S a t u
(Perjalanan buat apa
Kalau bukan untuk menyatu)
Bukankah asal dan tuju
Mulanya adalah satu
Mengapa dalam kangen
Membelah jadi kau dan aku
(Pencarian buat apa
Kalau tidak untuk kembali)
Pada Sajakmu
Masuk aku dalam sajakmu
Di kelok bait kupergok jerit sakit
Di ujung baris entah gerimis
Entah sesiapa mengisak tangis?
Mungkin kita, terjebak rima mulanya
Lantas menemu yang tak disangka
Luka, pada setiap katanya
Buntu, berkabar lewat judul
Membaca puisi / Menulis puisi / Bukanlah urusan / Seringan angkat besi (Ikranagara)
28 December 2007
26 December 2007
Perjalanan
Melewati beribu peperangan
Dan beratus perzinahan
Sampai akhirnya aku di sini
Tak pernah kuduga sebelumnya
Perjalanan akan begini sukar
Menembus rimbun belukar
Yang menyemak dalam debar
Pada setiap pergumulan
Di ranjang lembab waktu
Harus kulucuti dulu topengku
Pakaian yang menodai
Kemurnian tulang belulangku
Kuremukkan dalam sangsi
Kini aku tiba di sini
Apa lagikah kiranya
Masih harus kubuktikan
Musuh yang pernah kubantai
Dan tubuh yang dulu
Kujamah dalam serapah
Tidakkah itu cukup bagimu
Telah kugadai terangmu
Kutukar dengan kepayang lain
Demi mencapai inti bebayang
Yang tak berhenti menggoda
Di batas samar dan bimbang
Hingga kita pun lalu terpecah
Jadi jutaan nama di bumi
Dan beratus perzinahan
Sampai akhirnya aku di sini
Tak pernah kuduga sebelumnya
Perjalanan akan begini sukar
Menembus rimbun belukar
Yang menyemak dalam debar
Pada setiap pergumulan
Di ranjang lembab waktu
Harus kulucuti dulu topengku
Pakaian yang menodai
Kemurnian tulang belulangku
Kuremukkan dalam sangsi
Kini aku tiba di sini
Apa lagikah kiranya
Masih harus kubuktikan
Musuh yang pernah kubantai
Dan tubuh yang dulu
Kujamah dalam serapah
Tidakkah itu cukup bagimu
Telah kugadai terangmu
Kutukar dengan kepayang lain
Demi mencapai inti bebayang
Yang tak berhenti menggoda
Di batas samar dan bimbang
Hingga kita pun lalu terpecah
Jadi jutaan nama di bumi
23 December 2007
R o n i n
Seperti ronin
Ngembara di jalan pedang
Penyair bertarung
Sengit di rimba kata
Tiada kupunya
Majikan musti disembah
Hanyalah langit
Batas pandangku
Dan bumi bersimbah
Kepada siapa
Sajak-sajak yang kutulis
Darahnya menitis
Seperti ronin
Rebah di ujung tikaman
Hanyalah kesia-siaan
Musuhku yang utama
Ngembara di jalan pedang
Penyair bertarung
Sengit di rimba kata
Tiada kupunya
Majikan musti disembah
Hanyalah langit
Batas pandangku
Dan bumi bersimbah
Kepada siapa
Sajak-sajak yang kutulis
Darahnya menitis
Seperti ronin
Rebah di ujung tikaman
Hanyalah kesia-siaan
Musuhku yang utama
19 December 2007
S u b u h
Rumah masih berbau malam
Ruang tamu dihuni para hantu
Kakiku tampak tak terburu-buru
Mengais alamat dalam kotak kenangan
Kuhaturkan salam tulus
Kepada sahabat pintu dan jendela
Kujanjikan juga perjalanan baru
Meski masih lama lagi agaknya
Bulan belum sepenuhnya padam
Dari atas atap gubuk ronda
Beberapa butir bintang dan lelampu
Berebut memasuki saku bajuku
Seakan mereka tengah memohon
Sekadar lubang tempat sembunyi
Dari ancaman buruk mengerikan
Pagi yang belum diberi nama
Dua puluh jemari anganku
Liar melanglang merambah jagat
Menembus ufuk membongkar inti kisah
Lama terperam di ceruk subuh?
Ruang tamu dihuni para hantu
Kakiku tampak tak terburu-buru
Mengais alamat dalam kotak kenangan
Kuhaturkan salam tulus
Kepada sahabat pintu dan jendela
Kujanjikan juga perjalanan baru
Meski masih lama lagi agaknya
Bulan belum sepenuhnya padam
Dari atas atap gubuk ronda
Beberapa butir bintang dan lelampu
Berebut memasuki saku bajuku
Seakan mereka tengah memohon
Sekadar lubang tempat sembunyi
Dari ancaman buruk mengerikan
Pagi yang belum diberi nama
Dua puluh jemari anganku
Liar melanglang merambah jagat
Menembus ufuk membongkar inti kisah
Lama terperam di ceruk subuh?
18 December 2007
S e m u s i m
Semusim lamanya
Kami merawat rindu
Melindunginya dari angin
Dan cuaca buruk
Yang suka datang
Menggodanya kalut
Ke belantara kabut
Semusim lamanya
Kami tampik kepayang
Hitam cumbuan bayang-bayang
Yang mau menarik kami
Kembali ke jurang
Semusim sudah
Kami lakoni mati raga ini
Hidup menahan lapar
Bertahan di gua-gua kata
Sebagai sesembahan
Murni para dewa
Semata supaya
Jiwa kami yang retak
Kiranya dipandang layak
Meniti jejakmu nan rancak
Terus merayap sampai ke puncak
Kami merawat rindu
Melindunginya dari angin
Dan cuaca buruk
Yang suka datang
Menggodanya kalut
Ke belantara kabut
Semusim lamanya
Kami tampik kepayang
Hitam cumbuan bayang-bayang
Yang mau menarik kami
Kembali ke jurang
Semusim sudah
Kami lakoni mati raga ini
Hidup menahan lapar
Bertahan di gua-gua kata
Sebagai sesembahan
Murni para dewa
Semata supaya
Jiwa kami yang retak
Kiranya dipandang layak
Meniti jejakmu nan rancak
Terus merayap sampai ke puncak
Subscribe to:
Posts (Atom)