https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

17 October 2006

Saya (Juga) Pernah Nyolong Buku

Kejadiannya sudah lama sekali. Tahun 1983, atau sekitar itulah. Buku yang disasar adalah kumpulan esai Rendra, Mempertimbangkan Tradisi, penerbitnya, kalau tak keliru, Gramedia. Dan toko bukunya "SA", di lantai bawah gedung "S" di Thamrin Jakarta. Harga buku itu saya sudah lupa, tapi seingat saya buat ukuran kantong saya waktu itu, yang hanya seorang karyawan gurem, lumayan membebani. Sebetulnya saya tak merencanakan pencurian itu sebelumnya. Beberapa hari sebelumnya. saya sudah sempat membolak-balik buku itu. Menurut saya, buku itu tidaklah bagus-bagus amat (kita sama tahu Rendra besar karena sajak-sajak dan dramanya, dan bukan karena esai-esainya bukan?), tapi juga tidak jelek sih. Melihat kualitas buku yang "tanggung" seperti itu saya merasa sayang kalau harus memiliki dengan membelinya. Apalagi saat itu adalah periode "sulit" buat saya. Itulah masa ketika kadang saya makan siang hanya dengan pepaya sepotong yang saya beli dari tukang rujak gerobak pinggir jalan di dekat kantor. Harganya ketika itu seratus perak sepotongnya.

Juga ada semacam "rasa marah" yang mengusik saya : mosok buku semutu itu harus dijual semahal itu? Maka muncullah godaan untuk mencuri saja buku itu. Ketika memutuskan hal "besar" ini, saya pun terbayang pada sosok penyair sohor Chairil Anwar, yang konon katanya dulu suka juga melakukan hal ini. Tentu saja saya tak bermaksud menyaingi beliau dengan merencanakan pencurian ini. Tapi motif kami kurang lebih sama ternyata : sama-sama bokek. Bedanya, Chairil (begitu pernah saya baca) melakukan ini dengan sangat tenang dan santainya. Mungkin karena toko bukunya sepi, dan sudah pasti tak ada kamera yang diam-diam membayangi gerak-geriknya. Sebab lain, barangkali ia memang betul "ahli" atau "berbakat" dalam urusan ini.

Saya pun menjalankan rencana "besar" saya, pada suatu siang, sewaktu jam istirahat kantor. Lokasi toko buku "SA" memang dekat dengan kantor. Saya masuki toko buku dengan sikap yang sebiasa mungkin. Sengaja hari itu saya memakai kemeja yang agak gedombrangan, dengan dua kancing depan saya biarkan terbuka. Suasana toko buku lumayan ramai, tapi untunglah konter buku-buku sastra (sebagaimana kita juga tahu) selalu sepi. Singkat cerita, operasi itu berjalan sukses, meski saya melakukannya dengan sedikit gugup dan gemetaran. Ada satu hal "kecil" yang masih terus teringat dari kejadian itu. Saya ingat di sebelah saya berdiri seorang entah siapa, sedang asyik membaca. Saya hampir yakin dia sebetulnya melihat segala perbuatan saya, karena sewaktu akan memasukkan buku ke dalam baju yang kancingnya sudah saya buka itu, buku itu sempat tersangkut, karena saya gugup, jadi manuver saya agak sedikit terhambat. Tapi untunglah seorang entah siapa itu tak mau usilan.

Saya pun buru-buru pulang ke kantor, memamerkan hasil operasi itu kepada beberapa teman sembari ketawa-ketiwi dengan puasnya. I was really excited at that time. Dan saya katakan kepada diri saya, bukan, yang kau lakukan bukanlah kejahatan, ini hanya semacam kenakalan, jadi tenang saja. Saya pun mulai membaca buku itu. Selesai. Mendadak muncul keinginan membuat resensinya. Saya kerjakan, dan selesai, lalu iseng-iseng saya kirim resensi buku curian itu ke majalah Horison. Lantas saya mencoba melupakannya. Beberapa bulan kemudian, seorang kawan penyair, Oewiek Sanuri Emwe (sekarang almarhum) memberitahu bahwa esai yang saya kirim itu sudah di-acc redaksi Horison. Teman ini memang "orang dalam" Horison, dia bekerja lepas membantu menulis kolom "Kronik" di majalah itu. Kaget. Surprise. Itulah reaksi saya. Dan benar, akhirnya resensi dengan judul Mempertimbangkan Tradisi, Menolak Kebekuan itu muncul di majalah sastra yang saat itu pamornya masih lumayan kinclong. Dan itulah juga tulisan saya yang pertama sekali dimuat Horison
. Tapi kisahnya belum selesai. Kawan saya, yang "orang dalam" majalah Horison itu meminta honor tulisan saya yang baru dimuat itu. Untuk menebus obat, katanya. Dia memang saya tahu sakit-sakitan ketika itu. Dan kondisi dompetnya lebih runyam dari saya. Saya pun merelakannya dengan senang hati. Saya anggap ini semacam tebusan untuk harga buku Rendra yang saya dapat dari nyolong itu. Jadi, impaskah "dosa" saya karena itu. Tentu saja saya tak tahu, tapi saya harap begitu.

1 comment:

Yo_simpleman said...

Wah...aku jadi ingat, ketika pertamakali tulisan dimuat, biar di majalah HIDUP. Lupa kapan, tahun 1984 kayaknya, dan entah dimana majalah itu sekarang. Honornya dipotong pajak, dan lumayan buat beli beras krn waktu itu memang keluarga Senin-Kamis. Sekarangpun, belum beranjak jauh, tapi lebih baik.

Tapi tetap saja, honor ini sangat membantu. Seperti beberapa waktu lalu, kantong bolong, lalu ingat ada honor pemuatan puisi di Suara Pembaruan. Dengan langkah gagah, padahal bokek, aku ambil ke bagian keuangan SP. Terselamatkanlah mobilku utk terus menggelinding. Karena dia tak suka puisi, sehingga katakata tak bisa menjadi bahan bakar baginya.

Salam puisi,
Yo

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...