https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

27 June 2014

Patung

Aku hanya akan memandangmu
Menjangkaumu lenganku tak sampai
Kau datang dari khazanah yang lain
Yang jauh, bahasamu luput kupahami
Jadi aku hanya akan memandangmu
Diam-diam, patung porselenku, mungkin dengan
Semacam kekaguman yang gagal kututupi
Setiap kali, tapi tak ada kata-kata yang perlu
kuumbar, tak ada yang musti kubuktikan padamu
Kepada sebuah patung

20 June 2014

Tinju

Kujotoskan kata-kataku
Kuarahkan ke liat tubuh sepi
Yang terus mengurung
Merongrongku dengan kekosongan

Dari cuaca ke cuaca. Ketahuilah
Pertarungan kami tak mengenal
Batas musim, tiada dentang
Lonceng yang menjaga aturan main

Seringainya yang hujan
Sosoknya yang malam
Kadang begitu saja lenyap dari pandangan
Luput dari tangkapan makna

Yang terus kujotoskan
Kulayangkan sepenuh keyakinan
Sungguh, ia sehampa bayangan
Tak terangkum dalam cengkram angan

10 June 2014

Lukisan Rumah



/1/
Akhirnya, kita sepakat membangun rumah
Sesudah penat
                       Mengimpikannya dalam sajak
Dalam benak berlumut
                            Rumah dengan dua pintu
Ke dalam dan ke luar, rumah dengan dua kamar
Dan sepasang liang kunci
                                           Kau dan aku

Kemudian kita jadi terlebih memahami rumah
Rumah ternyata menyimpan begitu banyak lubang
Begitu banyak kamar
                            Kita pun tak paham kapan
Kita bisa sampai di sana
                       Untuk sekadar rebah mati, atau
Lewat lorong dan pintu yang mana
                                     Sebaiknya masuk
Sebab rumah adalah labirin, laut, dan pada setiap kelok
Pojoknya menganga
               Palung-palung kelam bahasa  
/2/
Kita heran, siapa gerangan telah menaruh pisau
Dalam percakapan kita
                         Mengapa begitu banyak darah
Menetes di sela lunak kalimat-kalimat hijau
Yang dengan susah payah kita pahatkan
                      Pada dinding angin dan waktunya?
Kita percaya, kita datang dari debar yang sama:
Semenjak mula bumi hanya mengajar kita
           Bahasa santun pohonan
                                      Sedang akar-akar yang pendiam
Mewariskan kesabaran pada lengan kita malam
Itu sebabnya kita tak gampang tergoda

Tapi anak-anak yang dulu kita kandung
                             Dan terlahir dari rahim gosong musim
Menyadarkan kita 
               Bahwa cuaca telah berubah
Jadi kita pun kemudian belajar berhikmat
                       Pada lolong anjing dalam urat darah kita
Kita juga belajar menaruh sangsi
Pada kilau pagi dan nyanyian burung-burung
                 Yang terlantun dari mulut anak-anak itu
Sebab jika mereka berdendang
                              Kita dapati gemuruh
Topan pada wajah mereka cemas membiru
/3/
Akhirnya, kita pun memilih sunyi
                          Warisan bumi yang masih tinggal
Itulah cara kita
                Menyelamatkan yang masih bisa
Bayang-bayang kita
                        Yang bimbang kepayang
Akan saling menimbang
                   Dalam remang nilai

Tak usah ucapkan apa-apa lagi
Tak perlu juga menulis surat pada waktu
Lihat
          Gelap dan diam menuntun kita karam
     Pada bahasa dan amsal suci yang lain
Dulu konon tersurat dalam kitab
Tapi seorang yang mengaku ibu bapak kita
                             Diam-diam tanpa restu langit
Telah memotongnya pupus dari kenangan
Ketika cuaca memburuk
                            Dan hujan turun
Kita pun hanyut tersaruk tanpa alamat
Dalam benak yang hanya onak

Kini pelahan
                     Kita belajar percaya lagi
Hidup masih akan terus
               Tapi mari sisihkan dulu
Huruf-huruf yang telah menodai bumi
Lalu kita bangun lagi rumah baru
Silsilah dan nama-nama baru
                        Di sebilik miring tersisa ini
Di sebait sempit masih berdenyut ini

03 March 2014

Dalam Angkot Ini

Selalu sama
Sejumlah penumpang
(Yang tak kau kenal)
Mereka sudah ada
Sebelum kau ada
Di angkot ini

Di sepanjang jalan
Mungkin bertambah
Sejumlah penumpang lagi
(Yang pun tak kau kenal)
Apa yang mereka
Pikirkan tatkala naik?
Mungkin tak ada


Atau, mungkin seperti kau
(Dan yang lainnya)
Mereka juga berpikir
Seperti itu: Ya, selalu sama
Begitulah, tak ada beda

Sejumlah penumpang
(Yang tak kau kenal)
Sudah di sini sebelum
Aku terbawa dalam
Perjalanan ini

24 February 2014

Kitab Kabut

Kubuka kitabmu
Halaman-halaman yang menyiksa
Sepasang mata tua ini
Huruf-huruf yang terlalu
Benderang, seakan
Menentang silau surya
Seolah kita mustilah
Bertarung lebih dahulu
Setiap kali, memperebutkan
Inti kisah yang kau sembunyikan
Di sebalik lelapis kata?

Kuhasratkan mengoyak
Bebaju zirah selubungmu itu
Meraih samar jantungmu
Ranum mengilat bebuah purba
Tapi kau tergelak gagak
Memandangku betapa tegak
Tiada kusimpan di sini katamu
Jika kau impikan serupa jejak
Tapak-tapak sepi menegas
Pada luas pesisir bahasa ini

Pulang, kutulis pada pintu
Semacam salam pada halamannya
Murni bagai debar dara
Lalu kukubur kitabmu
Kukubur di bawah kaki langit kabur
Tapak-tapak yang menyiksa
Sepasang kaki tua ini
Seakan kita sepasang seteru
Kalut bergelut di alas waktu
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...