https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

30 March 2007

Ulil Ngeblog (!)

ULIL ABSHAR-ABDALLA, pemikir muda Islam yang kontroversial, salah satu pendiri Jaringan Islam Liberal yang saat ini tengah sekolah lagi di negerinya Bush sana, kini meramaikan pula atmosfir jagat maya dengan ikutan ngeblog. Kabar ini mula-mula saya temukan di blog Enda Nasution, yang selanjutnya merujuk pula ke blognya Arif Widianto.

Kehadiran Ulil di ranah blog kita harapkan membuat suasana tambah semarak. Sewaktu tadi saya berkunjung ke blognya, baru ada satu tulisan, yang sebagian—dengan tanpa ijin dan memberanikan diri—saya kutipkan di bawah ini. Semoga bermanfaat.

Sebagian besar bahan-bahan yang termuat di sini berkaitan dengan tema-tema keislaman. Tetapi masalah yang menjadi bahan pemikiran saya tentu tidak terbatas di sana. Saya mempunyai minat yang luas sekali di banyak bidang, meskipun tema Islam berada di titik pusat perhatian saya. Secara pribadi, saya meminati bidang-bidang seperti filsafat, teori-teori politik modern, pemikiran ekonomi, sosiologi (terutama sosiologi agama), sastra, mistik, film, musik, dll. Oleh karena itu, tidak mustahil renungan-renungan yang termuat di ruangan ini suatu saat akan berkaitan dengan tema-tema itu.

Sekarang ini, ratusan ribu blog bersliweran di ruang maya. Teknologi internet telah memungkinkan terjadinya “revolusi” yang luar biasa pada banyak bidang. Internet telah melahirkan sejumlah “revolusi” kecil-kecilan seperti blog, YouTube, google, dsb. Revolusi internet membawa dampak yang sangat penting, yaitu demokratisasi di bidang informasi.

Saya kira kita perlu memberikan apresiasi pada otak-otak brilian yang telah menemukan teknologi ini. Sekali lagi ini memperlihatkan bahwa akal manusia, jika diberikan kebebasan, akan menghasilkan manfaat yang besar bagi kemanusiaan. Meskipun akal mengandung sisi gelap dalam dirinya, tetapi kecurigaan yang berlebihan pada akal adalah sama sekali tidak pada tempatnya.

Menulis di tengah Bencana

DI TAHUN 1972 Goenawan Mohamad (GM) memperoleh anugerah seni dari pemerintah saat itu—tentu untuk prestasi dan dedikasinya di bidang kesusasteraan. Anugerah itu, yang diberikan dalam bentuk uang tunai sebesar 2 juta rupiah, secara demonstratif ternyata ditolaknya. Dalam sebuah esainya sehubungan dengan penolakan anugerah itu, ia mengemukakan alasan dirinya tidak merasa pantas menerima anugerah duit segede itu—yang untuk ukuran masa itu setara dengan dana bantuan untuk 10 desa tertinggal.

Ia menganggap pemberian hadiah itu kepada seorang penyair—yakni “kasta” yang tak kunjung sslesai dipertengkarkan keberadaan dan sumbangsihnya di sini—adalah sebuah “kekeliruan”. Adalah “salah” menganggap kerja seorang penyair harus diganjar sebegitu besarnya.

Mungkin hanya seorang GM yang sanggup melakukan hal semacam itu. Setidaknya saya belum pernah mendengar lagi ada sastrawan yang rela menampik diberi ganjaran duit besar sekarang ini. Dalam konteks waktu hari ini, paling-paling kita sekadar bertanya separuh hati, sudah benarkah apa yang saya lakukan : menulis puisi, umpamanya, di tengah lautan bencana yang datang bagai arisan di sekitar kita.

Tapi mestikah kita lalu berhenti menulis hanya karena merasa “tidak bisa berbuat apa-apa” di tengah situasi sarat musibah ini?

Butet Kartarejasa pernah disindir perihal apa saja yang sudah dikerjakannya—selain asyik ‘melucu hahahihi’—untuk situasi tanah air yang runyam saat ini. Atas sindiran itu ia pun menjawab tangkas : Saya main teater, karena saya memang pemain teater. Dan itulah sumbangannya terbesar.

Butet benar. Apa yang mau dikatakannya sederhana saja sebetulnya, yaitu bahwa kita masing-masing punya wilayah kerja sendiri. Dan masing-masing wilayah kerja itu memiliki tanggung jawab dan sumbangannya sendiri juga. Mereka ada bukan untuk saling menindas atau mengecilkan yang lain, melainkan saling melengkapi. Maka kalau kita mulai kehilangan rasa penghargaan kepada peran kita masing-masing, begitulah Putu Wijaya pernah berujar, itu pertanda kita sudah mengidap krisis.

28 March 2007

Fearless atau Riwajatnja Djago Silat

(Kepada pengunjung setia blog ini yang datang ke sini karena alasan-alasan literer—cailah, istilahnya--janganlah kiranya terkejut—atau merasa “salah masuk blog”—sebab menemukan postingan yang rada beda ini kali. Selain penggila puisi, pemilik situs ini memang juga menggilai cerita silat).

FEARLESS, film wuxia—sebutan untuk cerita silat Cina dengan setting waktu Cina tempo dulu--yang dibintangi Jet Li dan dirilis 2005 lalu, adalah film silat yang memiliki sejumlah nilai plus dibanding film sejenisnya, karena selain kaya dengan adegan perkelahian yang ciamik, pun secara sinematografis digarap dan ditata secara apik. Ritme film itu terjaga dengan baik sehingga penonton terhindar dari kejenuhan karena dibombardir adegan “babah ngamuk” sepanjang flm. Beberapa adegannya malah terasa cukup puitis. Capaian filmisnya bolehlah direndeng dengan Kungfu Hustle, tapi masih di bawah Crouching Tiger Hidden Dragonnya Ang Lee.

Film ini diangkat dari kisah nyata riwayat hidup seorang petarung silat kenamaan Shanghai pada masa 1900-an awal, Huo Yuan Jia. Kalau anda pernah nonton Fist of Furi dari Bruce Lee atau Fist of Legendnya Jet Li, maka Fearless sebetulnya adalah “abang kandung” dari dua film yang disebut terdahulu. Kalau Fearless berkisah tentang Huo, maka Fist of Fury dan Fist of Legend bertutur perihal murid-murid Huo.Di Indonesia sendiri kisah Huo Yuan Jia pernah beredar sebelumnya dalam bentuk cerita silat dengan judul Riwajatnja Djago Silat, hasil terjemahan Kwo La Yen.

Huo adalah petarung yang terobsesi menjadi “pesilat nomor 1” di Cina. Ia terlibat dalam serangkaian pibu—adu kepandaian silat—dengan jago-jago silat lain. Tidak ada pertarungan yang tidak dimenangkannya. Tapi kemenangan-kemenangan itu akhirnya berbuah pada tewas dibantainya anak dan ibunya.

Peristiwa itu menyadarkannya bahwa ada hal lain yang lebih hakiki ketimbang hanya memburu kemenangan dan “gelar nomor satu”. Ia pun lalu menyepi, hidup sebagai orang biasa di sebuah kampung. Bagian ini sedikit mirip dengan riwayat hidup Mas Oyama, itu guru besar karate aliran Kyokusinkai, yang memilih menyepi sesudah merasa kesalahan membunuh seorang yang diyakininya penjahat.

Kalau betul film ini adalah film wuxia Jet Li yang terakhir—karena konon ia sudah bosen main film beginian—maka Fearless akan menjadi suguhan tontonan yang sangat layak dikenang
.

27 March 2007

Madah Bagi Si Mati

Kupinjamkan kata-kataku
Agar mulutmu yang diam mengucap lagi
Semua yang disembunyikan waktu
Yang dunia gagal menangkap
Yang dalam kabut lindap nyelinap
Kusiapkan mulutku menerima
Pahit dan perih pengakuan malam
Yang gagal dipahami lampu-lampu
Tapi terkubur dalam rerimbun bayang
Di sudut-sudut gelap dari ingatan
Lukailah aku dengan rindu dendammu itu
Agar lebih kupahami sakitmu
Apa artinya jerit melulung
Tak berjawab di ruang hampa
Kakiku yang lelah kulangkahkan
Tunjukkan padaku alamat kelam
Kota dengan rumah-rumah mengatup
Di mana kau terdampar suatu kali
Aku rindu menyusurinya lagi
Membacai perempatan-perempatannya
Sudah tak sabar jemariku ingin menuliskan
Jerit sakit dan ngeri pengalaman
Marilah kutampung itu semua dalam
Kumandang madahku tak kunjung sudah

25 March 2007

Tiga Puisi Kecil untuk Hari Minggumu

U l a r

Kau dari jenis
Yang paling berbisa agaknya

Seperti dalam cerita
Lumat aku
Dalam pagutmu


Alamat Tujuan

Semalam aku tertidur
Pulas dalam sepatu bututku

Dan bermimpi
Sampai di alamat tujuan

Yang setiap kali bangun pagi
Suka iseng menggodaku


L a k o n

Kuharap bukan Pilatus
Jangan juga Sisifus

Peranku dalam permainan ini
Sederhana saja semoga

Bukan peran pura-pura
Tak usah ada darah & muslihat

Di akhir ceritanya
Semut boleh ikut berbahagia
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...