https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

14 May 2007

T o k o h

SAYA membaca sebuah kisah yang menurut saya lucu dan menarik sekali di blognya Muhamad Sulhanudin. Ceritanya adalah seperti di bawah ini :

Suatu ketika
Aulia A Muhammad mengirim sepenggal puisi ke blog seorang penyair lumayan ternama. Kepadanya dia meminta komentar atau penilaian atas puisi itu. Tak seberapa lama, sang penyair pun memberi jawaban. Puisi kiriman Aulia dikritik habis, dikatakan jelek dan belum mencapai kedalaman makna. Rupa-rupanya, Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Cybernews itu tengah iseng. Puisi yang dia kirim bukan miliknya melainkan karya Goenawan Mohamad. Setelah hal itu diutarakan, sang penyair kaget bukan kepalang. Dia buru-buru meminta maaf dan berharap proses dialog mereka dilupakan

Dari cerita di atas sebuah kesimpulan segera bisa ditarik. Sang penyair yang kata Muhamad Sulhanudin “lumayan ternama” itu (siapa gerangan beliau ya?) menilai pencapaian sebuah puisi dengan melihat dulu kadar ke’tokoh’an penulisnya. Makin besar pamor sang tokoh makin hebat jugalah jadinya puisi itu di matanya.

Kita mungkin geli membaca kisah di atas, tapi bukankah sikap semacam itu—menilai sebuah puisi dengan mengaitkan pada “besar kecilnya”nya kadar ketokohan penyairnya—sebetulnya banyak pengikutnya di sini? Aplikasinya bisa bermacam ragam. Misalnya itu kelihatan sekali pada perilaku sejumlah redaktur puisi di koran yang menjadikan kadar ketokohan—atau keterkenalan—penyairnya sebagai syarat utama pemuatan puisi di rubrik yang dijaganya.

Biasanya seorang penyair yang sudah kadung dianggap ‘tokoh” di sini, menjadi “tabu untuk dikritik”. Misalnya, siapa sekarang berani mengritik Rendra atau Sutarji Calzoum Bachri? Walaupun nyatanya puisi mereka dari periode terkininya sudah sangat jauh menurun mutunya—untuk tidak menyebutnya “jelek--tetap saja ada barisan “koor” yang dengan setia memuji-mujinya.

Sikap menomorsatukan “nama” ketimbang “teks” ini pada akhirnya membawa kita pada iklim penciptaan yang tidak sehat. Kesusasteraan kita pun jatuh pada apa yang disebut “sastra gosip”. Dalam khazanah “sastra gosip” kita akan disuguhi begitu banyak pertengkaran dahsyat yang isinya melulu saling hujat atau puja-pujii nama tertentu.

Padahal bukankah, seperti pernah dibilang Goenawan Mohamad suatu ketika dulu, tokoh kita bukanlah penyair, melainkan “puisi”--puisi dengan “P”.

2 comments:

Aulia said...

ketika nama2 besar itu dilucuti, puisi2 penyair top markotop kita ternyata dinilai mahasiswa sastra lebih jelek daripada penyair2 blogger, hehehe... puisi memang harus dibaca pertama kali lepas dari penyair

Anonymous said...

Your blog keeps getting better and better! Your older articles are not as good as newer ones you have a lot more creativity and originality now keep it up!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...