https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

09 March 2007

Puasa Puisi Afrizal Malna

AFRIZAL Malna pernah memutuskan “bercerai” dari puisi. Itu terjadi sekitar 1970-an pertengahan. Alasannya sungguh idealistis : ia merasa puisi-puisi yang ditulisnya saat itu tidak memuaskannya samasekali. Maka daripada hanya nyampah, ia putuskan lebih baik stop menulis saja. Ia pun lalu mengalihkan perhatiannya pada hal-hal “di luar” puisi, dan sekuat tenaga menahan semua dorongan libidinalnya untuk menulis.

Tapi “puasa” nya hanya bertahan 2 tahun. Berahi puitikal yang begitu kuat dari dalam dirinya akhirnya memaksanya kembali “menghunus” kata. Namun ada yang berbeda. Puisi-puisinya pasca puasa itu bukan lagi “spam”, alias “sampah”, dan motivasi menulisnya pun dirasanya lebih “murni”, bukan lagi didorong oleh hal-hal yang hanya artifisial dan sampingan.

Kisah Afrizal Malna ini selalu menginspirasi saya. Ini adalah kisah refleksi dan pencarian “iman” seorang pencinta puisi sejati. Bayangkan, ia rela melakukan puasa, bermatiraga, berpantang, menolak berhubungan dengan puisi, justru untuk mendapatkan jawaban sejati apakah ia memang sungguh-sungguh memerlukan kehadiran puisi dalam hidupnya.

Afrizal Malna kita tahu sudah menjawab pertanyaan itu. Tapi bagaimana dengan kita, saya dan anda? Ingat lho, kualitas dan buah kerja menyair kita antara lain juga ditentukan oleh bobot atau kualitas jawaban yang kita berikan atas pertanyaan itu.

Jadi, coba tanyakan dan jawablah dengan jujur, sungguhkah anda memerlukan kehadiran puisi dalam hidup anda? Dan sebagai apa? Teman ngerumpi iseng, pacar musiman, selingkuhan gelap, atau pasangan hidup permanen anda? Suami atau istri begitu? Atau anda masih belum punya jawabannya? Ah, bagaimana kalau puasa puisi dulu …baru nanti menjawabnya?

5 comments:

Anonymous said...

puasa puisi? nantilah, aku belum berpikir ke situ.
bukan soal birahi, tapi daya tarik seksual puisi tak beda dengan wanita : begitu menggelora dan menghanyutkan.
kalau oom Ook sudah berpuasa, kabari ya bagaimana rasanya.

salam,
Yo

dedyriyadi said...

TSP pernah menulis Puasa-Puisi, tetapi bukan puasa berpuisi. Dia memaksudkan puisi seperti sebuah hajat besar hingga penyair perlu berpuasa (mematikan rasa) sebelum menghasilkan sebuah karya.

Anonymous said...

Untuk Marvel,

Saya kira saya setuju dengan TSP, pengalaman saya sendiri membuktikan memang ada korelasi mitis -- katakanlah begitu -- antara kebersihan hati & proses penciptaan.

Trims untuk koment dan kunjungan, juga buat Yo.

Seorang Sendja said...

nah, jujur aku lg kepikiran nih..pusing kepala krn thesis udah di ujung jalan dan mau sidang..

urusan cinta yang gak kelar2 dan gak ada titik terangnya..bikin jadi mandul...

hati aman dan selamat kalau tdk melulu mencinta, tp kok rasanya spt kosong..

ahhh...puasa aja kali ya mas?

Anonymous said...

Aduh senja, problemnya berat tuh, gimana kalo mengadu saja pada bunda kita ... novena, rosario, maaf bukan mau mengkhutbahi ya, salam damai deh

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...