https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

17 October 2007

Tiada Lawan Selain Waktu

TAHUKAH Anda bahwa lawan yang terutama harus dihadapi seorang penulis bukanlah para kritikus yang suka asal bantai, atau para redaktur kolom sastra di koran yang sering diganyang dari belakang, dan dituduh telah “memacetkan” perkembangan kesusasteraan. Bukan juga para editor penerbitan yang diam-diam bertindak sebagai “tuhan” atas karya-karya yang ditawarkan pada mereka. Bukan. Bukan. Bukan. Lawan terberat seorang penulis adalah waktu.

Pernah ada “sindiran” bahwa umur kreatif sastrawan Indonesia mencapai puncaknya pada saat sastrawannya berumur 20 atau 30-an, dan sesudahnya mulai meredup, lalu pada usia 40 semakin suram, untuk akhirnya “mati” pada umur 50. Tapi sinyalemen itu ternyatalah tidak sepenuhnya benar. Sitor Situmorang, umpamanya, masih menulis sampai saat ini. Dan jangan dilupakan Goenawan Mohamad, yang tambah tua tampaknya makin menjadi.

Tapi di sisi lain memang ada cukup contoh yang membuktikan kebenaran omongan itu. Eka Budianta, seorang penyair cukup ternama, sepertinya cocok sekali dengan gambaran pendeknya umur kreatif itu. Eka Budianta—bersama sejumlah nama “besar” lain, sebutlah si kembar Yudhis dan Noorca—berguguran, atau setidaknya menunjukkan penurunan kualitas karya sewaktu memasuki umur pertengahan.

Pertanyaan besarnya adalah mengapa Sitor dan Goenawan bisa awet, sedang Yudhis cs begitu cepat kehabisan bensin? Kita mungkin akan menyebut hal-hal seperti kesibukan kerja, dan perubahan kondisi hidup ke arah kemapanan finansial sebagai faktor penyebab kendurnya spirit kreatif itu. Marilah kita lihat sejauh mana pendapat itu benar, atau salah.

Sitor mungkin betul bukan figur “sibuk”, sehingga ia beruntung bisa memanfaatkan situasi “nganggur”nya untuk tetap menulis. Tapi Goenawan Mohamad kita tahu adalah seorang yang super sibuk, tapi tetap bisa menjaga “iman” puisinya. Dan kalau bicara kemapanan finansial, kurang mapan dan makmur bagaimana lagi beliau? Toh semua itu tak mengguyahkan gairahnya untuk terus menulis.

Ada istilah “passionate blogger’, untuk menyebut para blogger yang terus dengan bergairah ngeblog tanpa peduli apakah ada orang yang membaca atau mengomentari tulisannya. Mereka terus ngeblog, karena dasarnya memang mencintai kerja ngeblog itu. Cinta jugalah agaknya yang terus memompa Sitor, Goenawan (juga Sapardi) untuk terus menulis puisi. Dan, cinta jugalah agaknya yang sanggup menaklukkan waktu.

1 comment:

Feni Efendi said...

saya tidak peduli apakah karya saya akan dipublikasikasika oleh media atau tidak, namun saya akan terus menulis puisi karena itu kebutuhan saya. dan saya tidak mau melakukan perbuatan yang memalukan.
salam buat ook.

www.areapanas.blogspot.com

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...