https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

13 August 2014

Ruang

Di dalam sajak pendek ini
Telah kusiapkan untukmu ruang
Aku tahu jauh dari nyaman
Kuharap tapi kau bakal terbiasa

Jendelanya sempit menyapa langit
Sejumlah nama dan kenangan lapuk
Teronggok begitu saja di sudut
Yang sudah jarang didatangi

Pintunya sejak dulu tak bisa dikunci
Sesiapa pun jadi bebas keluar dan masuk
Merdeka menaruh atau mencuri entah apa
Barangkali sepasang kasut, dan kisah butut?

Aku mohon maaf, sebab abai merancang hiasan
Padahal kau termat suka gambar dan bebunga
Tentulah enam dindingnya jadi lengang terasa
Sebab bayang waktu diam tak berpangkal

10 August 2014

Kota Ini

Kota ini tak ubahnya
Sebuah komidi putar besar
Kita terkurung di dalamnya:
Berputar dan tak sampai ke mana pun
Saling melambai (mungkin menyeru)
Dalam jarak yang pasti
Dan sedih yang tak terbagi

"Sebaiknya memang kita
Tak kelewat berharap
Pada yang lintas sekejab
Di antara jeda," seorang pernah berkata
Musim memang tak berjanji apa pun
Hanya ada sebuah siklus:
Jalinan kisah tak tersambung
Di antara mendung
Dan musim yang ganjil

Ah, kota ini sungguh
Sebuah komidi putar belaka
Kita terjebak di dalamnya, mungkin
Terkutuk, turunan lancung Sisifus?

07 August 2014

Tamat

Mati itu
Bagai kisah tamat
Bagai buku
Selesai
Tiada lagi
Alias lainnya:

Kosong
Halaman sesudahnya

Putih
Tak terbaca

05 August 2014

Usaha Mencatat Gerimis

- Menafsir Malna

Sebelum dituliskan ia masih sepenuhnya gerimis
Melayang merdeka tak beribu-bapak di udara tak bernama
Lantas lembut sempurna bisa kau rasakan mendarat ia
Di pusat kebun, atau pada pepuncak ubunmu

Sewaktu kau berkeras menuliskannya, menguncinya
Dalam kotak-kotak sempit yang kau sebut sajak, mati-matian ia
Memberontak, seakan menampik garis takdir yang begitu saja
Kau paksakan pada cair wujudnya tak bersilsilah

Sewaktu rampung dituliskan, atau begitulah kau menduganya
Terang kau pastikan tak tersisa lagi itu gerimis, tak ada juga kau
Yang riuh mencatatnya pada ini wadah sarat cacat--
Hanya ada sepi di ujung baris yang sekonyong buntu, gagu

02 August 2014

Sastra Bawah Tanah


DALAM pidatonya pada penganugerahan Hadiah Sastra Khatulistiwa ke-13 tahun lalu penyair Afrizal Malna antara lain menghaturkan ucapan "terima kasih" kepada toko-toko buku yang menolak menjual buku puisi.

Penolakan itu, menurutnya, justru telah "menyelamatkan" puisi menjadi satu-satunya produk aktivitas kita yang tidak bisa "ditekuk" oleh pasar.

Kalau semuanya diambil olah pasar, apalagikah yang masih tersisa buat kita, begitu dia bertanya retoris. 

Puisi Indonesia memang semakin menegaskan dirinya sebagai "produk bawah tanah". Buku-buku puisi pemenang KLA misalnya, dengan pengecualian pada satu-dua judul, tidak pernah bisa ditemukan di rak toko-toko buku. Ia harus belajar merasa puas (dan "tahu diri") dengan menjadi gunjingan sebentar segelintir orang yang tak jelas pula.

Statemen Afrizal Malna, bagi saya, terasa sebagai kegenitan atau "hiburan" yang miris.

(Untuk pidato Afrizal Malna itu sendiri sila menyimaknya di sini).
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...