https://www.blogger.com/blogger.g?blogID=34375937#settings

19 July 2007

Life without Handphone

SAYA yakin anda yang membaca artikel ini tidak tahu—dan boleh jadi juga sulit percaya--bahwa sampai saat ini saya tak memiliki handphone, bahkan saya belum merasa memerlukannya. Ada orang iseng--yang merasa pinter—pernah ngomong bahwa sekarang ini keluar rumah tanpa bawa handphone itu sama dengan keluar rumah nggak pakai baju dalam.

Agak geli juga mendengar omongan itu—dan rada tersinggung juga sih. Tapi lebih dari itu nyatanya sejauh ini saya baik-baik saja. Jadi apakah ada yang salah sebetulnya kalau hari geneh saya belum punya HP? Saya rasa handphone—seperti juga banyak pernik-pernik kehidupan “modern” lainnya, laptop umpamanya—sering kemudian jatuh menjadi sekedar kelatahan dan kekenesan dari gaya hidup sejumlah orang.

Pastilah ada orang yang perlu handphone, laptop dan sejumlah pernik lainnya lagi, untuk menunjang mobilitas dan kelancaran aktivitas hariannya. Seorang salesman yang mobilitas kerjanya tinggi pasti perlu benda yang disebut handphone itu dan mungkin juga laptop sekalian. Tapi seorang tukang sapu jalan? Seorang ibu penjual sayur keliling? Oh, saya pernah melihat seorang penyapu jalan sedang asyik berhalo-halo dengan handphonenya—dan memang itu bukan hal aneh.

Saya bukan tukang sapu jalan, atau penjaja sayur keliling. Mobilitas saya terhitung rendah, aktivitas harian saya pun cenderung rutin. Sepanjang pagi sampai sore saya pasti ada di kantor. Hanya beberapa jam saja saya berada di jalan, berdesakkan dengan copet dalam bis yang sumpek. Sisa waktu lainnya saya habiskan di rumah, bersama anak-anak dan istri tercinta.

Jadi tidak aneh kalau sampai saat ini saya belum merasa perlu punya handphone. Hanya memang soalnya jadi sedikit absurd, apabila diingat saya tidak punya HP tapi sempat-sempatnya punya blog—dua lagi—dan email—juga dua biji. Ini baru fenomena yang rada tidak biasa, dan barangkali ganjil. Atau ini juga biasa saja?

1 comment:

Vania said...

salam kenal ya...
saat saya di Indonesia dan banyak kerja, saya punya HP, tp semenjak pindah ikut swami saya ngga pakai HP krn pasti nanti banyak SMS dari semua orang dan habis duit banyak. Krn di Jerman 1x SMS harganya 19 sen (2000 rupiah), mending duit ditabung, buat pulang kampung tahun depan...dan saya malah nyaman ngga punya HP...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...