https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

08 February 2008

Horor dan Proses Penciptaan

PROSES penciptaan adalah jalan yang penuh resiko.Yang dimaksud di sini adalah resiko untuk gagal. Dan itu seringkali menjadi momen yang “menyakitkan”. Seorang pencipta. sebutlah seorang penyair, bisa saja meniatkan menulis sebuah puisi bagus. Tapi niat saja ternyata tak cukup. Tak pernah akan cukup.

Karena puisi bukan aljabar, maka tak ada jaminan ia bakal sampai dengan selamat di ujung lorong yang remang itu. Tak ada “seribu rumus ilmu penuh janji”—untuk mengutip Subagio Sastrowardoyo—yang akan menuntunnya dengan ramah-tamah sampai di tujuan. Maka betullah juga apa yang pernah dikatakannya dulu, yaitu bahwa seorang penyair adalah seorang “petarung tunggal” yang mempertaruhkan “segalanya” di garis depan.

Meskipun dalam praksisnya kadang ada saja puisi yang bisa dirampungkan dalam hitungan menit, sementara puisi lainnya menyita waktu berpekan-pekan, atau bahkan berbulan-bulan, hakikatnya tak pernah ada proses penciptaan yang “mudah”. Dalam urusan penciptaan, peluang untuk “berhasil” atau “gagal” selalu sama besarnya. Selalu ada semacam “horor” yang membayangi sewaktu sebuah sajak mulai dituliskan.

Atau dalam kata-kata Goenawan Mohamad, “Tiap karya adalah permainan dengan kegagalan”(periksa bukunya, Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai, KataKita 2007).

3 comments:

A'Unk~en~Lxmw said...

kalo menurutku
karya apapun yg kita buat, gak perlu mikir apa tanggapan orang
selagi kita suka, apapun kata orang, cuek aja

Ook Nugroho said...

Bukan masalah tanggapan orang lain, tapi maksudku, dari kitanya sendiri sering muncul kegamangan itu.

Sebagai kritikus pertama karya kita, kitalah yang paling merasakan "sakitnya" kegagalan dalam proses itu ... ah ngomong apa sih aku ini, tapi trims udah mampir dan komen ya.

Salam

Puisi Artikel said...

Menjadi sabar dan ikhlas memang tak mudah,
tapi itu harus.
Belajarlah untuk menerima
arti kehilangan dan penantian.

| Bagai gema-gema panjang yang berhimpun | | Betapapun juga: ia itu abadi | | Masa yang penuh gairah | | SURAT - SURAT CINTA By; Isbedy Stiawan ZS | | Nenek tua tersandung ke dalam kematian | | Bagai kabut mengambang | | Kabut-kabut hari menimpa senja. | | aku mau hidup seribu tahun lagi! | | aku ini binatang jalang | | Bumi retak-retak berdebu | | Hidup hanya punya dua tiga hari bercinta | | Kami dipisah oleh impian lembut-bercampur-manis | | Pangkat, ganjaran, keharuman nama | | Puisi Duri-duri terkutuk! Semak-semak keparat! | | Mencuci mayat bersimbah darah | | Tak seberapa – tapi segala | | Bila aku nanti jadi petani, | | Pembuktian pada musuh dimedan perang | | Permohonan sebuah boneka | | Saya tidak lebih baik atau lebih jahat dari orang lain | | Puteraku pemuda komunis, anakmu seorang fasis | | Puisi Puteri imperialism | | Angin memecut disimpang jalan | | Seorang burjuis berdiri sendirian. | | Semalam di suatu kampung

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...