa saja, tak ada ritualnya yang aneh-aneh. Ia menuangkan kopinya lebih dulu, satu atau dua sendok serbuk hitam itu dicampuri gula putih secukupnya, mengambil termos berisi air panas, menuangnya ke dalam cangkir keramat itu. Ia akan mengaduknya pelan-pelan, diam-diam, seperti sedang berdoa..Lalu ia akan membawa minuman itu ke kamarnya. Ia akan duduk nyantai selonjor di depan televisi, seraya pelan-pelan menyeruput kopinya, juga pelan-pelan, seperti tengah berpikir-pikir, atau apa begitu Entahlah. Yang pasti tampaknya sublim sekali segala perilakunya itu.

Kadang ia suka nyelutuk sendiri, enak racun ini. Atau, kalau sudah minum racun ini baru penyair bisa menulis. Memang kadang aku pergoki, sesudah selesai dengan ritual minum kopinya ayah mengambil buku notes yang suka dibawa-bawanya, lantas menulis-nulis sesuatu di sana. Kadang cukup lama ia melakukan itu, mencoret ini, mencoret yang lain, membolak-balik halaman baru notes itu. Kadang ia pindah duduk ke kursi di teras atas rumah kami yang sempit. Di situ memang lebih tenang suasananya. Ia lalu tampak seperti karam dalam kesuntukannya menulis itu.

Ia tak pernah memperlihatkan apa yang barusan ditulisnya. Aku pun tak begitu berminat untuk mengintipnya. Tulisan-tulisan di buku notes itu lebih berupa corat-coret yang hanya bisa dipahaminya sendiri, bahkan kadang ia pernah kudemgar mengomel tak bisa membaca apa yang sudah ditulisnya di sana. Lucu sekali melihatnya uring-uringan mencari sambungan yang terputus dalam catatan yang sudah ditulisnya.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...